Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Membuat Portal Memikat Banyak Pengiklan.

December 12, 2006
Oleh Iim Fahima Jachja

‘Gimana sih cara mengundang pengiklan supaya beriklan di portal saya?’

‘Saya mau bikin portal, ibu bisa bantu ngga memarketingkan?’

Pertanyaan-pertanyaan senada di atas beberapa kali saya temui. Biasanya sebelum saya menjawab saya akan tanya balik, apa saja langkah langkah yang dilakukan untuk memarketingkan portalnya. Jawaban yang rata rata muncul adalah ‘saya pasang banner ad’, ‘ae saya presentasi ke sejumlah biro iklan atau ke calon klien’ ‘saya beri diskon special’ atau jawaban-jawaban lain yang sifatnya aktifitas memarketingkan sebuah produk dalam artian an sich.

Sebelum melakukan ini itu, hal dasar yang harus kita pahami dalam menarik pengiklan adalah: Pengiklan akan beriklan di portal yang dianggap bagus, yang layak untuk dipasangi iklan.

Lalu, apa standart portal dianggap bagus oleh pengiklan?

Pertama dan paling kasat mata adalah portal itu dikunjungi banyak orang. Contoh nyata: detik.com dan Friendster. Membuat portal dikunjungi banyak orang, bukan hal yang gampang. Diperlukan visi dan konsep bisnis yang breakthrough sehingga ketika diluncurkan, portal ini memiliki nilai plus di mata konsumen.

Untuk menghasilkan visi dan konsep yang breakthrough, diperlukan kejelian menangkap kebutuhan konsumen dan kejelian mengamati perilaku konsumen online. Dua hal ini menjadi sangat krusial karena seringkali ketika kita akan membuat portal, terinspirasi oleh portal yang sudah berhasil. Seperti misalnya, saat ini banyak sekali yang ingin meniru kesuksesan Friendster dengan menciptakan portal yang mirip-mirip. Padahal jika dilihat lebih dalam perilaku konsumen online,seseorang yang sudah member member aktif di sebuah portal dan kebutuhannya terjawab di portal itu, tidak ada keinginan untuk aktif bergabung di portal yang serupa. Ngapain punya account banyak-banyak? repot amat, begitu alasan yang sering muncul. Kalau pun ada yang akhirnya menjadi member di dua portal serupa, pasti ada satu membershipnya yang tidak aktif.

Dengan kondisi seperti itu, masihkah Anda berniat membuat portal yang mirip-mirip?

Kedua, portal tersebut harus well manage. Jika basisnya news, maka news tersebut harus terus ter-update. Jika basisnya layanan, maka secara berkala layanan harus ditingkatkan. Menjadi well manage juga bukan hal yang mudah, karena diperlukan team yang memiliki skill yang bisa diandalkan di masing masing departemen. Selain itu, key person di masing-masing departemen harus memiliki visi dan attitude yang sama. Seseorang yang biasa bekerja untuk media TV, attitudenya berbeda dengan yang biasa bekerja untuk media online.

Ciri lain sebuah portal well manage adalah tanggap dengan kebutuhan pengiklan. Berkali kali saya menemukan portal yang semula saya anggap bagus, namun ketika saya meng-klik menu pemasangan iklan, yang terdisplay adalah data sekian tahun lalu. Atau ketika saya kirim email, jawaban baru muncul sekian hari kemudian. Bahkan ada yang sampai client service saya harus menghubungi berkali kali baru email dibalas. Pada titik ini, saya berkesimpulan portal ini memang ‘ngga niat jualan’.

Apa yang saya tuliskan di atas baru sebuah bungkus besar. Untuk menjabarkannya, diperlukan banyak hal-hal lain yang tak mungkin saya sebut satu persatu di sini.
Bagi yang sedang bercita-cita membuat portal yang menarik banyak pengiklan, jangan melupakan hal basic dalam marketing: Barang akan laris terjual jika berkualitas,memiliki nilai lebih dibanding yang lain, dan memiliki layanan yang tanggap serta cepat.
blinkhr2.jpg

17 Responses to “Membuat Portal Memikat Banyak Pengiklan.”

  1. bd yuw says:

    sama gak perilaku konsumen omline dg pemirsa TV misalnya, atau media yg lain. Artinya, ketika seseorang ingin mengiklankan produk lewat media tersebut, khan harus tau siapa sih yg biasanya nonton (kalo TV) atau baca (kalo media cetak). Trus kalo portal… perlu juga khan mengetahui karakter pengunjungnya, agar iklan yg kita pasang gak sia-sia ??
    ~thx b4~

  2. yup betul, masih ada aja orang yang bikin portal ikut2an tanpa menawarkan diferensiasi dan unique value, atau at least mempunyai target market yang jelas :-)

  3. Iim-Adhit says:

    Perlu mas budi, untuk itu lah pemilik portal sangat disarankan terus meng-update data demografis pengunjung.

    Akan lebih bagus lagi jika pemilik portal memiliki data perilaku pengunjung seperti jam-jam online, menu apa yang paling sering di klik, topik apa yang paling menarik dan lain lain.

    Data itu akan membantu advertiser dalam mengambil keputusan pemasangan iklan.

  4. Hartono says:

    Memasarkan produk di internet memang gampang-gampang susah untuk seorang pemula. Justeru saya mendapat berkah dengan menyediakan informasi gratis di internet.

    Setelah banyak orang berkunjung ke website dapat ide untuk menawarkan barang yang berkaitan dengan informasi.

    Untuk mendongkrak pengunjung kita dapat berkerja sama dengan mr. google.

  5. Kalo memeberi contoh detik.com kayaknya kurang pas bagi masih baru ato akan membuat portal. Klient tahunya biasanya marketing di Internet kaya kita marketing offline, kaya pasang iklan di koran dan majalah. Sedangkan portal bisa survive karena dia punya kontent, sedang Detik dengan Friendsster jauh sekali kontennya.
    Kalo detik kontent dari detik sendiri sedang friendster kontent dari user (era Web.2.0). Sarankan ke klient kalo buat portal, yang unique, kontent selalu berubah.

    nb: detik sekarang jadi Portal Iklan, bukan berita lage. :p

    thnx

  6. Iim-Adhit says:

    “Klient tahunya biasanya marketing di Internet kaya kita marketing offline, kaya pasang iklan di koran dan majalah”

    Karena itu harus disampaikan bahwa sebelum memarketingkan sesuatu, pastikan bahwa yang kita jual memang layak jual. Pencontohan detik dan Friendster adalah karena 2 portal ini sering dijadikan standart acuan portal yang sukses.

    Menyarankan ke klien untuk membuat portal yang unik dan ter-update? Semuanya sudah tertulis di postingan saya =)

  7. pandu says:

    saya juga sering mba dapat pertanyaan serupa. Kalau kita lihat sekarang banyak sekali loh dotcommers2 yang muncul, belum lagi seperti yang ditulis Pak Nukman, banyak printed media dan TV yang mulai fokus menggarap online. Sebut saja indosiar.com dan liputan6.com atau untuk printednya mungkin bisa melihat Jakartapost.com dan bisnis.com yang mencoba fokus membesarkan versi online mereka.

    Semua yang Mba iim tulis benar sekali, kalau menurut saya saat ini persaingan semakin ketat namun peluang juga terbuka sangat lebar karena advertisers sekarang sudah mulai “ngeh” akan media yang satu ini.
    Setahun yang lalu mana ada iklan produk lokal di MSN, Yahoo, atau Friendster? Saya punya beberapa client lokal yang siap lempar uang di tahun 2007 ini untuk beriklan di website international. Aneh ya bukannya mau beriklan di website lokal tapi mintanya msn, yahoo, friendster…
    Tanya kenapa??

    Intinya cuma satu, bagaimana bisa menarik sebanyak mungkin orang ke website anda dan membuat mereka kembali paling tidak lebih dari sekali dalam satu hari ke website Anda. So be creative….:)

  8. puspa says:

    Memang butuh Energi lebih untuk mengelola sebuah Website. Kadang hanya memperhatikan faktor Demografis dan perilaku Visitor saja tidak cukup. Ada semacam Faktor X dan Promosi Mouth to mouth pun masih sangat mendominasi dalam hal ini. Mengenai Faktor X ini agak susah menjelaskannya, pernahkah anda browsing ke satu Website dan langsung tertarik untuk berlama-lama, bertransaksi sampai beriklan didalamnya ? atau ada yang bisa menjelaskan mengenai Faktor X ini ?

  9. budiyanto says:

    Menarik sekali tulisan ibu mengenai “membuat iklan memikat banyak pengiklan”. Bagi saya pribadi yang saat ini juga bergerak dalam bidang ini, kendala yang utama adalah membentuk “brand awareness” di masyarakat mengenai situs kami. Sebelumnya tolong koreksi jika saya salah, “Kami beranggapan jika brand awareness sudah kita miliki, maka kemungkinan pengiklan untuk datang kepada kami lebih mudah”. Bagaimana menurut ibu mengenai hal ini?
    Semua yang ibu jelaskan dalam tulisan di atas, menurut kami sudah kami jalankan.Pertanyaan saya sekarang adalah bagaimana kami membentuk brand awareness, di masyarakat? Atau ibu punya pendapat lain? Terima kasih…

  10. Iim-Adhit says:

    Pak Budiyanto, jika seluruh proses di atas sudah dilengkapi, lakukan proses beriklan/berpromosi untuk mendongkrak awareness.

    Aktifitas promosi tidak harus berbentuk iklan banner ad, tapi bisa juga guerilla lewat milis (masuk ke topik dalam bentuk diskusi, bukan spam), guerilla lewat email (menulis website dalam foot note) dll.

    Atau, jika memiliki dana lebih, bisa memasang banner ad yang (harus!) menarik sehingga men-trigger pembaca untuk meng-klik banner ad Anda. Bisa juga dengan membuat direct mail yang kreatif.

    Lebih lanjut ttg bentuk kreatifitas promosi bisa dilihat di http://www.virus-communications.com/blog/?p=39#more-39

  11. feri surya perkasa says:

    saya seorang marketing iklan, bagaimana prospek iklan tahun 2007, apakah print ad masih laku dijual

  12. untuk website yang target utamanya adalah menghasilkan penjualan via e-commerce, apakah perlu menarik pengiklan jka dilihat dari sisi positif dan negatifnya?

    kalo ya, siapa kira kira pengiklan yang dibidik?

  13. nagaweb says:

    emang portal itu umum, kalau untuk bisnis itu triknya gimana yach, supaya ada income tambahan nich

  14. yulianto says:

    Benar sekali, website yang baik perlu ada content yang baik. Jangan berpikir mendapatkan iklan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana menolong pengunjung. Kalo website kita berjualan furniture, kita dapat memberi artikel-artikel berkaitan furniture, sehingga menolong pengunjung. Semakin banyak artikel, akan semakin banyak pengunjung yang datang ke website kita, jika artikel tersebut telah dilakukan optimalisasi terhadap google. Sehingga misalnya jika ada yang mencari artikel merawat sofa, dan website kita ada diperingkat pertama, hal tersebut berdampak positif kepada kita. Lalu semakin banyak artikel, page rank (peringkat dimata google) akan naik pula, sehingga lebih besar kemungkinan ada di peringkat atas halaman pencarian google.
    Untuk analisa pengunjung dapat menggunakan awstat atau google analytics, sehingga mengetahui jumlah pengunjung, dari mana mereka datang, dan lain-lain.
    Brand awareness memang penting untuk website demi tujuan iklan. Saya rasa brand awareness bisa dilihat dari jumlah pengunjung. Semakin banyak jumlah pengunjung akan semakin baik, sehingga dapat menawarkan ke perusahaan-perusahaan pemasang iklan lebih mudah.

    Yulianto
    http://www.solusiwebindo.com
    http://www.stockpickguide.com

  15. buat kolom atau rubrik-rubrik unggulan, sesuai target market. Misalkan rubrik seks ABG, rubrik dugem lokal,dsb.
    Siapkan penanggung jawab yang ahli untuk tiap rubrik unggulan itu, dan wajib mencari solusi agar rubriknya menarik banyak pengunjung.

    Ciptakan komunitas untuk tiap rubrik yang telah Anda ciptakan. Buatkan ikatan sangat kuat antar anggota, dan ciptakan membership. setiap member memiliki kepentingan yang hampir sama.

    Ciptakan ajang komunikasi untuk komunitas tersebut, baik online maupun offline.

  16. Ari says:

    Apapun itu web portal, bila dikemas dg baik untuk kepuasan pengunjung pasti rame, berikan tempat gratis buat pengunjung bila perlu beri hadiah, bagaimana menurut anda?

  17. iqranegara says:

    Siapa sih yang tidak mau dapat duit dari jual space banner? Saya mau!

    Sayangnya kebanyakan si empunya web lebih berorientasi jualan banner sampai melupakan jualan barang dagangan yang semestinya. Termasuk saya :p. Mindset ini yang harus diubah dulu. Yang penting adalah buat web anda rame dulu (kayaknya gampang, padahal susah)

    Bersyukurlah kalo anda pioner dalam budang usaha anda. Karena anda punya samudra biru yang bisa digarap (blue ocean). Tapi kalo usaha anda punya kompetitor, satu2nya jalan adalah membuat diferensiasi. Bisa apa saja, mulai layanan, fitur2, kemudahan, dll. Yang penting terus kreatif, jangan biarkan otak nganggur.

    Saya setuju sama Mas Yulianto di atas. Pelajari perilaku konsumen. Semua orang suka barang gratisan. Kalo ada gratisan selalu jadi rebutan. Urusan barang itu jadi kepake apa nggak, belakangan. Jadi tidak ada alasan untuk menyediakan sesuatu (yang bermanfaat) yang gratisan di web anda.

    Kalo usaha saya mesti pake strategi yang laen lagi. Karena pasar produk jasa saya kebanyakan masih orang awam ttg komputer, apalagi internet — promosi tradisional di darat harus tetep dipake. Kalo kata mbak Iim integrated campaign. Gak harus mahal, gerilya aja. Dan yang terpenting edukasi. Mungkin dampaknya gak langsung terasa, tapi edukasi adalah investasi tak ternilai (halah.. berlebihan)

    Apapun cara(halal)nya, web kita mesti rame dulu. Kalo udah, bukan gak mungkin pengiklan datang sendiri.

    http://www.warungmobil.com

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Jauhari: - Terima kasih atas pencerahannya

  • Bagus Abdurrahman Wahid: - Mas Andi, saya punya produk baru clothing (spesialis produksi)....

  • Historee: - Artikel yang bagus buat bahan pengetahun kita2 yg mengelola startup social media....

  • Andi Primaretha: - Iya pengukuran tentang level influence bisa diukur dari Klout atau PeerIndex....

  • Akhlis: - Patokan yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah aku termasuk influencer atau tidak...

  • vina: - Salut deh ilmunya.. Maju terus mas..

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting