Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Pemblokiran Youtube, Multiply, My Space: Mari Belajar Wisdom of Crowd

April 7, 2008
Oleh Iim Fahima Jachja

Gara-gara Fitna, Rusak Susu Sebelanga.

Sepertinya kalimat ini tepat untuk menggambarkan keputusan Menkominfo yang meminta kepada segenap pengelola penyelenggara jasa internet untuk memblokir akses ke situs dan blog penyebar film Fitna seperti Youtube, My Space, Multiply, Metacafe dan Rapid Share.

Bagaimana tidak, gara-gara keputusan tersebut,masyarakat Indonesia jadi kehilangan akses untuk informasi dan aktifitas penting lain yang mencerdaskan. Tak terbayang betapa banyak masyarakat yang dirugikan.

Salah seorang guru pengguna layanan Indosat 3G, yang biasanya lancar mencari konten video sebagai materi bantu mengajarnya di sekolah, kini harus gigit jari.

Musisi-musisi indie yang membuat musik Indonesia lebih cerdas, harus menerima kenyataan pahit tidak bisa mempromosikan musiknya via jaringan komunitas musik My Space.

Blog-blog bermutu yang ditulis di multiply tak bisa diakses.

Ribuan cara membaca Al-quran yang baik tak lagi bisa di download di you tube.

Begitu juga pengetahuan tentang inisiasi ASI, cara meningkatkan hasil panen, dan ribuan konten bermutu lainnya.

Harus diakui, Fitna memang melukai hati banyak masyarakat muslim. Tapi Internet sebagai sebuah medium komunikasi dan informasi juga memiliki caranya sendiri dalam meredam sebuah pesan negatif.

Inilah yang disebut dengan wisdom of crowd. Dimana ada kubu pro, pasti juga ada kubu kontra. Pada akhirnya online user akan secara cerdas dan bijak menentukan mana informasi yang layak diserap dan mana yang harus dibuang.

Ngga usahlah jauh-jauh bicara Fitna, blog dengan konten yang cenderung tidak cerdas, provokatif dan menghasut pun akan ditinggalkan oleh pembacanya. Apalagi Fitna yang jelas-jelas telah disebut di semua media sebagai film yang hanya berniat menyulut pertikaian, penilaian sepihak tanpa didasari riset yang kuat dlsb. Bahkan Budiarto Shambazy dalam sebuah kolomnya di Kompas menjuluki Wilder sebagai ‘Wong Edan Ora Kathokan’, alias orang gila tanpa celana!

Pemblokiran sejumlah situs bukanlah solusi yang tepat, malah memancing terjadinya viral marketing. Sore tadi saja, saya melihat sejumlah pegawai membuka email yang isinya film tersebut.

Mari kita belajar wisdom of crowd. Mari belajar menghargai komunitas online yang sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan mana yang patut diserap dan mana yang tidak.

Atau, kalau tak mau, kirim saja email ke pengelola YouTube agar mencabut film tersebut. Jika tak juga ditanggapi, minta saja agar para ISP Indonesia untuk mem-blok videonya saja, bukan situsnya.

Membakar lumbung untuk membunuh seekor tikus, tidak pernah menjadi contoh pembelajaran yang cerdas.

Tabik!

21 Responses to “Pemblokiran Youtube, Multiply, My Space: Mari Belajar Wisdom of Crowd”

  1. Budi arta says:

    yang harus dipertanyakan juga, siapa sih pembisik pak Mentri itu? Katro banget!

  2. Angel Burhan says:

    Sungguh aneh pak mentri kita ini, bikin keputusan kok reaktif dan hasilnya malah negatif…ck..ck..ck…

  3. dina bhe says:

    hiks…. jadi bener neh multiply di blokir, sampe brapa lama mbak ?

  4. babezacki says:

    turut berduka….

  5. Iim-Adhit says:

    Semalem saya coba buka pakai indosat 3G, semua site sudah bisa dibuka. Tapi dari kantor, site belum bisa dibuka.

  6. Kukuh TW says:

    pemerintah sudah resmi memblokir situs youtube.com dan lainnya mungkin segera menyusul,

    walaupun kita kecewa dengan kebijaksanaan pemerintah, mau apa lagi ? kita ini kan hanya rakyat yang harus patuh pada pemerintah. protes boleh, tapi rule is rule….

    walaupun beberapa di antara kita , ada yang tahu cara membypass agar situs2 terblokir agar tetap bisa diakses, diantranya adalah

    1. mengetikkan key word ‘proxy anonymous’ di google.com
    2. masuk ke situs yang banyak tertera disitu, misalkan kproxy.com, youhide.com
    3. masukkan url situs terblokir, dan terbukalah situs-situs terlarang tersebut di layar monitor anda

    mohon jangan disebar luaskan, karena apabila disebarluaskan, nanti pemerintah bisa lebih kalap lagi, memblokir situs google.com
    ini sekedar tips dan tricks sederhana saja, agar semua bisa mengerjakan tugas-tugas kantor menggunakan referensi dari URL terlarang

  7. Anang Pradipta says:

    Dari milis Tangan di Atas:

    setuju untuk lebih bijak dalam menyikapi sesuatu. bukan berarti juga yang
    salah si youtube dan situs social networking lainnya. khan youtube nya juga
    tidak bisa menyaring satu demi satu yang masuk kedalam komunitas mereka.

    baru setelah ada kecaman dari beberapa pihak, lantas pasti di turunkan dan
    di blokir itu film.

    kalo kita malah menutup diri dari komunitas nya ( yang belum tentu isinya
    fitna semua ) hilanglah sumber inspirasi dan berbagai macam kegiatan yang
    bisa dilakukan lewat situs situs tadi. Saya sendiri makai youtube sebagai
    salah satu sumber berita terkini untuk mencari info teknologi terbaru yang
    biasanya hadir dalam bentuk preview video. Dan itu di youtube saja. Di
    tempat lain nggak ada karena dianggap melanggar TOS.

    Nah kalo semua semua di tutup, banyak individu yang nggak bisa berkembang
    dalam pencarian informasi, dan malah jelas merugikan kita sendiri. Mau
    mencerdaskan bangsa Indonesia dengan menutup lubang informasi ?

    Saya sekarang menggunakan jasa proxy dan opendns demi kelancaran informasi,
    karena google-pun juga sudah di blok di ISP saya !


    Anang Pradipta

  8. Jonru says:

    dari milis Tangan di Atas

    Wah… jadi benar-benar sudah diblokir ya?
    > > Hiks.. betapa tragisnya.
    > > Multiply adalah salah satu rumah yang paling saya cintai di dunia maya
    > > Sejak tadi siang, saya juga sudah tak bisa mengakses multiply.
    > > Mungkin udah diblokir ya?
    > >
    > > Hm… jadi gimana nih?
    > > Perlukah kita protes?

  9. Yunari says:

    biar aja lah di blok.. karena:

    1. masih ada proxy
    2. masih ada website lain yg punya informasi sama
    3. biarkan sang menteri dan para keparatnya, bersenang senang sejenak
    4. biarkan sang menteri dan keparat2nya berusaha melakukan pembodohan rakyatnya.

    kalo film “Fitna” yang katanya jadi pemicu.. kok rada aneh ya… Pertama, itu kan sama kaya kasus gambar2 dulu…. yang Kedua, Judulnya “FITNA” saya artikan sebagai “FITNAH”, yg juga berarti bahwa film itu menceritakan Fitnah yg terjadi pada Islam/Muslim… jadi film itu bilang bahwa “Ini adalah fitnah yg dilontarkan terhadap Muslim”

    yah gitu deh, saya cuma user aja.. jadi cuma bisa ngikut apa kata orang yang berkuasa..

  10. mumu says:

    ah, pemerintah sih sedang mengambil hati umat islam aja, biar dianggep tanggap terhadap aspirasi umat dll…tujuannya ya utk menjaring suara mereka di pemilu 2009 nanti. lagu lama. hihihi. terlalu politik ya analisis saya?

  11. Iim-Adhit says:

    # Mumu:

    Bisa jadi sih mu. Cuma pertanyaannya: Umat Islam yang mana? :D

  12. Robin says:

    Saya baru tahu Metacafe juga di blokir. Lol, mereka udah pernah ngeliat Metacafe belum sih? OMG bodohnya.

  13. afu says:

    dari milis mediacare:

    doah… saya heran banget dengan tindakan pemerintah kali ini yang
    “membabi-buta” melakukan blokir website tidak baik.

    apakah pemblokiran membabi-buta ini sebagai bentuk kesungguhan dalam
    menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah yang baru lagi ?
    bukti akibat dari pemblokiran membabi-buta sudah banyak terlihat di
    lapangan bukan. lalu ?

    saya merasa ini hanya langkah sederhana tanpa mau berupaya
    menyeimbangkan antara kebutuhan akan informasi dan penyalahgunaan
    informasi. kejelasan refleksi sebuah kemalasan. kenapa ?

    kalau memang berniat memblokir situs yang tidak baik, blokir saja
    tidak baiknya. kenapa yang baik-baik ikut diblokir ?

    kenapa penutupan dilakukan pada main domain / ip server, bukan pada
    exact link yang menuju pada content yang tidak diinginkan.

    misalnya content yang tidak diinginkan alamatnya
    http://youtoube.com/blablabla... tutup saja alamat tersebut. jangan
    ditutup http://youtube.com nya.

    kenapa saya sebut sebagai refleksi sebuah kemalasan ?
    karena malas mencari exact link yang jumlahnya bejibun dan update tiap
    detik. lha trus dana yang terdengar sebesar 30T untuk apa saja ? salah
    satunya dimanfaatkan saja untuk update blacklist itu lah.. untuk apa
    lagi ?

    syukur syukur bisa membuat bot yang dapat mendeteksi exact link -
    exact link dan diapprove oleh operator untuk memastikan kebenarannya.

    Membakar lumbung untuk membunuh seekor tikus, hanya contoh
    pembelajaran bagi mereka yang malas dan menggampangkan sesuatu.

    regards,
    afu

  14. Bondan Sentanu says:

    dari milis mediacare:

    kalo saya lihat,

    masalah dasarnya adalah kita itu (indonesia) masih merasa punya power di
    dunia. nggak punya modal, tapi masih pengen nekan2 pihak lain. apa
    modalnya sekarang ini? jumlah penduduk yang besar? jumlah muslim terbesar
    sedunia?

    yang dicari adalah bahwa youtube, belanda, dsb MINTA MAAF kepada kita.
    mereka yang harus mengibarkan bendera putih kepada kita.

    itu semangatnya. saya nangkepnya seperti itu.
    semangatnya seperti gerakan ‘ganyang malaysia’, bukan?

    apa pendapat anda tentang semangat ini?

    semangat menang-kalah dengan pertarungan terbuka, dengan modal bangsa
    seperti saat ini, saya rasa bukan langkah yang cerdas. saya mau tertawa,
    tapi ga tega.

  15. Wuryanano says:

    Yaa biasalah, jika mau ada Pemilu…selalu ada “gebrakan” dari pemerintah yang dikesankan membela orang banyak.

    Mungkin biar terkesan membela Islam. Lha ngapain Islam pakai dibela segala, wong ISLAM itu sudah SANGAT KUAT kok.

    Nggak perlu mengatasnamakan Islam lah. Saya prihatin juga dengan orang sekaliber Muh. Nuh sebagai Menteri, kok gampang banget nerima usulan BLOKIR SITUS tertentu ini.

    Kalau nggak ada yang ngusulin, rasanya aneh, masak sih Menteri mantan Rektor ITS dengan segudang ijazah, penghargaan di bidang IT kok jadi KATROK banget ya?

    Kalau mau blokir, masak nggak bisa mem-blokir film fitna nya aja? Kok pakai blokir situs nya?

    Lha kalau di negeri ini sudah ada banyak model situs seperti dari luar negeri itu, masih mendingan bisa dimaklumi. Nah, kan sekarang ini kita aja masih katrok dengan urusan IT…masak Menteri nya ikutan katrok seperti rakyat jelata kayak saya ini….wah..wah..wah.. negeri yang aneh.

    Yo wis, kita memang harus berbesar hati sebagai rakyat jelata. Kenapa ya, KORUPSI NGGAK BISA DIBLOKIR? Apa sampai saat ini masih belum tahu teknologi pemblokiran korupsi?

  16. devhie chubby says:

    Hi Mba Iim…
    setuju bgt sejak diblog, kita pun jadi terbatas bgt untuk tau perkembangan terbaru. But I have a good information which I got from mail list:
    uno_10_2000: Sebagai bentuk protes g ama aksi pemerintah dengan orang IT nya yang sok jago yang ngeblok2 sembarangan neh kita kasih info cara membuka situs yang di blok buka “www.google.com/translate” terus di translate web page ketikan alamat situsnya cth “http://youtube.com” nah disebelah kanannya ada pilihan bahasa, ubah pilihan bahasa menjadi bahasa lain to english (cth : arabic to english atau chinese to english atau france to english) dan selamat menikmati kembali situs yang di blok….
    Pemerintah sepertinya menggaji orang IT yang cukup bodoh,
    katanya ampe keluarin dana 18 triliun tapi tetep aja bisa ditembus lagi ama mahasiswa yang belum lulus kuliah zzzz
    (cape deh) di forward ke yg laen ya……

  17. Ully says:

    Dari milis Branding Zone

    Salam Sejahtera,
    >
    > saya sangat setuju dengan apa yang dilontarkan oleh mba Iim,
    > menurut saya pemblokiran bebrapa akses informasi tersebut sangat
    > merugikan banyak orang.
    > dan menurut saya yang harus disalahkan adalah bukan situs dan blog
    > penyebar film fitna, namun lebih khusus lagi
    > kepada orang2 yang menggunakan film tersebut sebagai alat propaganda.
    >
    > saya kira sudah saatnya masyarakat (spektator dan audience) harus
    > pintar-pintar memilih informasi mana yang
    > layak untuk dilihat dan disimak. dan jikalau sudah menerima sebuah
    > informasi yang kurang nyaman, seharusnya
    > sudah bisa meninginterpretasi makna dari isi informasi tersbut
    > secara baik.
    >
    > seharusnya DEPKOMINFO lebih “cerdas” lagi dalam berbuat
    keputusan…..
    > hareee geneee kok masih belum “NGUDENG”…
    >
    > piss ah
    >
    > –ully–

  18. SUS says:

    Dari milis BrandingZone

    jadi ingat jaman dulu sewaktu tingkat kejahatan sangat tinggi,
    razia senjata tajam dimana2, tukang daging, tukang buah, tukang2
    lainnya yang bekerja dengan pisau jadi tdk bisa kerja karena pisaunya
    ditahan semua.

    Setuju mbak.
    Ujung2nya memang tingkat SDM kita yg harus ditingkatkan agar dpt dg
    bijak memilah2 informasi yg masuk.

    Salam,

    SUS

  19. fit says:

    aduh,gawat jg kalo google diblokir…Kasian yg pd mo browsing info2 penting ‘n buat yg jualan via internet…but msh bs ditembus kok…

  20. Gogoporen says:

    berapa triliun buat sensasi 2 stengah hari… kebodohan emang ga kenal umur dan jabatan bwahhahaha…

  21. ardi says:

    itulah bedanya klau yang menjadi penasehat oarng IT, bukan orang komunikasi…… apalagi klo orang yang pura2 ngerti IT jdnya begini……

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting