Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Stop Bikin Iklan!

January 25, 2007
Oleh Iim Fahima Jachja

Tulisan ringan untuk orang iklan

Saat Workshop Pekan Iklan di UGM dan jadi dosen tamu di periklanan ITKP, judul materi yang saya sampaikan adalah : STOP BIKIN IKLAN!

Kacang lupa kulit :) , kata seorang CD yang dulu pernah jadi bos saya.

Mba Iim anti iklan, gitu kesimpulan sejumlah mahasiswa yang berani ngomong ke saya langsung waktu itu.

Hmm…bisa jadi. Tapi saya ngga sendiri.

Sebuah riset yang pernah dimuat di majalah SWA menyebutkan 52% konsumen di Indonesia membenci iklan. Riset kualitatif ini melibatkan lebih dari 2000 koresponden di seluruh Indonesia, orang kota orang desa, kaya miskin, berpendidikan tinggi ngga berpendidikan tinggi. lengkap lah pokoknya.

Saya menduga, sisa 48% nya dipenuhi oleh orang iklan, talent iklan, orang PH pembuat iklan, mahasiswa periklanan, pengamat iklan, klien yang produknya sedang diiklankan, owner perusahaan iklan, orang yang pingin jadi orang iklan dll.

Lho kok buntutnya ada iklan nya semua ya? hehhehehe.

Suka ngga suka, itulah realitas.

Semakin banyak orang yang ingin masuk ke industri periklanan mau pun mengiklankan produknya,namun pada saat yang bersamaan semakin banyak pula orang yang benci iklan.

Aduh bo capek deh, kata seorang teman yang sudah sekian tahun malang melintang di periklanan.

Emang, iklan itu bikin capek. Iklan itu memborbardir. Iklan itu menginterupsi kesenangan. Makanya STOP BIKIN IKLAN!

Bikinlah KOMUNIKASI.

Komunikasi bukan hanya iklan. Salah kaprah jika kita berpikir marketing komunikasi adalah iklan. Segala bentuk komunikasi sebuah brand/perusahaan yang berbicara langsung kepada market, disebut marketing communication.

Customer Care yang ramah, satpam yang sopan, staf yang cekatan, adalah komunikasi.

Pakaging yang unik, wraping bag yang lucu, adalah komunikasi.

Merchandise yang layak untuk disimpan (ngga dibikin asal-asalan) , adalah komunikasi.

Direct mail yang dibuat sekreatif mungkin agar dibaca, ngga masuk ke tong sampah, adalah komunikasi.

Instalasi kreatif di jalanan, adalah komunikasi.

Buzz di milis, komunikasi juga.

Masih banyak bentuk lain dari komunikasi.

Ibarat manusia, Berbicara tak harus selalu dengan mulut.
Lirikan mata, gerakan tangan, anggukan kepala, sentakan kaki, itu juga bermakna ‘bicara’.

26 Responses to “Stop Bikin Iklan!”

  1. Adi Dharma says:

    Setuju, tak perlu itu iklan2 tak bermutu yg fungsinya cuman menipu masyarakat.

  2. cc-line says:

    Ibarat manusia, Berbicara tak harus selalu dengan mulut.
    Lirikan mata, gerakan tangan, anggukan kepala, sentakan kaki, itu juga bermakna ??????bicara??????….. (komunikasi non verbal ya ?). Mungkin yg lebih ‘visual’ adalah pedagang buah di kiosnya masing2… mereka menyusun buah berbentuk ‘piramid warna’. Ada piramid hijau yg terbuat dr mangga, piramid merah dari apel… piramid oranye dari jeruk, ada melon, semangka, peer, rambutan dsb… dsb… pada dasarnya pedang tsb sedang menerapkan prinsip2 disain komunikasi visual (bentuk, warna, ritme, keseimbangan dll….) yg tujuannya jelas biar punya ‘daya ganggu’ bagi orang yg lewat… sampe melakukan ‘action’ pembelian. Ini juga ‘komunikasi visual’ atu iklan juga khan ??

  3. budiyanto says:

    Waduh.., kalo masalahnya pada dataran komunikasi sih saya sepakat aja mbak. Cuma apa iya kemudian konsep komunikasi yang mbak tawarkan itu bisa menyaingi terpaan langsung media kepada masyarakat?
    Kalo bicara masyarakat benci iklan sih saya sepakat, cuma masalahnya jangkauan iklan (melalui media2 konvensional maksud saya) dalam menyentuh ruang publik itu loh yang masih sulit untuk ditandingi, jika hanya berbicara dari konsep komunikasi yang mbak tawarkan..!
    Mudah2an sih mbak mau menjelaskan lagi mengenai konsep komunikasi di atas! Karena dari penjelasan tersebut saya masih melihat, bahwa komunikasi yang mbak maksud hanya terbatas pada level komunitas belum bisa merambah pada masyarakat luas.

  4. Iim-Adhit says:

    Mas Budi,

    Every medium has its own magic. Masing masing punya fungsi dan kekuatan yang berbeda.

    Media massa punya kekuatan di pengaruhnya yang mass, menghantam otak.

    Medium yang lingkupnya terbatas punya kekuatan di pengaruhnya yang personalized, menyentuh hati.

    Penggunaannya tergantung kebutuhan, kemampuan, pengetahuan dan pengalaman pemilik dan pengelola brand

    Komunikasi yang saya sebutkan, bukan berfungsi untuk menyaingi, tapi saling melengkapi. Syukur -syukur jika semuanya digunakan dengan bijak.

    Efeknya, tak sekedar menghantam otak, tapi juga menyentuh hati.

  5. agus siswantoro (cobus) says:

    “Iklan itu menginterupsi kesenangan” kesenengan yang bagaimana sih… banyak kok iklan layanan masyarakat yang bagus bermanfaat dan mendidik… kalo kesenangan itu karena iklan “men-jeda-” film,sinetron,dll gw ga setuju…….. (asli gw bukan orang per-iklanan,bukan pekerja iklan,dan bukan apa-apa yang ada hubunganya dengan iklan..)
    kalo komunikasi itu tidak “diomongkan secara VERBAL VISUAL kalo hanya dengan Body Language….. NOL besar bisa Booming…….!!! itu hanya bisa untuk yang melakukan kontak langsung…… “satpam yang ramah”… gimana cara ngasih tahunya SATPAM itu ramah ke seluruh Indonesia?
    SUSUNAN BUAH YANG bagus dan PRODUK OBAT yang CANGGIH… gimana caranya ngasih tahu ke seluruh indonesia secara efektif dan menyentuh otak.. kalo gw adalah orang yang PRO-iklan…. sekali lagi gw bukan orang yang ada hub-nya dengan iklan sama sekali…. kalo ucapan ” selamat pagi yang ramah receptionist….” supir taxi yang kreatif memaketin segelas air mineral dan sepotong lemper” di saat puasa untuk service buka puasa penumpangnya…(traditional banget)orang primitif juga begitu dalam melakukan BARTER… ehmmmmm itu yang CAPE DECH….. (tapi itu bagus untuk personal…)…..
    jadi dont say STOP IKLAN….tapi kemaslah iklan seperti “Pakaging yang unik, wraping bag yang lucu” itu…. sehingga IKLAN berubah menjadi sebuah MARKETING COMUNICATION…….kan bisa…
    kenapa mesti di STOP…..52 persen yang di suvey itu adalah… pecinta Sinetron,film india,kuis tv,goship tv mania..dll yang merasa terganggu karena acara nya di “cut “iklan…”

    sekian,
    salam.. cobus..

  6. Iim-Adhit says:

    Mas agus, silahkan dilihat jawaban saya untuk mas Budi untuk menjawab pengaruh mass yang dimaksud.

    Di pembuka postingan saya tulis: Tulisan ringan untuk orang iklan. Maksudnya, bahasan saya memang untuk orang iklan yang paham maksud STOP IKLAN yang saya tulis.

