Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Belajar dari Langkah Mario Teguh di Social Media

August 24, 2010
Oleh Nukman Luthfie

Fanpage Mario Teguh di Facebook menembus angka dua juta pekan ini. Sebuah angka yang amat besar, bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga dunia. Fakta menunjukkan, amat sedikit perusahaan/merek/indovidu yang berhasil menggaet fan di Facebook. Techcrunch pernah melaporkan, 95% dari jutaan fanpage di Facebook hanya berhasil menggaet 10 fans. Mario Teguh termasuk di kategori 0,047% yang berhasil mengumpulkan jutaan fans.

Khusus untuk pasar Indonesia, angka yang diraih Mario Teguh ini lebih mencengangkan. Saat ini pengguna Facebook di Indonesia mencapai 28 juta akun. Artinya, tujuh persen pengguna Facebook di Indonesia mencintai Mario Teguh! Saya yakin, saat ini Mario Teguh adalah “pemilik umat terbesar” di Facebook Indonesia.

Statistik fanpage Mario Teguh juga mencengangkan. Sekali posting status, dalam tempo beberapa jam meraih banyak “likes” dan komentar.

Contohnya:

Tak mudah bagi siapa pun untuk meyakini masa depan yang baik, jika keberadaannya disepelekan dan ketulusan hatinya ditelantarkan.

Wahai jiwa yang letih, yang berjalan menunduk dan nafas beratnya bertanya mengapakah hidup ini tak berlaku ramah, sesungguhnya kesedihanmu sedang menyiapkan rongga besar di hatimu, sebagai penampung kebesaran hidupmu nanti.

Bertahanlah. Menangislah setulusmu, tetapi bertahanlah.Tak mudah bagi siapa pun untuk meyakini masa depan yang baik, jika keberadaannya disepelekan dan ketulusan hatinya ditelantarkan.

Wahai jiwa yang letih, yang berjalan menunduk dan nafas beratnya bertanya mengapakah hidup ini tak berlaku ramah, sesungguhnya kesedihanmu sedang menyiapkan rongga besar di hatimu, sebagai penampung kebesaran hidupmu nanti.

Bertahanlah. Menangislah setulusmu, tetapi bertahanlah.

Dalam 10 jam, status ini mendapat tanda jempol (disukai) oleh 18.255 penggemarnya. Dan berapa komentar yang diraihnya? 2.251!

Praktis Mario Teguh berbicara satu arah di Fanpagenya. Sejauh yang saya pantau, ia (nyaris) tak pernah merespon komentar penggemarnya. Ini melawan kodrat Facebook fanpage yang semestinya komunikasi dua arah (antara pemilik fanpage dengan penggemarnya) dan multi arah  (antara pemilik fanpage dengan penggemarnya dan antara sesama penggemar).

Apapun, fakta menunjukkan, Mario Teguh, yang kepopulerannya semakin dilejitkan oleh acara teve The Golden Ways di MetroTV, terbukti sukses di Facebook.

Namun, sebaliknya, Mario Teguh terbukti gagal di Twitter. Ia memutuskan untuk menonaktifkan akun Twitternya setelah mendapat kritik keras dari pengguna Twitter karena salah satu postingannya di Twitter disalahtafsirkan sebagai merendahkan wanita.

Karena keterbatasan Twitter yang hanya menampung 140 karakter, Mario Teguh membagi nasehatnya memilih istri/suami dalam empat posting :

1. Pada akhirnya kita harus memilih wanita yang baik untuk istri, pria yang baik untuk suami, dan membangun keluarga yang baik.

2. Jodoh itu di tangan Tuhan. Akan lebih baik jika kita periksa apakah kita mempersulit orang yang ingin memperjodoh kita.

3. Wanita yang pantas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.

4. Hidup berbahagialah dengan istri anda yang baik, atau suami anda yang anggun. Tidak ada kebahagiaan selain kebaikan.

Nasehat ketiga itulah yang memicu kemarahan banyak orang (bukan hanya wanita perokok, tetapi juga pria), sehingga di re-tweet dan menimbulkan viral yang memojokkan Mario Teguh.

