Pertengahan Desember lalu saya diwawancara oleh majalah periklanan ADOI mengenai kualitas karya iklan Indonesia sepanjang 2006. Jika standartnya adalah kreatif award, maka saya tidak ingin berkomentar banyak. Bukan karena saya anti, tapi buat saya, award is reward, bukan objektif. Karenanya, terlalu berlebihan jika harus membahasnya sampai demikian serius apalagi sampai berkeluh kesah.Dari pada berkeluh kesah soal pencapaian award yang minim di 2006, saya lebih tertarik melihat kedepan, yaitu sesuatu yang sebaiknya dilakukan oleh para pembuat iklan untuk mengantisipasi tingkat penolakan iklan yang semakin tinggi di media.
Bukan berita baru lagi bahwa tingkat penolakan konsumen terhadap iklan semakin tinggi yang salah satunya ditandai dengan aktifitas TV zapping. Tidak hanya di medium TV, tapi secara keseluruhan saya melihat bahwa iklan pada dasarnya menyebalkan/mengganggu.
Menghadapi hal ini, hal yang sebaiknya dilakukan bagi para pembuat iklan adalah merubah mindset dari membuat iklan menjadi membuat komunikasi. Dari pengalaman saya selama bekerja di biro iklan lokal maupun multinational, ketika klien meminta untuk dibuatkan perencanaan komunikasi pemasaran, mindset yang ada di seluruh pengelola brand adalah ‘ayo kita bikin iklan’. Akibatnya, hasil yang keluarpun juga iklan banget baik dari sisi medium maupun kreatifitas.
Akan berbeda hasilnya jika mindset kita diubah menjadi membuat komunikasi. Bentuk komunikasi tidak melulu berupa iklan, mediumnya pun juga terbuka lebar. Lebih lanjut tentang komunikasi yang saya maksud, silahkan klik ke sini dan sini.
Iklan adalah elemen penting penunjang marketing. Karena adanya penolakan iklan dan perubahan habbit konsumen, Nowaday marketers have to spend more and more money to reach fewer people. Tugas kita, para perancang komunikasi untuk memikirkan solusi yang makin cerdas untuk membantu para klien. Masih banyak PR yang harus dikerjakan sebelum berdiskusi panjang lebar tentang creative award.
Selamat Tahun Baru 2007, semoga keberhasilan selalu menyertai Anda.
saya sangat setuju dengan mindset “membuat komunikasi”. Karena menurut saya iklan hanya bagian dari seabreg senjata komunikasi pemasaran. Bila salah satu senjata sudah tidak efektif mengenai musuh maka harus digantikan oleh senjata yang lain yang lebih efektif tentunya.
Tapi yang saya lihat sekarang kreatif award menjadi salah satu pertimbangan beberapa klien menilai atau bahkan memilih sebuah agency. dan masih ada klien yang meyakini bahwa komunikasi pemasaran harus ada iklan. kalau situasinya kayak gini, apa yang harus dilakukan untuk meyakinkan klien bahwa untuk menyampaikan pesan pemasaran tidak harus menggunakan iklan yang kreatif tapi ternyata nggak efektif padahal ada cara lain yang lebih efektif ?
apa dengan meyakinkan tingginya tingkat penolakan konsumen terhadap iklan seperti aktifitas TV zapping yang dicontohkan diatas? tapi bagaimana caranya? apakah ada data2 atau trik2 yang mendukung alasan ini?
btw,isi blognya keren banget. banyak memberikan pelajaran baru buat saya..
sebelumnya terima kasih…
Iklan tetap menjadi elemen penting dalam marketing, namun karena penolakan terhadap iklan semakin tinggi, maka perlu dicari teknik lain dalam melakukan kegiatan beriklan.
Selama mindset kita ‘membuat iklan’, maka kita akan terjebak dalam solusi komunikasi yang begitu begitu saja. Iklan TV lagi, Print ad lagi, radio lagi.
Lain jika kita keluar dari mindset itu, seperti yang dilakukan perusahaan kurir dalam film Cast Away, BMW dengan short movienya dll.
Dua contoh di atas adalah kegiatan komunikasi yang berbudget tinggi. Banyak juga komunikasi lain yang relatively lebih cost saving seperti yang bisa dilihat di http://www.virus-communications.com/blog/?cat=16
Sementara jawabannya itu ya Mas Dimas. Pertanyaan lain sebenarnya sudah terjawab kalau mas Dimas membaca postingan-postingan saya terdahulu.
Terimakasih
Setuju banget dengan kalimat ‘Nowaday marketers have to spend more and more money to reach fewer people. Tugas kita, para perancang komunikasi untuk memikirkan solusi yang makin cerdas untuk membantu para klien. Masih banyak PR yang harus dikerjakan sebelum berdiskusi panjang lebar tentang creative award’
Jangan mencampur adukkan kebutuhan award dengan sales. Saya cinta iklan kreatif, tapi iklan itu harus dibuat dengan kacamata konsumen, bukan demi memenangkan kompetisi kreatitifas di mata juri.
saya mahasiswa desain komunikasi visual.Igin mengangkat iklan cetak pproduk rokok a mild.adakah yg bisa bantu saya mencari alamat a mild.saya ingin mendapatkan informasi mengenai iklan tersebut
Hello Erika.
Kalo mengymak yang ente bilang itu koq makin susah aja aku memahaminya.
Disatu sisi, anda bilang, jangan campur adukkan antara kebutuhan award dengan sales.Di sisi lain, anda ngaku cinta iklan kreatif. Jadi harus dibuat dengan kacamata konsumen. Op…karepmu ?.
Anda sedang dalam kondisi mind split. Coba sembuhkan dulu!.
Yang pasti mind set anda seperti itu mudah dibaca sebagai representasi dari style life antum –anda– yang sebenarnya sangat memuja keuntungan financial belaka.Dengan kata lain, kala kagak malu anda akan bicara lantang bahwa, tak ada idealisme yang tegak zonder uang!.Tapi, ente masih nampak agak santun.
Begini ya Non Erika. Peran, fungsi serta peruntukan sebagai pelaku komunikasi, itu jelas-jelas tak sekedar sebagai penghamba konsumen. Tetapi, justru harus mampu berposisi sebagai pengarah dan pendidik konsumennya.Jangan pernah jadi komprador konsumen dengan dalih apapun?.
Jadilah leader bagi konsumen, selaras dengan kapabilitas yang anda punya.
Sementara Award di dunia periklanan, pada aras ideal sebenarnya dilatari spirit penuh untuk yang saya sebut terakhir di alinea atas itu.
Bahwa para Juri dan para stick holder yang ada sering nampak kurang atau bahkan tak subyektif, itu memang mungkin Ya !., jawabannya.
Tetapi, proses menuju ke kesempurnaan dan cita ideal dari sebuah Award tetap harus diupayakan.
PR juga buat para Juri Award. Tolong segera bikin, parameter obyektif penilaian secara multi perspektif. Beberkan secara transpara dan akuntable kepada semua pihak. Dan satu hal yang harus disadari para Juri, kalian itu juga bukan Superman yang mampu dalam banyak , apalagi segala hal.Jadi, libatkan dong para ahli dalam disiplin lain yang dibutuhkan. Selam hal itu tak dilakukan, ya… sampai kapanpun Award dalam bidang periklanan itu bak Award pitulasan tingkat RT, gak lebih!. Meskipun ente bisa melabelinya dengan predikat nasional bahkan internasional sekalipin ?.
Iklan???
why not. toh selama ini masyarakat dimanjakan dengan yang namanya “bebas membayar” iuran televisi karena adanya iklan. Hanya saja masalahnya iklan2 (baca: sebagian besar) di indonesia. Sangat2 jarang yang bermutu. malah ada beberapa yang tidak baik bagi anak kecil. Mau contoh, tilik iklan geri salut wafer terbaru versi italia. It litle bit mendorong anak kecil untuk mencoba rokok. Dari cara kedua model itu memakan produk itu. Seharusnya para pembuat iklan harus lebih hati-hati membuat sebuah iklan televisi. karena penikmat televisi bukan hanya orang dewasa saja.
Sepakat dengan mba Dian. Saat ini iklan memang menjadi salah satu sarana promosi yang paling banyak digunakan oleh produsen produk (menurut penelitian Nielsen tahun 2006, belanja iklan, khususnya iklan televisi naik sekitar 2 milyar). Mungkin ramainya iklan yang memborbardir televisi saat ini yang membuat sebagian produsen kalang kabut sehingga terkadang mereka menjadi kurang jeli dalam bertindak. Bukan hanya tidak sesuai dengan target produk tetapi juga terkadang justru memberikan contoh yang kurang pantas untuk ditiru, terlebih jika sasaran produk mereka adalah anak-anak.Misalnya, iklan Dancow versi Balon Gede. Sekilas melihat iklan tersebut, saya langsung menangkap adanya nilai-nilai yang cenderung bersifat negatif untuk dilakukan oleh anak yang menjadi talent iklan tersebut (Kalau belum pernah liat, iklan itu menceritakan tingkah kakak adik yang berebut meminum segelas susu, namun karena si kakak malas membuat ia mengelabui si adik, sehingga si adik lengah). Meski hal itu memang sifat alami seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, namun bila ditampilkan secara kontinyu dalam media televisi, bukan tidak mungkin jutaan anak yang menonton iklan tersebut akan melakukan tindakan serupa. Lha, masih kecil aja udah diajarkan untuk pinter boong, gimana besarnya ???!!!!
saya mahasiswa komunikasi sedang menyusun skripsi tentang stereotype perempuan “ideal” menurut iklan, apalagi iklan produk kecantikan. “Ideal” disini maksudnya perempuan yang dicitrakan ideal adalah perempuan yang digambarkan cantik seperti dalam iklan. dan mengapa cantik digambarkan selalu yang memiliki kulit putih sehingga bisa terlihat bersih sehingga enak dilihat, rambutnya harus tergerai panjang dan lurus, hidung mancung, dengan ukuran tubuh yang langsing (lebih ke kurus).
Saya sangat butuh komentar mbak atau mas tentang iklan televisi produk kecantikan apa (nama produknya) yang benar-benar menggambarkan semua citra ideal (citra pigura, citra obyek seks, citra pergaulan) yang harus dimiliki oleh semua wanita sehingga digambarkan menjadi wanita “ideal” seutuhnya ???????
Makasih
Dear all,
lumayan seru nih dalam membahas tv zapping, menurut kacamata saya terjadinya tv zapping adalah faktor lumrah karena makin banyaknya saluran tv swasta, dan program2 acara yang di tampilkan setiap tv swasta begitu menarik shingga dalam waktu yang bersamaan masyarakat kita di hadapkan
beberapa acara pilihan sehingga salah satu yang harus di korbankan ya iklan tadi sehingga pas durasi iklan masyarakat spontan akan memindahkan chanel. maka itu kita sebagai orang penggagas di dunia iklan harus mempunyai solusi sehingga biaya iklan yang di buat tidak mubajir. mungkin solusi saya seperti ini. buat lah iklan sesuai dengan usia sehingga kita dengan mudah dapat dimana pas iklan di tampilkan dalam program acara (iklan jangan di buat dalam satu bentuk), pilihlah media alternatif dalam mengiklankan suatu produk (dimana para pengiklan lain belum melakukannya), jadilah trendster dalam dunia iklan karena dalam dunia iklan harus menjadi yang terdepan karena orang2 seperti itulah yang paham terjadinya perubahan2 setiap detik.
Brgds,
budi syamsul arief
universitas muhammadiyah jakarta
Mba istilah dan langkah – langkah dalam membuat iklan komersil tau ga? yang berbentuk audio visual… tolong ya mba … kirimin ke YM saya
saya ingin bertanya,apa sajakah pengaruh client terhadap iklan yang dibuat? Apakah kita perlu mengubah konsep yang sudah kita buat sedemikian rupa untuk semata mata memenuhi keinginan client? lalu seberapa penting client bagi kita bagian marketing?
bagaimana cara merancang branding activation untuk produk indie?terimaksih
Saya mau komentar mengenai iklan yg pasti tdk kunjung habis-habisnya dibahas.
Menurut saya, intinya ada pada culture minded org Indonesia.
Bagaimanapun, usaha untuk membangun komunikasi yang pasti sulit. Jadi, jalan terbaik mungkin(MENURUT SAYA)adalah advertising based on indonesia culture mind.
Gmn caranya ya?