Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Memahami Kompleksnya Internet Dengan Bahasa Yang (Mungkin) Lebih Sederhana

March 31, 2008
Oleh Iim Fahima Jachja

Sebagai sebuah medium, internet sangat lah kompleks dan unik. Begitu kompleks dan uniknya, sehingga muncullah berbagai istilah yang lebih khusus untuk menggambarkan perilaku/insight konsumen (online user behavior), kegiatan pemasaran (online/internet marketing), jual beli (e-commerce) dan lain sebagainya.

Oleh beberapa ahli komunikasi pemasaran yang sepertinya belum paham apa yang dibicarakan, istilah-istilah khusus ini dianggap sebagai ‘pengkotakan’. Artinya, sebenarnya internet sama saja dengan medium lain seperti TV, print dan radio. Jadi ngga perlu istilah-istilah seperti itu. Toh di medium-medium itu tak ada istilah marketing TV, marketing cetak, apalagi marketing radio!

Benarkah seperti itu?

Sulit memang menggambarkan kompleksnya internet dengan bahasa yang sederhana. Karena membicarakannya, seperti membedah sebuah dunia lain. Jika diibaratkan kita selama ini hidup di daratan, maka internet adalah lautan yang baru saja ditemukan. Laut itu dihuni oleh ikan-ikan (komunitas) dengan berbagai kebiasaan (behavior). Untuk menemui komunitas laut, diperlukan alat berlayar (website). Untuk menjaring ikan, diperlukan makanan yang bergizi (content yang menarik).

Ingin sekedar jalan-jalan di pinggir lautan, cukup gunakan kapal sederhana atau website yang biasa-biasa saja. Tapi jika ingin menyasar komunitas khusus yang ada di laut yang tinggal di kedalaman tertentu,membuat mereka mencintai Anda dan bolak balik mengunjungi kapal Anda, bukan tidak mungkin yang Anda perlukan adalah sebuah kapal selam atau website yang harus ditangani secara serius baik secara content maupun usabilitynya.

Jadi, untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, tentukan dulu objektifnya. Mau apa ke laut? cuma say hi ke komunitas pinggir laut dan mengabarkan bahwa brand Anda eksis? atau berniat menangkap ikan jenis tertentu? Sudahkah makanan dan kapal yang Anda siapkan sesuai objektif Anda?. Dengan kata lain, jangan salahkan pelaut Anda jika tak kembali dengan banyak ikan. Lha Anda sendiri sebagai orang yang berniat berlayar, sudah punya tujuan yang jelas belum? Niatnya cuma jalan-jalan dan say hi, kok berharap pulang bawa banyak ikan?!

Lalu soal media:

Jika daratan punya media seperti koran dan TV, laut juga punya media seperti detik.com, kompas.com, yahoo yang update beritanya bahkan lebih cepat dari koran dan TV. Media ini sekarang juga makin berkembang dengan adanya user generated content seperti blog, mailing list dan forum. Lain komunitas , lain perilakunya, lain pula cara berinteraksinya.

Bagaimana soal cara bermarketing? Mengapa sampai perlu istilah internet marketing? Benarkah istilah itu another pengkotakan aka pengekskusifan internet terhadap medium lain?

Ada yang bisa membantu saya menjelaskan dengan bahasa sederhana? Atau…mungkin ingin mengkoreksi atau menambahkan penjelasan saya di atas?

9 Responses to “Memahami Kompleksnya Internet Dengan Bahasa Yang (Mungkin) Lebih Sederhana”

  1. Widarto says:

    Kompleksnya internet susah banget buat diceritakan dalam bahasa simple. Tapi emang harus dicari caranya biar bisa dipahami banyak orang, kan?

    Internet marketing ngga perlu, karena ngga ada TV dan Radio marketing? Waduh!

  2. Itu orang komunikasi pemasaranya apa ngga pernah internetan ya? (heran mode on*).

    Tapi penjelasan soal lautan itu bagus mba! Analoginya pas.

  3. rachman tea says:

    Internet, TV, koran, ataupun radio adalah sebuah bentuk media yang dilahirkan oleh jamannya masing-masing sesuai dengan dinamika dan perkembangan masyarakat tertentu yang melahirkannya; yang kemudian di-extend penggunaan dan pemanfaatannya pada konteks waktu dan tempat yang berbeda.

    Semua bentuk media tersebut pada dasarnya menjadi alat perpanjangan kemampuan (extention) indrawi manusia yang bisa digunakan untuk melampaui konteks ruang dan waktu yang ada.

    Jadi, di satu sisi, media-media tersebut pasti memiliki sifat dasar yang sama sebagai ‘extention tools’ indrawi manusia; yang bisa dilihat dari derajat kemampuan penetrasi media terhadap target audience-nya dari sisi konteks ruang dan waktu.

    Namun, di sisi lainnya, media-media tersebut juga memiliki perbedaan satu dengan lainnya; sesuai dengan motif penciptaan teknologi yang melekat pada fungsi dan peran sosial jenis media-media tersebut.

    Ibarat sebuah koin mata uang logam, kita mau melihatnya dari sisi yang mana? Hanya dari satu sisi gambar koin? atau angka koin? atau melihatnya secara utuh; sebagai satu entitas sebuah benda; koin mata uang logam.

    Pilihan apapun yang Anda ambil, tentu memiliki konsekuensi tersendiri; baik dari sisi penggunaan istilah, logika berpikir, hingga penerapannya bila akan digunakan untuk kepentingan pemasaran.

    Jadi, jangan larut pada perdebatan teknis yang muncul sebagai konsekuensi pilihan sisi mana yang digunakan sebagai perspektif melihat koin mata uang logam.

    Akan lebih mengasyikkan bila kita lebih mendalami aspek-aspek yang bersifat lebih substantial, seperti memahami nilai-nilai, cara berpikir, ataupun ideologi yang melekat pada bentuk sebuah media (Internet, TV, koran, ataupun radio); kemudian mencoba menganalisis setting konteks ruang dan waktu yang berlaku (terjadi) pada masyarakat yang menciptakan teknologi media tersebut sehingga pada akhirnya kalau media-media tersebut sekarang ini ada juga (digunakan juga) oleh masyarakat kita; yang secara jelas-jelas memiliki konteks ruang dan waktu yang berbeda; termasuk juga motif penggunaan yang berbeda, kita bisa lebih tepat dan proporsional menempatkan peran dan fungsi media-media tersebut pada berbagai jenis kegiatan yang kita lakukan; termasuk untuk kegiatan marketing.

    Saya yakin komentar dan pandangan saya ini tidak akan memenuhi permintaan Iim yang menuntut kesederhanaan penjelasan, tapi setidaknya saya bisa menyodorkan sudut pandang lain tentang eksistensi media-media tersebut…..

    Salam,
    M.Kh.Rachman R.

  4. Iim-Adhit says:

    Sangat setuju dengan pandangan rahman yang menyebut soal menghindari perdebatan teknis. Saya juga pinginnya begitu, tapi dalam perjalanan ternyata banyak juga yang mempertanyakan hal-hal yang kita anggap teknis itu, karena menjelskan tentang internet, mau ngga mau akan melibatkan istilah2 tersebut. jadi, agak sulit jika hanya berbicara di level substansial saja.

    Saya pikir para jagoan markom yang mempertanyakan hal itu, tidak ada salahnya ‘get into it’, terlibat langsung secara mendalam terhadap medium ini, sehingga lebih bisa berempati–jika tak mau disebut lebih open minded.

    Tak ada ruginya mempelajari hal yang baru, bukan? Apalagi ini merupakan medium yang sangat potensial

  5. rachman tea says:

    Terkadang klien memang cenderung lebih senang diberikan sesuatu yang bersifat teknis (pragmatis), makanya seringkali para praktisi markom merasa lebih nyaman bergelut dengan persoalan-persoalan di seputar permukaan tentang penerapan internet marketing untuk kepentingan promosi produknya.

    Makanya, saya condong mengajak untuk memikirkan persoalan-persoalan yang mendasar terlebih dahulu (substantif) sebagai acuan awal untuk menyamakan cara pandang terhadap keberadaan media-media tersebut dalam kehidupan kita. Baru kemudian menerjemahkannya ke dalam turunan teknis-operasional bagaimana kita memanfaatkan media-media tersebut secara maksimal (tapi tetap proporsional).

  6. arrohwany says:

    Wah penjelasan yang menarik dan mudah dipahami :)
    Terima-kasih, mazz mbak :)

  7. Yang paling membuat berbeda media internet, dengan media sebelumnya dan ini sangat revolusioner menurut gw adalah, pertama sifatnya yang interaktif. Kedua, terekam selamanya dan bisa ditemukan setiap saat.
    Apabila brand kita ditulis dengan baik, maka sebuah keberuntungan. Tapi kalo ada yang menulis jelek maka akan jadi mimpi buruk selamanya hehehe

  8. Yoppi Ari says:

    Aduuh, merasa cupu(ya emang) kalo udah berhadapan dengan “sing mbaurekso” (yg punya tempat, dlm bahasa jawa)… :)

    Mas lim-Adhit, minta saran dong, dimana atau gimana belajar internet marketing yg baik dan benar, agar tidak tersesat dan menyesatkan. Berhubung kadang banyak bajak laut yg pakai jaring lebih “sangar” dari pukat harimau di lautan jagat maya ini. Thx B4… sukses terus buat virus-communications :)

  9. Iim-Adhit says:

    # Yoppi,
    Belajar saja dari internet. Banyak tengok blog-blog marketing dalam maupun luar negeri. Kalau situs luar, masuklah marketing sherpa.

    Good luck!

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting