“Content is a King” adalah sebuah kiasan yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi mereka yang bergelut di bidang manajemen konten website /media pada umumnya. Ada cukup banyak diskusi yang membahas tentang bagaimana mengelola konten yang baik di online. Namun, kali ini saya akan membahas manajemen konten di social media.
Sebelum bicara jauh tentang manajemen konten di social media, mari kita bersama pahami bahwa di dalam sebuah proses komunikasi, ada dua tujuan yang ingin dicapai. Pertama adalah untuk menyampaikan sebuah gagasan (ideasional) dan yang kedua adalah untuk memupuk sebuah hubungan (relasional). Gagasan disini adalah ide, citra, identitas yang kita ingin sampaikan kepada lawan bicara kita sedangkan memupuk sebuah hubungan adalah usaha kita untuk menjadi semakin intim dengan lawan bicara. Kedua tujuan ini bekerja bersamaan ketika kita berkomunikasi dengan seseorang. Di dalam social media, dua hal tersebut dapat diaplikasikan seperti layaknya kita berkomunikasi tatap muka dengan seseorang. Akan tetapi, saya melihat beberapa Community Manager (admin) masih terlalu fokus dengan fungsi penyampaian gagasan. Kebanyakan masih terpaku dengan editorial plan, yang nantinya membuat akun social media brand tidak ada bedanya dengan majalah.
Permasalahan tersebut kemudian juga membawa kita pada trend social media untuk customer service. Biasanya, Community Manager yang baik tidak hanya terpaku pada penciptaan konten yang relevan tetapi juga kemampuan dia untuk membawa konten yang relevan tersebut menjadi dialog panjang yang menyenangkan dan juga memiliki kemampuan dalam menangani komplen dan menjawab pertanyaan-pertanyaan detil.
Tantangan selanjutnya dari seorang Community Manager dalam menangani akun brand social media yang ia pegang adalah bagaimana tidak hanya sekedar menyajikan konten tetapi objek sosial. Nah, apa itu objek sosial? Objek sosial adalah bagaimana menciptakan sebuah ide / topik terkait dengan brand kita yang nantinya akan menjadi perbincangan oleh banyak orang. Sesuatu yang “talk-able”. Saya akui prinsip ini seperti di pekerjaan jurnalistik dimana para wartawan berlomba untuk mencari berita yang memiliki news value, yang menarik perhatian banyak orang untuk membacanya.
Beberapa faktor yang membuat sesuatu menjadi objek sosial adalah prinsip sesuatu yang baru. Ini terjadi ketika dulu kami menangani kampanye Soyjoy Healthylicious di digital yang ketika itu mengusung ide tentang “The First Online Reality Show” dimana akhirnya hal tersebut berhasil menjadi perbincangan di online / social media ketika itu. Kemudian ada Nutri Sari Social Garden yang juga menjadi perbincangan di kalangan praktisi social media hingga ke dunia akademisi dijadikan soal untuk ujian di sebuah Universitas di Jogjakarta.
Mungkin beberapa dari anda akhirnya penasaran, apa sih formula untuk membuat brand kita menjadi objek sosial? Faktor apa yang secara signifikan memiliki andil untuk membuat brand kita layak diperbincangkan banyak orang? Kebetulan Mahasiswi saya pernah menanyakan hal tersebut kepada saya. Kemudian jawaban saya adalah hanya satu kata, eksperimen. Tentunya tidak hanya sekedar eksperimen asal-asalan tetapi juga eksperimen yang berdasarkan riset dari perilaku target market kita dan dibarengi oleh ide-ide kreatif agar konten yang kita tawarkan bisa sangat relevan. Bagaimana bisa mengerti relevan atau tidaknya sebuah konten, kita dibantu oleh alat-alat analitik seperti Facebook Insight. Konten yang baik / relevan akan diklik dan dibaca oleh orang kemudian terlebih lagi dikomentari dan di-share sehingga menciptakan virality. Konten yang punya potensi menjadi objek sosial adalah konten yang juga menciptakan engagement antara brand dan target audiencenya. Jadi ada ikatan emosi di dalamnya.
Oleh karena itu seperti yang tadi awal saya katakan, pemahaman proses dasar komunikasi (ideasional & relasional) serta eksperimen konten seharusnya mendapat perhatian utama dari seorang Community Manager. Karena menemukan bentuk konten / objek sosial yang relevan dengan audience kita dari waktu ke waktu, adalah sebuah proses.