Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Apa Standar Kesuksesan Sebuah Online Campaign?

September 26, 2006
Oleh Iim Fahima Jachja

Menjamurnya website bersifat temporer sebagai penunjang campaign di media TV dan cetak seperti Ponds, Close Up, Yaris, Speedy dan lain lain tak urung menimbulkan pertanyaan balik dari sisi advertiser.Seberapa sukseskah website campaign yang sudah saya buat?.

Selama ini, masyarakat umum seringkali berpandangan bahwa kesuksesan sebuah website adalah dihitung dari jumlah hit. Padahal dalam kenyataannya, jumlah hit tidak selalu mengindikasikan kesuksesan.

Jika dilihat dari menu, Ponds diciptakan dengan objektif mengumpulkan registrants dalam waktu singkat, maka penilaian efektifitasnya adalah berdasar jumlah registrant yang masuk dalam waktu tertentu.

Jika dilihat dari menunya, Close Up diciptakan untuk mengumpulkan komunitas, maka penilaiannya berdasar jumlah member yang masuk dan jumlah member yang aktif di website komunitas tersebut.

Jika dilihat dari tampilan selintas, Yaris diciptakan sebagai website komunitas tapi secara menu mayoritas berisi info produk. Melihat isinya yang ngga kemana mana, saya jadi agak bingung dengan objektif dari website ini dan standart kesuksesannya.

Speedy, terlepas dari cara berkampanye onlinenya yang kurang strategis karena link yang ditampilkan dalam banner ad hanya berupa brosur yang ‘diwebsitekan’ bukannya website utama mereka, terbaca bahwa objektif utama online campaign ini adalah meraih awareness. Maka standart kesuksesannya adalah jumlah klik di banner ad tersebut.

Dari sini terlihat bahwa setiap website campaign memiliki standart kesuksesan yang berbeda beda, tak bisa dipukul rata melalui jumlah hit ke website tersebut.

Paling repot jika membuat sesuatu tanpa objektif yang jelas namun ujung ujungnya menanyakan apa yang didapat dari investasi di website. Semula hanya berniat untuk awareness tapi kemudian menuntut mendapat member bahkan loyal member. Dua objektif yang sama sekali berbeda dan memerlukan cara yang berbeda untuk mencapainya.

Sebelum membuang buang uang di dunia online, pastikan dulu kita punya objektif yang jelas. Mulailah dari marketing communication strategy yang bulat, dari sana kita bisa melihat apa yang seharusnya sebuah website lakukan untuk mensupport marketing communication.

Saat ini saya melihat banyak sekali website campaign yang dibuat asal sebagai pelengkap komunikasi atau karena ikut ikutan trend brand lain pasang iklan di Friendster. Mengingat biaya placement di Friendster yang ngga murah murah amat, bisa terbayang berapa uang yang terbuang percuma di dunia online, padahal bukan tidak mungkin budgetnya bisa dialokasikan untuk marketing komunikasi yang lain.

Dunia online adalah dunia yang kompleks dimana banyak sekali parameter yang kita harus paham. Apa yang terlihat dimata kita sukses, belum tentu sukses ketika kita membandingkan dengan kasus yang lain. Begitu juga sebaliknya.

Langkah utama untuk mengatasinya adalah dengan men-set objektif yang jelas sebelum kita bertindak.

28 Responses to “Apa Standar Kesuksesan Sebuah Online Campaign?”

  1. veronica says:

    Saya juga melihat kecenderungan advertiser beriklan di internet lebih didasari ikut ikutan dari pada berangkat dari objektif yang jelas. Tapi Friendster memang magnet…:)

  2. Iim-Adhit says:

    Mba Veronica, selama diciptakan berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen serta dikelola dengan benar, website akan menjadi magnet buat advertiser. Contohnya detik.com, kabarnya untuk bisa placement di sana perlu antri berbulan bulan karena spotnya sudah fully booked :)

    Dunia online memang sedang boom yang dibuktikan dengan semakin besarnya spending beriklan di dunia maya ini. Cuma sayangnya masih banyak yang masuk ke dunia ini tanpa bekal pemahaman yang cukup

  3. zikri says:

    Wah..wah…wah…parameter tiap website ternyata beda beda ya? Tadinya saya pikir cuma berdasar hit aja, soalnya tiap kali bikin website pasti kan ditanya hit nya berapa?

    Thx masukannya mba iim, jadi lebih kebuka matanya sama kehidupan maya!

  4. Reena says:

    Pernah lho saya klik banner ad sebuah biskuit coklat yang gencar beriklan di FS, tapi didalemnya isinya website perusahaan yang bikin biskuit itu, bukannya cerita tentang biskuit ato game ato apa kek yang lebih relevan sama media Friendsternya. kalo yang gitu gimana tuh mba?

    PS: saya pernah liat Mba iim lagi di Plasa Senayan, kayaknya lagi kerja sama teamnya deh. Cantik dan modis ;) . Mau negor malu….abis belum kenal. Salam kenal ya mba.

  5. Iim-Adhit says:

    Dear Mas Zikri,
    Dunia maya memang unik, dan yang saya cerita di atas baru seujung kuku dari banyak hal yang kita musti pahami. Untuk mengerti banyak hal ya syarat utamanya adalah ‘get in to it’.

    Dunia Online bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari buku melainkan pengalaman langsung

  6. Iim-Adhit says:

    Mba Reena, Salam kenal juga!

    Betul sekali, ketika kita memutuskan masuk ke dunia online, kita harus memaksimalkan manfaat online tersebut, which is manfaat utamanya adalah kita bisa melakukan interaksi langsung dengan konsumen.

    Tapi itu pun harus dipertajam lagi dengan ‘apa tujuan interaksinya’ dan ‘interaksi seperti apa yang menarik untuk konsumen’.

    Interaksi tidak harus lewat game, banyak hal lain yang bisa digali jika kita bisa menyelami online behavior.Ini bermanfaat agar kita bisa at the end meng-achive sesuatu dari apa yang sudah kita keluarkan (budget komunikasi).

    Next time ketemu saya jangan lupa say hi ya =)

  7. rdt says:

    Setuju sekali dengan ulasan Mba Iim. Potensi untuk menghembuskan kreatifitas dalam dunia online masih tinggi.

    Dengan prinsip yang kurang lebih sama, pernah kami coba terapkan untuk membangun komunitas non profit dengan memanfaatkan fitur2 gratisan,seperti : blog,friendster dan milis. Perpaduan fitur dengan ide2 offline bisa menghasilkan wujud online yang menarik.

    Kesimpulannya, walaupun online yang namanya benefit untuk audience sangatlah penting.

    regards
    -rdt-

  8. Heri says:

    Hi Iim & Adhit

    good article, at least buka mata para marketer, dari pada buang2 duit bikin online campaign lebih baik di alokasikan ke campaign2 yang lain dengan efektifitas terukur, nggak sekedar ikut2 trend online campaign.

    PS : Salut untuk idea & concept of Virus Communication, it’s diffrent, good luck and all the best for ur business

  9. Adi Dharma says:

    Halo mbak Iim…
    Saya setuju dengan apa yang mbak Iim tulis diatas, cuma mau ikut nimbrung aja ;) .

    Ada lagi parameter penting dalam menunjang kesuksesan sebuah website…unsur “eye catcher” di dalam website itu sendiri. Dalam teori, sebuah website hanya punya waktu 3 detik (setelah selesai loading) untuk bisa nyolong perhatian user. Kalo hal ini udah nggak bisa dipenuhi, gimana materi website itu bisa nyampe ke user.

    Dan pada prakteknya, banyak netter yg hanya meng-klik 3-5 sub menu dari index halaman depan…setelah itu exit dan ganti ke website lain.

    Detik, friendster bisa sukses karena mereka bikin sesuatu yg ternyata dibutuhin sama user, makanya yg jadi magnet itu needs dari konsumen…dan kalo kasusnya seperti itu, berarti tolok ukur kesuksesan online campaign itu seberapa jauh dia bisa menciptakan kebutuhan bagi konsumennya.

  10. Iim-Adhit says:

    Dear Rdt,
    www (wild wild world =)….

    Online campaign memang tidak identik dengan beriklan secara online dan terang terangan seperti yang banyak dilakukan selama ini. Guerilla lewat milis, blog dan Friendster pun juga masuk kategori ini.

    Tapi guerillanya yang etis ya…maksudnya jangan kirim spam atau jualan di milis yang jelas jelas ngga boleh jualan. Ini sih buat saya ngga sophisticated.Buatlah diskusi diskusi yang menarik yang pada akhirnya orang tanpa sadar terpengarui persepsinya.

    Saya acungi jempol tuh buat yang mampu guerilla di online dan berhasil. Hal hal yang sifatnya ‘ngga terlalu iklan’ memang lebih mudah diterima dari pada yang pure iklan, tapi iklan yang kreatif juga akan dicintai konsumen (meski efeknya jangka pendek)

  11. Iim-Adhit says:

    Dear Mas Heri,

    Tak perlu ada pemujaan terhadap suatu medium karena semua medium punya kelebihan dan kelemahan. Tapi kalau mau sukses berkomunikasi, pastinya kita harus paham insight konsumen, perilaku mereka terhadap media dan ekspektasinya.

    Online campaign sangat terukur efektifitasnya, karena ada ‘back end system’ yang bisa membantu kita menganalisa trafick di website, menganalisa insight dan lain lain.

    Tapi untuk bisa sukses di dunia maya ini (dan membuat takaran sukses) ada banyak parameter yang harus kita paham. Untuk menjadi paham ya bicaralah sama orang yang ngerti dan get in to it, bereksperimen sendiri biar bisa berempati terhadap target audience.

  12. Iim-Adhit says:

    Mas adi dharma, akhirnya muncul juga di blog saya =)

    Dunia online memang unik. Ngga cukup paham komunikasi tapi juga IT.

    Menggali need dari konsumen itu soal pemahaman komunikasi, membuat website mudah dibuka sehingga netters bisa gampang bolak balik itu soal pemahaman IT.

    Saya amati, siapa yang bisa sukses di dunia online adalah orang orang yang attitudenya juga online. Kalau ke internetnya saja cuma sesekali, jangan harap bisa sukses di dunia ini.

  13. rdt says:

    Dear Mba Iim,

    thank you atas tanggapannya. =)
    Sangat membuka mata.

    Hehehe, selama ini kami hanya sekedar ngisi waktu luang untuk menggugah perantau-perantu supaya tidak lupa dengan kampung halaman. =)

    Belum sampai ke jualan, hehe karena memang basisnya nonprofit.
    Sekali lagi, terima kasih.

    regards

    -rdt-
    http://hakka-singbebas.blogspot.com

  14. Iim-Adhit says:

    Dear Rdt,
    dari non profit sebenarnya kalau digarap serius bisa jadi profit lho. Coba deh, kalau memang serius bisa dipikirkan lagi peluang untuk membuat blognya menjadi profit centre…

  15. Pitra says:

    halo lagi Mbak Iim.. hehe, nulis ini mungkin tergugah gara2 comment ttg myponds.net di blog saya ya :-)

    mengenai pemanfaatan komunitas gratisan.. kalo di US, yg namanya MySpace itu jauh lebih gila. Kayaknya hampir semua brand ato film baru selalu punya account MySpace, dengan buat registrasi a.n brand ato judul film, dan mendesain custom user pagenya sesuai kemauan mereka.

    akhirnya, berita terakhir katanya, kebanyakan user MySpace lain jenuh, karena mereka terlalu dibombardir dengan iklan yg ikut2an jadi user (ato user palsu).

    dari contoh ini, kenapa ya belum pernah ada yg nyoba utk di Friendster? Jadi gak sebatas banner ad aja (yg ujung2nya kok linknya malah ke site perusahaan, bukan site brand campaignnya). hehe.. asal jangan sampe terlalu banyak aja, biar kejadian MySpace gak terulang di Friendster.

  16. Iim-Adhit says:

    Hi Mas Pitra, iya nih saya nulis salah satunya karena ter-triger tulisan mas Pitra tentang my ponds plus pengamatan terhadap lingkungan ;)

    Cara guerilla di komunitas gratisan memang menarik,tapi kalo pendekatannya iklan banget ya ujung ujungnya bikin user lain gerah juga.

    Belum adanya klien besar di indo yang guerilla di komunitas gratisan faktor utamanya saya pikir soal mindset, faktor kedua adalah pengukuran efektifitas yang sering kali diperdebatkan.

    Tunggu waktunya…pasti akan ada yang guerilla-nya benar benar terasa ;)

  17. Dear Mba Iim,

    Salam Kenal,

    Usul aja nih gmn klo virus-communications bikin semacam form quesioner untuk para pembaca blog ini. Nah quesioner itu sendiri tujuan nya membantu mengetahui apakah kita sudah bisa men-set objektif yang jelas saat pembuatan website kita.

    Terima kasih.

  18. Iim-Adhit says:

    Dear Mas Danton, salam kenal juga.

    Sebenarnya ngga perlu sampai tahap bikin quesioner yang sifatnya detil. Intinya, sebelum memulai bikin website atau medium komunikasi apa apapun, kita harus tahu, apa tujuan pembuatannnya.

    Jadi pertanyaannya cuma satu : Apa sih tujuan pembuatan komunikasi ini?

    Kalau sudah terjawab baru kita cari cara untuk mencapai tujuan itu.

  19. Thomas dian says:

    share aja pengalaman saya bekerja di dunia TI. untuk membuat website ato aplikasi online memang bener sekali kita harus tahu tujuan komunikasi dan target audiencenya. mau buat website Profile,Information System, Komersial, Forum ato lainya (ini tugas marketing utk bikin brief dengan klien). Kemudian brief tersebut masuk ke seorang System Analist(menganalisa system seperti apa yang tepat utk project tsb). kemudian Analisa tsb di develop oleh System Designer dan User Experience Architech. Pasangan tersebut bekerja secara bersamaan(brainstorm barenng) agar menemukan solusi yang tepat dan bagaimana systemnya dibuat.

    System designer bertugas merancang system, program, dan teknisnya. UXA bertugas merancang interaksi aplikasi dengan user termasuk pemilihan kalimat untuk warning box, info, dll agar nyaman dan komunikatif digunakan.

    setelah projectplan selesai dan telah di acc klien, baru mulai dikerjakan graphic interface, programingnya sampe uploading.

    itu idealnya…tapi pas praktek kadang banyak step yang dilompati…utk mengejar deadline.

    semoga bermanfaat :) .CMIIW

  20. Iim-Adhit says:

    Hi Mas Dian, betul sekali penjelasannya. Jika dipersingkat sebenarnya prosesnya menjadi begini:

    Brief Marketing –> Brief Marketing Communication –> Designer + IT Team.

    Lebih lengkap tentang flow pekerjaan, silahkan lihat di http://www.virus-communications.com/blog/?p=43#more-43
    dan http://www.virus-communications.com/blog/?p=46#more-46

    Tahapan yang disebut mas Dian ideal tersebut merupakan tahapan standart yang tidak boleh dilewati dengan alasan apa pun. Karena ketika satu step terlompati, maka akan berakibat pada ketidakfokusan/ketidakmanfaatan komunikasi.

  21. Fanny Hendradi says:

    Dear Mba Iim,

    Salam Kenal,

    Saya tertarik utk mencoba melakukan market survey online thd ” keyless entry” solution via Guerilla lewat milis, blog dan Viral dll yg termasuk kategori ini.
    katanya Untuk menjadi paham ya kahn hrs bicara sama orang yang ngerti spt anda berdua ? dan get in to it, bereksperimen sendiri biar bisa berempati terhadap target audience.
    Pls advice , step apa yg perlu saya jalani

  22. Iim-Adhit says:

    Dear Mas fanny, secara garis besar, hal hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan survey baik online mau pun tidak adalah:

    -Set tujuan survey
    -Tentukan siapa yang mau di survey
    -Susun dulu pertanyaan sehingga ketika melakukan survey kita bisa mendapatkan jawaban yang terstruktur
    -Tentukan cara survey. Survey online bisa melalui polling yang diletakkan sebagai salah satu menu di website, bisa melalui pertanyaan yang dilempar di milis, atau in depth interview dengan medium YM atau sejenisnya.

    Ketika riset yang kita lakukan adalah keberhasilan sebuah online campaign, maka kita harus tahu dunia online dan parameter yang di set atas campaign tersebut. Misalnya: parameternya adalah awareness, maka yang diriset adalah awareness, bukan melebar ke loyal member dll.

  23. Rama says:

    Dear mba Iim,

    Salam kenal. Senang sekali akhirnya soal Objectivitas pembuatan website diangkat juga.

    Kebetulan masalah tujuan pembuatan website ini yang selalu menjadi concern kami ketika membuat website untuk client kami. Terlebih ketika bertujuan untuk brand awareness, grab membership & create repeating visits.

    Sayangnya, tidak banyak (calon) client yang sadar betul akan kepentingan konsep dari sebuah website. Kadang buat mereka yang penting layout, yang penting bergerak (animasi = dynamic, bukan updating content = dynamic), maintenance nggak penting etc.

    Padahal, coba kalo kita ambil kasus Friendster lah. Apa sih yang hebat dari dia. Kan konsep Six Degrees of Separtions nya. Lepas dari siapa yang punya teori itu, tapi bagaimana teori itu menajdi konsep dari website.

    Moga-moga tulisan seperti ini dimuat di juga di SWA ya mba :) atau malah Cakram.
    Biar wawasan mereka lebih terbuka.

    Thanks.

  24. Fanny Hendradi says:

    Pertama2 perlu diketahui saya Mbak juga , bukan Mas lho.

    Soal siapa yg mau disurvey adalah kelompok 3 & 4 dan Tujuan survey adalah Awareness bahwa Era digital sdh merambah dikeliling kehidupan sehari-hari kita.

    Keyless Entry ini dibagi menjadi 3 segment pasar

    Commercial building ( kantor, apartment , cluster /townhouse) ??? dibutuhkan solusinya secara system (personal selling dr project ke project)
    High secure End user ( data centre , ruang server, laboratorium , Automatic Billling Room (pencetak tagihan Listrik), ruang arsip , gudang Obat2an di Rumah sakit etc.
    Pribadi yg punya koleksi hobby ?????? lukisan ?????? ??????ruang High End sound system??????atau orang yg perlu membawa kunci utk pintu dirumah, dikantor, dipabriknya, di villanya dan tersebar dibeberapa kota ? yg menurut pengamatan, biasanya itu ibu2 (apakah anda pernah lihat disuatu pesta perkawinan , dimana MC mengumumkan siapa yg pd wkt pesta membawa kumpulan kunci paling banyak akan mendptkan hadiah hiburan?) sedangkan Bapak2 jarang membawa kunci ? ??????????????????bener ngak ya ? ini merupakan salah satu pertanyaan dlm bahan survey nantinya.
    Generasi muda yg kebanyakan bawa Handphone, biasa membawa kunci? Dlm kegiatan sehari2nya
    Krn dgn Bluetooth Hp anda juga bisa berfungsi utk buka kunci pintu ? saya namakan segment ini Secure & lifestyle

    Utk kelompok 1 & 2 ??? Bisnis B 2 B ( tidak kita bahas disini)

    Utk kelompak 2 & 4 ??? Bisnis B 2 C ( yg akan dicoba melakukan market survey secara online

    Next step?

    Mencari bantuan sales copywriting yg emosional yg terdiri dr 4 atau 5 Baris saja tentang Keyless Entry ? buat blog ?

    Pertanyaan yg akan timbul :

    a. Apakah Keyless Entry cocok utk masyarakat segmen 3 &4 ? artinya kebanyakan katanya bapak2 tidak membawa kunci ? selain kunci mobil or motor

    b. Apakah harganya reasonable /pas utk ukuran Indonesia ?

    c. Apakah cylinder ex-pintu lama bisa dibawa2 mengikuti tuannya? Copotable?

    d. Apakah memerlukan layanan 24 jam , bila memerlukan pengagnti battery low?

    e. Apakah product tersebut User friendly ? tinggal tekan etc.

    Saya percaya keyless entry ini punya Niali tambah dan kalau dikomunikasikan ke orang yg tepat dan cara yg tepat ,maka mengunakan Blue ocean strategy ,bukan Red ocean strategy . benar nagk ya? Mohon tanggapan . Terima kasih sebelumnya

  25. Iim-Adhit says:

    Hi Mba Fanny,sorry nih, saya harus mencerna penjelasan mba fanny dengan benar sebelum menjawab.

    Mba fanny ini berniat mencari tahu awareness konsumen terhadap keyless entry? atau mencari tau siapa market potensialnya?

    Bisa diperjelas?

  26. Mbah keman says:

    WAH Hebat…ketemu juga web yang saya cari.. Salam kenal Mbak saya pemain baru di dunia marketing Online saking baru nya malah belum pernah jual sesuatu secara online..

    Boleh saya di nasehatin mbak
    1, apa saja yang harus saya pelajari untuk menunjang kegiatan marketing Online

    2. Referensi situsnya sekalian mbak

    3. mungkin kalau ada software/ Ilmu2 yang menunjang kegiatan marketing onlie

    trimakasih mbak.. kalau tidak keberatan kirimkan ke email saya

    cholex8mata@yahoo.com

    Trimasih buaayak

  27. Andy Santoso says:

    wah dapet blog bagus lagi selain virtual.co.id/blog :) dari tadi baca2 terutama soal online advertising/marketing karena kebetulan saya sedang bekerja di perusahaan yang menjual advertising juga seperti Friendster, Windows Live Messenger, MSN Hotmail, MSN ID Portal, SCTV Network, dsb. :)

  28. St. Hariman Wibisono says:

    Huebat tuenan mbak Fanny dan jaringan nya yang telah memasarkan keyless entry lewat marketing online. Segmen kota Pekanbaru menunggu anda. Salam soko konco lawas….

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Jauhari: - Terima kasih atas pencerahannya

  • Bagus Abdurrahman Wahid: - Mas Andi, saya punya produk baru clothing (spesialis produksi)....

  • Historee: - Artikel yang bagus buat bahan pengetahun kita2 yg mengelola startup social media....

  • Andi Primaretha: - Iya pengukuran tentang level influence bisa diukur dari Klout atau PeerIndex....

  • Akhlis: - Patokan yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah aku termasuk influencer atau tidak...

  • vina: - Salut deh ilmunya.. Maju terus mas..

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting