Kamis lalu, tepat pukul 18.00 wib saya diminta untuk jadi tamu siaran langsung radio Smart FM Jakarta oleh majalah Human Capital membahas topik e-learning. Saya diundang dalam kapasitas saya sebagai CEO PortalHR.com. Masalahnya, pertama: seumur-umur saya baru dua kali tampil di radio secara live. Itu pun sudah sekian tahun lalu. Kini saya harus cuap-cuap masalah serius di radio. Kedua: Smart FM memang radionya para pekerja kerah putih, namun saya ragu apakah tema yang berat itu akan mendapat perhatian pendengar. Apalagi tema ini, saya duga, kurang menyentuh hati pendengar.
Dugaan saya benar. Hanya ada dua penanya yang mengirimkan pertanyaanya via sms. Untung pembawa acaranya lincah dan saya ditemani oleh dedengkot Human Resource, mas N. Krisbiantoro, mantan VP Human Resource Telkomsel, yang juga kontributor majalah Human Capital, sehingga diskusi mengalir lancar.
Intinya, saya mengungkapkan bahwa di dunia, e-learning kini sedang menjadi pilihan menarik pembelajaran karyawan. Ketimbang memberikan pelatihan dan pembelajaran secara tradisional, perusahaan yang memiliki ribuan karyawan dengan banyak kantor cabang yang tersebar di daerah yang jauh cenderung membangun e-learning. Studi kasus menunjukkan, e-learning lebih efektif dan sekaligus lebih murah dibanding belajar tradisional dengan mengundang guru atau trainer.
Masalahnya, di Indonesia, belum banyak perusahaan yang menerapkan e-learning buat karyawannya. Hanya perusahaan raksasa semacam Bank Mandiri atau Bank BNI lah yang kini menyediakan fasilitas itu. Sayangnya, dari sedikit yang membangun e-learning, sebagian diantaranya lebih terfokus pada pembangunan infrastruktur. Mereka mengabaikan content. Jumlah paket pelatihannya minim. Bahkan mereka juga mengabaikan menarik tidaknya modul-modul pelatihan elektronik.
Dalam dunia web, hal yang sama dilakukan banyak perusahaan. Memang sudah semakin banyak perusahaan yang membangun web. Namun mereka abai dengan content. Mereka juga lupa untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang menarik user untuk datang dan datang lagi.
Maka e-learning yang terlalu memberatkan diri pada masalah infrastruktur dengan mengabaikan content adalah e-learning yang nggak mau learning.
Untuk mengatasi hal ini, seharusnya media massa banyak membahas perusahaan – perusahaan yang sukses menerapkan e-learning. Studi kasus mengenai hal ini berserakan di dunia maya. Tinggal mengambil dan mengupasnya menjadi bahan berita yang menarik. Maka, aya mengacungi jempol upaya majalah Human Capital dan radio Smart FM untuk membahas hal ini. Soal yang bertanya sedikit, ya ndak masalah. “Kalau topiknya gaji, yang tanya banyak sekali,” seloroh mas Kris, yang rutin menjadi tamu diskusi di radio Smart FM dengan bahasan utama sumber daya manusia.
Tautan:
N.Krisbiyanto: Organisasi yang Berhasil Orang HR-nya Sedikit
itu sama persis dengan pengalaman saya dulu waktu awal2 kenal internet dan bisa bikin website “cupu2an”. yang penting webnya jadi, tampilannya keren, puas sudah.
mungkin hal ini juga yang dialami sebagian perusahaan. pokoknya bisa gengsi2an punya website yang tampilannya keren, puas sudah.
memang sudah seharusnya konten menjadi raja di sebuah website, bukan tampilannya (yang biasanya dirancang semewah mungkin!).
meskipun infrastruktur atau teknologi yang diterapkan adalah yang terbaru n termahal yg tersedia di muka bumi ini, kalau kontennya hambar (apalagi basi), jelas ga bakal punya pengunjung setia.
Saya pikir justru e-learning lebih cocok untuk masyarakat umum, non karyawan, dimana efek instantnya tdk sangat diharapkan. Klo utk karyawan, e-learning kayaknya kurang afdol deh, mending diklat intens, soalnya perusahaan kan pingin manfaatnya didapat instant, secepat mungkin kalo bisa. 1 orang dari daerah tapi benar2 paham dan mengajari yg lain lbh baik drpd 1000 orang yg belajar bersama2 via net tapi nanggung.
#Mereka mengabaikan content. Jumlah paket pelatihannya minim. Bahkan mereka juga mengabaikan menarik tidaknya modul-modul pelatihan elektronik.
wah, kayaknya sebagai referensi ya pak. Ketika saya mengikuti rapat situs reposisi jogja.go.id kemarin, ada perwakilan dari ugm yang mengatakan bahwa dia sangat terkejut ketika tiba-tiba mendapatkan penghargaan dari google bahwa e-learning ugm di elisa.ugm.ac.id mendapatkan peringkat 1 seluruh dunia mengenai implementasi e-learning. Pihak google diam-diam melakukan penelitian terhadap situs e-learning di seluruh dunia selama beberapa tahun. Dan indonesia sebagai negara yang mempunyai situs no 1 tentang e-learning .
nah, ilmunya sudah ada di indonesia, apakah tidak ingin belajar dari situs anak bangsa sendiri?
pak nukman, saya juga nongkrong di smart fm tiap senin ke-1 dan ke-3 jam 16.0
bagi karyawan, e-learning mungkin bukan pilihan yang menarik. Tapi bagi perusahaan, efisiensi dari segi biaya, waktu dan infrastruktur memang menggoda untuk digarap.
wah pak nukman semakin keren aja
jadi inget website pabrik yang kontennya begitu melulu dari tahun 2005.
E-learning memang kini telah menjadi trend — terutama di negri Amerika. Kini sejumlah perusahaan global bahkan telah bergerak lebih maju; dengan membangun fasilitas virtual learning di “Second Life”. Saya membayangkan “Second Life” akan ber-evolusi menjadi semacam jagat e-learning yang amat ampuh.
Para perencana learning di perusahaan mestinya juga banyak belajar dari para online game developer. Betapa indahnya, jika konsep-konsep manajemen mutakhir bisa diajarkan melalui lakon-lakon semacam warcraft, dan sejenisnya.
Ke depan konsep, edugame memang tidak hanya cocok untuk anak-anak kita; “online management edugame” mestinya bisa digagas sebagai wahana e-learning yang ampuh.
Antara pelatihan yang sifatnya training ataupun diklat memang tidak bisa disamakan dengan e-learning. Namun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Setidaknya menurut saya, pelatihan langsung masih efektif karena dampak langsungnya… ada yg bimbing… walaupun kurang efisien dari sisi dana… Sedang e-learning lebih efisien segalanya apalagi memang eranya sekarang semua orang “pokok” menjadikan internet sbg kebutuhan yg utama. 24 jam nonstop, dll. Kekurangannya paling2 kalau sedang ada trouble, nggak ada pembimbing lansungnya…. bravo pak!
Pendapat saya, utk perusahaan, e-learning tdk seefektif diklat krn pada dasarnya perusahaan tu hierarkis. Pelatihan yg diberikan dilakukan hierarkis, tergantung levelnya. Biasanya level tertentu aja yg dpt traning, nggak banyak. e-learning sangat bermanfaat jika untuk pendidikan, di univ misalnya. Tdk ada hierarki untuk mahasiswa. Sifatnya flat, spread. semua mahasiswa diperlakukan sama sbg pencari ilmu. Utk perusahaan, pelatihan lbh efektif krn aplikasi lanjutnya (thd level yg lbh bawah) bs sangat bervariasi tergantung kapan dan dimana, selain itu, ilmu & info yg diberikan utk tiap karyawan tdk sama.
#8.
Sekedar menambahkan:
SecondLife.com – 5 Worst Websites – Time Magazine (2007).
Salam kenal mas Nukman,
Saya “kesasar” ke situs Anda setelah main di Bloknya kutukutubuku.com. Wah asyik sekali blognya… sudah satu jam lebih saya browsing dan membaca kesana-kemari tulisan2 Anda yang inspiratif.. Thanks for all the inspiration…
Soal e-learning,
Sebagai praktisi homeschooling, saya melihat e-learning melalui Internet sebagai salah satu model belajar anak-anak yang luar biasa. Bayangkan, anak saya yg 6 tahun kesenangannya Geografi (rasanya dulu saya tidak pernah menemui teman yg suka pelajaran geografi…) dan belajar langsung dengan Google Map melihat atap rumahnya dan menyusuri jalan-jalan yang dilaluinya… Sebuah proses belajar yang luar biasa dan sangat menyenangkan…
wah, masukan yang bagus banget mas Aar. Saya tak menyangka pengaruh Google Map ke anak sekecil itu ternyata positif.
berkunjung.. lagi mencari-cari artikel tentang elearning.. izin share ya pak…
E-Learning masa kini sudah diciptakan secara online. banyak contoh kasus lebih virtual lagi “Game Online” secara tidak langsung itu merupakan e-learning basis game. rata-rata masyarakt indonesia punya facebook sekarang, dan gak sedikit pula mereka habisin waktu untuk main game.