Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Becak pun Kalah Lawan Hape

October 10, 2007
Oleh Nukman Luthfie

Salah satu acara yang tak boleh terlewatkan ketika mudik ke Wates, Daerah Istimewa Jogyakarta, adalah naik becak. Kebetulan rumah mertua amat dekat dengan terminal dan daerah persawahan. Di terminal itulah banyak tukang becak mangkal, menunggu penumpang bus yang turun. Saya sendiri biasanya manggil pak becak untuk ngantar anak-anak keliling desa, lihat sawah, dan lihat pasar tradisional.

Hari ini, saya ulangi lagi tradisi itu. Sambil jalan, saya banyak ngobrol dengan pak becak yang masih muda usia.

“Puasa pak?” tanya saya.

“Puasa mas,” jawabnya. Hebat juga, bathin saya. Padahal, dalam pemahaman saya, orang-orang yang bekerja amat keras, dengan mengandalkan fisik, seperti pak becak, tukang batu, dan sejenisnya, diperbolehkan tidak puasa.

“Saya tidak memaksakan diri kok mas,” kata pak becak. “Setelah jam 12:00 saya sudah pulang”.

becak.jpg“Lho, bukannya saat ini lagi banyak yang ingin naik becak?” tanya saya keheranan. Di saat musim lebaran ini, pemudik terus berdatangan dan turun di terminal. Mereka butuh becak untuk sampai ke rumahnya.

“Ramai, ya hanya untuk yang ramai saja mas,” jawab pak becak. Maksudnya, ya kalau rejekinya lagi ramai, ya otomatis ia bisa ngantar banyak orang. Namun, kini situasinya tidak seperti yang saya bayangkan. Becak masih saja terasa sepi di tengah padatnya arus pemudik yang turun dari bis antar kota. Yang jarak rumahnya jauh, biasanya naik bis kota atau ojek. Yang dekat, biasanya memang naik becak. Tapi…, kata pak becak, sekarang banyak yang lebih suka menelpon atau sms ke rumah, untuk minta dijemput.

Becak sudah kalah sama hape mas,” kata pak becak, pasrah.

Becak kalah sama handphone? Ini hal yang tak terduga dan sama sekali tak pernah terlintas di benak saya. Kalau becak kalah melawan ojek, sangat masuk akal, karena dua-duanya sarana transportasi. Namun, kalah melawan hape?

Saya amat simpati dengan ungkapan pak becak ini. Namun ada satu hal yang terlintas di benak saya sebagai marketer: bukan hanya pesaing yang akan menghancurkan bisnis kita. Hal lain di luar dugaan juga menjadi batu sandungan.

Pada kasus lebaran ini, pak becak tadi merupakan contoh bagus. Contoh lain, Pos dan Giro kini semakin merasakan efek dahyat dari email dan sms. Pengiriman kartu ucapan lebaran anjlog semenjak email dan sms semakin populer.

Di dunia dotcom, kue iklan sekarang juga mampir ke situs social networking. Friendster kini menjadi acuan utama pemasangan iklan dengan target abg. Secara tidak langsung, Friendster “mencuri” jatah iklan Detikcom. Bahkan, dengan makin maraknya ilmu non-traditional marketing, Search Engine Marketing dan lainnya, makin membuka mata pengiklan bahwa beriklan di Internet itu bukan hanya pasang banner di portal-portal besar. Maka, non-traditional marketing bisa menjadi “hape” bagi “becak” portal.

Dari sisi user/pengunjung pun, para dotcomers harus mewaspadai tren baru. Mereka yang biasa main di milis dan forum, kini lebih senang ngeblog. Artinya, sebagian trafik ke forum dan milis bergeser ke blog.

Maka, jika Anda bermain di bisnis dotcom, perhatikan baik-baik, lawan Anda bukan hanya pesaing langsung. Hal-hal lain yang berpotensi untuk menyaingi, juga harus diperhatikan. Persaingan pak becak melawan hape merupakan pelajaran yang amat penting.

Note:

Gambar becak diambil dari the Indonesian Becak

24 Responses to “Becak pun Kalah Lawan Hape”

  1. Hmmm betul sekali Pak. Seorang marketer harus melihat bisnisnya secara luas, bukan dengan pandangan sempit.

  2. Inspiring story di saat banyak orang yang sibuk memikirkan kompetitornya tetapi lupa dengan sekelilingnya :)

    Sukurnya memang social networking lagi booming, tetapi perkembangan internet sangat cepat.. bisa2 besok sudah ganti trend lagi.. Intinya waspadalah terhadap banyak hal :)

  3. Okto Silaban says:

    Kenapa tidak kita yang menciptakan trend nya?
    Sesekali indonesia dong yang jadi trend setter di dunia internet.. :D

    Ayo.. ayo..

  4. @rianto says:

    wah perlu bikin portal becak dan kaum duafa pak.

    Taqabbalallahu Minna Wa Minkum | Selamat Idul Fitri 1428 H Mohon Maaf Lahir dan Batin buat pak nukman team dan keluarga

  5. aar says:

    Bagaimana bertahan di dunia Internet yang begitu cair dan mudah berubah pak? (*curious*)

  6. andhee says:

    Market Share Ojek dan Becak diambil Hape ??

    Karena Ojek dan becak tidak mampu mengantisipasi Change Environment dalam bidang teknologi ?

  7. gultom says:

    Salam

    Wah harusnya tuh pak becak tetap semangat pak (apply the LOA).

    en gimana kalo KITA usulin hari bebas motor di setiap kota

    di Indonesia agae pak becak jadi laris en bebas polusi(satu

    hari aja) tiap bulan.

    Peace.

  8. No. 16 says:

    “Becak sudah kalah sama hape mas,” kata Pak Becak.

    Pak Becak yang hebat, dia bisa mengidentifikasi saingan laten-nya. Kalo dulu dia kuliah di FEUI bisa-bisa sekarang sudah jadi boss :P

  9. mr.Keke says:

    Ngaturaken sugeng riyadi pak Nukman,….
    Minal Aidzin Wal fa Idzin….
    Saya mo mampir neh ke wates… liat becak kalah ma hape… sekalian nostalgia KKN dulu;)

  10. Praditya says:

    Salam kenal semuanya…

    Hmm… Saya gak kepikiran sampe kesitu. Tapi bener juga ya, kasian tukang becaknya klo sama HP aja bisa kalah..

    Klo gitu mungkin tukang becaknya juga membuka service antar jemput via HP aja kali ya…??

  11. Gusprapto says:

    Saya jadi ingat waktu pulang kampung ke Brebes. Biasanya dulu naik becak dari stasiun ke kampung halaman yang jaraknya sekitar 5 km.Tapi sekarang? bukannya nggak ingin naik becak, tapi tarif BECAK sudah terasa MAHAL. Jadi lebih baik sms adik saja biar jemput pakai sepeda motor.

  12. pandu says:

    Setuju Pak Nukman, seorang technopreneur harus bisa melihat bukan saja peluang2 yang ada tapi juga ancaman yang mungkin datang dari hal2 yang tak terduga.

    Soal becak, mungkin becaknya harus inovasi juga, buat “becak tour” dan jual unsur nostalgianya, hehehe

    saya mohon maaf lahir dan batin kepada Pak Nukman, mba citra, Pak Imam dan rekan2 di Virtual. Mudah2an kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi.

  13. Ani says:

    Di sini nggak ada becak, selain jarak yang jauh2, juga jalannya banyak naik turun, kasihan pak becaknya kalau ada.
    Tapi kalau pulang, sesekali masih naik becak kalau sendiri, kangen sama semilirnya angin pas duduk di atas becak. Kalau kami bertiga, dah nggak mungkin naik dalam satu becak, jadi sesekali sengaja carter andong untuk keliling Pekalongan- Warungasem, sekedar bernostalgia hidup di kampung.
    Mas Nukman, blognya saya link ya !

  14. Lina says:

    waahh sama pak, di plg juga becaknya dah sedikit..baru ngeh pas baca tulisan pak nukman ini..memang untuk menjadi pebisnis tangguh harus bener2 visioner…

  15. andri says:

    Pak Nukman mudik di wates kulon progo yogya ya? kebetulan saya juga di wates pak, luar biasa yo becak dh kalah ama hape, sayang saya belum numpak becak. Kebanyakan naik sepeda he..he… maaf lahir batin juga ya pak..

  16. Erna says:

    Mas, kedengarannya pengemudi becak ini seperti jadi “korban”, ya.

    Padahal kalau mau bisa saja mereka bikin (dibikinkan) paguyuban atau koperasi yang punya layanan panggil dan antar jemput dengan menggunakan hape. Kayak taksi gitu lho… Asyik kan bisa booking becak pake hape?

    Bagusnya lagi, tiap paguyuban punya daerah operasi sendiri biar layanan ke pengguna jasa bisa lebih cepat. Trus, promosikan di hotel-hotel dan tempat penginapan turis. Jangan lupa di becak dan kaos seragamnya ditulis juga… “Becak Hape: Layanan antar jemput SMS atau Call 081111111111111″

    Ngelanturrr gak, yaaa….? Hehehehe…

  17. Ani says:

    Bingung nih, mo ninggalin pesen di mana, mbok pasang SB to mas. Atau saya yang gaptek nggak tahu letak SBnya panjenengan?
    Makasih lho mas comment_nya di postingan “Sesekali”. Tapi saya bukan djeng Eni lho, saya djeng Ani (hayoooo….nggak bingung dan tahu bedanya kan?)

  18. Kombor says:

    Pak Nukman, kalau sepuluh tahun lalu hape sudah sebanyak tahun ini, apakah 10 tahun lalu becak masih rame penumpang? Sebaliknya, kalau tahun 2007 ini hape belum sebanyak kenyataannya, apakah pak becak akan pulang jam 12 siang?

    Keadaan yang dihadapi pak becak tentu berbeda dengan dotcomers. Becak tidak mungkin bersaing dengan hape. Perilaku konsumen becak yang berubah karena saat ini mereka memiliki pilihan yang lebih luas, yaitu minta dijemput. Sepuluh tahun lalu mungkin mereka malas ke wartel kalau rumah keluarga di tempat mudik sudah ada telepon rumah sehingga mbecak merupakan pilihan nomer satu. Terhadap perubahan perilaku seperti ini saya rasa sulit untuk menolong pak becak. Mosok di zaman hape sudah masuk kampung, dia masih akan nggenjot becak terus padahal dia sudah tahu kalau becaknya kalah sama hape?

    No. 8 betul. Kalau dia dulu kuliah di FE UI bisa-bisa dia sudah jadi Boss. Karena nggak kuliah di FE UI, sudah tahu becak kalah sama hape, eh… masih dijadikan pilihan utama mencari nafkah.

  19. Arif says:

    pak becaknya yg tidak mau menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Kalo di tempat saya sudah ada tukang ojek yg bisa dipesan dengan sms atau telepon via HP.
    Ada gak ya tukang becak kaya’ gitu? hehe….

  20. eshape says:

    Saat saya memutuskan nelpon ke rumah u dijemput, sy nggak kepikiran masalah biaya, tapi merepotkan enggak ya orang di rumah untuk njemput saya.

    Ternyata keputusan itu sangat vital artinya bagi penyedia transportasi (ojek/becak).

    Rasanya memang lebih murah dijemput, daripada naik ojek apalagi becak (lebih mahal dan lebih lama).

    Tahun2 ke depan, saya yakin “angkot” akan lewat rumah saya dan saat itu ojek/becak akan punah (bagi saya).

    Salam dari wong Yogya (juga) pak.

  21. wando says:

    klo kalah g kalah becak vs hape,sy rasa dithn2 depan mgkn akan brkembang juga yg sopirnya becak pake Hp.jd g usah repot2 wong becak pake tenaga manusia jd adilkan.qt g usah repot2 tgl boking aja…sm2 byrnya pake duit gito looo…

  22. iqranegara says:

    pengen OOT ni..

    Pulau kita, lagu daerah kita, dan (mungkin, bentar lagi) alat musik tradisional kita, dah ‘diambil’ sama JIRAN kita. Mungkin gak ya alat transportasi asli buatan kita ini (becak) juga diambil.
    Kita terlalu sering terlambat menyadari…
    [hiks.hiks]

  23. [...] Namun, dunia entrepreneurship, juga menarik minat saya. Demikian juga dunia manajemen. Demikian pula dunia buku. Demikian pula dunia lain-lain, yang sebenarnya cukup asyik untuk dibagi. Itu sebabnya, sejak Agustus 2007, saya menyisipkan kategori “Pernik” ke dalam blog ini, yang isinya hal-hal di luar core business Virtual Consulting. Tulisan di Pernik lebih manusiawi, dengan kandungan yang sarat sentuhan emosional, dan kadang sarat pemikiran. Misalnya, ketika ngobrol dengan pak becak yang mengeluhkan nasibnya yang kalah melawan hape, saya terdorong untuk menulis “Becak pun Kalah Lawan Hape“. [...]

  24. rida says:

    pak becak yang sangat cerdas..

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting