Ah, pagi kemarin ada telpon dari sekretaris redaksi Reader’s Digest Indonesia yang mengabarkan bahwa mereka akan mengirim bukti muat artikel tentang bisnis Internet. Sekitar dua bulan lalu saya memang diwawancara oleh majalah Reader’s Digest versi Indonesia tersebut. Mereka bisa menemukan saya ketika search ke Internet dan menemukan blog Internet Marketing di Virtual.
Majalah yang berukuran kecil ini rupanya ingin mengupas mengenai bisnis Internet dalam arti yang sesungguhnya, yakni bagaimana memanfaatkan Internet sebagai media pemasaran sekaligus sebagai wahana untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Mereka beranggapan bahwa tulisan-tulisan mengenai Internet Marketing di blog Virtual ini sangat tepat untuk landasan tulisan mereka. Oleh karena itu saya persilahkan mereka untuk mengutip penuh apapun tulisan di blog ini.
Saya mengira wawancara itu bakal jadi artikel biasa. Ternyata saya salah: artikel itu menjadi tulisan utama dan menjadi cover edisi November 2005 . Tulisannya juga sangat menarik. Mereka membahas beberapa entrepreneur muda yang mampu menjual sesuatu via Internet. Faruk Fahrani, 25 tahun, contohnya membangun bisnis kue berkatalog online. Silahkan dijenguk di CakeToOrder. Dengan katalalog online itu Faruk tak perlu mencetak brosur dengan biaya mahal. Menurut pengakuannya, bisnisnya lumayan laku. Sosok lain yang dibahas adalah Lucky Budi Hatamsyah dan Adeliska Virwanni yang membangun ButikBunga.
Selain diwawancara, tulisan-tulisan saya di blog diambil dan disusun ulang untuk memberikan tips bagi mereka yang ingin terjun ke dunia ini. Beberapa kutipan wawancara saya juga muncul di tulisan utama.
Satu hal yang saya sukuri adalah, penulisan blog ini benar-benar ada manfaatnya. Arsip pengetahuan ini bukan hanya untuk mereka, saat ini sekitar 100 an orang per hari, yang datang membaca langsung ke blog saja, tetapi juga menyebar melalui media cetak.
Hal lain yang saya syukuri adalah ketika RDI menanyakan berapa nomor rekening saya untuk mentransfer honor konsultasi. Ah…. saya terkejut. Saya sama sekali tak pernah membayangkan apalagi mengharapkan bahwa saya akan mendapat honor. Ah, media saat ini sudah makin profesional. Alhamdulillah.
Wah, congratulation buat Pak Nukman. Kami yakin bahwa hal ini akan memberikan kontribusi penting pada perkembangan bisnis berbasis internet di Indonesia. Teriring ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari kami.
Seep pak Nuk…
ngomong2…harganya Reader’s Digest Indonesia berapa..?
Semacam majalh Intisari khan..?
Mas Wawan
Yah… semoga aja orang Indonesia merasakan manfaat dengan adanya perkembangan teknologi internet
wahhhh.. huebatt pak…selamet… btw Reader’s Digest Indonesia ada gak ya di german, kalo gak ada.. kirim donk pak hehehe
pengen baca nih, dan buat koleksi
ya.. bisnis di internet akan semakin marak..! karena bersifat Global atau tanpa batas…
Alhamdulillah…ternyata di Indonesia, masih ada sebagian orang yg menghargai hak intelektualitas, meskipun tidak di patenkan…btw, itu terbitan kapan ya pak?
selamat mas, meski saya telat ngomentarinya.. hehehe. salam kenal
Apa kabar Mas?
hebat.. makin terbang tinggi, menembus awan. Aku skg di Bali Mas, kalau ke sini, kabar-kabari ya…
-ucok-
Hi Lia..
lama tidak ketemu ya..
Lho, sudah lama terbang dan menetap di Bali?
Nanti kalau ke Bali pasti saya kabari…
Mas Nukman,
Mengikuti jejak sampeyan, gara-gara tulisan tentang teh di blog saya, RD juga menjadikan nara sumber untuk edisi khusus Makanan Dahsyat untuk orang Hebat. Ketika saya buka halaman 64-65, ternyata disitu diceritakan tradisi minum teh keluarga saya, berikut photonya. Wah, walaupun tidak menjadi artikel utama, lumayan bangga juga dipublish di majalah sekelas RD
bambang
Hebat mas Bambang. Itulah buah dari ngeblog.
Readers Digest Indonesia ya, kemarin, saya lihat lagi profil mas Nukman masuk lagi di RDI lho…
Readers Digest US menggalami kendala keuangan, tetapi Insya Allah Readers Digest Indonesia tetap akan dapat melayani pembaca, klien bisnis dan pihak terkait lainnya seperti biasa tidak ada perubahan sama sekali…Ayo dunk pada langganan…biar majalah inspiratif ini tetap ada….