Untuk semakin memperjelas isi postingan saya sebelumnya:
Tentu saja terlalu prematur statement saya untuk menyebutkan bahwa TV sudah mati. Saya juga masih nonton Metro TV kok untuk mencari berita selain baca detik.com setiap harinya. Kalo lagi gak lembur di kantor saya juga nonton Tukul Arwana ;D
Point yang saya mau sampaikan adalah, seringkali kita tidak sadar bahwa kita sebagai manusia adalah mahluk yang dinamis, bergerak, berubah. Tidak jarang ketika mengeluarkan opini tentang konsumen, kita masih menggunakan asumsi berdasarkan pengalaman/pengetahuan di masa lalu.
Misalnya: Selama ini yang dianggap sibuk adalah kelompok eksekutif. Ibu rumah tangga, anak-anak, dianggap kelompok yang waktu luangnya banyak.
Masih valid kah asumsi itu?
Saya tidak melakukan riset besar memang, tapi saya mengamati lingkungan. Konsumen berubah seiring dengan tingginya tuntutan hidup, terpaan teknologi dan lain-lain.
Implikasi perubahan hidup konsumen ke komunikasi?
Selama ini banyak pemilik brand yang merasa bahwa medium TV adalah kunci dari segala kekuatan komunikasi. Kalo ngga bikin iklan TV ngga manjur deh, kira-kira begitu. Padahal dengan berubahnya konsumen, waktu untuk bersantai (nonton TV) sudah tidak sebanyak dulu lagi.
Again, sebagai sebuah medium, jangkauan TV masih tidak ada tandingannya.
Tapi benarkah tidak ada cara lain? Benarkah TV merupakan raja dari semua medium sehingga semua brand berlomba masuk TV?
Dengan jeli mengamati perkembangan konsumen, sebenarnya kita bisa mengarahkan komunikasi kita dengan lebih efektif. Lebih dekat dengan waktu konsumen.
Misalnya: Kita akan bicara ke anak SMA yang notabene adalah kelompok yang sibuk luar biasa dari pagi hingga malam. Dari pada jor-joran bikin iklan TV, budget komunikasi akan lebih maksimal manfaatnya jika kita mengadakan roadshow ke sekolah, bikin iklan radio (anak-anak sma itu di kelas aja dengerin radio, katanya), bikin event di tempat nongkrong atau apa pun yang lebih mendekati hidup konsumen. Ngga perlu dibahas lagi bahwa iklan TV penting untuk mengangkat awareness,perlunya integrated campaign dll. Semua orang tahu itu
Inilah yang saya sebut dengan komunikasi yang bergerak seiring dengan pergerakan konsumen. Kita ada dimana mereka ada.
Tulisan saya adalah ajakan untuk lebih jeli mengamati perkembangan konsumen sehingga kita bisa memaksimalkan peluru komunikasi yang kita punya. Kalau ditangkap kesan saya mengecilkan TV…ya punten. Maksudnya ngga begitu ;D
Mungkin masih ada yang berargumentasi: Teori komunikasi berkembang kok, makanya ada ilmu 360 degree dari Ogilvy atau apa pun yang berbau through the line advertising.
But than, teorinya lah yang berkembang. Prakteknya masih banyak pemilik atau pengelola brand yang belum sadar dengan pentingnya mengamati perubahan konsumen ini. Banyak kegiatan komunikasi yang lebih menfokuskan ke mediumnya terlebih dahulu instead of pemahaman perilaku konsumen.
Kalau yang satu itu bukan asumsi, tapi pengalaman yang sering kali saya temui.
TV emang media yang paling efektif sbg tempat pemasaran.mereka memilihnya pasti didasarkan jangkauannya yang luas.sampai tidaknya ke segmen penjual itu perlu diteliti lg.yang dapat dirasakan hanya terkesan seperti efek “boom” tau “doktrinasi produk”.satu titik terkena tapi imbasnya ke titik yang lain.
hehehe, saya ngebacanya begini mbak,
ini masalah how to convinced d’klient,
bahwa kalao pake strategy ini lebih efektif dan “bermanfaat”.
mungkin hal ini yg mesti dishared rame2x.
and btw, TTL itu bukan teori, tapi strategi praktical.
dipake di :
sanmiguel honkong, 2002 (kalo gak salah)
mirip dengan strateginya TBWA “Connection Planning and Disruption”.
dipake di :
bir bintang seri “klop”
Mas Widarto, sesuatu yang mas sebut dengan ‘how to convince the client’ tidak hanya terjadi sekarang.
Tapi hal yang sama juga saya temukan ketika saya masih bergabung dengan Publicist, McCann mau pun Matari.
Begitu juga yang ditemukan Mas Adhit ketika bergabung dengan JWT maupun Lowe Singapore.
Ada yang lebih besar dari sekedar kalimat’how to convince the client’. Its about kesadaran dan kemauan dari pemilik dan pengelola brand untuk mempelajari hal ini.
Insya Allah kalau mas Widarto sudah sering berhadapan langsung dengan beragam jenis klien, mas akan memahami mengapa saya perlu menulis ini.
TTL mau disebut teori/strategy/formula atau apa pun itu (buat saya ini a matter of istilah), tetap lah hanya menjadi sebuah rumusan ketika tidak direalisasikan, dipraktekkan dan disebarluaskan.
TTL sudah menjadi standart umum brand besar dalam berkampanye. Ngga usah jauh-jauh ke hongkong. Di Indonesia pun Unilever juga melakukan TTL di hampir semua produknya.
Menurut saya masalahnya terletak pada, pengalaman mbak Iim yang melihat bahwa “masih banyak pemilik atau pengelola brand yang belum sadar dengan pentingnya mengamati perubahan konsumen”.
Saya sih kurang sepakat juga. Jika memang kekuatan media konvensional (TV) begitu dahsyat dalam membentuk awareness ke publik, iya jelaslah para pemilik brand akan terus dan selalu melirik media konvensional itu. Jadi jangan salahkan mereka.
Apakah kemudian ini diartikan, bahwa mereka tidak mengetahui pentingnya strategi komunikasi lain untuk menjaring khalayak, ya belum tentu juga. Sapa tau ini hanya masalah pilihan bagi mereka? Satu hal yang perlu dicatat pula, bahwa media televisi (broadcast) juga mencatat pola perubahan konsumen, karena itu selalu menyajikan tayangan yang inovatif dan terus berkembang.
Strategi komunikasi yang lain memang penting, tapi siapa yang tidak tergoda dengan segala kemampuan TV membentuk brand awareness ke publik..!?
“TV emang ga ada matinye..”!
Jadi mungkin lebih tepatnya, TV memang OK, namun bukan satu2nya media komunikasi, ada media lain yang perlu dilirik dengan efektifitas yang mungkin lebih OK, namun jangkauannya terbatas pada segmen komunitas. Kata Mbak Iim, saling melengkapi gitu..
!
Mas Budiyanto,saya pikir istilah ‘menyalah kan pemilik brand’ kok kurang tepat dengan pembahasan saya ya karena saya tidak sedang mendiskreditkan ketidaktahuan/ketidaksadaran seseorang melainkan mengajak untuk melihat setiap celah dengan cermat.
Saya justru merasa prihatin dengan mindset ‘segalanya harus TV’. Karena mindset ini akan membuat banyak brand yang tidak mampu memasuki arena ini berkecil hati dan mati sebelum bertempur.Celakanya, brand yang secara budget ngga seheboh Unilever atau Indofood itu jumlahnya banyak sekali. Mereka terpesona oleh medium padahal ketika memaksa masuk ke arena itu, komunikasi mereka tertelan oleh riuhnya brand-brand lain.
Pernah minum starbuck dong? Dia besar bukan karena TVC.
Pernah makan J.CO ? Pernah lihat iklan TV nya?
Tje Fuk yang iklan TV nya heboh, mengakui di majalah Marketing Mix bahwa komunikasinya yang paling efektif adalah Word of Mouth
Sapa tahu ini masalah pilihan bagi mereka?
Saya berbicara tidak berdasar asumsi sapa tahu. Tapi berdasar fakta/pengalaman bahwa hal itu muncul karena ketidaktahuan dan kekurangsadaran.
Mas Darto, dengan pengalaman mba iim dan mas adhit di biro iklan-biro iklan besar, saya yakin mereka sudah sangat paham dengan TTL
Saya kebetulan pernah menjadi klien mba Iim sewaktu di McCann Worldwide, memang benar masih banyak yang belum sadar dengan pentingnya pemahaman konsumen. Sampe pusing saya waktu itu meyakinkan bos saya hehe.
Banyak yang masih mengira medium adalah strategy, meski ada benarnya. Cuman, strategy itu ada yang lebih mendasar lagi yaitu pemahaman konsumen. Gitu lah kira-kira.
Salam,
Alex.
oww getu..sip2x..
mungkin pemikiran CP+B bisa ditiru.
berpikir terbalik.
gimana cara beriklan, kalo misalnya TV gak ada…
ehh saya malah bacanya di swa edisi yg lalu soal CP+B
tapi apa pada akhirnya soal mesti ber TVC apa gak, mesti dilihat ke jasa/service/produk yg dijual ke konsumen ?
Saya yakin, jadi marketer harus kreatif, jangan cuma terpaku sama satu cara aja.
TV ngga ada matinya, TV raja media, TV ampuh buat nebar pesan, What’s new with that? Semua orang mudeng itu.
Media yang dipilih harus sesuai kondisi konsumen, pake kombinasi media, TTL , dll, what’s new with that?
Justru kalo emang kreatif, cari dong terobosan-terobosan baru.
Sori kalo kesannya sinis. Semua orang berkomentar kayak semua produk harus dalam kondisi ideal, punya duit buat dibuang buang ke semua media chanel.
Kalo emang perlu dan punya duit sih ngga papa, tapi kalo ternyata cuma buang-buang duit? Marketer kan musti mikir setiap sen yang keluar bakal jadi apa.
Saya pemakai blue bird taksi. Aapakh taksi ini dipakai oleh komunitas tertentu? siapa yang ngga kenal blue bird di jakarta?
Kalo ngomongnya efek instant, ngga usah diomong.Cuma brand yang punya duit foya-foya yang bisa bikin efek instant, tapi loyalitas ngga janji ya.
Victor
Kalo menurut pandangan saya, ini diskusinya ngga nyambung, karena tulisan ditulis berdasar pengalaman, sementara yang menanggapi berdasar dugaan, belum berpengalaman ketemu dan meyakinkan klien. Frekuensinya jelas beda
. No offence ya…
Memang harus diakui semua orang pasti pingin bikin iklan TV dan sah sah aja kalo orang tertarik karena TV jangkauannya terluas.
Cuma saya juga mengamati banyak orang bikin TV cuma karena faktor ikut-ikutan, bkn berdasar kebutuhan.
Contohnya, saya pernah liat iklan korek api di TV. Jadi kepikir, emang orang beli korek api pilih-pilih merek? udah gitu saya ngga inget juga mereknya apa. Kayaknya sih iklannya ngga sering karena saya cuma liat sekali
Kali itu bisa jadi contoh komunikasi yang salah medium dan buang -buang uang. Yang kayak gitu banyak lho, Padahal kalo di riset bener, duit buat bikin iklan Tv bisa dipake buat komunikasi lain yang lebih tepat sasaran.
Mas Alex:
Saya suka tuh dengan kalimat terakhirnya. Strategy komunikasi bukan sesuatu yang aneh-aneh kok. Dengan memahami pemikiran dan pergerakan konsumen kita bisa tahu strategy apa yang pas. Tapi itu perlu proses panjang, plus…saya percaya intuisi.
Mas Widarto:
Tanpa harus dibalik pun juga ngga apa-apa. Kuncinya 3:
- Pemahaman konsumen
- Kemampuan (mampu apa ngga bikin kampanye besar-besaran di TV dan medium lain)
- Keperluan (perlu atau tidak? Bisa jadi budget bisa lebih efektif untuk hal lain seperti CRM, CSR, perbaikan layanan dll. Kegiatan seperti ini tidak hanya membangun awarenss tapi juga membangun loyalty)
Mas Victor,
. Saya setuju, jadi marketer harus kreatif, jangan terjebak dengan satu cara.
Boleh kok sinis, selama rasionalnya kuat. Disini kan ajang diskusi, bukan ajang jaim
Mbak Kanaya:
Beberapa postingan saya terakhir membuat saya semakin sadar bahwa pengunjung blog ini latar belakangnya beragam, dari orang umum yang tidak bergelut di pemasaran, mahasiswa, orang iklan, sampai marketer. Tantangan saya untuk membuat postingan yang lebih bisa dipahami esensinya dengan benar oleh mayoritas pembaca. Ngga mudah, tapi saya usahakan deh
setuju ama mbak kananya dan jawaban mbak iim dan mas adhit.
jadi inget pas bikin tugas akhir dulu, pas presentasi misinya membawakan satu hal yg begitu khusus ke khalayak umum, sehingga umum jadi mengerti.
jangan kapok2x ya ama saya, maklum, masi belajar
Mas Widarto,
I think mba Iim is trying to be nice lah, as we know how nice she is to everyone on CCI mailist, kan?
Saya kok yakin ngga ada omongan yang bisa diterima dengan frekuensi yang sama oleh semua orang semua golongan. Pasti ada pro kontra soale tiap orang level of understanding dan experiencenya lain.
Begitu…roger!
weee … ikuuuut ..
kalo aku seh setuju banghet … harus ada media laen buat memperkuat objective campaign sebuah brand … selain TV juga penting tentunya .. toh TV juga macem-macem objective-nyah (awareness, direct response, activity publication,juga build image tentunya).. selain juga musti lucu, inspiring buat target biar remind di otak market dan ‘ditunggu???’ tayangnya.. yang kadang juga lupa brandnya …hallah ..
yang penting mah objective jelas dan tau porsinya … gag semua budget musti dilimpah ruah disini smua ..
‘tahu|jeli’ market musti kapan di provoke buat brand inspire untuk minimal mencoba, terus action to buy yang di harap jadi consumer, dan retention,retention,sampe loyal mati-matian …. nah masalahnya para marketer bisa gag diajak maintenence brand sejauh ini … ini kan pemahaman dasar .. masih cuman dianggap teori ..
//perilaku market dan marketer//
market jelass brubah .. terus marketer?
lah ini kalo ngomong ‘kejelian’ mungkin udah jeli cuman masih ragu???, parah lagi yang hobby jalan??? pake dana kantor ..
mana bisa production booth activity musti ke Bangkok kalo gak cuman offline-online dan colorgrade .. huehahha .. dengan kaya gini baru ngrasa win win sol .. emang gag semua seeh cuman banyak jugag kok.. hihihi
marketer pressure = sales
brapa seh prosentase campaign yang objectivenya image building … jaraang .. pasti selalu increase sales .. short term thinkin’… padahal kalo sadar image naik otomatis b equitas juga .. tentu didukung aspek P lainya, ini juga masih banyak dianggep teori ..
akhirnya yang musti diomongin bukan brandnya .. tapi budaya orang???nya ..
lagi??? Indonesia …
mungkin ini satu dari seabreg alasan orang kurang ‘jeli’ yang emang ada, bukan sekedar asumsi ..
peace ..
KHOIVIN
greget juga ama 360???C, TTL, o2o, etc.
Membaca ini saya inget dengan temen saya yang menjual iklan space jalan tol dan toilet. Saya rasa itu media yang efektif, banyak dari kita yang menggunakan jalan tol dan toilet.
Salam
Yulianto
http://www.solusiwebindo.com
http://www.stockpickguide.com
Media iklan mah apa aja, yg jelas mungkin pertimbangan dari perusahaan itu sendiri akan biaya, tenaga dan waktu dan efektifitasnya…….dulu pasar terkotak kotak (distribusi kurang lancar) kemudian berubah jadi sentral dan sekarang mulai terkotak kotak lagi……….dari iklan lokal ke iklan nasionan/internasional dan sekarang balik lagi ke iklan lokal……
jadi yg tepat ya disesuaikan dengan perubahan pasar saja dan pertimbangan efisiensi dan efektifitas dari media iklan……….
kl menurut saya harus melihat pada target audience/marketnya.. contohnya nie untuk ibu ses CD yang penghasilan suaminya perhari.. itu sudah tentu sangat efektif dengan tivi..
soalnya mereka baca majalah nggak.. koran nggak.. tabloid nggak.. radio jarang yg pnya.. soalnya menurut mereka lbh baik beli tv drpd radio.. pergi paling2 cmk pasar.. sisanya nggosip.. mandiin anak.. sama nonton tv.. sumber gosipnya dr tv..(ini bukan asumsi loh, tp dr riset kecil2an) beda lg kl targetnya yg lain.. jadi semua tergantung dr targetnya siapa..
tp saya akui emang masih banyak yang sangat mengandalkan tv.. kalau saya bilang sie mungkin jg ada unsur prestigenya kl sampe pasang iklan di tv..
piss
setuju sama Jess bahwa “..ada unsur prestigenya kl sampe pasang iklan di tv..”
Saya yakin hampir semua orang pernah ngalami ini: ketika harus membeli suatu barang, dan dihadapkan dengan banyak pilihan di rak supermarket, tiba2 temen kita nyeletuk “yang itu aja, kemaren aku lihat iklannya di TV” — atau komentar yang lain — “si Indra Bekti pake yang itu lho…”
TV emang masih jadi radja diradja. Diperparah lagi orang Indonesia yang malas mempelajari hal baru, tmasuk internet dan media alternatif lain. Jadinya, media konvensional masih tetep jawara. Gak etis juga kalo kita cuma nunggu sampe generasi2 malas itu habis (amit) dimakan usia dan diganti generasi internet. Yang mesti kita lakukan sekarang adalah mengedukasi masyarakat.
Di negara maju, anak2 udah biasa bergaul sama internet — bahkan yang usia lanjut. Nah di sini… temen KKN saya aja ogah waktu draft laporan mau saya kirim lewat email. Katanya: “aku jarang buka email”. Wadowww!
http://www.warungmobil.com
ada pembicaran yang menarik yang saya curi dengat saat tengah minum kopi di sebuah mall di daerah saya, pembicaraan yang terjadi antara 3 orang wanita lebih tepatnya mahasiswi kalu saya perhatikan, salah seorang di antaranya tengah mengkonsumsi sebuah produk yang baru di belinya, temannya yang menyaksikannya berkomentar “lu makan apaan vi?tanya temannya ” ini ******* enak lho, lu mau coba nggak? jawab si mahasiswi yang saya lihat begitu menikmatinya, lalu mahasiswi tersebut bicara kembali” tahu nih kemaren adek gwe beli ginian, bagi ke gwe, gwe tadinya males nyobain gak jelas gitu, liat iklannya di tv juga kgk, eh gwe penasaran adek kek nya enak bener makannya, eh pas gwe coba enak juga.
pembicarannya biasa cuma ada point yang saya dengar”liat iklannya di TV juga nggak” hehehehe dan ternyata beberapa bulan kemudian saya baru liat tuh produk nongol di tv secara tidak sengaja.
dan kalau saya tidak salah ada produk tanpa beriklan di TV produknya sudah booming, dan setelah lama baru nongol iklannya di TV, dan produknya itu sama jenisnya dengan produk yang yang saya ceritakan bukan produk yang sama numn sejenis ajah. dan samapi2 untuk produk tersebut kompetitornya mengeluarkan TVC yang sifatnya sudah menyerang.
jadi timbul pertanyaan sebenaranya produk tersebut sudah sukses dan tidak perlu beriklan, namun setelah booming memunculkan TVC nya, mungkin sekedar presige, atau meningkatkan awarness dari audiencnya, atau mungkin dulu nggak ada budget promosi. mungkin lho saya cuma nimbrung ajah. bagi pengalaman yang saya pernah rasakan.