“Nanti siang meeting di brand x, mereka mau masuk ke social media”, kata seorang rekan di kantor pagi itu. Yak, meeting dengan agenda ini menjadi sangat sering terjadi sekarang. Semua brand mau masuk ke Facebook, semua brand mau nyemplung di Twitter. Kenapa? Ya simple, karena kita semua sedang ngumpul disitu sekarang, gak lagi melulu di depan tivi, atau radio atau baca media cetak.
Social media adalah tempat manusia biasa (baca : bukan brand) berkumpul dan berkomunikasi. Tentu saja caranya sangat bebas, apa adanya dan spontan, karena Facebook, Twitter dan Blog bukanlah milik brand seperti halnya product site. Cara biasa brand berkomunikasi yang kaku, sangat iklan, selalu ingin sempurna tanpa cacat tidak akan berhasil di social media. Brand harus menyesuaikan diri, melepas atribut-atribut korporatnya yang dinilai kaku dan tampil lebih luwes di social media; jujur, spontan, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen, ya, saya sebut 3 kali memang, dan engage dengan mereka.
Sebaliknya daripada yang diatas (lah…kok kayak srimulat), dengan berpartisipasinya kita (manusia biasa, non-brand) di social media; Facebook, Twitter, blog dsb, mau tidak mau kita sudah menempatkan diri sebagai brand. Kita menulis di online biodata, siapa kita, what we believe and stand for, dan berkomunikasi berdasarkan poin-poin tadi, terkadang kita juga jadi menjaga diri, berhati-hati pasang status FB atau pikir-pikir sebelum nge-tweet biar gak malu-maluin, nah…you’re acting like a brand now!
Sayangnya tidak sedikit manusia (non-brand) yang suka lupa bahwa social media adalah ruang publik; ada friends dan followers yang semuanya bisa melihat apa yang kita ‘sajikan’ di social media. Friends dan followers ini adalah jaringan besar daripada friends dan followers lain yang saling bisa berkomunikasi dan mem-forward konten. Mau tidak mau, dengan keikutsertaan kita di social media berarti kita dengan sukarela telah menjadikan diri kita sebagai bahan tontonan buat orang banyak. Tidak jarang masalah serta konflik personal muncul karena sang manusia kurang bisa menjaga, me-manage dan menahan diri di social media.
Nah, sebetulnya di social media, brand dan manusia bisa saling belajar dari masing-masing. Brand yang terlalu nge-brand; kaku, membosankan, korporatif, takut salah, gak mau dengerin orang, mau sempurna terus dll bisa belajar untuk agak santai dan luwes dari manusia (which I found this should be easy since brands are handled by humans anyway, is that they tend to forget that they are humans and become boring marketing machines when they go to office and become the brand they’re working for).
Now, manusia bisa belajar dari brand dalam berkomunikasi di social media. Mungkin bisa mulai mencantumkan data diri yang kredibel (or yeah..you can keep it as ‘weird space alien dorkface’ if you’d like), mulai me-manage diri dalam ber-social media; apa yang mesti atau tidak semestinya di share ke publik, info apa yang patut dipasang atau tidak, berpikir sebelum nge-tweet, safe atau tidak tweeting-an saya ini, bagaimana kalau dilihat followers, ingat-ingat siapa saja yang mem-follow atau friends kita, apakah kita sudah mempelajari dan memahami cara Facebook dan Twitter (misal) bekerja dll dsb.
- Misal :RT in Twitter does not mean Reply Tweet, and Twitter is not Yahoo Messenger (chatting hahahihi gak penting di Twitter) nor it is an sms-ing platform ,(“Eh, gue udah nyampe nih, lu dimana?” via Twitter). Ignore these and you might be perceived as annoying and ignorant.
Intinya common sense saja, you should act depending on where you are, kalau di kamar mandi, silakang bertingkah seperti di kamar mandi, kalau di warung, monggo bertingkah seperti di warung, kalau di masjid ya sadarlah kalau sedang di masjid, kalau di gala dinner ya you should now what to do, dan demikian pula kalau sedang di social media. Know where you are, brand, manusia, selamat datang di social media, mari saling belajar.
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by idvirtual: Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media http://bit.ly/dfCKOi...
Terima kasih artikelnya. Saya mendapat banyak sekali pelajaran dari artikel ini, terutama bagamana menciptakan branding manusiawi. Tidak kaku tp tetap powerfull
Nah itu masalahnya Pak Nukman, banyak pengguna socmed itu menyalahgunakan socmed nya, kalau ditegur malah marah dan ngamuk. sudah gitu, marahnya berjamaah (ngajak temen2nya sesama penyalahguna untuk ngeroyok yang negur). Kalau sudah begitu, bagaimana?
artikel bagus, saya bis abelajar dari ini
-nice-
[dengan berpartisipasinya kita (manusia biasa, non-brand) di social media; Facebook, Twitter, blog dsb, mau tidak mau kita sudah menempatkan diri sebagai brand.]
kalau bgini berarti ada perbedaan yg kudu disadari ada perbedaan bagaimana ber-aktivitas marketing di offline yang biasa diatas namakan brand sedangkan online pada tanggung jawab personal (bukan merk).
Oia, kalau brand di online seandainya ada salah harus mau minta maaf dong. kan berlaku layaknya individu
hai mas Adhit, saya kok ga setuju dgn cth yg anda berikan ya? mnrt saya sah2 saja kalau kita melakukan hal spt itu di social media, toh kan semua tergantung kita menggunakan social media bakal spt apa, apakah hanya untuk berkomunikasi saja atau untuk personal branding atau apapun.
Berkaitan dgn friends dan follower, org yg menjadi tmn kita adlh org yg sudah kita konfirmasi kl kita mau berhubungan dgnnya di social media dan org yg follow kita adlh org yg sudah mengkonfirmasi kl mrk mau mendengarkan apa yg kita suarakan (kl tdk suka ya tgl remove atau unfollow). Saya rasa itu bukan hal yg annoying atau ignorant spt yg anda blg kl sudah spt itu.
Justru kita berkumpul di social media krn social media adlh tmpt kita berkomunikasi. Kl emg spt itu cara komunikasi kita, ya knp tdk boleh. He2. Buat saya kl semuanya sudah dibatasi dgn aturan2 atau rambu2 spt yg anda blg, social media bukan lg jd tmpt yg asyik untuk berkumpul. Toh anda sendiri yg blg kl “Social media adalah tempat manusia biasa (baca : bukan brand) berkumpul dan berkomunikasi. Tentu saja caranya sangat bebas, apa adanya dan spontan”.
Sebetulnya perkembangan social media sekarang ini benar benar mengubah tatanan tradisional internet. Dulu, orang orang yang posting di internet lebih memilih untuk menggunakan user name samaran supaya tidak dikenali orang. Karena faktor inilah, internet bisa berkembang pesat sampai sekarang. Internet adalah suatu tempat di mana orang2 bisa berkolaborasi tanpa batasan geografi, demografi, ras, ataupun kelamin.
Sekarang, internet sudah berevolusi ke stadium lanjut di mana dia sekarang lebih menjadi sebuah jejaring sosial yang tidak lagi ‘faceless’. Seperti kata bung Adhitia, semua orang yang ada di social media adalah sebuah ‘brand’. Brand tidak akan memakai nama samaran, karena itu bukan taktik marketing yang bagus
brand punya identitas dan juga nama.
Ke depan, saya kira social media akan lebih memainkan peran penting dalam hidup kita. Dan tidak salah jika orang harus mulai membiasakan belajar tata krama di dunia baru ini. Kita melihat internet yang semula hanya sebuah teknologi berubah menjadi bagian hidup kita yang terintegrasi secara mulus.
Menurut saya, apa kita di social media adalah apa yang ingin kita munculkan kesan kepada orang-orang yang menjadi teman kita atau follower kita.
dan masing-masing social media berbeda menurut saya, tergantung dengan orang-orang yang berada dalam jaringan kita. Klo saya misalnya di facebook yang notabene adalah sebagian besar orang-orang yang memang kenal dengan siapan saya sebenarnya, akhirnya polanya memang seperti yang terjadi du dunia nyata, saya ga perlu jaim, komunikasi yang saya lakukan tetap sama, mulai dari hal yang serius ampe yang becanda2.
Kasus twitter beda lagi, pada saat awal-awal memang saya ga peduli dg image yg terbentuk, tapi setelah ada kejadian yang membuat saya harus sedikit bijak (gara2 dipromosiin seseorang dg streotip yang sebenarnya beda dg gaya saya sebenarnya , akhirnya komunikasinya memang harus diubah.
Tapi terkadang ada paradoks memang dalam proses bersosialisasi di internet umumnya dan social media khususnya, dari pengamatan saya, kebanyakan orang introvert tidak menjadi dirinya sesungguhnya ketike berinteraksi disini, coba tanya kenapa?
Karena konon kabarnya Si Mark bikin FB krn dia introvert jadi biar bisa narsis kaya teman2nya hahahahaha
Terima kasih buat artikelnya, bermanfaat sekali buat kita semua yg baru mulai masuk di dunia SM ini.
Kenapa brand dan manusia (konsumen) bisa saling belajar di Social Media? ya karena budaya komunikasi di social media secara alami memungkinkan pendekatan two-way symmetrical communication dimana dua pihak yang berkomunikasi harus bisa saling beradaptasi dengan lawan bicaranya. Pada saat yang bersamaan keduanya saling menghayati segala informasi yang ada dan juga melakukan reaksi/feedback dengan mengekspresikan apa yang dipikirkan baik oleh brand / manusia (konsumen) itu sendiri dan begitu seterusnya.
Itu adalah salah satu cara/media,
sehingga tidak bisa di-aplikasi-kan untuk semua.
Sebagai contoh, ada perusahaan yang menjual suatu produk
yang brand nya bagus dan laris.
Walaupun dia tidak pernah mempromosikan diri melalui socmed. Bahkan mereka pun sangat jarang mempromosikan diri melalui media tv dan cetak.
Jadi socmed bisa cocok dan bagus untuk brand tertentu,
tetapi tidak cocok bagi brand yang lain.
Saya setuju social media sebagai ruang pubrik
untuk berbagi hal – hal yang tidak dapat diatasi diri sendiri.
Sekarang setiap masalah dapat di diskusikan dengan mudah
tulisan yang bagus ni mas. Sebenernya bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri, yang humble dan bisa diterima oleh khalayak. berusaha seimbang antara sok jaim (bahasa saya sendiri yg berhati2 dalam posting) atau berusaha luwes. dengan begitu brand atau personal akan lebih bisa diterima dan dipahami oleh followernya. Dan mungkin yang lebih penting kita bisa menjadi point of view di social media, seperti yang dibahas pada buku tribes.
Bener mas. Social Media emg telah mengubah banyak hal…
Mas Andika Alviano,
Hehehe, namanya juga sosial…media. Harusnya tingkah laku kita juga mesti bersifat sosial, yang beda kan cuman media nya pindah ke internet saja.
Again, social media adalah ruang publik, semua konten yang kita keluarkan akan tercatat, tersimpan, dapat dilacak, disebarluaskan dsb. (Google).Tentu saja ada ruang2 yang lebih memberikan privasi seperti ym dan email kalau mau lebih bebas.
Mengenai pemfilteran followers/frinds saya melihatnya hanya hal teknikal, tanpa ada kesadaran harus tetap menjaga diri di sosial media, its an accident waiting to happen (Evan Brimob, Marsha, ada abg yg ngatain pengguna bb alay, hashtag MUINextHaram). Pada akhirnya kita gak bisa pengang kontrol keseluruhan network.
Mengenai rambu2, saya sama sekali tidak bermaksud menciptakan rambu2 (bersosial media), rambu2 itu sudah ada dengan sendirinya.
Even detik.com juga menerbitkan tulisan tentang ‘rambu-rambu’ bersosial media :
http://www.detikinet.com/read/2010/03/23/102957/1323352/510/10-tips-aman-berkicau-di-twitter
Demikian, maaf telat komen baliknya
di dalam twitter, kekuatan 140 huruf adalah sesuatu yang unik, bagaimana kita merangkai dan menjadikannya menadi sebuah kekuatan citra ekspresi, sikap, suasana hati kita hanya dalam 140 huruf
setuju…setuju….
apa yang kita tuliskan mungkin di status, di notes..itu menunjukkan brand kita.
Artikel yang penuh limpahan ilmu dan manfaat, makasih ya–
[...] Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media [...]
Benar sekali bos. Setelah membuat akun dibeberapa social networking, tinggal menghubungkannya dengan web/blog, apalagi jika menggunakan wordpress (seperti blog ini). Mudah sekali menyampaikan informasi. Sehingga, jika terdapat tulisan baru di blog, secara otomatis twitter dan facebook juga akan terupdate.
Kata para pakar sih, selain SEO (Search Engine Optimization), juga perlu SMO (Social Marketing Optimization).
Sangat inspiratif. Semoga perkembangan industri farmasi dan industri lainnya ke depan semakin “melek” dengan teknologi.
Salam Sehat!