    Tentu saja, jika bicara pada komunitas iklan, STOP IKLAN tidak dimaknai seliteral itu, melainkan bagaimana caranya membuat sebuah iklan menjadi sesuatu yang komunikatif instead of bombardir yang melelahkan.

    Caranya antara lain dengan membuat iklan yang menghibur, menarik sehingga mampu menahan konsumen melakukan TV zapping. Plus memperhatikan detil-detil lain yang sebenarnya jika digarap dengan serius akan menjadi sarana berkomunikasi yang efektif dan melekat di hati.
    Semoga cukup jelas

  7. agus siswantoro (cobus) says:

    sipppp……
    setuju,,,, cuma ? STOP iklan… itu menggambarkan bahwa sebuah bentuk ajakan atau propaganda untuk….. anti IKLAN….( sori kalo salah ) bahasa saya sangat2 terlalu sederhana dalam pemikiran awam saya…
    kalau membuat IKLAN menjadi IKLAN yang komunikatif, menghibur dan menarik..setuju banget tapi itu tetepIKLAN kan? jadi mungkin perlu disampaikan mungkin batasan iklan seperti apa yang menarik dan tidak itu di lihat dari latar belakang siapa? karena sample yang diambil jauh banget, komparasi iklan dengan satpam ramah,dll… (maaf)
    Iklan sekarang saya rasa sudah sangat bagus pesat banget ide2 kreativnya dari dulu… cuma sekarang tinggal media TVnya nih… sebuah acara yang Ratingnya tinggi akan dipenuhi Iklan,,bukan iklannya yang salah tapi pengaturan jeda acaranya yang melelahkan… contoh sederhana saya… saya suka nonton acara empat mata-nya mas Thukul ( halo mas thukul gimana kabare?) awal2 saya nonton saya gapernah pindah chanel walau itu iklan…. tapi di saat iklan itu berulang2 berulang…terus.. walaupun dengan iklan yang diolah dengan strategi marketing comunication yang paling jago dan mahal dan canggih dan ok dan hebat pun tidak akan menghindari konsumen melakukan TV zapping… itu lho masalahnya dari kacamata saya (orang awam iklan)

    saya bukan melakukan argumentasi thd mas adhit dan mbak iim (mimi)….

    thx banget..
    semoga tambah bergairah nih blog….

    c o b u s

  8. Iim-Adhit says:

    Mas Cobus,

    Yang ini susah dijelaskannya dalam satu waktu, karena banyak point yang harus dijelaskan berkaitan dengan komunikasi iklan.

    Again, karena saya berbicaranya ke orang iklan, propaganda anti iklan tidak dimaknai seliteral itu.

    Intinya, iklan tetap elemen penting dalam rantai marketing. Namun menjadi tugas orang komunikasi untuk pay attention ke semua chanel komunikasi karena seringkali, kita hanya berbicara pada level image kosmetis padahal dalam kegiatan nyata konsumen deal dengan hal-hal yang sifatnya real.

    Pecinta Thukul? Sama dong =)

  9. budiyanto says:

    Mbak Iim saya rasa yang dimaksud mas Agus hampir sama dengan apa yang saya khawatirkan dengan kata ‘STOP IKLAN’ , karena jika ini dibenturkan pada lingkup terpaan media, ??????komunikasi?????? masih jauh harus mengakui kekuatan media konvensional. Karena itu saya sempat tanyakan kemudian konsep ‘komunikasi’ yang mbak maksud di atas bagaimana? Kalau dilihat dari penjelasan Mbak Iim atas pertanyaan saya (#4), saya sih fine-fine aja.

    Tapi saya melihat kekhawatiran mas Agus mungkin pada persepsi bahwa, singkirkan iklan dan jalankan ‘komunikasi’.

    Masalahnya Mbak Iim jelas mengatakan ??????saya tidak suka iklan??????, ??????stop bikin iklan??????, yang menurut saya juga ‘agak’ kurang tepat. Persepsinya jadi agak melebar Mbak. Belum lagi jika kita harus berpegangan pada definisi sebenarnya iklan itu apa sih? Jangan-jangan ??????komunikasi?????? yang mbak maksud juga bagian dari iklan itu sendiri?

