Mungkin Anda sudah sering mendengar keluhan pemilik toko online dan pemilik situs jenis lain, bahwasanya mereka kesulitan mendapat income dari online. Toko online mereka sepi pembeli meski ada saja yang masuk dan browsing ke toko online mereka. Demikian juga para pengelola situs korporat, mereka mengeluh kenapa tidak ada yang mengontak mereka secara online dan meminta jasanya? Apa yang salah?
Kalau pun ada transaksi atau request, frekwensinya rendah, dan angkanya tidak besar. Apa yang salah?
Biasanya, saya langsung melihat situs mereka seperti apa? Layakkah situs itu menciptakan penjualan online? Kalau layak, kenapa tidak ada pembeli online? Kalau tidak layak, di mana letak tidak layaknya?
Herannya, sebagian besar yang mengeluh itu mengaku memiliki produk/jasa yang bagus dan layak beli. Jadi, apa yang salah?
Rupanya, setelah melakukan diskusi cukup panjang, kebanyakan pemilik situs melupakan satu prinsip dasar mengapa seseorang mau membeli. Yakni:
“Pelanggan membeli ketika mereka memang siap untuk membeli. Bukan ketika Anda siap menjual. ”
Versi Tukul: “Customers buy when they’re ready to buy. Not when you’re ready to sell“.
Saya yakin, jika kita membangun strategi pengembangan situs dengan dasar ilmu ini, peluang menciptakan penjualan online makin besar.
Conversion rate online commerce memang rata-rata hanya mentok di angka 1% – 2%. Amazon bisa sampai 4 – 5 %.
Artinya jika visitor 100/hari, yang beli hanya 1 atau 2 saja.
Mungkin para owner online shop bisa share disini berapa angka conversion rate-nya.
Situs http://pasarbatik.com misalnya, CR-nya hanya 1.5 %.
berarti website jangan dijejali dengan hanya produk produk aja tapi juga needs dari pengunjung kita, seperti info tambahan mengenai produk dan hal disekitarnya
apa benar begitu pak nukman ?
Ada 2 hal yang terpikir:
- apakah semua barang/jasa bisa/layak dijual lewat internet
- rasanya (soalnya saya tidak punya data statistiknya) transaksi online belum banyak masuk pertimbangan orang ketika mau beli sesuatu
Terus saya ada pertanyaan buat Mas Nukman. Menurut Mas, apa indikator yang bisa kita lihat apakah customer sudah siap membeli atau belum?
Makasih
kalo melihat perkataan tukul :
“Customers buy when they’re ready to buy. Not when you’re ready to sell“.
Dan kalo saya ingat ingat beberapa faktor krusial yang pak Nuk bilang belum siap untuk e-commerce (seperti micropayment dan budaya), apa bisa disimpulkan bahwa memang indonesia belum siap untuk e-comerce/penjualan online?
Sejak berguru dari pak Nuk di Jakarta tahun lalu, ada beberapa improvement krusial. Dan alhamdulillah ada peningkatan yang cukup signifikan di area reach dan conversion rate. Tapi, kalo melihat secara umumnya conversion rate masih rendah.
Conversion rate PernikMuslim.com ada di kisaran 0.3%-0.8%.
Apa karena faktor faktor yang membuat pembeli belum siap untuk membeli ini secara umum diluar kendali para pemilik toko online, berarti tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan conversion rate selain menunggu?
Wah saya kok belum paham ya. gimana penjelasan lanjutannya ya..
Jadi bergantung nasib juga yaa..,.
maaf sedikit melenceng…
Sistem pembelian online yg menggunakan transfer rekening bank, saat ini terganjal pada aturan bank dimana minimal transfer adalah 50.000. Imbasnya pada situs yg menetapkan tarif <50.000, seperti situs saya ini. Sedangkan utk pembayaran via paypal, blm memasyarakat di Indonesia. Apa ada solusi?
Oya.. Situs seperti pasarbatik.com, mungkinkah ada pengaruh habit pembelinya? Kan orang mo beli pakaian atau sepatu atau semacamnya… perlu dicoba dulu
Topik yang menarik mas Nukman,
Saya setuju mas, dan saya belajar sesuatu bahwa konsumen membeli karena mereka sudah siap dan bukan ketika saya siap menjual. Lalu bagaimanakah cara membuat pelanggan siap membeli mas? apakah dengan cara mendidik mereka mengapa mereka perlu membeli produk kita dapat membantu siapnya mereka?
Misalnya dengan cara menangkap email mereka dan memberikan informasi mengenai produk/jasa kita secara berkala?
Atau dengan secara konsisten memberikan pendidikan mengenai produk/jasa kita lewat postingan postingan di blog? Kalau sempat mungkin mas bisa post bagaimana/cara cara apa yang akan membantu pelanggan siap membeli produk kita secara online.
Terimakasih dan salam kenal!
setuju banget, mesti nunggu konsumen siap namun bukan berarti harus tidak melalukannya, secara penjualan langsung mesti semua siap, dari mulai lini depan (e-catalog dan diskripsi dan otomatis rekomendasi spt yang pak Nuk alami dengan otomatis rekomendasinya dari amazone), lini tengah ( payment system, data base product, data base consumen, kebiasaan clicking ), dalam hal ini transfer bank belum sepenuhnya e-com. maupun lini belakang (seperti packing model, shipping term, quality assurance, maupun kemudahan costumer servis after sale dan keamanan transaksi), yang didalamnya terlibat pihak lain seperti Kartor pos dan agent pengiriman barang, agent asuransi, Yang disini masih jauh dari mapan. Namun waktu kan tidak bisa menunggu. sebelum tempat diambil orang. Sebagai catatan 8 dari 10 consumen saya datang dari web, membeli lewat web bayar lewat web namun ndak ada satupun yang dari dlm negri yang secara e-com murni.
salam pak nukman maaf kalau dianggap spam.
pakde, numpang comment nih..
trus gimana caranya supaya konsumen yg dateeng itu siap untuk beli??
Salam kenal,
Boleh jadi benar pengguna internet di Indonesia, kata APJII, mencapai 32 juta orang. Tapi kan musti diingat 49% rakyat Indonesia masih miskin. Nah, dari 32 juta pengguna internet di Indonesia ini berapa yang benar-benar pembeli potensial? Alias mereka yang menggunakan internet sebagai sarana untuk membeli kebutuhan – bukan sekadar cari-cari info. Menurut saya, perilaku kebanyakan netters di Indonesia masih menunggangi internet sebagai sarana pencarian informasi.
Kalau berfokus kepada pembeli dari Indonesia, rasa-rasanya, rada sulit menaikkan omset, alias conversion rate online commerce sudah naik. Menurut saya jauh lebih baik meraup penjualan dari pembeli dari luar Indonesia.
Wasalam,
Apa indikator pengunjung siap beli?
Yang paling sederhana adalah: mereka mencari. Maka pantau terus kata kunci hasil search engine yang nyasar ataupun yang dengan sengaja kita sasarkan ke situs kita setiap hari!.
Analisa dengan baik apakah kata kunci itu cocok dengan jasa/produk yang kita jual.
Mereka yang siap membeli relatif lebih mudah kita konversi menjadi pembeli. Namun jangan lupakan pasar besar, yakni mereka yang belum siap beli.
Dengan patokan data converstion rate (CR) yang disampaikan mas Yodhia, yang sekitar 1,5%, kita bisa menganalisa, sudahkan CR web kita mencapai angka itu. Kalau belum apa sebabnya? Kalau sudah, bisakah angkanya lebih tinggi, sampai 4% seperti Amazon.com?
Bagaimana caranya agar naik jadi 4%? Salah satunya adalah berupaya agar mereka yang belum niat beli terkonversi menjadi niat beli.
Mereka yang siap beli tidak memerlukan proses pembelian yang rumit. Namun, mereka yang belum siap, membutuhkan proses pembelian yang tidak sederhana. Ini gambaran ringkasnya:
1. Konversi dari pengunjung ke pengunjung antusias (yang mau membuka banyak halaman web, dan mau berkomunikasi dengan pengelola web)
2. Koversi dari pengunjung antusia ke membership (entah newsletter maupum membership lainny)
3. Konversi dari membership ke transaksi
4. Konversi dari transaksi sekali ke transaksi antusias.
Nah, sekarang, pekerjaan rumahnya adalah:
1. bagaimana membuat situs yang melayani dua target audience sekaligus (siap beli dan belum siap beli)?
2. Bagaimana membuat manajemen follow-up agar benar-benar terjadi transaksi?
Sedikit nyambung dengan online store, kebetulan saya habis menginterview Catur PW (tokohelm.com). Linknya: http://media-ide.bajingloncat.com/2008/02/14/catur-pw-jualan-helm-lewat-tokohelmcom
Mudah2an ada masukan, buat mereka yg berniat membangun online store. Upcoming interviews include: kutukutubuku.com, kronologger.com, dan kumpulblogger.com
Kalau melihat hasil wawancaranya, conversion rate tokohelm.com rendah ya. Bisa tanya knapa mas Pitra?
Rasanya ini yg kita obrolkan kemarin. Komennya udah byk gini, berarti byk yg bermasalah dgn penjualannya. ha ha ha…sama.
Kalau http://www.rattanland.com max 2% yg visitor yg kirim inquiry.
http://www.woodfurniture.net dibawah 1% karena belum terlihat listing di Google.
http://www.export-import-indonesia.com baru ganti desain.
Pak nukman, nanti bantu ya….kita kerjasama.
Tonton
Ini data TERBARU JANUARI 2008 – TOP CONVERSION RATE ONLINE SHOP – big PLAYERS :
1. Proflowers.com – 14.1%
2. Coldwater Creek – 13.3%
3. FTD.com – 13.0%
4. QVC – 12.8%
5. Office Depot – 12.4%
6. eBay – 11.5%
7. Lands’ End – 11.5%
8. Tickets.com – 11.2%
9. 1800flowers.com – 10.0%
10. Amazon – 9.6%
Angka diatas adalah TOP PERFORMERS. Untuk average global, angka conversion rate ada dibawah ini, sesuai jenis barang yang dijual :
Specialty stores 3.9
Fashion/apparel 2.2
Travel 2.1
Home and furnishing 2.0
Sport/outdoors 1.4
Electronics 1.1
Jadi memang rata-rata, ya antara 1 – 2 %.
Mungkin next time, bapak perlu bikin polling sederhana saja, nanya, berapa conversion rate dari para pembaca blog ini yang kebetulan punya online shop.
Satu lagi pak, harus dipastiin market yang kita bidik itu udah tepat. Soalnya kalo jualan taneman ke sembarang forum kayaknya nggak berhasil deh (curhat haha). http://www.hobitanaman.com
# 17,
Data yang menarik mas Yodhia. Saya duga angka yang di atas dua digit itu bisa terjadi karena adanya repeat buying. Mereka yang sudah menjadi member dan biasa membeli, ketika datang ke situs tersebut cenderung untuk membeli.
Polling sudah ada, silahkan cek di sebelah kiri atas.
Temen-temen yang punya toko online, atau website yang dilengkapi dengan order form, silahkan mengikuti polling conversion rate ini. Moga-moga bisa manfaat.
Makin seru..
*sembari menunda launching toko online saya..
Apakah penjualan yang dimaksud pak Nukman adalah transaksi online 100% – pengunjung seketika memutuskan membeli barang dengan fasilitas shopping cart, dan melakukan transfer tanpa kontak telp / email ?
Kalau itu yang dimaksud, berdasar pengalaman saya memang sangat rendah sekali convention ratenya. Dulu waktu awal berdiri, kita sangat konsen dengan updated harga dan informasi stock produk. Namun kenyataanya pengunjung selalu mengkonfirmasi dengan Telp, Email, dan Chating. Sangat jarang sekali yang memutuskan langsung beli melalui “shopping cart”.
Akhirnya kita malas update harga dan info produk terbaru. Kita hanya display produk utama saja, yang lainya menggunakan pricelist yang bisa didownload dan selalu kita umumkan bahwa untuk harga dan stock barang harus dikonfirmasi melalui “call”, email, dan chating. Makanya saya taruh informasi “kontak” dengan mencolok dihalaman depan paling kiri atas (posisi alamiah mata mulai menscan suatu halaman).
Sejauh ini dari 300 – 400 Unique visitor / hari, request email mencapai “belasan” / hari, 20an call/hari, dan puluhan chating. Transaksi baru diluar repeat order rata-rata perhari 5 – 10 deal.
Hampir semua melakukan kontak “manual” call, email, atau chating. Dan sebagian besar customer adalah corporate, dan lumayan juga yang repeat order.
O ya, menanggapi komen #13 memang jika website bisa muncul di top 10 SE dengan keyword yang tepat sangat membantu memperoleh targeted visitor. Sebagian besar pengunjung website saya dihantarkan keyword “toko komputer”, “toko komputer manggadua”, “toko komputer rakitan”, “toko komputer online” dll…
Salaam
Muslih
alhamdulillah,…berarti saya patut bersyukur,…situs ecomblang.com, persentase conversion rate nya mencapai 19%,…kirain situs saya kurang menarik,…ternyata kalau membaca info dari rekan rekan diatas, situs online conversion rate nya kecil…
atau karena ecomblang.com situs khusus dewasa kali ya,…banyak orang yang membutuhkannya,…
salam sukses
Ingin berbagi,…: sejauh yang saya lakukan, untuk mendapatkan “conversion rate” yg tinggi, tentu harus sebanyak mungkin mendatangkan “lead”,…
Nah yang dilakukan oleh kami adalah tetap melakukan PROMOSI OFFLINE, di harian nasional atau pun di harian lokal (berhubung di bandung saya pake PR & KOMPAS),…
Setelah Lead nya yang datang banyak,…maka untuk menciptakan conversion rate yang tinggi, situsnya juga harus menarik dan informatif,…lalu jangan lupa Follow up,…karena ternyata follow up sangat TERASA meningkatkan CR,…
Demikian, semoga bermanfaat,…
CR website saya rata-rata 2-3 persen. Tapi saya tidak menjual produk, tapi jasa.
Ada satu hal yang bisa meningkatkan CR dari website saya, dengan menambahkan fasilitas chatting yang ada indiktaor online atau offline yang bisa dilihat langsung saat mengakses halaman awal website. Sebelum saya tambahkan fasilitas ini CRnya cuma sekitar 1%.
Cuma websitenya memang masih kecil, dan dalam tahap pengembangan.
Ya, asal kita ingat aja. Bahwa conversion rate itu adalah SALAH SATU faktor dari revenue. Perlu diingat banyak faktor lain seperti margin, banyaknya lead, jumlah pembelian, dan lain lain.
Kalo conversion rate stuck di angka itu, naikkan aja leadnya. Simple is it not?
atau karena konsumen di negeri ini belum siap untuk belanja online..terutama dalam keamanan transaksi?
salam semua,
klo menurut pengalaman saya, pembeli online lebih tertarik jika melihat toko online yang tidak ada harganya, knp ?
1. pembeli biasanya sering meng compare harga dari toko2 yg ada harganya.
2. jika toko online yg tdk ada harganya, si pembeli tertarik untuk mengkontak melalui tlp/email biasanya akan terjadi transaksi jika harga yang di tawarkan lebih murah dari toko2 online yang memasang harga.
tapi itu hanya pengalaman saya aja, mungkin rekan2 berbeda.
CMIIW
Salam,
Dan Darmawan
http://www.indogeotech.com
salam buat pak Nukman & rekan semua.
Saya setuju terhadap pak Dan, namun itu masih dilihat produk yg dijual kita tetap harus selalu mengoreksi diri (menurut pak Nukman)apa yg akan kita tampilankan selalu uptodate … kira-kira begitu ya pak ….
salam,
danny
http://www.paperbag-box.com
Luarbiasa sekali bapak, satu kalimat yang menggelitik saya tentang e-commerce, yang kebetulan saya mau membuat e-commerce untuk inkubasi bisnis. Memang benar ada yang iseng2 browsing (belum siap) dan yang prospek untuk beli yang rata-rata sangat kecil Conversion Ratenya (CR)
menanggapi uraian dari :
saya rasa tidak terpaku pada sistem on-line dimana banyak juga prospek bisnis kita di sektor masyarakat non pengguna internet, saya setuju dengan bang essy:
dengan menggunakan media promosi offline.
Satu hal lagi yaitu tentang edukasi bagi calon costumer kita, kebanyakan dari mereka masih awam soal e-commerce, e-cart, transaksi on-line, paypal dsb
kita harus bisa mem-pintarkan mereka
Satu hal lagi tentang sistem pembayaran kita juga, seperti yang temen kita ungkapkan:
Bahwa kita perlu cerdik menyikapi dan kerjasama dengan pihak bank untuk masalah transfer ini. Untuk informasi, sekarang paypal sudah bisa ditransfer ke rekening bank di indonesia.
semoga berkenan.
http://radhen.wordpress.com
[...] seperti yang sudah di bahas di sini, meningkatkan conversion rate bukan perkara yang [...]
Hampir genap satu tahun web saya http://www.tokojadi.net belum pernah menjual apapun secara online. Walaupun begitu, ditahun kedua ini mudah-mudahan akan segera hadir dengan wajah baru.
Saya hanya berpikir tidak harus memaksakan diri untuk merubah bagaimana kebiasaan pembeli dengan cara atau kebiasaanya. Khusus untuk target market institusi, biasanya akan selalu melewati prosedur standard yang dimulai dari pengenalan, penawaran, persetujuan baru PO.
Jadi, barangkali pendekatanya akan berbeda untuk tiap kategori produk/jasa yg ditawarkan.
Masalah konsumen mau beli atau tidak secara online mungkin juga berkaitan dengan “kepercayaan” terhadap penjual tersebut. Apakah pemilik toko benar2 bonafide atau tidak? Takutnya setelah transfer, barang tidak dikirim dan uang hilang.
Saya sering transaksi online untuk jasa hosting, domain dan jual beli e-gold (mengenang masa lalu hehe..) melalui transfer rekening bank dan lancar-lancar saja, karena saya sudah yakin penjualnya memang terpercaya.
Menurut saya, kalau penjualnya sudah siap, maka konsumennya pun akan bersiap-siap juga untuk membeli, paling tidak dalam jangka waktu beberapa hari/bulan ke depan.
Saya pemain baru, pembahasan ini cukup menarik. Berbagai tehnik dari link, lead, SEO, dll tetap belum menghasilkan, memang pangsa pasar yang saya harapkan semua / seluruh antero jagad tetapi ya mereka hanya berkunjung tanpa melakukan pembelian. Kalau transaksi beli sejauh saya lakukan sudah sering, beli buku, ebook, hosting, dll dan tidak ada masalah.
Benar yang dikatakan P Sunaryo tetang kepercayaan. Saya sendiri baru belajar jualan online dan butuh waktu untuk meyakinkan ke konsumen. Kalo faktor kepercayaan sudah di pegang insya Alloh lancar2 saja. Butuh follwo up yg terus untuk meyakinkan ke konsumen.
saya juga pemain baru dan saya setuju dengan pak sunaryo kusumo.. bisnis toko online ini adalah sebuah bisnis kepercayaan.. jika para pengunjung percaya dengan situs kita, maka akan sangat besar kemungkinannya pengunjung tersebut membeli produk kita.. tapi alhamdulilah, baru 3 hari saya launching http://www.gudangdisc.com ternyata langsung sudah ada yang beli.. sepertinya kita sesama owner toko online perlu buat forum khusus sebagai tempat sharing tentang toko online. setuju ?
#35
Ayo bung Ricky,,, bikin milis di yahoo aja,,,
kepada temen2,,, minta tolong komenya yaa
Berikut adalah pertanyaan untuk market online, kita juga target market offline, hanya saja tidak saya kemukakan disini.
Diketahui :
- Produk hardware komputer, laptop, dan aksesories
- Dijual online melalui website http://www.manggaduakomputer.com
- Market utama Jabodetabek, Indonesia umumnya
- Segmen Market utama Corporate, Government dan Retail
- Segmen Market sekunder toko komputer
- Tidak ada shopping cart, customer pesan melalui telp, chat, dan email
- Kompetitor utama:
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=toko+komputer+online&btnG=Telusuri&meta=
http://search.yahoo.com/search?p=toko+komputer+online&fr=yfp-t-501&toggle=1&cop=mss&ei=UTF-8&fp_ip=ID&vc=
- Umur usaha 8 bulan
- Traffic saat ini 1000an unique visitor/hari
- Konversi penjualan 0,5% – 1%/hari
Ditanyakan :
1. Kenapa ya konversi pembelianya sedikit sekali…?
2. Bagaimana caranya meningkatkan konversi penjualan
3. Dengan produk dan market spt diatas, apakah ada korelasi besarnya omset dengan konversi penjualan ?
4. Apa kekurangan website saya?
5. Mohon masukan, saran dan ide dari teman2 buat kesuksesan website saya
Dijawab :
1. …
2. …
tolong dikomentari dan dijawab seikhlasnya, yang terbaik menurut saya nanti ada hadiahnya he,, he,,
Terimakasih pak Nukman
Salaam – Muslih
Just my thoughts ..
Toko online yang saat ini conversion ratenya tinggi adalah toko online yang menjual barang-barang yang sudah sangat familiar, dalam arti pembeli tidak perlu lagi melihat fisik dari barang tersebut, let say jualan buku misalnya. Saya pernah baca di salah satu artikel toko online inibuku.com bahkan sudah berhasil mencapai rata-rata 200 order per-hari dengan kisaran order 50ribu hingga 2juta. Silakan itung aja pendapatan yang didapat, meskipun masih jauh dari Amazon.com tapi sudah bisalah hire beberapa karyawan untuk run the business professionally. Ada satu lagi toko buku online bukukita.com yang lebih leading (dari data http://www.statbrain.com), yang mungkin bisa mencatat order dua kali lipat dari angka 200 tersebut.
Saya baru memulai toko online sekitar 7 bulan yang lalu. http://www.KadoWedding.com on-line per Agustus 2007, http://www.GrosirPasarPagi.com on-line per September 2007
Pada saat ini average visit (unique IP) sekitar 150-250 per-hari dan dari tiap website sekitar 2 order/hari. Jadi untuk conversion rate ya masih di kisaran 1-2%. Ada hal yang menarik di simak yakni total omset dari kedua website ini adalah 80% dari customer yang berada di luar Jabodetabek. Hal ini dimaklumi karena merhandise yang dijual di kedua website ini kalaupun ada di daerah, jelas harganya akan jauh lebih mahal sehingga customer dari daerah merasa beruntung bisa order via website.
So, kalo ada modal dan kesempatan rasanya toko offline masih sangat dipertimbangkan untuk pasar Jabodetabek, website bisa dipergunakan untuk drive traffics calon customer dari Jabodetabek untuk berkunjung ke toko offline.
Regards,
Herman
Menurut saya, ada perbedaan yang cukup signifikan antara buyer tipe retailer dan wholesaller.
Sepanjang pengalaman saya, klo untuk buyer retailler, fasilitas add to cart pada website akan menjadi sangat diperlukan dan urgent sekali, sedangkan untuk buyer tipe wholesaller, fungsi website biasanya sebagai katalog. Follow up selanjutnya lebih by phone atau email. Oleh karena itu perlu observasi pasar lebih dulu kira-kira mau mengincar buyer tipe retailer atau wholesaller.
http://www.adhicraft.com – Indonesia Manufacturer and Exporter Teak Furniture and Handicraft
Jika berkenan, harap para suhu mereview situs saya di atas
kalo dari pengalaman saya ,walaupun http://www.pengusahasolo.com adalah situs yang berusaha menjual produk dari berbagai kategori tetapi andalannya yaitu web optimation luamayan dapat perhatian masyarakat solo,salah satu kuncinya ternyata membedah lebih lanjut produk kita,karena kadang kadang yang tertampil di site hanya merupakan “fitur” yang hanya menyajikan keunggulan penjual,sedangkan yang dicari pembeli adalah manfaat yang jelas dan terukur jika mereka mau membeli produk kita…so memberi,memberi,dan memberi akan menghasilkan penjualan seperti yang kita target..
Bapak-bapak dan Ibu-ibu pemilik e-commerce yth,
Saya kebetulan googling mengenai micropayment dan nyangkut ke blog ini.
Solusi mengenai pembayaran online, perkenankan saya menawarkan kerjasama situs e-commerce anda sebagai merchant situs e-payment kami https://www.gudangvoucher.com.
Kami berusaha merintis situs micropayment yang sederhana untuk dipahami masyarakat Indonesia, yaitu menggunakan kode voucher sebagai kode transaksi.
Selama 4 tahun kami membangun hubungan dengan merchant-merchant content online dan mobile, serta Internet Provider. Transaksi kami mencapai 6.000 per bulan dengan total user lebih dari 40.000.
Semoga penawaran ini jadi salah satu solusi yang baik untuk anda.
Banyak benefit di kedua pihak (gudangvoucher dan merchants) yaitu menjadikan situs ini sebagai one stop payment.
Tidak ada monthly fee atau target jumlah transaksi yang harus anda peroleh. Transaction Fee yang kami kenakan sangat negotiatable.
Mari kita bersama-sama membangun e-commerce indonesia.
Jika berminat silakan kontak ke HP saya 0815-9663447 atau email ke marketing(at)bmt.co.id
Pak Nukman mohon perkenannya atas posting penawaran saya ini.
Terima kasih.
pagi
boleh tnya2 ga?
@Amy
Maaf apakah pertanyaan ditujukan ke saya apa yang lain?
Maaf jadi ge-er hehe…
@Yg lain
Setelah saya baca seksama saya tertarik untuk bertanya mengenai conversion rate (CR).
Pertanyaannya simple: rumusnya dari mana ya? Unique visitor, atau number of visit atau apa?
Situs saya kan membership dimana orang bisa login-logout untuk memeriksa kode-kode voucher yang dia beli.
Sekali beli juga bisa langsung banyak.
Ada informasi buat saya?
Thanks.
Pak nuk, hehe, makasih ya infonya semua yg ada disini sangat berguna buat tim kami.
Ngmg2..kunjungin situs e-commerce kami dong..
Best Regards,
—–
http://www.edwardforrer.com
Unique visitor web saya SepatuBandung.com ada 50-70 per hari (kecil ya..), Saya juga beriklan di koran, tabloid dgn mencantumkan kontak via SMS disamping web. Tiap hari yg transfer utk daftar jadi Agen sepatu sekitar 5-8 orang. Apa bisa disebut CR web saya 10-11% ?
kayaknya benar juga ya pak kita harus membaca selera pasar pembeli bukan kita yang yang siap menjual,,,kayaknya tips dari bapak sangat oke deh
salam
fikri
Setuju pak. Kita yang harus menyesuaikan selera pasar. Bukan pasar yang disesuaikan dengan selera kita. Terima kasih.
harga murah, barang berkualitas sistem transaksi mudah. saya rasa itu cara ampuh menarik pembeli, apalagi jika ditambah promosi harga murah di waktu2 tertentu saya rasa itu akan jauh lebih membantu. perlu diingat berjualan tidak selamanya harus menuai profit tapi kadang harus mepet ke break event point itu bisa dijadikan alternatif penjualan. intinya kita harus kreatif, jangan ikut2an saja. karna kerja setengah hati akan menghasilkan hasil yang stengah2 pula…
saya buka pedagang tapi saya suka mempelajari sifat2 manusia salah satunya daya beli dan sifat konsumtif dari masyarakat kita. 1 hal lagi emang bicara mudah tapi perlu kerja keras secara nyata. inilah yang membedakan antara orang sukses dengan orang gagal tipis sekali bedanya, cuma seberapa besar rasa malas yang kita punya itulah pembedanya
Waduh, kayaknya yang komen di atas udah pada master semua nih. Saya sih belum punya toko online, tapi pengen banget bikin suatu saat nanti. Makasih atas pencerahannya para master. Mohon dukungan dan doanya, semoga saya lekas membuat juga. Hehehe…
memang betul ya, conversi ke penjualan agak kecil sekali sekitar 2% aja udah lumayan…apa ada tips untuk meningkatkan konversi.
saya mau coba bikin berbasis WP, saya cuman berfikir yang penting saya coba dulu dan berusaha deh..
thanks atas informasinya.