Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Salah Kaprah Mengenai Social Media Marketing & PR

February 9, 2012
Oleh Andi Primaretha

Saya merasa perlu untuk meluruskan dua hal terkait tentang pemahaman yang kurang tepat mengenai apa itu social media marketing & PR dan juga apa tolak ukur kesuksesanya. Saya akan memulai dari sudut pandang bagaimana kita melihat social media di dalam Digital Marketing Ecosystem secara kesuluruhan kemudian diteruskan dengan apa yang sebenarnya menjadi tolak ukur kesuksesan di social media untuk jangka panjang. Dua hal tersebut saya tuangkan dalam 2 poin di bawah ini:

1. To Control The Uncontrollable

Pertama, saya jelaskan terlebih dahulu bahwa di dalam Digital Marketing Ecosystem terdapat 3 media yang berfungsi untuk menyampaikan message brand atau perusahaan kita di dunia online. 3 media tersebut adalah Owned Media (media yang dimiliki), Earned Media (media yang dihasilkan), dan Paid Media (media yang dibayar). Masing-masih dari media tersebut memiliki karekteristik dan fungsi yang berbeda dalam membantu penyampaian message kita kepada audience kita. Contoh dari Owned Media adalah website dari brand atau perusahaan kita, Earned Media adalah social media, dan Paid Media adalah space iklan yang kita bayar entah itu di sebuah news portal, search engine, blog, atau social media (Facebook ads).

Nah, yang sering disalah artikan adalah pemahaman tentang Earned Media adalah akun FB dan Twitter brand kita social media. Pemahaman tersebut salah karena Earned Media adalah apa yang dikatakan orang-orang tentang brand / perusahaan kita di social media bukan akun social yang kita miliki di FB dan Twitter. Sekarang coba kita bandingkan dengan dua media lainya, Owned Media dan Paid Media. Kedua media tersebut memungkinkan kita untuk mengkontrol message tentang kita dengan sebebas-bebasnya.

Website kita adalah sebuah tempat milik kita di online dimana kita bebas menaruh teks, gambar, video dan apa pun itu yang mendukung imej dari brand atau perusahaan kita. Apalagi untuk Paid Media, karena kita sudah menghabiskan sejumlah uang di media tertentu untuk menghasilkan impression, maka kita akan menciptakan message brand / perusahaan kita dengan sebaik-baiknya. Tetapi bagaimana dengan social media? Bagaimana kita bisa mengatur agar orang lain bicara hanya yang baik-baik saja tentang kita di dalam update status dan tweet mereka setiap harinya? Untuk itu saya sering menyebut pekerjaan social media sebagai pekerjaan “to control the uncontrollable” karena pekerjaan social media memiliki tantangan khusus dibandingkan dengan Owned Media dan Paid Media yaitu tentang kemampuan kita terhadap pengaturan message di media online tadi.

Oleh karena itu, sebenarnya pekerjaan besar di social media adalah bagaimana kita membuat orang-orang di social media (FB, Twitter, Yotube, Blog, Kaskus, dan sebagainya) untuk berkata positif atau bicara yang baik-baik saja tentang kita. Untuk itu, tugas kita adalah berusaha untuk menciptakan influence / pengaruh positif dengan menggunakan tidak hanya akun FB dan Twitter kita, akan tetapi juga bisa dengan menggunakan website atau online advertising.

Bisa saya rangkum untuk poin pertama ini adalah bahwa social media merupakan people’s media dimana message mereka tidak dapat kita kontrol tetapi dapat kita pengaruhi. Untuk mempengaruhi apa yang mereka katakan di social media pun tidak hanya pekerjaan dari admin FB dan Twitter brand / perusahaan tersebut tetapi juga dengan memiliki website yang baik dengan jumlah visitor yang sehat serta sesekali mengaktifkan online advertising melalui Google Adwords dan FB Ads.

2. From “One to Many Communication” to “Many to Many Communication”

Kedua, berkaitan tentang pengukuran efektifitas aktivasi di social media. Pada artikel saya sebelumnya “3 tahap analisis di Social Media”, saya menjelaskan tentang bagaimana pengukuran di social media tidak hanya terbatas pada Media Analysis saja (Jumlah Fans / Followers) tetapi juga ada Conversation Analysis dan Network Analysis. Sengaja saya taruh Network Analysis di bagian akhir karena saya selalu percaya bahwa hasil akhir dari yang namanya pekerjaan social media adalah menciptakan sebuah komunitas. Saya menyayangkan orang-orang masih sering menyalahartikan dengan komunitas ini dengan hanya melihat jumlah fans / follower. Jadi karena punya fans / follower dianggap “sudah” punya komunitas sedangkan bila angkanya sedikit maka dianggap “gagal”. Benarkah begitu? Saya akan membuat sebuah analogi untuk menjawab persoalan tersebut.

Coba anda bayangkan Brand A memiliki 5000 follower dan Brand B memiliki 1000 follower. Setelah dianalisis dengan Network Analysis terlihat bahwa 5000 follower dari Brand A tidak saling follow dan pada akhirnya follower sebanyak itu hanya secara langsung ngobrol dengan si Brand A. Kemudian ada Brand B dengan 1000 follower tetapi setelah dianalisis dengan Network Analysis diketahui bahwa diatas 50% follower yang berjumlah hanya 1000 follower itu saling follow dan akhirnya tercipta lah Sense of Community.

Ingat, komunitas adalah sekelompok orang yang terbentuk atau saling kenal karena adanya ketertarikan yang sama terhadap sesuatu. Jadi bisa saya jelaskan bahwa model komunikasi pada brand A adalah One to Many Communication yang juga sering disebut dengan model komunikasi vertikal dimana terdapat satu orang sebagai pusat perhatian dari banyak orang. Model komunikasi tersebut adalah karakteristik dari media tradisional dimana memiliki kelebihan dari sisi Reach (jangkauan), dimana message brand bisa sampai ke banyak orang. Kemudian yang membedakan dengan brand B adalah Many to Many Communication yang juga disebut sebagai model komunikasi horizontal dimana semua orang saling terhubung, tidak ada pusat di dalam sebuah jaringan komunikasi. Brand di dalam Many to Many Communication menjadi “social” karena identitasnya sama dengan fans / follower lain di social media. Karena merasa seimbang, maka fans / follower pun tidak ragu untuk asik ngobrol dengan si brand dan juga berbarengan dengan member komunitas lainya. Pendekatan model ini yang akhirnya akan menghasilkan engagement atau komunitas yang sesunguhnya.

Sekarang pertanyaanya adalah model komunikasi mana yang diharapkan di Social Media? Ingin dengan model komunikasi One to Many Communication (Fans/Follower banyak tapi tidak saling kenal)? Sah-sah saja, kenapa tidak? Tapi kalau memang Reach (jangkauan) sebagai tujuan utama yang ingin dikejar, kenapa tidak sekalian pasang iklan di TV, Koran, atau majalah yang tentu sudah pasti jangkauanya lebih besar dibanding social media. Intinya saya ingin menitikberatkan tentang karakteristik social media yang memungkinkan terciptanya conversation yang intense antara brand dan konsumen.

Mudah-mudahan 2 poin diatas bisa mengatasi pemahaman yang kurang tepat terhadap apa itu social media marketing & PR beserta dengan tolok ukur kesuksesannya. Semoga bermanfaat.

7 Responses to “Salah Kaprah Mengenai Social Media Marketing & PR”

  1. wah, akan lebih maksimal lagi kalau yg punya followers 5000 itu juga memakai sistem yg punya 1000 followers ya mas, jadi efektivitasnya ditambah terus. :D

  2. Andi Primaretha says:

    Betul Mas Hanif, idealnya seperti itu, followers banyak dan tingkat engagement tinggi, memang tantangan terbesarnya begitu, kadang engagement terlalu tinggi sedangkan angka followernya sedikit juga akhirnya kurang bisa memberikan efektifitas.

  3. Wawan says:

    Social Media memang menjadi booming setelah tersedianya berbagai macam aplikasi social di dunia maya. Saya juga nggak habis pikir, apakah pemanfatan social media ini termasuk budaya “latah” atau bukan ya??

  4. erwin says:

    saya adalah marketing online, saya ingin bertanya bagaimana kita bisa membuat interaksi di facebook atau twitter?

  5. Pandu says:

    Terimakasih banyak artikel-artikel ini membantu saya dalam kegiatan perkuliahan saya kebetulan saya mengambil jurusan Sistem Informasi dan ingin menfokuskan diri pada E-Commerce :)

  6. Blogging says:

    Social Media memang menjadi cara trends untuk memaksimalkan traffic blog…

  7. ubas says:

    sense of community

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Sita: - Hallo mas Andi, mas Andi punya referensi jurnal tentang gamification? Kalo ada tolong di...

  • surdat: - mas andi, info lebih mendalam lagi dong ttg ketiga tahapan ini. kalau dikaitkan dengan...

  • wayan: - Makasih Mas Andi, informasinya memberi pencerahan banget bagi saya. Saya tunggu...

  • Joko Susilo: - Hmm.. saya pikir ada benarnya juga. Nice share ya :)

  • Santi: - ::Social TV:: di era sosial-media sekarang, hampir semua orang bisa memiliki...

  • MdarulM: - Owh jadi begitu…akhirny a baru bisa mantuk-mantuk memahaminya *Nice Artikel*

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting