Beberapa waktu lalu, saya, Online Business Consultant Pak Nukman, Marketing Consultant Ibu Amalia Maulana, Entrepreneur Pak Iim Rusyamsi dan Pak Agus Ali serta pendiri komunitas Tangan di Atas, Pak Roni Yuzirman ngobrol ringan tentang beberapa aktifitas online yang bermanfaat untuk branding seperti blogging dan community building.
Obrolan yang sangat cair itu kemudian berkembang menjadi diskusi yang menarik tentang apa yang membuat sebuah komunitas online berkembang. Satu hal yang saat ini menjadi cita-cita banyak pengelola brand.
Diskusi ini berawal dari pertanyaan sederhana namun sangat mendasar yang dilontarkan bu Amalia ke Pak Roni: ‘Apa sih yang membuat komunitas Tangan di Atas Sukses?’
Komunitas TDA berawal dari perkumpulan offline alias ‘ketemu darat’. Meski baru didirikan 22 Januari 2007, komunitas bisnis yang bervisi menjadi Tangan Di Atas yang gemar memberi kepada sesamanya atau istilah kerennya adalah abundance atau enlightened millionaire ini, sudah mengumpulkan member lebih dari 1300 pengusaha yang tersebar di sejumlah daerah seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Batam. Jadi, komunitas ini tak hanya besar di Jakarta.
TDA juga memiliki mailing list dan portal yang difungsikan sebagai sarana komunikasi antar anggota. Dua online communication tools inilah yang kemudian membawa komunitas TDA menjadi online community.
Menurut pak Rony, hal pertama yang membuat orang mau berkumpul adalah kesamaan kepentingan. Dalam konteks TDA, sama-sama butuh membuka jaringan bisnis yang lebih luas.
Kedua, karena kesamaan kepentingan sifatnya pragmatis, maka untuk memperkuat ikatan, diperlukan kesamaan value atau paham yang dianut. Dalam hal ini, komunitas yang action oriented ini memiliki kesamaan paham yaitu menumbuhkan semangat berwirausaha yang merupakan salah satu solusi konkret terhadap permasalahan ekonomi bangsa.
Ketiga, adanya figur yang kuat sebagai representasi komunitas yang gencar mempromosikan komunitasnya. Figur TDA tak bisa dilepaskan dari Roni Yuzirman, pengusaha low profile dan selalu ringan tangan dalam berbagi pengetahuan yang juga merupakan penggagas lahirnya komunitas ini.
3 hal yang diuraikan pak Roni,menurut saya, merupakan hal mendasar yang harus dipahami oleh pemilik dan pengelola brand sebelum terjun membangun online community. Mungkin, point ke 3 yang menyangkut figur komunitas,tidak selalu valid dalam setiap kasus. Namun point kesamaan kepentingan aka keuntungan dan kesamaan value (yang juga bisa diterjemahkan dengan ‘kebanggaan’) adalah hal basic yang harus dijawab. Apa keuntungan yang didapat ketika konsumen Anda berkumpul di community site? Value apa yang brand Anda miliki sehingga akan secara kuat mengikat para member?
Dan berbicara soal value, maka saya punya pertanyaan yang sangat basic: Sudahkan brand Anda memiliki value yang kuat di benak konsumen? Jika sudah, maka Anda punya pengikat yang sangat kuat untuk beranjak membentuk (online) community. Namun jika tidak, sepertinya Anda harus berpikir ulang taktik yang tepat dalam mendekati konsumen online.
Related link: Web Community, ampuh merangkul pecinta brand?
Terima kasih atas ulasannya. Saat ini TDA senang membangun “high trust community” yang berawal dari kesamaan “nilai” itu.
Sebuah tulisan yang memikat dan amat informatif. Mungkin nanti kalau PortalTDA yang kini tengah digarap Virtual sudah go live, sepak terjang komunitas ini akan kian melenting.
Tulisan yang keren, mbak! Jadi pingin ikut TDA
Ibu Iim,
Terima kasih atas ulasannya, senang membaca TDA tampil di blog Ibu.
Ada sedikit koreksi TDA, tahun lahir TDA adalah 2006.
Banyak member TDA yang sudah merasakan manfaat bisnis dari berkomunitas ini, selain berbagi ilmu mereka juga berbagi rejeki di komunitas ini. Karena silahturahmi membawa rejeki
Berkomunitas di TDA lebih dikedepankan nilai silahturahminya diantara member.
Jika ingin bergabung silahkan ke http://tangandiatas.com, register online.
tulisan penuh pencerahan, terima kasih sharingnya
pertanyaan (bodoh) saya:
Bagaimana mengukur brand value?
Tulisan menarik nih Mba/Mas..
ekslusivitas berperan jugakah, apakah itu dapat disamakan dengan point pertama?
apakah facebook, friendster, etc sama dengan online community yang dimaksud?
# Mas Iqra, kalau brand value itu luas sekali karena mencakup worth in terms of income, potential income, reputation, prestige, and market value.
Kalau dalam konteks tulisan saya, ‘disederhanakan’ menjadi ‘nilai/faham’.
# Rangga, Facebo0k , Friendster etc itu hanya social networking, sehingga tidak perlu kesamaan value.
Soal ekslusifitas. Kadang bermanfaat kadang malah jadi bumerang. Targantung konteksnya. Seperti misalnya: Jika komunitas TDAhanya untuk pengusaha, kesannya malah ‘membuat jarak’, makanya TDA juga terbuka untuk TDB (tangan di bawah/pegawai) yang berniat mengasah mental enterpreneushipnya.
Setau aku ada beberapa yang berpendapat friendster, facebook, etc juga merupakan online community, karena didalamnya kita juga bisa membuat community sendiri, social networking itu merupakan fondasinya, Yang saya lihat mungkin perbedaannya terletak pada penempatannya.
Makasih yah udah dapet pandangan baru lagi nih.
Untuk TDA sukses terus yah, semoga pengangguran di Indonesia bisa trus berkurang Amin.
Cheers
Boleh ikut nimbrung ya.
Saya tergugah dengan comment ini:
Iim-Adhit Says:
May 11th, 2008 at 8:30 pm
…
# Rangga, Facebo0k , Friendster etc itu hanya social networking, sehingga tidak perlu kesamaan value.
…
Menurut saya kesamaan value adalah salah satu Added Value dari sebuah website. Entah itu Portal, Mailing List, Social Network atau apapun.
Setelah era nya Friendster, Facebook dan lainnya kemudian bermunculan Social Network dengan kesamaan value.
Contoh:
http://www.fanspot.com/ -> ini merupakan SosNet dengan kesamaan value minat terhadap sport.
http://www.muslimmatrimonial.com/ -> ini SosNet dengan kesamaan value yaitu tempat sesama muslim.
http://www.itsmylifeclub.com/ -> ini SosNet dengan kesamaan value yaitu bagi mereka yang minat sex nya dengan sejenis.
http://www.c3friends.com -> ini SosNet dengan kesamaan value bagi mereka yang bersimpati terhadap anak-anak Indonesia pengidap kanker.
Dan saya percaya masih banyak lainnya.
Kalo ditilik-tilik toh Friendster dan Facebook adalah Online Community dengan kesamaan value mencari pertemanan kan.
Setuju sekali bahwa ekslusivitas adalah pisau bermata dua. Dibuka sebesar-besarnya malah jadi nggak fokus dan kehilangan added value, tapi dibuat ekslusive banget juga bukan berarti nggak ada yang berusaha bergabung.
Contoh ada online community yang kalau ingin masuk musti berdasar reference 3 anggota lainnya, bukannya dijauhi tapi malah di kejar-kejar. Abis isinya para celebrity sih hehehe.
Sukses terus untuk TDA. Saya baru saja bergabung dan masih jadi member pasif. Mudah-mudahan kedepan saya bisa menyumbangkan hal-hal yang saya mampu.
Thanks.
# Rama,contoh Facebook, Friendster itu lebih ke kesamaan value atau kesamaan minat/kepentingan ya?
Buat saya kok lebih ke minat ya. Value (nilai) jauh lebih kuat dari pada minat.
# Rangga, bahwa di dalam Friendster, Facebook kita bisa membuat online community itu betul sekali. Tapi pada dasarnya FS dan Facebook itu Social Networking. Jadi dalam pembentukan online community, FSdan facebook berfungsi sebagai tools.
Betul, makannya menurut saya social networking di friendster etc merupakan based dari online community yang mau di create, secara penempatannya saja yang berbeda ( karena tols nya bisa macam2kan Mba/Mas ).
Setuju kalau Facebook dan Friendster yang menggunakan kesamaan minat daripada value. Bahkan fungsi groups yang disediakan oleh mereka juga biasanya masih berbentuk penyebaran minat, bukannya untuk mempererat kerekatan antar sesama penganut nilai.
Menarik ulasan kesamaan valuenya mba’Iim. Memang kalau kita lihat komunitas yang terbentuk selama ini, sudah memiliki kesamaan value, hanya value system yang mana yang lebih dominan. Bila economic value yang dominan dalam sebuah komunitas, kesannya rada pragmatis dan short term. terlihat berbeda bila yang dominan social value, maka aspek ekonomi dibahas dari perspektif sosial. Demikian pula dengan value yang sangat mengikat, futuristik meski membangunnya perlu kesabaran dan bernama spiritual value. Nah menurut saya (mafaf kalo keliru)ini yang dilakukan oleh TDA. TDA dibangun dengan melihat economic value dari perspektif spiritual. sehingga value yang demikian bila sudah terbentuk, sangat kuat dan tahan banting. itu sebabnya bila kita melihat para conversationist dalam twitter dan facebook, dari topik yang dibahas dan cara mereka mengungkapkan pendapat, bisa kok dilihat dominant value yang muncul dalam diri masing-masing.apakah economic value, social value, power value, theotical value, aesthetic value, atau spiritual value.