Twitter memang berbeda dengan Facebook. Twitter adalah medium yang egaliter. Meski ada sebutan follower, statusnya sama dan seimbang dengan yang di-folllow. Follower bahkan bisa saja lebih pintar ketimbang yang di-follow. di Twitter, yang sering terjadi adalah percakapan yang seimbang, setara. Adu argumentasi adalah keniscayaan di Twitter.

Twitter yang egaliter itu tidak cocok untuk Mario Teguh yang memposisikan diri sebagai kiai, motivator, yang selalu menjawab pertanyaan audiencenya (seperti di tv) dengan mantap, sehingga menimbulkan tepuk tangan meriah, seolah semua jawabannya benar. Tidak ada perdebatan seru antara Mario Teguh dengan audiencenya. Dalam hal ini, Mario Teguh diposisikan berada di atas audiencenya.

Maka, karakter Mario Teguh memang lebih cocok di fanpage Facebook. Di sini sang motivator bisa memberikan motivasinya (layaknya di teve, cuma dalam format teks), lalu audiencenya bertepuk tangan dalam bentuk memberikan tanda jempol dan komentar. Lalu ia memberikan motivasi lagi, mendapat tepuk tangan lagi. Dan seterusnya.

Orang yang sedang membutuhkan motivasi memang sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan motivasi yang hebat dari motivator, apalagi yang sekelas Mario Teguh. Tak perlu mendebat. Karena yang dibutuhkan adalah semangat, motivasi untuk maju, untuk bangkit. Itu sebabnya, penggemarnya terus berrtambah di Facebook.

Bagi saya, keberhasilan Mario Teguh di Facebook dan kegagalannya di Twitter, sangat bermanfaat bagi siapapun untuk membangun strategi dan memilih medium untuk eksis di social media.

Tidak semua social media cocok untuk sebuah merek.

Gali karakter merek terlebih dulu, baru kemudian pilih social media yang cocok dan konsistenlah di sana.

Tanpa memahami karekter merek, social media itu bisa menjadi  medium yang justru menjadi senjata bunuh diri.

36 Responses to “Belajar dari Langkah Mario Teguh di Social Media”

  1. didut says:

    sarapan yg sedap nih dipagi hari baca artikelnya Gus Nuk :) )

  2. podelz says:

    siraman rohani pagi yang manthab

  3. agushery says:

    Cocok banget Pak Nukman, pembelajaran yang penting untuk memahami pendekatan yang berbeda antara Facebook dan Twitter. Dan seperti biasa, tulisannya menggugah. Terima kasih.

  4. Mugi Hari says:

    Mantap Pak. Thanks atas TAUJIH SOSMED pagi ini. Begizi TInggi & Bervitamin

  5. Nafi says:

    Artikelnya sangat bagus sekali om Nukman. Mengingat kembali akun mario teguh yang di hapus ini, sekarang pak Mario Teguh sudah membuat akunnya kembali di Twitter. Tetapi hanya diisi oleh quotenya yang sudah bisa diterima oelh masyarakat saja, @Marioteguhquote.

  6. achedy says:

    Kesimpulannya, yang pinter tetep Mario Teguh :D

  7. Hana says:

    Setuju sekali Pak Nukman. Memang segala sesuatu yang terkait strategi seharusnya dilakukan secara cermat ya Pak kalau mau sukses.

  8. abah oryza says:

    betul pak, memang kecocokan merek dengan media jejaring berbeda beda, dan itu tergantung karakter merek. setuju banget tuh .. tapi MTGW emang dahsyat, indonesia kehausan motivator karena gak punya sosok yang bisa di contoh sama sekali, jadi lebih terbuat sentuhan2 motivasi. seperti agama tanpa nabi, negara tanpa wali hmmm

  9. novy wijaya says:

    cakeps pak,
    setuju tidak semua jalur bisa mendukung sebuah kesuksesan, tinggal kita memilih yang paling tepat dengan karakteristik brand kita y..

    sip

  10. rsigit says:

    sip, bisa belajar dari kesuksesan sekaligus kegagalannya.

