Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Tweet Berbayar: Salah Strategi Brand pun Rugi

August 25, 2010
Oleh Iim Fahima Jachja

Benarkah twitter sekarang juga bisa menjadi tempat mencari uang dengan adanya Tweet berbayar? kira kira seperti itu pertanyaan yang dilontarkan Najwa Shihab ke saya di taping acara Mata Najwa.

Sebenarnya bukan hanya sejak adanya Twitter. Namun sejak munculnya blog, individu-individu dengan blognya menjelma menjadi sebuah media. Ujung-ujungnya, blog yang populer atau memiliki topik spesifik akhirnya dilirik oleh pemilik maupun brand consultant sebagai opsi media beriklan, baik berbentuk banner maupun produk review.

Mengapa tweet berbayar lebih populer dibanding postingan berbayar di blog? Karena penyebaran blog tak se-massal microblogging Twitter. Dengan hanya 140 karakter seperti SMS, mengisi konten Twitter terasa begitu mudah, semua orang bisa lakukan. Hal ini pula yang menjadi salah satu sebab mengapa Twitter cepat pertumbuhannya di Indonesia.

Karena mudah pemakaiannya, maka begitu mudah pula bagi individu membangun medianya, terutama individu yang sudah populer sebelumnya. Tak heran, jika dulu hanya segelintir selebritis yang nge-blog, kini artis yang nge-tweet bejibun. Tak hanya artis, di Twitter pun juga dikenal istilah ‘seleb Twitter’ atau individu yang menjadi dikenal publik dan mempunyai pengaruh besar karena keberadaannya di Twitter.

Seperti halnya pembaca blog, follower di twitter adalah aset. Makanya tak heran, para selebriti dan seleb twitter pun kini menjadi media yang dilirik pengiklan .

Lalu, bagaimana sebaiknya sebuah brand memilih dan mengelola buzz agent (sebutan untuk orang yang melakukan tweet berbayar)?

Secara basic, prinsip memilih buzz agent relatif sama seperti kita memilih media lain untuk beriklan.

1. Lihat karakter individunya (media), sesuaikah dengan karakter brand?

2. Siapa followernya? (pembaca, penonton)

3. Berapa banyak followernya? (readership)

4. Dan yang terpenting serta yang membedakan dari pemilihan media lainnya, adalah seberapa besar pengaruh (influence) dari individu tersebut ke followernya.

Seorang selebriti dengan puluhan ribu follower belum tentu dia seorang influencer yang kuat.Begitu juga individu dengan follower hanya ribuan, bisa jadi dia punya influence yang besar karena kredibilitasnya.

Berbeda dengan media biasa, memilih buzz agent harus diikuti dengan communication strategy, buzz management dan conversation monitoring yang terus menerus sehingga sebuah berita bisa diterima dengan baik, tidak mengganggu (atau efek mengganggu ditekan seminimum mungkin) dan mencapai objective yang diinginkan dengan baik.

Banyak pemilik brand dan konsultan yang belum memahami bagaimana seharusnya menyikapi komunikasi di social media, akibatnya KPI yang di set pun sangat matematis seperti misalnya: buzz agent harus nge-tweet sekian kali dalam sehari. Padahal menilai efektifitas bukan dari berapa banyak jumlah tweet tapi berapa besar pengaruh tweet tersebut ke audiencenya.

Akibat dari set KPI tersebut, akhirnya buzz agent pun nge –tweet dengan kencang dan mengabaikan lingkungannya yang terganggu dengan tweet tersebut, yang bisa berujung pada buruknya image brand di socmed.

Buzz agent berlaku jangka pendek. Dalam jangka panjang, sebuah brand harus berpikir mencari brand evangelist sehingga komunikasi bisa lebih jujur, simpatik dan meyakinkan.


17 Responses to “Tweet Berbayar: Salah Strategi Brand pun Rugi”

  1. mbelgedez™ says:

    .
    Kapan ya saya dapet pesanan..??? :lol:

  2. rinu says:

    trimakasih pak atas informansinya :D

  3. Pitra says:

    @mbelgedez: bwahahaha.. :P

    Lalu apa yang jadi parameter pengukuran tingkat influence seorang user? Tentunya ini kan perlu dipertanggungjawabkan pula secara matematis ya.

    Plus, karakter seorang buzz agent bisa berbeda antara seorang @ndorokakung (misalnya) dan ratusan ababil. Mungkin @ndorokakung bisa punya tingkat influence tinggi, meski dia jarang mentweet.
    Di sisi lain ada ratusan ababil yg tingkat influencer sangat rendah, tapi karena setiap percakapan mereka selalu grouping (dan saling RT), kalau ditotal mereka bisa jadi punya tingkat influencer yang tinggi (ini masih asumsi, karena belum bisa dibuktikan analisanya ya).

  4. Senang membaca tulisan ini.

    Sebaiknya, blog ini memang sering-sering di-update; supaya dapat banyak pencerahan.

  5. Purwanto says:

    Ada berapa grup mafia tweet berbayar di Indonesia ya?

  6. Mantap……… besok lagi, bisa mbayar orang tuk mbengok2 dipasar…., tweet, tweet kok ada ya, blogging super mini membuat keranjingan banyak orang….
    lalu “Platform” apalagi yang akan lahir dan mempesona komsumen,

  7. imam says:

    Ada seorang temen yg menolak ketika diminta jadi buzz agent (nge-tweet dan dibayar). Katanya, sayang sama follower-nya. Karena bisa jadi, followernya gak mau terterpa tweet-tweet berbayarnya.

    Selain itu, dia sayang sama “brand pribadi”-nya yg sudah ia bangun sejak lama. Ia gak mau merusaknya gara-gara tweet berbayar itu.

  8. muntaha says:

    di mana-mana kalo ada keramaian, di situ iklan mulai bejibun. jadinya nggak nyaman dan nggak asyik. apalagi kalo iklannya beda ama tema dan warna sebuah komunitas.

  9. Cesar says:

    nais inpoh mba.. :thumbup:

  10. iimfahima says:

    Imam:

    Pada akhirnya keputusan diserahkan pada pemilik mediaapakah bersedia menerima iklan atau tidak. Menurut saya pribadi, selama pemilik media masih bisa menjaga konten(jujur,ngga asal terima iklan kecuali yang relevan) maka kredibilitas media tersebut tidak akan berkurang.

    Di timeline saya ada beberapa orang menerima tweet berbayar, namun karena cara penyampaiannya menarik, relevan dan ngga asal bilang “produk ini keren”, saya asik aja menerimanya.

    jadi, kuncinya ada di seberapa pintar pemilik media menjaga kredibilitas dan membuat sebuah iklan menjadi entertaining.

    Saya sendiri ketika meminta blogger melakukan product review, tidak pernah menuntut bahwa review harus sempurna penuh puji-pujian. Justru ketika sebuah produk dikemukakan dengan jujur, kredibilitasnya akan tinggi.

    Bagaimana dengan produk yang ngga bagus? ya jangan minta d review. Itu adalah bagian dari strategy komunikasi.

  11. iimfahima says:

    Muntaha:

    Dimana ada keramaian, di situ ada potensi market.Tentang “beda tema dengan komunitas” silahkan baca respond saya untuk mas Imam.

  12. iimfahima says:

    Purwanto:

    Mengapa menyebut dengan kata mafia? mafia itu negatif. Pencuri, koruptor dan sejenisnya yang merusak hidup orang lain layak diberi title mafia.

    Tweet berbayar adalah iklan, yang jujur mengatakan bahwa itu iklan. Tidak /merenggut hak hidup orang lain.

  13. agushery says:

    Twitter sangat berhati-hati saat memoles program twit berbayarnya. Hasilnya, belum begitu terlihat hingga saat ini meski sudah dipakai oleh beberapa produk.
    Beriklan di twit memang beda, selain karena atmosfir pembicaraan begitu cair, tanggapan juga bakal cepet sekali memantul.
    Untuk pengguna pribadi, sepertinya akan berpikir ulang untuk menggunakannya, selain karena pertimbangan sayang terhadap followernya bila tiba-tiba ada pesan yang memaksa masuk ke conversation, atau juga karena pertimbangan pribadi lainnya (anti terhadap produk susu tertentu misalnya) maka bisa saja terhambat.

  14. In my humble opinion, gak dosa kok *halah* jadi seorang buzz agent. Memang harus siap dg segala konsekuensinya. Setuju sm mbak Iim Fahima, asal penyampaiannya bagus dan isinya menarik.

  15. Fadli says:

    setuju, kalau semua tetap dilakukan dengan benar maka tidak akan ada masalah, bagian ini juga menarik : “Justru ketika sebuah produk dikemukakan dengan jujur, kredibilitasnya akan tinggi.”

  16. Joko Susilo says:

    Sepakat. Kalau hanya berdasar KPI bisa-bisa hanya kejar setoran nge-tweet

  17. Sandy says:

    Waw… Seru kali.. setuju banget tuh..
    But aku ga sering nge-twitt…
    abies ga begitu faham.. Nice Post..

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Kurnia Septa: - wah, selamat ya

  • mirza: - Saya dulu pernah magang di Virtual. Selamat ulang tahun ke-9! Mudah2an...

  • Zulfikar Akbar: - Tulisan yang cukup menarik. Memang soal mendirikan komunitas itu lebih karena...

  • samehadaku: - klo untuk “Direct Connect from Google Search” bagaimana caranya mas?

  • hendra andiarto: - Met Millad untuk Virtual Consulting. semoga tetap mewarnai dunia marketing...

  • sony set: - sugeng tanggap warsa…tetap semangat mbak Iim, Mas Nukman…tetap mewarnai...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting