Biasanya, isu berasal dari Internet yang merebak ke media konvensional baik teve, cetak maupun radio adalah isu-isu yang berkaitan dengan pornografi. Begitu ada foto bugil atau adegan dewasa seorang selebritis maupun orang penting beredar di dunia maya misalnya, seketika itu juga menjadi incaran jurnalis teve, cetak maupun radio. Isu dari dunia maya segera menembus ke dunia nyata. Namun, isu yang merebak awal November ini, boleh dibilang sebagai kelainan. Pelakunya bukan seleb maupun sosok penting. Dia adalah “monster Ancol”. Begitu videonya dipasang di Youtube, liputannya segera muncul di teve dan media cetak dalam tempo singkat.
Ini pelajaran penting bagi para pehumas dan praktisi Public Relations: dunia maya bisa menjadi pemicu isu yang menasional, menembus batas-batas maya dan sampai ke publik melalui media teve, cetak dan radio, meski itu tak terkait pornografi.
Sebelum muncul ke media tradisional, video yang dipasang di portal video terbesar di dunia pada hari Rabu 11 November 2008 itu menviral di dunia maya dalam tempo cepat. Hanya dalam tempo 1-2 hari, video iti diperbincangan di portal forum seperti Kaskus, dimuat di berbagai blog, dan dikupas oleh media-media online seperti Detik.com dan Kompas.com. Kedua media online itu bukan hanya meliput di lapangan dan menulis beberapa berita, tetapi bahkan membawanya ke istana dengan mewawancarai Wakil Predisen RI Jusuf Kalla.
Isu itu juga merebak ke social media, termasuk Plurk.com. Saya sempat melihat teman di Plurk yang memposting mengenai isu monster Ancol. Hanya karena saya anggap hoax, isu itu tak menyita perhatian saya.
Isu itu kemudian melebar ke media konvensional. Warta Kota, yang masih satu keluarga dengan Kompas.com, segera menulisnya di koran. Beberapa koran cetak juga kemudian menulisnya termasuk Suara Pembaruan. Bahkan teve pun kemudian ikut menyemarakkan isu itu dengan menayangkan video di Youtube.
Isu tersebut jelas merugikan citra Ancol. Judul videonya yang seram, “Monster Ancol like Piranha” bagaimanapun juga bisa berpeluang mengurungkan niat calon pengunjung Ancol berwisata di pantai. Kata monster, apalagi ditambahi piranha, secara sederhana bisa dikonotasikan berbahaya dan perlu dihindari atau dibasmi. Mereka yang bukan pengguna Internet pun terpengaruh oleh media teve dan cetak.
Selain itu, hasil pencarian di Google dengan kata kunci “Ancol” juga mulai dicemari dengan monster Ancol. Hanya dalam tempo empat hari setelah video itu muncul di Youtube, file tersebut sudah muncul di halaman kedua hasil pencarian dengan kata kunci “Ancol”. Bisa jadi, beberapa hari ke depan, file tersebut muncul di halaman pertama hasil pencarian.
Untunglah pihak pengelola Taman Impian Jaya Ancol, yakni PT Pembangunan Jaya Ancol, segera melakukan tindakan yang strategis.
Pertama, melakukan penelitian langsung.
Begitu tahu informasi video tersebut, hari itu juga, menurut pengakuan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budikarya, tim langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan penelitian.
Kedua, sangat terbuka dengan media.
Humas PT Pembangunan Jaya Ancol, Sofia Cakti, bersedia menemui beberapa media online meski belum bisa memberikan klarifikasi.
Ketiga, mengumumkan hasil penelitian dalam tempo cepat.
Hanya tiga hari setelah penyebaran video, tepatnya Sabtu 15 November 2008, Budikarya segera melakukan jumpa pers dan membenarkan adanya monster kecil bernama kutu air di pesisiran Pantai Ancol. “Setelah melakukan survei di lapangan, tim kami menemukan daerah terbanyak kutu air adalah pesisir danau Putri Duyung. Dua tempat lainnya, Ancol Barat dan Timur hanya ditemukan sedikit kutu air saat tim memasukkan ikan busuk dalam air,” kata Budikara seperti dikutip oleh berbagai media, termasuk media online.
Keempat, menggunakan pihak ketiga yang ahli, yakni LIPI, sebagai peneliti.
Hasil penelitian instansi ini menyebutkan bahwa monster kecil ini merupakan parasit ikan yang tidak berbahaya untuk manusia. Yang disebut monster ini hanyalah kutu air, jenis hewan herbivora pemakan sampah dan sesuatu yang membusuk, yang tidak mengganggu manusia.
Kelima, mencari solusinya.
Menurut Budikarya, pihaknya masih akan terus meneliti keberadaan binatang kecil ini pasca penemuan kutu air. “Jika kehadiran binatang ini tidak memberikan keseimbangan pada ekosistem di tempat itu, kami akan mencari predatornya untuk memusnahkan kutu air ini secara alami,” tambah Budikarya seperti dikutip koran Kompas dan Kompas.com. Sebaliknya, jika kehadiran binatang ini justru memperbaiki ekosistem tempat itu, kata Budikarya, pihaknya tidak akan memutuskan mata rantai ekosistem dalam air tersebut.
Dengan lima tindakan cepat dan tepat itu, isu segera mereda sebelum berkembang tak terkendali.
Buat saya, isu monster Ancol yang muncul di internet dan kemudian merebak ke dunia maya serta menjebol batas-batas maya masuk media konvensional adalah sebuah studi menarik mengenai perilaku media dan cyberPR.
Manajemen PR menangani isu ini juga sebuah studi menarik. Meski pendekatan manajemen isu untuk menangkalnya tetap konvensional, hasilnya amat bagus. Hasil pencarian di Google dengan kata kunci “monster Ancol” sudah diimbangi dengan pernyataan resmi yang positif dari manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol yang dikutip media-media online. Tinggal melengkapi dengan viral antar pengguna Internet yang menyebarluaskan pernyataan positif ini.
Info yang menarik pak. Sementara ini perusahaan kami belum memanfaatkan internet sbg media komunikasi. Blom ada respon cepat utk masalah – masalah yg timbul di lapangan. Mungkin bapak yang lebih expert di bidang ini bisa memberikan masukan, atau malah bisa menjalin kerjasama?^_^..siapa tahu gol.
sebagai salah satu bukti kalau Blog atau berita dari Internet lebih cepat menyebar, mudah membuat org percaya karena sifatnya yang lebih independent / tidak disetir . …
tadinya saya kira ini monster gede kayak loch ness gitu… pas liat video nya kecewa deh :p ternyata cuma kutu-kutu air…
oiya pak… kira2 utk konten seperti itu, media mana yang paling cepat menyebarkan infonya? milis, forum online, website berita, blog, ato microblog? klo saya pertama tahunya dari detik.com, tapi… detik.com taunya darimana???
udah liat di youtube, gak ada aneh2nya… biasa aja kali… pnamaan “monster” terlalu bombastis. huhu. media tuh yang selalu melebih2kan!!! *pentung2*
Menarik…menarik….
ternyata cuman kutu air, udah saatnya perusahaan seperti punya divisi khusus untuk online PR
Media tradisional tidak mau ketinggalan berita, malah langsung melaporkan isunya tanpa penelitian terlebih dahulu. Apakah ini seharusnya begini? Tapi bila dilihat tindakan mereka yang mau mengusung kebenaran setelah penelitian, jumpa pers, dsb. sudah termasuk tangkas
Buat Pak Nukman, apakah akan bikin “Monster Ancol akan hadir di Seminar Bapak?” heheheh
Tentu tidak mas Ivan. Seminar saya yang tanggal 3 Desember 2008 nanti fokus ke online ads, sementara monster ancol ini masuk kategori cyberPR. Mungkin akan saya bahas ketika saya bicara di acara Kongres Perhumas di Batam 5 Desember nanti
Salut buat Management Ancol, yg dengan sigap melakukan recovery sehingga efek Brand Destruction “Ancol” bisa dihentikan.
Recovery di media konvensional udah sip, makin sip jika di media new wave juga dilakukan upaya recovery juga.
Setelah dilihat SERP(Search engine result page) google.com lagi pake kata kunci “Monster Ancol”, yg muncul adalah video youtube dan “Monster Ancol – Pelajaran Penting Mengenai CyberPR” by Virtual, jadi secara langsung/ga langsung, virtual membantu recovery Brand “Ancol”, jangan2 clientnya Virtual ya pak hehe…
Salut buat Virtual
Bukan klien kami mas Catur
analisnya bagus sekali pak. Internet pengaruhnya besar sekali sekarang.
Kasus diatas bisa diambil pelajaran bahwa di Indonesia dalam tahap “pendewasaan” memahami dunia yang tanpa batas ini..:)
cerita ttg cyber PR, kami juga ingin berbagi pengalaman / cerita . Belum ada sebulan yll kampus kami (UGM) terkena amukan puting beliung. Sesaat kemudian kami baca berita di detik.com, semuanya menyoroti ttg keadaan internet UGM.. mati , tumbang wah kelihatannya gawat banget padahal gak “sekejam itu” lihat : http://ferryts.staff.ugm.ac.id/index.php/2008/11/10/berita-detikcom-memojokkan-kantorku/
. Pihak institusi kami merasa terpojok dgn pemberitaan tsb, dan begitu jaringan internet ‘up’ kami langsung memberikan press rilis di official site ugm. http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1609
regards
masfer
[...] mana cyber PR nya………..??? menurut keterangan mas Nukman Luthfie tindakan saya ini sudah termasuk cyber PR karena sudah menempuh 5 langkah seperti petunjuk mas [...]
Film jelek yang ngga penting, dipublikasikan hanya membuat orang repot & merugikan orang lain,..salut untuk management ancol yang cepat merespon.
Viral memang dashyat…. untung saja manajemen Ancol tidak meremehkan kekuatan maya ini… salut!
tidak disangkal lagi, Viral sangat berpengaruh jika kita ingin menggunakannya
mau coba… tp masih awam internet banget hehehe… makasih infonya pak..