  11. cesar says:

    zalam zuper!!

  12. Dan berarti,krisis bukan berarti harus dilewati dengan survive di media itu, tetapi keluar pun merupakan sebuah keputusan yang tepat

  13. hamuro says:

    dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan yang tinggi kepada bapak mario teguh, saya kok jarang tertarik dengan apa yang yang disampaikan oleh beliau, kadang memang ada hal baru yg sangat menarik, tapi jarang. apa berarti saya tidak terlalu membutuhkan motivasi dari orang lain ya?

  14. Lukman Febrianto says:

    Terima Kasih atas pencerahannya Pak Nukman…
    Semoga bangsa dan negeri ini mendapatkan manfaat yang sebaik-baiknya dari berbagai media massa, termasuk social media… Salam…

  15. Wadiyo says:

    Tulisan yang menarik.

    Untuk membangun personal brand seperti Pak Mario Teguh,
    tentunya butuh usaha yang sangat keras, konsisten, dan
    waktu yang tidak sebentar.

    Coba kita melihat ke belakang seberapa lama beliau membangun
    itu semua, tentu sejak belum ada facebook.

    Melalui berbagai media, yang akhirnya menjadi terkenal seperti sekarang ini.

    Pak Nukman juga demikian kan?

  16. Pramana says:

    Ndak boleh sarapan bubur karena lagi puasa, malah dapat “Sarapan” yang lebih mantap!

    Terima kasih atas sharingnya Pak

  17. dhidhot says:

    wah.. bagus artikelnya..

    jadi ingat juga dulu di detikCom ada artikel tentang bahwa Social Media Bukanlah Juru Selamat : http://de.tk/fITdO

    banyaknya Fans atau Follower dengan segala koentarnya di Facebook atau Twitter adalah sarana untuk mengetahui dimana tempat yang tepat untuk mem-branding diri/produk kita, tetapi Pemilik Akun/Produk juga sangat penting apakah layak untuk di-branding di social media.

    Kita juga tidak tahu apakah kita akan selalu bertahan dengan Social Media jika suatu saat branding kita menjadi tercoreng atau terlihat jelek hanya karena kesalahan sepele..

    btw,
    it’s not the gun, it’s man behind it.. it’s not the arrow, it’s the indian.. it’s not the spiky bamboo, it’s the indonesian…

    semua kembali kembali kepada kita masing-masing bagaimana menyikapinya.. Like atau Unlike.. Follow atau Unfollow adalah hal asasi yang tidak terikat etika seperti di dunia nyata..

    Salut untuk VC, Pak Nukman.. Semoga bisa menjadi lebih baik di kemudian hari…

  18. arham says:

    Kalau bgtu:

    Facebook fan page, kalau mau jadi ‘orang suci’
    Twitter untuk yg lebih ‘suci’ karena memposisikan sejajar.
    Lalu di facebook, jika maunya jdi sprrti ‘kiai’
    Sadar diri dulu apa karakternya bisa didebat atau ngak, kalau
    Tokoh yg masuk esbeye tentu bakal bnyk didebat ngak mungkin sprti M.teguh..hihi

  19. komunikasi 1 arah tp punya byk fans? wow aneh tapi nyata.. salam super!

  20. muntaha says:

    di coba satu persatu mana yang cocok itu yang dipakai..

  21. Maskarjo says:

    Artikel Pembelajaran yang simple, lengkap, dan aplikatif. Very good pak Nukman dan sharing pagi yg sangat bermanfaat.

  22. Wah, pemikiran yg sama dgn saya :p *komen geje*

  23. rio lagoa says:

    ya, memang begitu seharusnya *sambil ngaca*

  24. sedap……………..

  25. Fikri Rasyid says:

    Ah, ini yang selalu terpikir oleh saya: karakter crowd tiap masing2 social media berbeda, jadi jumlah user bisa jadi “menipu”.

    Pengguna facebook di Indonesia bisa jadi 28 juta, tapi penggunanya kebanyakan orang2 yang tidak terlalu melek teknologi.

    Pengguna twitter bisa jadi “hanya” 2juta sekian, tapi relatif lebih banyak yang “geeky”.

    Demikian juga social media lainnya :D

  26. Fadli says:

    ualasan yang menarik, menambah wawasan dalam mempertimbangkan penggunaan facebook dan twitter, masing2 memang memiliki kelebihan dan kekurangan..

  27. yola says:

    sebuah artikel dan masukkan yang sangat bagus…

  28. riana chaidir says:

    terima kasih banyak atas ulasannya pak Nukman yang baik

    betul sekali ….rasanya hati damai tiap hari mendapatkan
    motivasi dari Pak Mario Teguh yang baik dan super
    ibaratnya tiada hari tanpa motivasi dari sang Guru

  29. Joko Susilo says:

    Benar. kata pepatah “beda lubuk beda ikannya”. setiap social media punya karakternya. tak perlu terlalu memaksakan diri merengkuhi semua social media yang ada kalau memang tak cocok dengan karakter diri kita.
    Cari mana yang cocok dan eksplorasilah secara mendalam di sana.

  30. Tongkonan says:

    Saya baru benar2 mengerti kasus yang menimpa Mario Teguh kemarin di twitter. :)

  31. Setuju mas, sepertinya harus memilih salah satu media sosial tersebut untuk mengkomunikasikan branding kita. Dan memaksimalkannya. Tks mas, sharenya.

  32. Sastro Darsono says:

    Halo,

    menurut saya posting-an Pak Nurman ini bagus, tapi melihat pada perspektif yang salah.

    Pertama, bahkan fanpage Facebook pun tidak cocok dengan karakter Mario Teguh. Di Fanpage Facebook masih bisa memberikan komentar. Apabila komentarnya tidak dimoderasi, maka efeknya akan sama dengan Twitter: fans-nya bisa memberikan komentar negatif pada sabda Mario Teguh tersebut.

    Kedua, walaupun komentarnya dimoderasi, tulisan2nya tetap bisa dilink ke Twitter dan dibahas dengan cara ‘egaliter’ -meminjam istilah Pak Nurman.- Hal yang sama terjadi kalau Mario Teguh menggunakan media blog (yang juga dengan komentar dimoderasi ataupun tanpa komentar sama sekali), di mana postingannya akan dengan mudah di-link ke social media lainnya.

    Ketiga, saya berpendapat bukan Twitter yang tidak cocok dengan karakter Mario Teguh, melainkan cara Mario Teguh menangani efek balik dari nasehatnya. Kalau memang karakter dia adalah sebagai motivator, berlakulah seperti motivator, bukan komunikator. Jangan dibahas ataupun dimasukkan ke hati kata-kata follower-nya dan lari dari social media. Biarpun komunikasi berlaku satu arah.

    Efek dari larinya Mario Teguh dari Twitter justru malah mengesankan ketidakmampuannya dalam menangani massa .

    Cheers.

    Sastro.

  33. @Sastro:

    Sudut pandang yang menarik.

    Namun, dengan angka fans yang dua juta lebih dan satu posting dikomentari ribuan orang, bagaimana anda bisa menjelaskan bahwa karakter Mario Teguh tidak cocok di Facebook?

  34. Sastro Darsono says:

    @Nukman

    Setuju bahwa angka tidak bisa bohong. Kata dua juta dan ribuan komentar per satu posting itu mencengangkan.

    Tapi penjelasan kenapa karakter Mario Teguh tidak cocok adalah dengan mengutip Pak Nukman sendiri:

    “Ini melawan kodrat Facebook fanpage yang semestinya komunikasi dua arah (antara pemilik fanpage dengan penggemarnya) dan multi arah (antara pemilik fanpage dengan penggemarnya dan antara sesama penggemar).”

    Di mana Mario Teguh seratus persen gagal dalam memenuhi aturan di atas. Kecocokan karakter tidak sama dengan kesuksesan di Facebook.

    Cheers.

    Sastro.

  35. eddo says:

    emang tuh pak mario jago dah

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting