Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Olie Top 1: Diguncang di Online Dibalas di Offline

November 16, 2005
Oleh Nukman Luthfie

Baru saja saya baca artikel di majalah SWA yang bertajuk Strategi Kehumasan Top 1 Menghalau Isu. Isinya sangat menarik: bagaimana cara penguasa 20% pangsa pasar olie nasional itu menepis isu negatif. Dari mana isu negatif itu muncul? Internet!. Menurut SWA, rumor menyebar deras via dunia maya. Seperti ditulis SWA, hampir semua mailing list kelompok otomotif mengeluarkan ‘fatwa haram’ bagi Top 1 (baik berupa pendapat pribadi maupun kelompok).

Masalah yang sering dibahas adalah mengenai produk, sintetis-nonsintetis, serta buatan Amerika Serikat. Diskusi-diskusi di milis-milis tersebut lebih banyak menyangsikan kualitas Top 1. Saya kebetulan tidak ikut di semua milis yang disebut SWA. Namun dari beberapa milis marketing yang saya ikuti, persoalan ini memang sempat berhembus beberapa waktu lalu. Intinya sama: menyangsikan kualitas Top 1.

Saya tidak terpengaruh dengan diskusi-diskusi semacam itu karena pemilihan olie mobil saya serahkan ke sopir. Namun, saya kira ada sebagian penghuni milis yang terpengaruh. Pendapat orang yang kita kenal (termasuk dalam milis) akan lebih mudah mempengaruhi kita ketimbang iklan. Sekencang apapun iklan sebuah produk digeber di berbagai media, efeknya tak akan sehebat pendapat teman atau kelompok yang kita percaya. Milis adalah sebuah kelompok orang yang memiliki kesamaan dalam beberapa hal (minat dan latar belakang misalnya). Meski hanya sedikit yang aktif melempar topik dan menimpalinya, sebagian besar yang tak aktif diduga tetap rajin memantau dan membaca topik-topik tersebut.

Entah mengapa, manajemen Top 1 nyaris tidak melakukan tindakan apapun di dunia maya. Yang dilakukan justru menggeber iklan di teve, mengajak DEWA, kemudian disusul wartawan, ke Amerika Serikat untuk melihat pabrik Top 1. Menurut Nielsen Media Reesearch, mereka sudah menghabiskan Rp 84 miliar untuk beriklan di teve dan media konvensional. Upaya itu dilakukan untuk mendidik pasar bahwa Top 1 asli buatan Amerika, digemari para selebritisdan pesohor otomotif (karena itu bisa dipersepsikan kualitasnya bagus).

Bahwasanya strategi komunikasi pemasaran Top 1 seperti itu, saya menduga manajemen Top 1 menyadari bahwa isu miring di dunia maya bisa berhembus ke dunia nyata dengan cepat. Sebelum isu itu menjalar, publik sudah dididik dulu dengan iklan-iklan antisipatif. Di dunia, isu Top 1 sudah menyebar seperti virus. Dari milis otomotif menyebar ke milis non otomotif. Bahkan kadang diforward ke milis umum atau ke email pribadi. Isi emailnya juga provokatif, antara lain menyebutkan bahwa bengkel-bengkel pun mulai tidak merekomendasikan Top 1.

Yang menjadi tanda tanya saya adalah: jika sumber isunya dari dunia maya, kenapa Top 1 habis-habisan mengantisipasinya di dunia teve dan media tradisional lain dengan budget sebegitu besarnya? Bukankah lebih tepat dan murah jika kita memadamkan api dari sumbernya? Sayang, dalam artikel SWA sepanjang 2,5 halaman itu pertanyaan tersebut tak terjawab. Ada yang bisa membantu menjawab?

40 Responses to “Olie Top 1: Diguncang di Online Dibalas di Offline”

  1. lans says:

    media internet memang memiliki keunggulan di dalam penyampaian informasi yang sangat cepat tetapi selain itu media internet sendiri memiliki nilai trusted media yang kecil, karena siapa saja bisa mengutarakan pendapatnya dengan bebas di internet. Selain itu, tidak mudah untuk mengklarifikasi berita satu per satu di internet. Lebih baik memperkuat brand positioning dari pada menghadapi isu yang tidak jelas, meskipun budget yang di gunakan lebih banyak, tetapi imbasnya sangat terasa. Dengan sendirinya informasi salah yang di internet akan hilang dengan sendirinya.

  2. Nukman says:

    Dulu memang banyak yang beranggapan bahwa media internet sendiri memiliki nilai trusted media yang kecil, karena siapa saja bisa mengutarakan pendapatnya dengan bebas di internet. Namun jika isu itu beredar di kelompok terpercaya seperti milis, di mana antar anggota saling mengenal, maka content yang beredar di sana nilai kepercayaannya tinggi. Inilah yang biasa disebut consumer generated media. Apa yang diungkapkan adalah suara konsumen dan calon konsumen.

  3. SM says:

    kenapa Top 1 menghabiskan lebih banyak budget untuk beriklan di dunia teve dan media lainnya mungkin karena tidak semua orang adalah pengguna internet, sehingga media teve lebih luas jangkauannya dalam mengantisipasi isu negatif Top 1 selain itu kenapa tidak sekalian mendidik konsumen baru tentang Top 1?jd ibarat pepatah “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”

  4. Budi Santoso says:

    Terserah yang punya duit. Mau dihabisin ke Media manapun.. ya terserah yang punya Duit. Kok Protes…

    Gitu Aja kok Repot

  5. Nukman says:

    Bukan protes. Hanya bertanya saja untuk nambah ilmu pengetahuan.

  6. Danang says:

    Ya, saya rasa tetap realistis ketika Top 1 menangguanginya dengan iklan bukan dari i-net, sebab para penggunanya masih cukup banyak orang yang tidak mengenal i-net. dan itu sudah terbukti buat mengantisipasi dari dampak rumor tsb. dan biarpun mereka saling percaya dalam milis, toh kualitas tetap tidak bohong. setiap orang berhak menerimanya ala dirinya sendiri. dan figur sebuah DEWA mungkin durasa dapat m enaklukkn rumor itu. kita lihat saja perkembangannya.

  7. WAWAN says:

    WADUH oli top 1 koq dipercaya, di USA aja gak ada yg jual :

  8. adito says:

    Setiap pilihan yang dilakukan oleh seseorang memiliki kadar resiko yang berbeda. So, he is him.

    I don’t have a reason for him

    Ya… kalo tujuan hidupnya hanya untuk hal seperti itu.. Tanya Kenappa?

  9. Eve says:

    Yang mengherankan di media teve waktu ada iklan Dewa dan Top 1, kenapa aneh sekali ya ? Yang dipertanyakan kenapa pabrik oli Top 1 meragukan di tayangan ? Meragukannya pabrik oli kok pakai spanduk. Aneh pabrik oli dan pabrik lain lain itu gak pernah ada yg pakai spanduk merek pabriknya hehehe. Sehingga kesimpulannya, Top 1 memang meragukan pemirsa yg cerdas !

  10. budiyanto_02 says:

    Saya sih cenderung melihat bahwa kualitas yang ditawarkan Top 1 memang bukan yang no. 1, standar lah. Tapi kalo kemudian Top 1 menjadi salah satu produk yang paling laris di Indonesia, logikanya tentu saja karena faktor promosi yang jor-joran. Selama ini memang strategi promosi yang dilakukan Top 1 berkutat pada media-media konvensional itu. Berarti memang masih sangat efektif beriklan di media konvensional. Kekuatannya masih sangat dashyat, dalam kasus ini bukan hanya pada dataran kognitif tapi juga pada dataran action (aksi untuk membeli).

    Kenyataan ini jelas dipahami Top 1, karena itu saya melihat sebenernya media online belum menjadi prioritas utama Top 1 dalam promosi. Jadi lebih tepatnya saya menyebut iklan Dewa yang ke US itu bukanlah balasan dari Top 1 terhadap isu negatif di dunia maya, tapi lebih kepada tindakan preventif di dunia realitas.

    Jika hanya berbicara dalam konteks maya biarlah berkembang, toh mayoritas pengguna Top 1 masih belum berkembang ke arah itu, nyata masih laku juga olinya. Namun sebelum isu ini merambah pada dunia offline, maka dilakukanlah tindakan pencegahan isu. Sehingga isu itu bisa layu sebelum berkembang di dunia offline.
    Ternyata cukup efektif juga menurut saya..!

  11. jimmy says:

    nah sekarang bagaimana cara jadi distibutor oli top 1
    karena selama ini aku selalu dapat dari orang ke tiga yang pasti harganya lebih mahal. padahal aku sebagai penyuplai oli ke bengke-bengkel di kota GRESIK jawa timur
    tolong kasih aku informasi yang lengkap.
    Trims’ TOP 1 memang paling laris

  12. Adriel says:

    Strategi top one adalah memberi awareness kepada konsumen (maaf) yang kurang gitu ngerti menggunakan dunia maya. Karena konsumen yang di dunia maya punya pengetahuan lebih luas. Coba buka wikipedia, dan mereka punya profil semua perusahaan oli (bahkan pertamina) kecuali top 1.

    Secara personal saya adalah penggemar otomotif dan pernah ke amerika selama 3 tahun. Bisa dikatakan kalo top 1 itu tidak ada di amerika. Apabila top 1 menggunakan merk lain untuk kebijakan luar negerinya, mereka pasti mempunyai merk atau desain produk yang mirip dengan produk top 1 yang dijual disini. Sama seperti Unilever yang menjual produk dengan nama berbeda pada tiap negara, namun mempunyai desain dan nama merk yang mirip atau punya unilever signature. Namun disini Top 1 tidak punya. Semua majalah mobil saya yang dari amerika, tidak memuat iklan atau uji produk apapun mengenai top 1. Saya pertama STP adalah top 1 karena memiliki desain logo yang mirip. Namun setelah saya konfirmasi, ternyata beda.

    Strategi Top 1 adalah membangun brand awareness top of mind kepada konsumen, dengan maksud melupakan semua berita negatif yang ada (dengan menggunakan figur orang-orang terkenal). Namun apabila terbukti telah terjadi konspirasi, maka sangat mungkin Top 1 akan jatuh seperti Enron.

  13. duta says:

    Begini ya jawaban yg pasti aja. Sebenarnya pemilik top 1 di USA itu bukan orang AS, tetapi yg jelas adalah keluarga Rudy Hrt yang tinggal dan bahkan bersekolah di sana. Jadi mereka menggunakan nama atau brand Top 1 berasal dari USA memang tidak salah, karena memang perusahaan top1 itu dimilki oleh keluarga Rudy yg mungkin sdh jadi WN sana. Mereka kerja sama dengan perusahaan oli yg tidak terkenal di AS membuat formula sendiri dg bantuan orang sana. Kemudian awalnya ekspor ke Indo dan selanjutnya mereka cuma bawa brand saja dengan menggunakan oli lokal atau oli impor dari Asia.

    Memang sangat benar oli top 1 tidak dikenal sama sekali di AS, apalagi di dunia dan mereka dapat dikatakan menjadi jago kandang dng pangsa pasar kurang dari 15 % (data survei pelumas indonesia)

  14. eko says:

    Kalo saya sih dari dulu ga percaya sama oli TOP 1. Dari dulu pake oli Pertamina. Dosen kuliah saya pernah bilang kalo base oil (bahan yang buat bikin oli) Pertamina itu masih Fresh dari hasil destilasi minyak bumi di Kilang, tidak sama dengan base oil impor yang kebanyakan udah berpindah tangan (ditradingkan, atau bahkan dioplos dengan base oil lain). Saya biasa pake oli Pertamina sampai 7500km dan ga ada masalah tuh..

  15. hamid says:

    Kepada Bapak Duta..
    Saya seorang mahasiswa yang sednag riset mengenai pasar pelumas di Indonesia, saya tertarik dengan data hasil survey pelumas yang bapak katakan…bagaimanakah cara saya untuk mendapatkan hasil survey tersebut? terima kasih sebelumnya(fidansori@gmail.com)

    Tentang oli..yah pake yang pasti-pasti aja deh jangan yang aneh-aneh soalnya kalau mesin udah rusak kita juga yg repot

  16. made yudhi says:

    klo urusan oli, saya ga pilih2. yg penting rutin diganti. biarpun pake oli paling mahal di dunia, klo digantinya setaon sekali juga bocor tuh mesin.

    kenapa top1 laris? simpel. brand awareness. (titik)

  17. frans fernando says:

    saya sering beli Top One oil dan didlam kalengnya ada kartu hologram yang tulisannya Millennium dan ada angka 2500, kadang 5000 dan kadang 5. ada yang tau ga maksudnya apa dan dimana saya bisa dapet informasi megenai hal itu, karena batas pengamilan undian 31 desember. saya tanya toko, toko ga tau. dan kalau memang ada undian, kenapa ga ada iklannya yah??? apa Top One dah kehabisan dana buat promosi di internet?? dan kenapa web Top one ga kerawat, lambat dan ga dia update dengan ceapt yah ??

  18. wayang says:

    oli ibarat darah dalam tubuh, sangat dibutuhkan buat laju mesin kendaraan. pemilihan oli (bagi saya pribadi) kadang masih mengandalkan insting, kalo pas punya duit beli yang mahal tapi kalo bokek ya beli yang (spertinya) bagus dan terjangkau, pokoknya motor harus minum ‘darah’. oya, satu lagi…pendistribusian produk juga penting. suatu saat saya pingin salah satu merk (untuk dicoba) ternyata susah carinya, padahal iklan dan informasinya sudah mendukung.
    bisnis oli gak pernah mati!

  19. sinjotaro says:

    Saya sendiri kerja di bengkel mobil, memang top1 untuk sekarang ini lumayan laku, tetapi tidak seperti 1 tahun lalu..
    memang benar banyak isu yang mengatakan bahawa oli top1 banyak yang palsu, penguapannya tinggi, membuat kerak di mesin [MAAF]..
    Saya pribadi juga tidak percaya akan kualitas Top1.

  20. lya montie says:

    baru2 saja beli top 1, di dalamnya ada kartu hologram milenium tulisannya 2500, maksudnya apa??? da tanggal terakhirnya 31 desember sama nomor-nomor gitu,,itu nomor apa ya?kalau emang undian berhadiah iklannya ko ga da.Trims

  21. RAK says:

    Saya coba klarifikasi mengenai berbagai issue yang ada :

    Sangat sulit untuk mengendalikan/ meredam issue negatif melalui internet. Sewaktu terjadi issue negatif di akhir tahun 2005, tim berusaha melakukan tracking dan dicurigai berawal dari sebuah warnet di kawasan Sarinah/Sabang yang diposting ke berbagai milis pada jam 2 pagi (mengingat isinya panjang, yang pasti sudah diketik dari tempat lain).
    Untuk itu, dilakukan pitching terhadap berbagai PR agency (termasuk big multinational agencies) meminta proposal crisis management. Namun demikian, tidak ada satupun yang dinilai bisa menghentikan issue di internet secara tetap, karena ibaratnya hanya memadamkan api sebentar saja… kalau sudah padam maka oknum akan melepaskan issue lain (mengingat issue negatif sudah sitematis dan bertahun2 ber-viral di internet).
    Untuk itu, diantaranya dijawab dengan cara offline (yang mendapatkan perhatian media masa), bekerja sama dengan Kedubes AS dengan mendatangkan Dubesnya dalam launching produk (Top 1 berkontribusi 2% terhadap total ekspor AS ke Indonesia 2005).

    Mengenai produk : Sebenarnya oli bisa diibaratkan dengan parasetamol (obat penghilang rasa sakit/demam). Parasetamol bisa hadir dalam berbagai merek, baik yang terkenal dan aktif beriklan hingga obat generik.
    Demikian juga oli. Setiap oli harus memiliki standar API/JASO/Lemigas,dsb (yang berlaku sesuai standar internasional). Tinggal bagaimana tambahan2/bumbu2 (dalam hal ini aditif) sehingga setiap merek memiliki keunikan. Ibaratnya, parasetamol sebagai obat demam, bisa didapatkan dalam rasa jeruk dan strawberry, atau bisa sekalian buat mengatasi migren, dst.

    Mengenai pabrik/ produksi : Ibarat parasetamol yang sudah ada ramuan standarnya, maka oli juga sangat mudah diproduksi di blending plant manapun dengan menggunakan merek apapun juga (sesuai pesanan)…. Kalau mau bikin merek “Tukul” Ok juga ;) . Di Indonesia juga sudah bisa membuat oli dengan spesifikasi terkini (plus keunikannya. Contohnya mau aroma parfum Bvlgari juga bisa dibuat). Di daerah Banten terdapat blending plant independen modern. Ditempat juga dibuat berbagai merek2 multi national terkenal. Bukan palsu, tapi atas order Pemegang merek untuk dapat diedarkan di Indonesia dengan COGS lebih murah, terhindar tarif impor, serta efesiensi produksi. Itu hal yang lumrah… , sepanjang merek tersebut tidak mencantumkan Made in XYZ (non Indonesia).
    Top 1 diproduksi di independent blending plant. Independent blending plant bisa di USA, China, Thailand atau Indonesia… Kalau di kemasannya ditulis Made In USA, pasti di blend di USA (Bisa cek di bea cukai, Lemigas/Dep ESDM atau Deperindag), kalau tidak pasti sudah di “bredel”.
    Apabila tidak ditulis Made in USA, berarti bisa dibuat di Indonesia atau di negara lain…. Yang ini berhubungan dengan sistem impor tarif bea masuk ke Indonesia (next aja bahasnya)….

  22. kucing garong says:

    saya udah baca berbagai milis yang membahas oli top1, dan dari rata-rata keluhan yang disampaikan ternyata kebanyakan karena minimnya pengetahuan baik pengguna oli maupun bengkel / toko olinya, terbaca oleh saya bahwa mengganti oli adalah pekerjaan yang amat mudah yang tidak perlu pengetahuan dan amat tergantung pada besar-kecilnya dana yang tersedia, padahal dalam hal mengganti oli kita harus paham mengenai unsur dasar dan spesifikasi oli yang akan kita pakai, apakah mempunyai bahan sintetis, semi sintetis atawa mineral, ketiga jenis ini tidak dapat dicampurkan satu sama lain, kalau kita masih ngotot gonta-ganti oli dari berbagai jenis tadi, ya siap-siap aja menggali kerak dan batu di dalam bak oli kendaraan kita, karena reaksi hasil percampuran dari jenis-jenis oli yang berbeda akan menghasilkan pembekuan bahkan sedimen yang nyaris sekeras batu, kalo serpihan batu itu tersebar di seantero komponen mesin kendaraan kita, anda pasti tahu apa yang akan terjadi…..
    Dan saya heran dari semua bahasan hanya memperbincangkan ; negara mana ? produsen mana ? iklan ? seharusnya yang dibicarakan ya jenis oli tadi, yang ada malah saling berpromosi saling menghujat. What ever saya hanya mengingatkan, bukan menggurui, moga-moga bermanfaat……

  23. Sakamoto says:

    Mungkin pemilik brand TOP1 sudah merasa besar kepala…sehingga membuat mereka tidak peka lagi!
    Saya sependapat dengan bung Nukman…kenapa mereka tidak memadamkan api langsung dari sarangnya…tapi mungkin karena keegoisan ownernya…merasa brandnya besar…padahal persaingan kedepan semakin keras…mereka hanya terbuai dengan masa lalu!

    Sadarlah TOP1!
    banyak merk sekarang berpacu dan meniru cara-cara anda…jangan abaikan kalangan milis…dan jangan pernah menganggap remeh lawan-lawanmu atau engkau akan terjungkal dan cuma menyesalinya…

  24. juve says:

    Tugas Edukasi konsumen adalah tugas seluruh produsen, bukan cuma tugas Top 1 saja.

    Masalahnya pasar oli sudah puluhan tahun diproteksi (baru dibuka lewat UU Migas 2001).. jadi selama Puluhan tahun konsumen tidak didik dan terbuai dalam pasar Monopoli. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk ini? Masyarakatlah yang bisa menjawabnya (Baca : PRODUSEN dan ASOSIASI PELUMAS yang seharusnya paling bertanggung jawab. Bahkan mengadvokasi atau memaksa anggotanya untuk aktif mengedukasi, bukan memikirkan keuntungan semata atau persaingan antar mereka)

    Pada saat pasar telah terbuka dari monopoli, para produsen tentu saja fokus ke pencapaian market share atau margin daripada edukasi. Coba tunjuk siapa produsen yang melakukan edukasi dengan jelas saat ini???? Tidak ada. Semuanya sibuk jualan.

    Saya pernah diskusi dengan petinggi ATPM mengenai soal pelumas. Dan ia mengakui bahwa “ketidak tahuan” konsumen adalah masalah utama dan menjadi viral, ibarat orang buta mencoba menuntun orang buta lain. Yang paling aman katanya pake aja yang direkomendasi pabrik…… Gawat.. Buntutnya lagi-lagi “jualan” bukan edukasi, karena saya tahu oli itu punya grup mereka (diluar Indonesia tidak ada merek tsb, dan itu adalah private label yang dimaklon di Indonesia) serta sekarang sedang digenjot jualannya sebagai SBU untuk memberikan kontribusi ;:) ..Serba salah.. ATPM juga gk bisa mengedukasi… Kayak lingkaran setan.

  25. arifyoe says:

    saya mau coba bagi informasi yang saya pernah baca,
    benar yang ditulis RAK, dubes amerika th 2006, lyn pascoe pernah ikut hadir dalam launching salah satu produk top 1, kalau mau akal-akal an, mungkinkah dubes diajak membohongi publik? import top 1 memang menyumbang devisa bagi california (gubernurnya artis juga – terminator) kurang dari 5%, karena yang pernah saya baca memang pabrik yang makloon top1 bukan perusahaan besar. nama pabriknya LSC (lubrification specialties company) yang katanya juga memproduksi oli merk lain di pabriknya, (yg lagi di california coba cari deh..).
    trus kenapa tidak dipasarkan di amerika? mungkin ini adalah pinternya strategi marketing yang top 1 miliki, karena melihat lawan di amerika adalah para pemain oli global (mendunia) maka top1 hanya dipasarkan ke asia pasifik. kata orang top 1 sekarang produknya sudah masuk thailand, hongkong, cina juga.

    yang pernah dapat kupon hologram di kaleng, itu adalah jenis lucky draw kepada para mekanik, anka 2500 = Rp. 2500, Angka 5 atau 5000 = Rp. 5000, seharusnya kupon itu ditukar ke toko tempat kita beli atau distributor, saya pernah melakukannya.

  26. RAK says:

    Saya coba jelaskan lagi mengenai LSC.

    Pabrik independent blender ini bukanlah kecil dan fiktif, dan salah satu terbesar di West Coast USA. Mereka juga memproduksi merek-merek terkenal dunia lainnya (tidak etis kalau saya ungkapkan disini) untuk dipasarkan di USA.
    Untuk bersaing di USA dengan brand sendiri sangat sulit, karena “dikuasai” oleh 7 sister oil company. Dalam sejarah terlihat jelas bahwa mereka selalu “mengakuisisi” brand yang jalan/ hidup, karena memiliki jalur supply base-oil. Bahkan untuk aditif (oli=base oil+aditif), yang terbesar bagi supply dunia harus dibeli dari Shell dan Exxon Mobil (Perusahaan : Lubrizol dan Infenium), sedangkan aditif dari perusahaan independen juga ada (Afton, dsb) tetapi tidak begtu besar.

    Apabila ingin lihat posisi LSC, coba cari di Google Earth Pointer 33″53’14.88″N 118″06’49.13″W Pico Rivera, CA. Koordinat itu adalah tepat bangunan kantornya. Kalau mau lihat pabrik tangki2 oilnya ada dibelakangnya. Silakan di zoom

  27. Djun-djun says:

    kayaknya ada yang tahu kalo TOP1 memang di-blend di cilegon… (dan gak cuma TOP1 kok..)

    oh ya, ada yang mau pesan pake nama TOP-ah, TOP-deh, TOP-RAK, TOP-less, … atau nama lain juga bisa loh..

    Pesannya gak usah jauh2 ke cilegon..kantornya di dekat-dekat sini kok… via saya juga boleh

  28. RAK says:

    Sepanjang dikemasannya tidak ditulis Made in USA, Made in Singapore, Made in UK, dsb… hal tersebut sah-sah aja untuk di blend di Indonesia.

    Tapi kalau ada TOP 1 dengan tulisan Made in USA.., pasti import dari USA. Simpelnya, dari NPT (Nomor Pelumas Terdaftar) yang di keluarkan Lemigas/ ESDM juga sudah pasti beda…, atau bisa aja cek langsung faktur impor di bea cukai kalau blm yakin.

  29. Rahmad says:

    Saya seorang mekanik, meski top1 di kritik habis2an gakj masalah, karena top1 tetap banyak yang pakai. hampir disemua bengkel di indonesia penjualan oli top1 yang paling banyak dibeli pelanggan. biar bukan oli kelas dunia gak masalah selama pembuatannya bukan dari sulingan oli bekas top1 tetap nyaman digunakan di semua kendaraan bermotor.

  30. Rahmad says:

    untuk masalah kupon hologram didalam kaleng top1 saya juga pernah dapat yang bertuliskan 5000, kalau memang top1 produksi USA pastinya itu 5000 Dolar bukan rupiah. tapi kenyataannya 5000 rupiah, saya coba tanya di agen penyalur mereka juga tidak tahu masalah kupon itu. jadi untuk Top1 tolong perhatiannya karena sudah banyak orang yang mendapat kupon itu tapi tidak tahu harus dibuat apa.

  31. Krebo says:

    Oalah mas… Saya sih simple. Dulu Supra-X saya pake top1. Ancur. Sebelumnya Garuda, motor cina, pake top1. Ancur. Sebelumnya lagi astrea prima, juga pake top1. Ancur. Sekarang pindah ke BM1. Lebih mahal sih, tapi mesin motor saya aman.

    Dan kenapa top1 ga brani nongol di internet? Kerna orang2 di internet udah ga bisa lagi dikibulin. Jadilah media tv dan lainnya yang dipake. Itulah jagoannya top1. Ngerasa bakal keok di internet, mereka lari ke media lain. Lagipula kebanyakan netters adalah orang yang cuek sama lingkungan jadi susah ngomong ke orang lain tentang bahanya make top1. Paling mentok juga ke komunitasnya sendiri. Dan persentase mereka cuma berapa persen sih dari seluruh orang indonesia? Blom lagi orang indonesia yang rata2 ngikut nurut apa kata iconnya.

    Nidji : Beli Revo! Gruduk.. Gruduk.. Gruduk..
    Slank : Beli HP Slank! Gruduk.. Gruduk.. Gruduk..
    Padi : Beli oli top 1! Gruduk.. Gruduk.. Gruduk..

    Lengkap sudah. Kekekekekekekekekek!!!

  32. SS says:

    untuk masalah kupon hologram didalam kaleng top1 saya juga pernah dapat yang bertuliskan 5000, kalau memang top1 produksi USA pastinya itu 5000 Dolar bukan rupiah. tapi kenyataannya 5000 rupiah, saya coba tanya di agen penyalur mereka juga tidak tahu masalah kupon itu. jadi untuk Top1 tolong perhatiannya karena sudah banyak orang yang mendapat kupon itu tapi tidak tahu harus dibuat apa.

    Untuk masalah ini coba Anda tanyakan kepada Distributor tempat Anda membeli pelumas top1 tersebut. Atau Anda dapat mengunjungi web http://www.top1.co.id di menu tentang kami untuk melihat list distributor di daerah Anda. Terima kasih.

  33. SS says:

    Oalah mas… Saya sih simple. Dulu Supra-X saya pake top1. Ancur. Sebelumnya Garuda, motor cina, pake top1. Ancur. Sebelumnya lagi astrea prima, juga pake top1. Ancur. Sekarang pindah ke BM1. Lebih mahal sih, tapi mesin motor saya aman.

    Dan kenapa top1 ga brani nongol di internet? Kerna orang2 di internet udah ga bisa lagi dikibulin. Jadilah media tv dan lainnya yang dipake. Itulah jagoannya top1. Ngerasa bakal keok di internet, mereka lari ke media lain. Lagipula kebanyakan netters adalah orang yang cuek sama lingkungan jadi susah ngomong ke orang lain tentang bahanya make top1. Paling mentok juga ke komunitasnya sendiri. Dan persentase mereka cuma berapa persen sih dari seluruh orang indonesia? Blom lagi orang indonesia yang rata2 ngikut nurut apa kata iconnya.

    Nidji : Beli Revo! Gruduk.. Gruduk.. Gruduk..
    Slank : Beli HP Slank! Gruduk.. Gruduk.. Gruduk..
    Padi : Beli oli top 1! Gruduk.. Gruduk.. Gruduk..

    Lengkap sudah. Kekekekekekekekekek!!!

    Kepada Bro Krebo dapat dijelaskan tidak ya hancur seperti apa ya? Apakah Anda membeli pelumas tersebut pada toko terpercaya? Thx

  34. baby edward says:

    Sependapat sama bro SS, bro krebo belinya dimana? jangan2 yg palsu, yah ga usah top 1, kalo palsu mah jebol maneh dah… lagian aneh juga kalo udah tau gruduk2 rusak sampai 3 kali nyoba, kalo ga palsu mah apa tuh oli…lagian kalo memang segitu jeleknya tuh produk, masa masih jadi produk no.2 di pasar oli indonesia, berarti banyak mobil atau motor rusak donk, hauhauhua lucu bener…

    cuma kalo boleh kasih inputan sih, karena bro krebo pakai BM1, setau saya BM1 banyak demo2 di Hypermart dan Carrefour, nah ini ada artikel dari otomotifnet, saya kasih link nya

    http://www.otomotifnet.com/otoweb/index.php?templet=otonews/Content/0/0/1/7/3715

    hati2 bos, bentar lagi mesin motor sampean pasti jebol tuh pakai BM1… huuahuaha

  35. Nurdin says:

    Saya sekarang bangun ruko satu pintu, rencana mau jual oli utamanya oli top one, masalahnya dimana agen yang harus saya temui. Lokasi Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi. Trims

  36. Sugi says:

    Pak Nurdin, untuk pertanyaan anda, mungkin bisa ditanyakan langsung ke customer service Top 1, coba aja masuk ke website mereka di http://www.top1.co.id atau email ke customer service nya info@top1.co.id mungkin bisa dapat pencerahan atas pertanyaan anda. Saya pernah tanya2 tentang konsultasi mesin dan respon mereka cukup cepat.

  37. mr.t says:

    walah rame banget ya?! sekedar info aja nih, kalo pake top one kok jebol mesinnya, karena gantinya telat, tuh oli penguapannya tinggi! so kalo buat geber jarak jauh ato lama gak diganti sangat beresiko! apalagi kalo pistonya ato klep gak bener, dalam itungan gak nyampe 500km dah tinggal beberapa tetes! ada yang lebih parah dari top one tuh, beberapa merek malah cuma oli daur ulang! dijamin kadar sulphurnya tinggi, ati2 mesin cepet rontok! tapi di millis juga gak salh kalo bilang top one jelek! emeng realitas, masalh olinya selebrits….selebrits yang pake top one mah gak tahu mesin, tahunya mobil CBU model baru *kabur ah!!!*

  38. Ipong Sudarson | Mother Vessel says:

    Aaah.. Kalo saya mah simple aja lah..

    Kalo produknya bermasalah, atau gara-gara oli Top1 kendaraannya bermasalah, datengin aja kantornya..
    Searching di Google juga ada koq..
    Kantornya ada di Kemayoran..

    Daripada nyebar black campaign disini cuma ngga ada bukti..
    Bawa aja buktinya ke kantornya, tunjukin ke mereka kalo ini gara-gara produk mereka.. Beres kan?

    Kalo diliat urutan penghargaan yang segitu banyak diterima oli Top1 saat ini.., logikanya penjualannya pasti masuk 5-10 besar penjualan oli..
    Dan yang beli pasti banyak kan?

    Yang artinya, kalo produknya memang bermasalah, pasti ngga cuma di internet doang beritanya..
    Dan produknya pasti udah dilarang sama Lemigas & YLKI…
    Dan orang yang ngga paham internetpun, pasti akan nulis komplainnya di koran..

    Sekarang balik lagi..
    Ada ngga yang komplain, trus nulis di koran?
    Ada ngga larangan dari Lemigas atau YLKI?

    Kalo ada..
    Coba di cek lagi, ada kesalahan pemakaian ngga dari yang punya kendaraan? Dan faktor lain-lainnya..

    Make it simple aja…
    Toh mereka pasti punya costumer service yang pasti menanggapi komplain dengan baik..

    Untuk penulis (yang menulis berita ini dari tahun 2005) saya rasa Top1 sudah banyak berubah koq strategi promosinya..
    Kebetulan saya menulis skripsi tentang Communication dari PT. TOPINDO ATLAS ASIA ini, yang notabene detail produk pelumas & non-pelumasnya serta kejelasan tentang companynya, serta strategi komunikasinya bisa saya ketahui dengan baik..

    Salah satu yang saya bahas adalah banyaknya “black campaign” di internet bisa terjadi karena banyak faktor..
    Kemungkinannya bisa dari competitor yang merasa pasar mereka diambil dengan jor-jorannya iklan Top1, dll..

    (pasar oli di Indonesia cukup besar lho, dengan peningkatan jumlah kendaraan per-tahunnya.. Jadi ngga heran juga klo persaingan di pasar oli mereknya cukup variatif dan nominalnya sangat menggiurkan..)

    Terakhir, naah… Kawan-kawan….
    Daripada menciptakan sesuatu yang mempunyai efek negatif, kenapa tidak menggandeng Top1 saja.., untuk melakukan sesuatu, entah digandeng sebagai sponsor, atau jadi distributor, dll..

    Toh penjualan mereka tetap diterima oleh masyarakat, baik produk pelumas & non-pelumas.. Dan hal ini bisa menjadi sesuatu menguntungkan bukan?
    Makasih, semoga pendapat saya ini bisa disingkapi dengan bijaksana….

    Mari kita ciptakan INDONESIA DAMAI..

    Salam..
    Mother Vessel

  39. didie says:

    olala.. saya pikir berita baru, ternyata diangkat lagi toh black campaign yang dulu. Mr.T kayanya udah basi deh komentar anda, kan udah dibahas sama mas Nukman di salah satu seminar nya, bahwa isu2 top1 di internet itu kabar miring yang digosipkan oleh kompetitor nya. anda ga nyimak nih. jangan2 mr.T ini dari kompetitornya yah ? saya bukan bela top one tapi yang ada sampaikan itu ada buktinya ga ? jaman sekarang udah ada UU IT loh… kalo ada buktinya bisa disampaikan yang jelas jangan cuma memancing di air keruh saja.. testimoni aja nih, saya di rumah ada 2 mobil, yang 1 pake top one yang satu pake tgmo, dua2 nya ga pernah ada masalah mau top one atau tgmo. saya udah pakai top one sejak 2004 di honda jazz dan tgmo sejak 2006 di inova, dan mobil saya tidak ada keluhan. dan yang anda tulis top one dipakai 500 km tinggal beberapa tetes aja ga terjadi di mobil saya tuh.
    di honda jazz oli nya 3,5 liter pas ganti di 7000 km masih tetep 3 liter lebih. di inova juga gitu 5,5 liter pas ganti 7500 km masih 5 literan juga.

  40. Ainsley says:

    Setuju dengan Mr. Ipong Sudarson

    Saya pakai Oli TOP 1 dari tahun 2003 tidak ada masalah apa-apa, mungkin ada beberapa hal yang tidak dilakukan penghuni blog yang complain mungkin :

    1. Tidak menganti oli kendaraan secara rutin (+/- 5000 –
    7000 km lah)
    2. Mungkin sering gonta-ganti oli (saya sih ga pernah
    makanya ga bermasalah)
    3. Tidak mengunakan oli sesuai dengan buku panduan
    kendaraan

    Biasanya sih kalo ke bengkel nanya-nanya sama mekanik mengenai isu-isu penyebab mesin berkerak, mesin cepat panas, oli susut, dll. penyebabnya ya 3 hal diatas tadi, ga jauh-jauh gan (^_^)v

    makanya sebagai orang terpelajar ada baiknya kita mencari tahu kebenaran nya sebelum menjelekan apa pun atau siapa pun, karena ada quotes bilang, “Assumption is mother of all chaos” xixixixi……

    Love & Peace

    Ainsley

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting