Seringkali kita menemukan sebuah situs web yang menurut kita jelek, namun ternyata penggunanya banyak dan loyal. Tak jarang pula kita menemukan situs web yang OK punya, desainnya bagus banget menurut kita, namun tidak banyak yang berkunjung — apalagi menjadi loyal visitor, atau bahkan online buyer. Mengapa hal semacam itu bisa terjadi? Salah satunya: karena kita seringkali tidak bisa membedakan apa yang bagus atau jelek pada sebuah website karena penilaian kita hanya terfokus pada desain grafis.
Banyak orang mengganggap, desain web adalah desain grafis. Keindahan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan artistiklah yang menjadi penilaian utama. Jadi, yang menentukan bagus tidaknya sebuah web adalah mata. Apakah informasi yang diterima mata kita — kemudian disalurkan ke otak dan diolah — memberikan kesan indah atau tidak pada sebuah situs web. Celakanya, mata satu orang beda dengan mata orang lain dalam hal keindahan. Jika anda bekerja sebagai web designer — atau bidang art lainnya –, mungkin sudah kenyang dengan celaan kok desain yang kita buat buruk di mata klien A namun bagus dimata klien B dan C.
Lantaran desain grafis boleh dibilang mengandalkan mata (dan selera) untuk dinilai bagus atau tidak, maka desain grafis itu lebih berfungsi untuk “dilihat dan dibaca”.
Sebaliknya, desain web lebih luas dari itu. Desain web bukan sekadar “dilihat dan dibaca”. Tetapi “dilihat, dibaca dan DIGUNAKAN”
Itu sebabnya, bagus tidaknya sebuah desain web tidak boleh hanya diukur dari sisi grafis (mata), tetapi juga kemudahan penggunaanya. Bukan berarti desain grafis untuk sebuah web bisa diabaikan. Tetap saja perlu, apalagi kalau itu menyangkut citra perusahaan atau produk. Namun, karena desain web itu fungsinya untuk “digunakan”, jangan sekali-sekali mengabaikan faktor “mudah digunakan”.
Maka, jika anda seorang marketing/product manager ataupun jabatan eksekutif lain sebuah perusahaan yang bertanggungjawab terhadap strategi online, pahami betul perbedaan ini.
Dan jika ada seorang web designer, web consultant, dan profesi sejenisnya: belajarlah banyak mengenai online usability, online architecture information, dan ilmu-ilmu lain yang memperkaya pengetahuan untuk membuat web yang mudah digunakan.
100% setuju
Pak Nukman,
maaf pak,
Bisa tolong berikan contoh gitu…
Situs yang bagus tampilannya, sepi pengunjung
berbanding dengan situs yang sederhana, ramai pengunjung, lagipula loyal…
supaya mudah dicerna otak saya…
dan orang lain yg kapasitas otaknya sama dengan saya..
berarti desain yang cantik belum tentu bagus ya..
Kalau penempatan iklan juga masuk dalam web design pak?
Saya setuju mengenai graphic design yang tidak dapat disamakan dengan web design.
Web design memiliki banyak faktor yang jelas tidak ada di dunia graphic design (cth: poster design, logo design, brochure design, dll).
Salah satunya yang disebutkan Pak Nukman adalah benar sekali, yaitu web design selain harus indah dan bagus, namun harus juga harus enak dipakai.
Dari yang saya dapat simpulkan dari karir saya (jadi menurut pendapat pribadi), sebenarnya web design itu merupakan suatu gabungan kental antara seni, teknologi, kegunaan dan penyajian informasi.
Seni: berhubungan erat dengan cita rasa dan keindahan.
Teknologi: seni yang diusung pada website tersebut tidak juga indah di mata, namun juga harus dapat diadaptasi dengan baik oleh teknologi.
Contoh: untuk mempercepat waktu loading, maka itu background yang dipakai adalah pattern yang dibentuk sedemikian rupa sehingga indah dalam pengulangannya.
Contoh 2: untuk dapat indah di semua resolusi, maka itu teknologi-nya membuat seni itu dimungkinkan untuk dibuat tipe “fluid” atau konten di-tengah dan pengulangan background di belakang-nya.
dst.
Kegunaan (usability): apabila tarian antara seni dan teknologi sudah indah dan memukau, website tersebut tentunya sayang apabila sulit digunakan dan “ditebak” elemen-elemennya. Contoh: navigasi-nya sulit dicari dan letak-nya pun berubah-ubah di setiap halaman-nya sehingga memusingkan para pengunjung.
Teknik penyajian informasi: Setelah adukan antara seni, teknologi dan kegunaan sudah sempurna, ternyata masih ada yang kurang yaitu teknik cara menyajikan informasi kepada para pembaca.
Contoh: membaca di layar berbeda dengan membaca di surat kabar / majalah. Statistik menunjukan bahwa pembaca sebenarnya “scaning selewatnya (dengan pola huruf F)” dan amat memerlukan patokan-patokan kesimpulan untuk dapat dimengerti pembaca kalau bagian-bagian tertentu itu yang dia gemari.
Mungkin untuk alasan itulah, rekan bisnis saya yang memang spesialis logo dan lulusan fakultas Desain Komunikasi Visual terasa amat sulit untuk mendesign website-nya sendiri. Karena mungkin juga dia belum menguasai elemen-elemen lainnya dalam website design selain seni-nya.
Sekian pandangan singkat saya.
NL
What a great comment Felix..
Web Design = User Interface Design + Graphic Design
UI Design, biasanya lulusan Psikologi (bidang antarmuka manusia dan komputer)
Graphic Design, biasanya lulusan desain grafis
Yang pernah saya baca kalau di perusahaan sebesar Google, Facebook, eBay, Amazon, dll, seperti itulah mereka membagi tim Web Design nya.
Nah di Indonesia, saya sih sering dengar jagoan desain grafis. Tapi saya belum pernah tau ada yang jago UI design..
Beda ma design graphis. Karena ga cuma 1 atau 2 halaman yg bakal dibuat, jadi emang banyak yg mesti diperhatiin sampe ke halaman detailnya , khususnya dari segi content pa aj yg nantinya dimasukkan ke web tsb.
Setelah terjun ke webdesign, baru terasa klo ngdesain web ga semudah yg kelihatannya.
Klo dulu bikin web portfolio, masih lebih mudah, karena contentnya yg akan dimasukkan ke web tsb dah terbayang di pikiran kita sendiri dan ngedesain sesuai dengan selera kita.
Nah klo dengan orang lain, kita jg mesti menyesuaikan dengan masukan dr klien yang beraneka ragam, yang kadang terlalu banyak masukkan,dan (bg sy yg msh pemula)klo ga pinter2 milih masukan, dari kitanya sendiri suka jd bingung u/ nyatuin/nerapinnya ke desain kita.
Jd intinya selain mendesain, kita minimal mesti bisa merundingkan design kita dengan klien
ya mas nukman ini yang jagonya UI design hehehhee
AGREED!
Web Design is all about user experience.
Design nya bukan hanya yang dilihat mata tapi juga yang digunakan oleh visitor juga di design.
Saya punya analogi lain:
Gimana kalo dashboard mobil di design sedemikian rupa supaya indah dilihat mata? Mungkin penempatan speedometer bukan berada ditempat sekarang, mungkin tanda lampu sein akan lebih besar, icon2 alert spt bensin, minyak rem, heat, break dll dll hadir dalam bentuk berbeda-beda setiap brand.
Yang terjadi adalah kekacauan karena secara fungsi hal-hal tadi tidak berjalan dengan seharusnya.
Dashboard mobil keluar dari User Interface design, dan ini adalah salah satu yang ada dalam ilmu Ergomoni. Nah kalo bicara Ergonomi tuh nggak cuman bicara apa yang dilihat tapi juga apa yang digunakan oleh manusia.
Ini kenapa di beberapa university di luar Web Design berada dibawa fakultas Product Design (bukan Graphic Design).
saya sih jelas bukan pakar UI Design. tapi berhubung internet udah jadi bagian kehidupan saya sehari-hari, saya selalu nyoba melihat dari sudut pandang seorang pengguna internet aja. coba aja tanya ke diri sendiri, “is this thing useful, or not?”.
tp saya jg ga mau sotoy. kadang deadline ketat suka munculin pikiran “yang penting jadi ajah”. hehehe…
tergantung ke si desainer atau kliennya juga sih.
Mau dibuat bener2 indah untuk diliat atau dibuat segampang mungkin buat mendorong tindakan dari visitor
sotoy ah
http://www.sendokgarpu.com dan http://portalHR.com adalah dua contoh tentang web desain yang memikat, brilian sekaligus user-friendly.
Untuk desain blog, blog yang sekarng kita baca ini merupakan satu contoh desain web yang juga indah, clean dan elegant.
tetep sih keindahan itu perlu…kenyamanan dan kemudahan pun perlu .. yaa emang ga bisa dipisah2 lah kalo mau yg bagus
Betul sekali Pak,
Waktu saya baru masuk ke dunia online advertising saya sempat kagok, karena untuk membuat sebuah design web yg handal tidak hanya membutuhkan desain visual yg wah, tapi juga harus diperhitungkan unsur user-friendly dan juga kemudahan navigasi-nya.
Kebetulan saya adalah seorang designer (grafis dan art director) yang setiap hari pasti browsing internet untuk berbagai keperluan.
Kalau boleh saya menempatkan diri saya sebagai seorang brand manager / perwakilan perusahaan yang kebetulan sedang memesan sebuah website, ketika website ini di presentasikan, saya akan memegang teguh 2 poin di bawah ini berdasarkan skala prioritasnya :
1. Kemudahan mengakses.
2. Tampilan / desain visual.
Pertama, dengarkan presentasi tim mengenai fitur-fitur dan aksebilitas website (yang sebelumnya pasti sudah kita brief mengenai objektif dan apa yang ingin di sampaikan oleh perusahaan). Saya bisa sambil mengingat-ingat
pengalaman-pengalaman sewaktu browsing berbagai macam website; apa saja yang saya sukai, apa saja yang tidak, ketika website x meletakkan info a di halaman depan, saya suka karena langsung kelihatan, ketika saya harus bersusah payah mencari info yang basic di website y, saya tidak suka, dsb.
Kedua, lihat tampilan websitenya, kalau sudah lumayan cocok, gak perlu terlalu cerewet disini. Ketika saya browsing berbagai macam website, saya pasti sudah akan berangkat dengan keperluan yang spesifik.
Begitu saya masuk ke Friendster, Myspace atau Facebook maka saya langsung akan mengupdate ini itu, cek inbox, upload foto baru dll. Saya sama sekali tidak ngeh dengan bagaimana tampilan / desain website-website ini, tapi apakah tampilan website-website ini buruk? (Setelah diperhatikan), tidak juga, cukup baik kok, gak ada yang salah. Begitu juga pengalaman saya ketika berkunjung ke situs-situs lainnya.
Satu-satunya kasus (yang kepikiran) dimana desain website yang keren / fancy menjadi satu poin yang penting adalah ketika desain sendirilah yang dijual di website tersebut, misal, website sebuah sekolah desain grafis, website majalah grafis, website komunitas desainer grafis, dst.
Ilmu aksebilitas website dan arsitektur-arsiktekturnya memang perlu di pelajari, tapi ilmu-ilmu ini bukanlah ilmu-ilmu yang mudah dan dapat dipelajari dalam semalam, tidak semua brand manager punya waktu untuk rajin mempelajari ilmu tersebut. Tapi at least pengalaman-pengalaman kita ketika browsing ke berbagai situs dapat di gunakan sebagai reference sambil sementara kita belajar.
Dan satu hal lagi, ketika saya di panggil untuk ikut presentasi dari tim website, saya sebagai brand manager / perwakilan perusahaan, haruslah orang yang sangat biasa browsing internet sehari-hari. Kalau kita adalah orang yang jauh dengan internet, cek email saja tidak pernah, tidak usah ikutan meeting / presentasi website ini, karena dapat dipastikan saya akan melemparkan komen-komen yang tidak nyambung dan membuat semuanya menjadi panjang.
setuju bozz
Membangun sebuah website apalagi dengan genre yang sudah umum memang tidak mudah. Segala aspek seperti yang ditulis oleh Pak Nukman memang perlu diperhatikan, semua itu juga sudah dipertimbangkan ketika http://bazar.co.id dibuat.
Situs sejenis memang sudah banyak sekali,namun baik fitur maupun tampilan bazar sebisa mungkin sama sekali berbeda dengan situs bergenre sama. Bazar ingin tampil sebagus dan se-user friendly- mungkin.
Banyak orang menganggap seorang graphic designer juga merupakan web designer. Tapi kenyataan, untuk menjadi web designer yang handal, harus mengerti ttg tekonologi yg digunakan (HTML, CSS). Ini sering terjadi oleh programmer yang memaki habis para designer yang tidak punya background web.
Demikian sebaliknya para programmer yang tidak punya background design, web-nya mungkin berfungsi 100%, tapi tidak ada unsur seni atau artistik. Akhirnya pengunjungnya lewat begitu saja.
Ingat aja …. “Dari Mata Turun ke Hati”
Kerjaan pak Nukman dah lumayan balance koq untuk urusan seni & teknologi.
Sudah saatnya web designer di angkat lebih tinggi
101% setuju Om.
tetapi kadang desainer mati kutu ketika apa yg mereka ajukan (dan benar mengikuti kaidah) ditolak mentah mentah oleh pemesan yg hanya mementingkan sisi tampilan (mata) saja.
Sepakat,
secara itu 2 hal yang beda tapi hampir sama *sok teu*
#6. Okto: Tidak ada jagoan UI desain di Indonesia? Masa sih… Kurang kedengaran karena memang demandnya masih sedikit banget – kalau memperkenalkan diri sebagai UI/UX designer pasti ditanya balik ‘apaan tuh?’, ya jadi memang kurang ‘beken’ aja
.
Btw, baca topik ini serasa ‘deja vu’…
#22
Yang gembar gembor mengaku jagoan UI di Indonesia baru Boy Avianto.
#6
Ah, Anda sok tau. UI design tidak ada yang lulusan psikologi, biasanya justru dari ilmu perpustakaan (librarian), desain (arsitek) atau bahkan programming.
Setuju sama Boy, istilah UI designer di Indonesia memang kurang beken
@Ray…
bener juga tuh… saya juga sering ngalamin itu…… alhasil… yaaaa ngikutin klien….
perbedaan istilah kadang membuat gap……dan salh tafsir
UI Design = Sebuah ilmu yang sulit untuk diperlajari karena harus mengkombinasikan antara Design, Technology & Psycologhy…
yup emang bayak banget faktor2 yang mesti diperatiin, untuk ui design ini,,,,,menurut yang aku posting di blog aku kira2 ada 8 prinsip lah yang diperatiin buat ngebangun site menurut apa yang aku kerjain selama ini dan ga hanya sekedar designnya bagus..monggo di cek disini
wah makasi banyak penjelasannya… ada tambahan ilmu ni.. makasi banyak..
design that works! kalo katanya temen saya “saya bukan web designer mas, sy UI Developer”..:)
mantap gan, emang hal2 sepele sering di lupakan. tetapi hal sepele ini yg harus di perhatikan.
web design yang bagus kalo pengunjung ketagihan, pengiklan seneng, programmer nyaman, yang ngisi juga semangat, terlebih bos juga puas
mungkin impian ini bisa jago ui. Tapi sudahlah, banyak aspek yang harus berjalan seimbang.
terimakasih buat pencerahan dari teman-teman semua
^^