    Terlepas dari itu, bagi saya pribadi produk yang namanya iklan sampai saat ini, dan entah sampai kapan pasti akan dipakai. Hanya saja mungkin keprihatinannya adalah, yang juga saya sepakati, mbok ya iklan itu dibuat dengan menggunakan konsep ‘komunikasi’ seperti yang mbak Iim maksud, pasti lebih baik. Begitu bukan mbak..?

  10. Iim-Adhit says:

    “Jangan-jangan ??????komunikasi?????? yang mbak maksud juga bagian dari iklan itu sendiri?”

    Di situ lah intinya. Ini bukan persoalan medium X VS medium Y, tapi bagaimana membuat iklan tidak terasa seperti iklan tapi lebih lebih sebagai sebuah hiburan, dialog atau apa pun lah itu.

    Memang, istilah STOP BIKIN IKLAN tidak perlu dilihat dengan point of view yang sempit.

    Sekedar tambahan info karena mas Budi dan mas Agus tidak terlibat di dunia periklanan, di advertising agency, tumbuh subur mindset bahwa marketing komunikasi adalah iklan. Sehingga ketika muncul brief dari klien, yang dibuat pasti iklan, sehingga out put yang keluarpun juga ‘iklan banget’.

    Padahal dengan semakin tingginya penolakan konsumen terhadap iklan, hal yang harus dilakukan adalah merubah mindset dari sesuatu yang keiklan iklanan menjadi sesuatu yang lebih komunikatif. Mediumnya bisa beragam, dari TV, Radio, Print Ad, Direct Mail, dll.

    Selain itu, perlebar juga kegiatan komunikasinya ke chanel-chanel komunikasi yang lain sehingga sebuah brand muncul sebagai sosok yang lengkap, bukan hanya cantik di TV saja.

    Jadi, istilah STOP BIKIN IKLAN bukan diartikan dengan berhenti bikin iklan, tapi berhenti membuat sesuatu yang sifatnya interupsi yang tidak menyenangkan (iklan banget).

    Di komunitas pembuat iklan, istilah STOP BIKIN IKLAN bisa diterima tanpa perdebatan panjang karena kami memiliki bahasa dan pemahaman yang sama.

    That’s why, again, di awal postingan saya menulis: Tulisan ringan untuk orang iklan.

    Memang, ketika dibaca oleh orang yang tidak berkecimpung di periklanan, pasti akan menimbulkan perdebatan panjang.

  11. Mario says:

    saya sepakat jika mba Iim&mas Adit menyebutkan bahwa mayoritas orang gak suka iklan. apalagi dikeukeuhkan dengan angka statistik.
    tapi muara permasalahannya adalah apakah yg bikin sehingga mereka tidak suka ?
    bila kemasan komunikasi yang jadi substansinya. maka, coba kita kembali ke tujuan sebuah iklan dipublisitaskan. kebanyakan mainstream “maaf” para pengiklan or juga agencynya cuma satu “SELLING”. itu pun perspektif sepihak. jelas, bahwa konsumen sekarang ini kurang dimanjakan oleh suguhan iklan yg bukan saja edukasi dari benefitnya tapi jg menarik.
    beralih ke pemilihan media. apakah ketika kita memakai media unconvensional/kreatif. masyarakat kita mau/bisa adaptif terhadap media tersebut. jawabannya nihil menurut saya. kita bilang bahwa iklan itu bagus beranjak dari mata orang yang paham seluk beluk iklan. tapi mereka..?
    mengutip teori kuantum seni (leap quantum) bahwa kita melihat tapi gak memandang, kita mencium tapi gak mengendus, kita merasa tapi gak bisa menyentuh. artinya orang2 kreatif (iklan)&advertisier belumlah memasuki labirin humanitas seperti itu. dengan begitu, perlulah direparasi pemikiran2 yang cenderung demikian.
    dikotomi komunikasi dan iklan bagi saya tetap harus dicari pemisahan esensinya.
    well, Cayoo Periklanan Indonesia
    Sim-sim, mba Iim & Mas Adit

  12. Iim-Adhit says:

    Mas Mario, silahkan dibaca jawaban saya untuk mas Budianto. Ini bukan soal
    medium X VS medium Y.

  13. agus siswantoro (cobus) says:

    sip.. gw udah nangkep apa yang bu iim maksud……
    STOP BIKIN IKLAN (iklan banget gito lho)

    tinggal sekarang implementasinya terhadap THE NEW SPIRIT of IKLAN bagaimana.. nah ini PR buat para ahli “marketing comunication” betul begitu mbak iim… ..

    satu lagi:
    bagaimana kalau kita buat review terhadap beberapa iklan ( ga papa kan nyebutin brand?) trus kita lempar ke forum,, iklan tersebut IKLAN BANGET (=istilah mbak iim) atau udah menerapkan kaidah2 komunikasi yang ok….

    salam,
    c o b u s

  14. enonz says:

    wuah… seru banget ya topik “STOP BIKIN IKLAN” yang sempet mba iim sampaikan dibeberapa tempat…Pekik UGM dan ITKP, sampe banyak yang menanggapi.
    (makasih lho mba iim, mas adhit… dah mau ngisi di PEKIK UGM, jangan bosen-bosen :-> )

    jujur saja, saya juga mahasiswa periklanan. saya juga suka benci ato bete ketika lagi seru2nya nonton tv tiba-tiba diganggu sama iklan yang “gitu-gitu” aja…

    tapi jujur.. ketika saya lagi seneng2nya nonton tv trus dicut sama iklan yang bisa bikin saya senyum bahkan ketawa… it’s fine…

    intinya.. saya merasa gag terganggu klo tidak “dipaksa” melihat iklan…

    banyak banget media yang sebenernya masih bisa digali agar kita tidak merasa “terpaksa” untuk melihat iklan… dan kita malah merasa terhibur…

    ya… klo kata orang media namanya “unconventional media”,

    ya contoh aja… klo kita lagi bt-bt nya nunggu bus yang gag kunjung dateng dihalte bus…
    eh malah ada “alat penyemprot wewangian dideket halte bus, yang dibuat se-kreatif mungkin, dan kita bisa langsung mencoba untuk menyemprotkannya…”
    wah seru kan…
    tetep jualan tapi juga menghibur…

    dan satu lagi…
    mungkin kalo boleh saya kutip dari seorang yang sudah lama berkencimpung didunia iklan…
    “sekarang adalah zamannya pendekatan emosional antara brand dengan target konsumen, dimana konsumen akan merasa aware dengan brand/produk jika merasa dilayani bak seorang “sahabat” bukan bak seorang “pembeli”.”

    sekarang produsen harus berpikir seperti itu ketika akan mengiklankan produknya. ditengah maraknya media iklan yang semakin “rumit”..

    hanya dengan begitu produk mereka bisa masuk ke mind set konsumen…

    bukankah salah satu tujuan kita beriklan adalah agar produk yang produk/pesan iklan dapat masuk ke benak konsumen… dengan cara “se-kreatif” mungkin

    makanya aku setuju banget dengan tulisan mbak iim :
    Ibarat manusia, Berbicara tak harus selalu dengan mulut.
    Lirikan mata, gerakan tangan, anggukan kepala, sentakan kaki, itu juga bermakna ??????bicara??????.

    Best regards,
    enonz

  15. ARIOS says:

    Maaf, interupsi…

    Saya berpendapat ini semua hanyalah permainan kata-kata yang mengacu untuk membuat suatu terobosan agar terlihat spektakuler.
    Dengan kata-kata, suatu definisi dapat disusun kembali. Oleh orang yang cukup “mumpuni” otaknya, kata-kata itu layaknya sebuah puzzle ajaib, setiap perubahan dapat membuat suatu bentuk baru. Salah satu trend yang ada dalam masyarakat adalah, bagaimana membuat sesuatu (termasuk essay, seminar, buku-buku, definisi pendek atau hal-hal semacamnya) yang mempunyai nilai spektakuler (memancing, menarik, menyenangkan, mengejutkan, menghentak,…) Salah satu cara untuk mendapatkan hal ini ialah dengan memancing nilai pro-kontra.
    Permainan kata-kata yang baik merangkul suatu pemikiran baru, bahkan dapat membuat suatu catatan sejarah.
    Tapi untuk membakukannya hingga membentuk suatu pakem baru bukanlah pekara mudah.
    Dalam diskusi ini kita membahat judul materi “STOP BIKIN IKLAN” yang mengajak kita pada suatu titik dengan mendefinisikan bahwa iklan tidak berkomunikasi.
    Nah loh?! Saya bingung, saya adalah orang periklanan, salah satu kerjaan saya membuat iklan. Doktrin yang pernah diajarkan kepada saya adalah bahwa suatu iklan baru tercipta jika telah berhasil berkomunikasi dengan terget yang telah dikonsepkannya. Dan sesuatu yang gagal atau tidak dapat berkomunikasi masuk dalam katagori pengumuman, atau kertas dengan gambar mobil, atau tulisan satu kalimat atau coretan-coretan apapun yang memang saya sendiri tidak mengerti apa isinya, karena tidak berkomunikasi apa-apa.
    Dan untuk mengakali rasa benci yang masyarakat miliki terhadap iklan amatlah relatif. Umumnya dari iklan-iklan yang baik telah berhasil menangkau/menghibur targetnya. Seperti saya, umunya saya tidak suka melihat iklan produk bayi, tapi istri saya selalu menyimak dan anak saya (1,5th) selalu tertawa-tawa geli melihat iklan produk bayi yang ada bayinya. Dan untuk ilan iklan yang mempunyai nilai historical saya selalu terkilik semangatnya, sedangkan istri saya tidak menyukainya dan anak saya adem saja melihatnya. Bahkan baby sister saya walaupun tidak suka kopi, tetapi suka terhadap iklan salah satu kopi yang ngebayol dengan pelesetannya.
    Jadi menurut saya benci atau tidaknya amatlah relatif, karena didalamnya tergantung dari banyak faktor, tergantung situasi, kondisi, mood, psikologis, kebutuhan, dll yang sedang dialami oleh sipermirsa pada saat ia menyaksikannya.
    Karena bisa saya siang hari permirsa bilang tidak suka, akan tetapi pada saat malam ia menyaksikannya ia suka, karena adanya faktor-faktor pendukungnya.
    Saya kasih salah satu yang mudah dicerna namun extrimnya; Siang hari si abg A menonton iklan X, ia tidak menyukainya, saat itu ia sedang patah hati sambil mengisi angket, ia mencontreng kotak tidak suka dalam angket. Sore hari abg A main ke kafe dan bertemu dengan pemain iklan X, mereka berkenalan, saling bertukar nomor telepon dan janjian untuk lusa nanti. Malam hari ia membeli produk X dan bertemu dengan pembagi angket, kemudian ia mengambil dan mengisinya lagi, kali ini ia mencontreng kotak sangat suka. Hehehehe….. Contoh ini memang extrim… hehehe… karang sendirilah contoh lainnya.. OK soB.

    Ini semua rangkaian kata-kata. Tergantung mood anda untuk menjadi pro ataupun kontra atau mau merangai yang baru lagi, selamat menikmati.

    Very very best regards,
    ARIOS

  16. ARIOS says:

    Maaf tambahan, karena menurut saya suatu iklan baru bisa dibilang tercipta jika dapat berkomunikasi dengan target yang telah dikonsepkannya…

    …Bagaimana jika bila judulnya diganti: “STOP bilang PENGUMUMAN sebagai IKLAN”

  17. Denny E.P says:

    jadi pingin komentar nih, soal masalah perdebatan judul saya rasa tidak perlu dimasalahkan lagi, itu murni soal komunikasi antara penulis dan pembaca, dan level of understanding. penulis di frekwensi 100 hz, pembaca di frekuensi 75 hz, yg mau disampaikan ke kelompok A, yg nyautin kelompok B ya ga akan nyambung dong :-) (no offense yah)

    soal iklan saya rasa exekusinya adalah tergantung siapa yang kita hadapi, ibaratnya kao kita mau nangkep singa jangan pake perangkap tikus, sebaliknya kalo mau nangkep tikus ya jangan pake perangap singa, bisa kebablasen… jadi liat dulu siapa pasar yg kita garap, minjam teorinya pak hermawan, Indonesia 1,2,3,4,5 kalo kita menggarap produk untuk indonesia 1, ya mungkin service personalnya dikurangi, karena itu tidak akan berpengaruh dalam keputusan mereka, otherwise mereka perlu dikasih iklan yg bersifat mass. tidak seperti indonesia 5 yang bargaining powernya lebih tinggi pembeli daripada penjual, so aim they hearth. caranya? komunikasi lewat personal service, karena mereka jarang nonton TV (karena sibuk, atau tontonannya HBO,AXN,CNN,cableTV) ya iklannya dikurangin karena ga akan ngaruh,
    kalo indonesia 1 mungkin lebih ke iklan, kalo indonesia 5 mungkin komunikasinya lebih ke personal. misalnya jam rolex, siapa yang pernah rolex ngiklan di TV? komunikasi mereka lebih ke personal, dan prestisius. kalo mereka kebanyakan iklan di mass media mungkin bisa jadi imagenya pasaran. less iklan tapi nyatanya? rolex masih idup kok dan masih merajai pasarnya.
    so lain pasar lain penggarapan, di pasar A mungkin komunikasi iklan-nya perlu tinggi tapi belum tentu berlaku di pasar B…

    keep spreading the virus mbak im! :-)

  18. Victor says:

    Ini ngomong ke siapa yang njawab siapa?! Pantas aja pada kebakaran jengggot ngebacanya. Setuju sama mas Denny, frewensinya ngga nyambung.

    Memang butuh jiwa besar untuk menerima sesuatu yang shocking.

    Mas Arios, kalo anda benar orang iklan, kok berpikirnya ‘lurus’ sekali ya?.

    Stop bilang pengumuman sebagai iklan, apa yang menarik dengan judul itu? Siapa yang mau baca tulisannya? what’s new with that? orang iklan pasti tahu lah itu. Ngga perlu diajari lagi

    Doktrin yang diajarkan tentang iklan adalah menjadi sarana komunikasi. Tapi kalo pas iklannya muncul malah orang ganti chanel itu komunikasi atau malah interupsi?

  19. Rulsky says:

    Unconventional media, anything out of ordinary.. selama hanya akan jadi utopia kalau advertising as an industry-nya sendiri tidak berubah.

    Selama industri masih “harus hidup” dari media commision, we can all forget about anything so called out of the box communication..

  20. Iim-Adhit says:

    #19. Agency boleh ngga berubah (mungkin…), tapi perubahan konsumen tak bisa ditahan. Dan klien ngga ‘buta’ terhadap itu.

  21. Rulsky says:

    well..
    if that somehow would happen, i can already picture this outcome:

    clients will demand for new media, agency somehow reluctantly agree (realizing the horror of a possible significant decrease on the agency’s revenue), agency laying off their workers because of the decrease in income, the laid off workers form smaller ’boutique’ agencies..
    while the larger one loses more business because of the shifting of accounts towards those ’boutique’ agencies plus the lack of good workers to sustain the accounts..

    afterall, with the current trend of media buyers forming more powerful entities independent from their original agency, smart clients could just buy their media needs to them.. by passing the agencies, right?

    perfect.

    full service agencies should see that coming..

  22. Dear All,

    Gini boss, jangan munafik lah sama iklan coba pikir dengan iklan kita bisa nonton gratis yah sedikit lah rasa terimaksih sama iklan.

    Brgds,
    arif

  23. Saya rasa ini hanya masalah istilah.
    Saya sendiri setuju dengan Mbak Iim… STOP IKLAN! Gantilah dengan KOMUNIKASI!

    Iklan adalah bagian dari komunikasi. Sarana komunikasi salah satunya adalah iklan.
    Setujunya saya dengan mbak Iim, “Komunikasi” terasa lebih santun dan lebih dekat, paling ndak, bagi saya. Lebih dekat dan ramah daripada kata “Iklan.”

  24. gun gun says:

    Mmm….stop bikin iklan yah…
    Saat ini saya bekerja di perusahaan iklan juga…
    Ada salah satu unsur penting dalam setiap iklan…yaitu UNIVERSAL…bisa diterima siapa saja..(bodo, pinter, kampung, ngota, de el el)
    Kalo orang sudah benci iklan, apapun alasannya, berarti unsur UNIVERSAL nya ga ada…
    Ini tantangan yang selalu ada di benak saya, gimana caranya bikin iklan (bagian dari komunikasi…kali ya…)yang universal…
    Semuanya kembali lagi ke konsepnya…apakah kita bisa ngegali konsep yang kuat dengan insight pesan yang dekat dengan realita…yang teralami oleh setiap field of experience…yang terekam dalam frame of reference otak …dengan kesederhanaan penyajian (MEDIA) tetapi memiliki impact 3 detik pertama yang menancap dalam di benak tiap penonton, pembaca dan pendengar…(bisa ga ya? keep up ah…)
    Insya allah…hanya dengan berangkat dari niat baik (yang tercantum di atas)untuk memberikan “hiburan” terbaik melalui sebuah karya iklan, iklan akan selalu dekat dengan pemirsanya baik TA nya maupun yang tidak.
    SELALU DAN SELALU…SAYA PENGEN YANG CINTA IKLAN ITU BUKAN HANYA ORANG IKLAN….HEHEHEHEHEHEHE

  25. kocosutimbul says:

    Dulu jurusan komunikasi bernama “Publisistik”, seiring perkembangan jaman dan budaya manusia, maka diganti menjadi komunikasi. Dan kata, dalam setiap budaya manusia, juga akan terus berkembang. Tren-nya akan selalu berubah. Kata “secara”, untuk jaman sekarang ini juga sedang mengalamai perubahan konteks. Jadi bukan tidak mungkin “Iklan” juga akan mengalami keusangan, rusak dan akhirnya membusuk?

    Suatu saat saya nonton film di TV, lagi seru nih.. weee.. si Rambo mau dibunuh ama musuhnya! Dilempar granat! Trus meledak! DHUERRR!!! asap di mana-mana.. dan…. Iklan rokok muncul!!!

    Yaaa… Iklan!!

  26. mmargo says:

    cuma satu komentar saya terhadap “Stop Bikin Iklan”…
    –GILA BENER ini tulisan, Cool…–…

    telepas dari semua kepentingan…
    Saya setuju dengan tulisan ini, secara implisit yang ingin diterangkan oleh penulis adalah bagaimana mengolah sebuah komunikasi didalam sebuah iklan atau hal2 yang menciptakan awareness terhadap iklan itu sesndiri…

    tambahan dari saya, adalah…
    behavoir dalam menciptakan komunikasi beriklan itu adalah penting, itu intinya dari komunikasi baik secara visual maupun verbal…

    dan setuju seperti yang dituliskan oleh mba Iim..
    SDM, Packaging, sampai dengan diri pribadi dalam bertingkah laku dan berkehidupan merupakan bentuk iklan yang jika bisa diolah merupakan komunikasi yang mencipatkan awareness sendiri terhadap produk yang ingin kita iklankan…

    artinya, bahwa itu semua bisa membentuk brand image yang cukup luas dan mengena di masyarakat…dan satu hal yang paling orang2 hargai adalah “Keramahan dalam beriklan dan bertindakataupun dalam setiap event”…

    Peace, Love ‘n Respect
    note: telat banget ya responnya…hwehehehe..

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting