Dalam sebulan ini, ada 2 iklan yang berhasil menarik perhatian detik.com sehingga membuatnya sebagai sebuah liputan berita. Pertama, adalah iklan launching film Pocong yang berbentuk pocong raksasa yang dipasang di sejumlah lokasi strategis di Jakarta dan Surabaya. Iklan ini diberitakan selain karena kreatifitasnya yang dianggap cukup kontroversial, juga karena keberadaannya dikabarkan hampir menimbulkan sejumlah kecelakaan di jalan raya.
Kedua, iklan Asuransi Garda Oto yang ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya mengasuransikan mobil, dengan visualisasi nenek sihir yang terbang menabrak jembatan . Di iklan itu, Garda Oto ingin mengingatkan semua orang bahwa kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu, jangan lupa mengasuransikan mobil Anda.
Selain di detik, dua iklan ini juga sempat menjadi bahan diskusi hangat di milis marketing terbesar di Indonesia, Marketing Club.
Free publicity atau publikasi gratis yang dilakukan oleh media massa besar bukanlah sesuatu yang bisa direkayasa, namun hal itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa direncanakan.
Pertama, mulailah dengan menciptakan ide yang kontroversial, karena hal itulah yang akan menarik media untuk membuatnya menjadi bahan berita.
Kedua, pilihlah medium yang tidak biasa. Sangat kecil kemungkinan sebuah media membahas iklan TV, radio atau cetak sebuah produk secara khusus karena bisa mengakibatkan media tersebut dituduh melakukan PR terselubung. Hal yang sangat dihindari oleh media besar.
Atau, jika mediumnya sudah umum, lakukan terobosan lain untuk mengangkat nilai kreatifitasnya seperti yang dilakukan oleh iklan nenek sihir. Jika iklan hanya berbentuk 2D, secara kreatifitas iklan ini akan menjadi biasa saja. Namun karena dieksekusi dengan 3D dan real size, iklan ini secara visual menjadi lebih ‘nendang’.
Ketiga, iklan harus berada di daerah yang dilewati banyak orang dan dalam ukuran yang mudah dilihat semua orang. Saya pernah melihat sebuah permen pelega tenggorokan melakukan guerilla media di tempat jual tanaman. Caranya cukup kreatif, yaitu dengan melakukan branding di pohon kaktus. Bunyi pesannya kira-kira ‘jika tenggorokan gatal, gunakan permen X (nama produk, saya lupa produknya)’. Namun karena posisi iklannya nyempil, kemungkinan terlihat publik juga kecil.
Saya menduga (maaf kalo salah) iklan permen ini dibuat hanya sebagai sarana mengejar creative award, bukan orientasi awareness apalagi sales. Padahal jika digarap dengan serius, bukan tidak mungkin kreatifitas guerilla media seperti ini akan mendapat publisitas gratis yang ujung-ujungnya mengangkat awareness brand. Klien senang, agency senang. Win-win.
Waktunya bagi orang iklan untuk merubah orientasi dari win creative award menjadi get free publicity. Sama-sama menuntut kreatifitas tinggi, tapi alasan kedua lebih masuk akal dan terhormat di mata klien.
Saya jadi inget, jamannya Amrozi, Imam Samudra dkk barusan ketangkep. Ada orang iklan yang ‘usil’, kalo diamatin, para ‘teroris’ tersebut hampir tiap kali muncul dan di foto /shoot oleh media, mereka menggunakan t-shirt merek2 terkenal. Amrozi misalnya pake t-shirt keren bergambar bintang ditengah kotak merah… dsb. Bagi segmen t-shirt bermerek tersebut, pasti langsung tahu itu merek Converse.
Orang iklan yang ‘usil’ tadi mencoba menduga2… jangan2 pihak polisi telah jadi biro iklan terselubung. Dan katanya, ketika dikonfirmasi jawabannya “yah… gak ada salahnya khan, tahanan pake pakaian yg bagus’… Gubrakkk !!!
Bener gaknya ‘isu’ tersebut, yg jelas jadi menarik. Ketika sebuah produk melakukan co-branding dg teroris. Atau emang karakter produknya sama dg karakter Amrozi ?? Atau ada ‘misi terselubung’… bahwa Amrozi yg anti Amrik aja pakenya Converse… Wallahu a’lam.
Pagi, mbak Iim & mas Adit ??
uuuuh..gara2 gempa tadi pagi di JGJ
hampir aja aku lupa pertanyaan apa yg bakal aku tanya..maklum masih PARNO:)
Pertanyaannya adl
1. Kemarin aku liat2 pameran iklan lama yg lagi road show di JGJ. seluruh iklannya kebanyakan Cetak dan Enamel. Copy & visualnya ingetin kita paz jaman kolonial serba oe,tj dan klasik. Enamel adalah media promosi model plat besi di jaman inlander2 sekitar tahun 30-an dimana kebanyakan memuat iklan minuman & rokok.Materialnya dari baja , memiliki ketebalan 3 milimeter klo gak keliru, proses pencetakannya memakan berbulan-bulan. itupun diproduksinya cuma bisa di Inggris, Perancis, German dan Belanda. Peralihan pun berganti pasca perang dunia II, pengiklan mulai melirik media cetak dsb. Yg ingin aku tanyakan adl sebutan apakah yg cocok bagi Enamel ini jika dimasukan ke dalam pengkategorian media komunikasi, trus bisa gak yah kita pake lagi dijaman sekarang untuk mengkomunikasikan suatu produk?