Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website Anda.

July 23, 2007
Oleh Iim Fahima Jachja

Sebuah website diciptakan agar sering dikunjungi. Tapi ketika merencanakan membangun sebuah website, tak jarang seseorang atau sebuah korporasi lebih sibuk berkutat di urusan mempercantik desain. Desain dirubah ini itu, ditambah elemen x elemen Y agar lebih kreatif, dinamis, dan berbagai alasan lain yang intinya berbicara soal tampilan yang ‘keren’ dan memberi ‘wow effect’ seperti layaknya iklan cetak atau TV yang penuh warna, gerak dan lain-lain.

Padahal, desain yang ‘wow’ tidak masuk dalam faktor yang membuat pengunjung bolak balik datang ke sebuah website.

Coba perhatikan desain Google. Apanya yang wow dari desain yang ‘hanya’ berbentuk kotak tipis memanjang dengan tulisan Google di atasnya ini ? Tapi terbukti, 706 juta pengunjung mendatangi situs ini setiap harinya.

Apa yang wow dengan desain Friendster? Buat yang melihatnya dengan kacamata desain medium cetak atau TV, pasti dianggap biasa saja bahkan cenderung ngga kreatif. Cuma desain kotak-kotak biasa, apanya yang kreatif? Tapi sampai hari ini, situs social networking ini masih menjadi situs pertama yang digemari anak muda Indonesia meski belakangan pesonanya mulai sedikit memudar.

Yahoo,??? You Tube, Flickr, Multiply? Apa yang kreatif dengan desainnya?

Karena lebih konsentrasi pada desain, akibatnya banyak website yang membawa format desain media cetak/TV yang full image, block warna, full gerakan, sangat designy di setiap detail elemennya tapi sebenarnya detail desain tersebut tidak memiliki fungsi lain selain fungsi keindahan yang akhirnya malah membuat website sulit di akses karena berat, tidak terlacak Google, tidak memudahkan konsumen.

Ujung-ujungnya, website tidak berfungsi dalam mendukung kegiatan marketing mau pun komunikasi.

Padahal, website diciptakan sebagai tools marketing dan komunikasi.

Tentu saja, hal ini bukan berarti kita boleh menciptakan desain yang alakadarnya, karena desain merupakan salah satu bentuk komunikasi sebuah brand/korporasi kepada publik. Buruknya desain akan membuat buruk image brand/korporasi tersebut. Tapi jika bicara desain yang ‘wow’, maka media online memiliki kriteria sendiri yang berbeda dengan medium lain yaitu desain yang mengutamakan fungsi, bukan semata -mata demi keindahan.

Lebih lanjut tentang hal ini, kita bahas di postingan selanjutnya. terlalu panjang untuk ditulis di satu postingan.

50 Responses to “Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website Anda.”

  1. Andy santoso says:

    Jika kita melihat design look n feel saja, itu memang bukan syarat utama, melaikan syarat pendukung.

    Tetapi jika kita bicara “design” system, jangan sampai anda mengganggap sepele, design system disini meliputi konsep utama, kecepatan proses, userfriendly, modul2, integritas, interaktifitas, dsb.

    Perhatikan Google, Yahoo & Windows Live, integritasnya cukup tinggi karena dengan 1 account, bisa dipakai untuk semua aplikasinya.

    Perhatikan Youtube, Flickr, Multiply, Friendster, SecondLife, Cyworld, (Cystage juga) Myspace, konsep mereka sangat bagus. (meski konsep akan terus berubah mengikuti kebutuhan, tetapi konsep basicnya harus kuat)

    Lokal punya Detik, Kompas, liputan6.com konsepnya jelas : news, meski menurut saya perkembangan teknologynya termasuk sangat lamban.

    Yang lain? kebanyakan hanya “Me Too” konsep…

  2. Iim-Adhit says:

    Setuju dengan mas Andi. Dan postingan di atas sangat jelas menyoroti desain tampilan, hal yang seringkali dipahami secara salah oleh banyak orang yang baru mencoba terjun ke komunikasi online

  3. saya yg suka browsing ga terlalu memperharikan design tampilan, yg saya perhatikan apakah web tersebut dapat bermanfaat bagi saya tentunya kalau ingin jualan di internet, saya menyukai tampilan ebay designnya sesuai dgn kebutuhan orang yg meliat gambar dan tentu saja harga..

    begitu juga dengan friendster dan myspace, saya melihat kebutuhan saya sendiri bukan tampilan…

    seperti friendster saja perubahan designnya tidak banyak menarik tapi sampai sekarang atau mungkin akan datang frindster akan selalu banyak di gunakan

    menarik topik ini karena saya juga berencana akan membuat web untuk usaha sepatu saya…doa kan ya..mba iim

    thx…

  4. Iim-Adhit says:

    Yang wajib dilihat adalah kebutuhan user dan pastinya kebutuhan kita sebagai pemilik produk/brand.

    Harus dicari titik tengahnya, tuh. Jangan sampai karena faktor ego personal akhirnya desain malah mengabaikan kebutuhan pengunjung. Ntar malah susah profitnya.

    Semopga sukses dengan usaha sepatunya ya dess…

  5. darto says:

    Design bukan GUI (graphical user interface), tapi didalam GUI ada design, dengan tujuan tertentu.

    webdesign sebagai part dari multimedia,
    sebenarnya ada kaidah2x GUI yg mesti diimplementasikan. dan bandwidth adalah satu konsiderasi,

    lihat BBC.com ada tombol untuk akses dengan low bandwidth. alias kalo tampilan susah muncul, karena bandwidth user terbatas, silakan klik low-versionnya.

    nah, apa tujuannya http://www.google.com dan http://www.nike.com sama ?

  6. catur pw says:

    Tetapi kalau saya merasa design website menjadi salah satu faktor yg menarik bagi saya untuk melakukan re-visit.
    Apalagi kalo saya lihat design website perusahaan yg menjual kreativitas dan seni. Karena hal ini akan lebih meyakinkan saya akan tingkat kemampuan mereka dibidangnya.

    Tapi tidak cuma design visualnya, melainkan isi websitenya juga konten dan pesan yg terkandung di halaman per halamannya, dan manfaat yg saya dapat dari mengunjungi dan membaca isi website tsb.

    Dan saya setuju dengan mas Andi, bahwa design system website google,yahoo dan friendster sangatlah WOW bahkan mereka sangat kreatif dalam mendesign systemnya sedemikian rupa sehingga mampu mengakomodir kebutuhan berjuta-juta usernya dengan sangat baik.

    Jadi menurut saya, kategori design yg dibahas disini musti diperjelas, karena pada dasarnya cabang design itu sangat banyak :)

  7. Iim-Adhit says:

    Jika bicara di level objective komunikasi, masing-masing website punya objektif yang berbeda. Nike, Yahoo, Google, Friendster punya objective masing-masing.

    Tapi jika bicara objektif akhir, pada akhirnya untuk apa sih sebuah perusahaan punya website jika bukan untuk memberi informasi yang mudah diakses (bukan sekedar mudah dibuka ya) dan ujung-ujungnya memberi efek pada marketing perusahaan?

    Saya bukan mengesampingkan faktor desain lho Dart. Coba lihat paragraf akhir saya.

  8. Iim-Adhit says:

    6#

    Mungkin kalimat :

    Desain dirubah ini itu, ditambah elemen x elemen Y agar lebih kreatif, dinamis, dan berbagai alasan lain yang intinya berbicara soal tampilan

    dan keterangan panjang lebar di bawahnya tidak dibaca dengan jelas? :) atau saya yang kurang detail dalam menjelaskan?

  9. darto says:

    emang enggak sih mbak,
    cuman jebakan intrepetasi dari tulisan embak,(karena contoh)

    sekilas seperti memberi tesis “kalo mau bagus, kaya google dong, simple dan enteng”

    jadi mungkin tulisannya harus bisa lebih deskriptif, jadi embak gak kerepotan nyuruh kita2x baca paragraf akhir dua kali.
    hehee! terus berjuangg!! :

  10. Iim-Adhit says:

    Kan contoh yang saya kasih ga cuma Google, Dart. Ada FS, Yahoo, Multiply dll.

    Apa link-nya error ya? ;)

    Thx komennya anyway.

  11. catur pw says:

    8#
    Soal design/tampilan ini mba,
    kok saya masih ga sreg dengan pendapat “Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website Anda”, seakan-akan design ga ada pengaruhnya sama sekali dengan keputusan pengunjung untuk melakukan repeat visits.

    Mungkin design web bukan faktor utamanya, tapi menurut saya ada andil design dalam mempengaruhi visitor untuk visit dan revisit suatu website, hanya saja proporsinya yg kadang berbeda untuk satu website dengan website lainnya.

    kalau boleh saya mengutip dari Journal of Business Research, mengenai “Marketing on the web – behavioral, strategy and practices and public policy”

    disana disebutkan bahwa “Web content has been identified as one of the main factors contributing to repeat visits. As content on the web includes ‘text’, ‘pictures’, ‘graphics’, ‘layout’, sound, motion and, someday, even smell, making the right web content decisions are critical to effective web design”

    Sedangkan kita ketahui bahwa komponen design website merupakan kombinasi dari ‘text’, ‘pictures’, ‘graphics’, ‘layout’ yg merupakan bagian dari content website.

    Jadi terbukti ada porsi design yg mempengaruhi keputusan untuk melakukan revisit sebuah website.

    sumber kutipan:
    Journal of Business Research
    Volume 57, Issue 7, July 2004, Pages 787-794
    Marketing on the web – behavioral, strategy and practices and public policy

  12. octa purnama says:

    coba nimbrung ahh,
    klo menurut pemikiran saya mungkin kesalahan nya terletak pada judul yg mba iim buat “Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai ……”, mungkin seharusnya judulnya “desain bukan faktor utama yg membuat pengunjung menyukai web ato situs kita”, jadi intinya memang betul kalau desain adalah faktor penunjang saja dari sebuah website, dan yg utama adalah tergantung dari content website tersebut. desain hanya diperlukan untuk mempercantik, membuat orang wahhh, keren banget dsb. tp untuk apa bagus desainnya klo isinya gak penting, gak diperlukan banyak orang, gak komunikatif klo sudah begini kan orang tidak akan berulang ulang mengakses website kita.
    jadi intinya yag utama adalah konsep dari website tersebut ( mau bikin apa, mau komunikasiin apa? dr web kita barulah desainya untuk mempercantik) . jd jgn terbalik pola pikirnya, jgn mikirin desain dulu baru konsepnya.
    sebenarnya hal kayak gini berlaku untuk semua project creative kyak buat iklan film dll. sebuah contoh kegoblokan sinetron silat disebuah tv swasta misalnya, orang orang yg mebuatnya lebih cenderung memikirkan efek2 yg mubajir dr pada cerita filmnya sendiri, yg ada apa hebohan efeknya dibanding filmnya, ato nora banget nih film . kan klo udah kyak gini pemikirannya terbalik, efek dalam film ato film dalam efek, akhirnya yg utamanya orang males untuk menonton krn jadi nonton efek dibanding isi filmnya sendiri.
    klo dalam iklan jg sama buat apa membuat iklan yg heboh, nice picture, dan pake 3d yg mahal bgt biayanya klo komunikasinya gak sampe, klo pesannya gak mampu mempersuasi orang gak mampu bikin orang inget.
    jd intinya sy setuju dgn mbak iim, jgn berpikir terbalik.jgn memikirkan desain dulu dibanding konsepnya sendiri . mendesain tetap sangat perlukan , jd buatlah konsep yang baik dan ditunjang dengan desain yg spectakuler.
    mohon maaf klo slh maklum msh amatir, ini hanya sebuah pemikiran saya saja..

    thanks,
    octa purnama

    OB (orang baru)

  13. Pitra says:

    apakah desain grafis perlu ‘wow’ ato tidak tergantung dari objective website itu sendiri. Mungkin pengalaman saya mirip dgn Iim, karena klien2 kita setipe.

    Banyak klien dan advertising agency selalu mendahulukan looks website daripada functionnya. Looks penting karena menyangkut branding mereka. Yang kadang perlu diedukasi adalah kadang looks bisa jadi harus mengalah karena batasan bandwidth di negeri tercinta ini.

    Maunya flash, full interactive, yang kalo mau masuk harus nunggu 10 menit (itu pun kalo berhasil kebuka). Tapi di lain pihak, mereka juga ingin buat web yg bisa menjalin komunikasi 2 arah, yg artinya harus cepet, simple, clean, dengan user interface yg mudah dimengerti. Dua hal bertolak belakang yg maunya diakomodir bareng. Kan nggak mungkin tuh.. Nah, hal2 spt ini yg harus terus diedukasi.

    Bbrp minggu lalu aja ada perusahaan telko yg mau buat blog utk para petingginya. Lah, namanya blog kan harus sederhana, karena konten tulisan yg jadi primadonanya, bukan looksnya. Di blog ini kok mereka malah minta ada animasi flash.. Gimana gak aneh tuh?

    Yah, kurang lebih begitu lah..

  14. agus siswantoro ( cobus ) says:

    menurut aku DESAIN PENTING ( dalam arti semuanya ) ….. baik visual desainnya atau desain systemnya..
    PENTING banget……

    visual untuk menarik pengunjung baru.. desain system untuk menarik pengunjung balik lagi-balik lagi…

    ekali lagi penting banget….

  15. Iim-Adhit says:

    Catur, saya bahas lebih lanjut dalam satu postingan ya komennya.

    Octa, judul saya ngga salah tulis. Nanti saya bahas hal-hal apa yang membuat pengunjung ingin melakukan re-visit ke website kita.

  16. Iim-Adhit says:

    Coba kita persempit diskusinya ya. Kita fokus bicara desain dalam arti tampilan/visual.

    Saya mau lempar pertanyaan:

    1. Seandainya Yahoo, Google, Friendster tampilan/visualnya di modifikasi dengan tanpa membuat akses menjadi berat (kecepatan akses sama) dan tetap user friendly seperti sekarang: apakah itu akan mempengaruhi loyalitas kita (jadi lebih sering/malah malas berkunjung)?

    2. Apa hal yang membuat Anda pertama kali ingin menggunakan Google, baca detik.com, maen FS, pakai Yahoo ? Benarkah karena desain visualnya?

    3. Apa yang membuat Anda ingin kembali ke site tersebut? Desain visual yang menarik atau pengalaman yang menguntungkan(dapat teman baru, bisa pakai email gratis, bisa update berita cepat etc) dan proses yang mudah (mudah cari infonya, mudah liat teman dan dapat teman, mudah cari berita)?

    Silahkan dibaca dengan teliti dulu pertanyaannya sebelum menjawab. Mudah-mudahan bahasanya sudah cukup clear dan sederhana.

  17. Aria says:

    Menurut saya semuanya kembali lagi ke tujuan awal si website. Kalo memang perlunya berat di sisi informasi, otomatis tampilan yg harus dikorbanin. Begitu jg sebaliknya. Masalah seberapa besar porsi yg dikorbankan tergantung dari strateginya dan skala prioritasnya.

  18. aswin says:

    kalo disain website bisa dibuat bagus dan menarik…kenapa engga. bisa jadi nilai tambah bukan (kita bicara bila tidak ada masalah bandwith atau masalah lainnya).

    bahkan friendster dan yahoo pun sering melakukan perubahan pada disainnya tampilannya.

    imho dan salam kenal :D

  19. Iim-Adhit says:

    16 # Komen di milis CCI:

    Victor

    Pertanyaan pollingnya menohok banget.

    Iya deh, ngaku. Saya ngga terpengaruh desain tapi terpengaruh sama isi dan proses pakai website yang gampang!

    Saya pertama pakai Google karena gampang pakainya dan manfaatnya, bukan desainnya. Pake FS karena seru bisa nambah temen, Yahoo karena emailnya gratis dan ga ribet.

    Tengkyu berat. Jadi makin kebuka sekarang.

    V

  20. Iim-Adhit says:

    16# Komen di milis CCI

    Kemal Pasha

    1. Seandainya Yahoo, Google, Friendster tampilan/visualnya di modifikasi dengan tanpa membuat akses menjadi berat (kecepatan akses sama) dan tetap user friendly seperti sekarang: apakah itu akan mempengaruhi loyalitas kita (jadi lebih sering/malah malas berkunjung)?

    Kemal: Ngga ngaruh. Biasa aja. secara udah biasa pake FS, Google dan Yahoo.

    2. Apa hal yang membuat Anda pertama kali ingin menggunakan Google, baca detik.com, maen FS, pakai Yahoo ? Benarkah karena desain visualnya?

    Kemal: Karena manfaatnya lah.

    3. Apa yang membuat Anda ingin kembali ke site tersebut? Desain visual yang menarik atau pengalaman yang menguntungkan(dapat teman baru, bisa pakai email gratis, bisa update berita cepat etc) dan proses yang mudah (mudah cari infonya, mudah liat teman dan dapat teman, mudah cari berita)?

    Kemal: Pengalaman yang menguntungkan sama proses yang mudah.

  21. Iim-Adhit says:

    16# Komen di milis CCI

    Alex Muhammad

    Saya suka Yahoo sama Friendster tampilannya di redesign. Seger, ganti pemadangan. Tapi ternyata setelah ngisi pertanyaan mba iim, baru nyadar kalo alasan pakai dan tetap pakai Yahoo dan FS bukan karena desain ya? Tapi karena isinya yang terlanjur mengikat.

    Males kan ganti email baru kalo udah pada kenal email lama saya…Trus pakai FS juga karena udah biasa dan enak aja pakainya.

    Hmm…setuju sama mba iim deh kali ini.

    Alex

  22. Iim-Adhit says:

    18# Betul, desain yang bagus dan menarik bisa jadi nilai tambah. Tapi point utamanya, apakah tampilan yang bagus itu membuat orang menjadi terus mengunjungi website kita? Atau ada faktor lain yang lebih mendasar?

    Coba deh mas Aswin jawab pertanyaan no 16.

    Salam kenal juga.

  23. aswin says:

    oh iya satu lagi…maaf ya..ini juga baru kepikiran.
    mungkin bisa jadi bahan diskusi juga. maka bisa jadi temuan ini melebar ke bentuk media lainya seperti media cetak (koran, tabloid, majalah, komik) atau media TV, tidak hanya di media internet. massa tertarik karena isinya

  24. Iim-Adhit says:

    16 # Komen di milis CCI

    Aria Hamdani

    Ini jawaban poll dari saya:

    1. Seandainya Yahoo, Google, Friendster tampilan/visualnya di modifikasi dengan tanpa membuat akses menjadi berat (kecepatan akses sama) dan tetap user friendly seperti sekarang: apakah itu akan mempengaruhi loyalitas kita (jadi lebih sering/malah malas berkunjung)?

    Nggak. Website2 yg disebutin di atas itu buat saya lebih kepake fitur / fungsinya.

    2. Apa hal yang membuat Anda pertama kali ingin menggunakan Google, baca detik.com, maen FS, pakai Yahoo ? Benarkah karena desain visualnya?

    Nggak. Website2 yg disebutin di atas itu buat saya lebih kepake fitur / fungsinya.

    3. Apa yang membuat Anda ingin kembali ke site tersebut? Desain visual yang menarik atau pengalaman yang menguntungkan(dapat teman baru, bisa pakai email gratis, bisa update berita cepat etc) dan proses yang mudah (mudah cari infonya, mudah liat teman dan dapat teman, mudah cari berita)?

    Antara pilihan2 di atas, saya lebih memilih ‘pengalaman yg menguntungkan’ dan ‘proses yg mudah’.

    Sekalian mau ikut urun pendapat:
    Yg di atas itu karena sayanya aja yg begitu. Yang bikin saya pingin balik lagi (bahkan terus2an) ke satu situs karena kontennya menarik. Kalo memang ada unsur design yg bikin saya balik lagi, pastinya unsur tersebut berfungsi sebagai content. Contoh yg saya dan teman2 saya sering bolak-balik antara lain Deviant Art, Flickr, Multiply, Gmail, dan Ads of The World. Semuanya punya design visual yg biasa aja, tapi interfacenya friendly banget dan kontennya menarik buat saya. Saya sendiri lebih banyak main2 di forum / bulletin board online karena lewat komunitasnya, saya bisa banyak diskusi dan nambah pengetahuan.
    Beberapa website memang ‘mengharuskan’ adanya wow effect dari design visual yg menjadi daya tariknya, seperti halnya website fashion. Seandainya saya adalah orang yg fanatik dalam olahraga (misal: basket), maka saya akan sangat merasa ilfil kalo design visual Nike.com biasa2 aja.

    Hebatnya website yg design visualnya biasa aja, tapi interfacenya sangat user friendly dan cukup sering ada update terhadap konten2nya cenderung lebih laku dibanding yg loading timenya makan waktu hingga hitungan jam. Untuk di Indonesia (bukan Jakarta doang lho), yg notabene akses Internet Xchangenya cuma seemprit dibanding di negara2 maju, website dengan design visual yg simple seperti detik.com bisa lebih mudah diakses bahkan dari orang2 yg pake dial up connection.

  25. Iim-Adhit says:

    23# Ini lebih ke behavior pengguna internet yang beda, menurut saya. Semuanya menuntut cepat, mudah, jelas, tanpa basa-basi.

  26. agus siswantoro ( cobus ) says:

    1. sori….. visual jadi sangat penting bila merupakan komoditas jualnya dari web tersebut….
    misal…
    web di “porn site” jujur ini ga bisa di sepelekan dari bagian dari dunia maya…
    saya berani bertaruh… dengan tampilan visual yang “menarik” akan membuat orang balik lagi – balik lagi dan balik lagi di site “tersebut”…. ( kacamata under ground life style )

    emang benar fasilitas kemudahan dan manfaat menjadi prioritastapi web site yang ” satu ini” mereka menomor duakan informasi dll…..

    2. Visual jadi sangat penting bila web site yang di jual adalah : jasa desain grafis, interior, arsitektur, jual beli rumah/property, teknologi komputer, otomotif, hotelier, tempat vacation,

    so.. google,yahoo,sebagai search engine memang berhasil dengan systemnya tapi mereka sangat peduli sama visualnya……

    FS: terus terang FS bukan karena gw search tetapi karena rekomen dari temen2…. di luar fungsinya desain visualnya juga sangat menarik… secara desain dia kayak diary on net..

    DETIK.com ehmmmm fenomenanya sudah terbukti sebagai sarana informasi kayak koran harian…

    Visual adalah berbanding lurus dengan isi dan fungsinya..

    Visual : sangat penting tapi itu masalah selera… ada standard selera yang tidak sama

    Fungsi isi : dasar-nya kalo lebih susah dari manual kenapa pake internet

    Google dan Yahoo.. wowww,,,, desain Visual sangat luar biasa……..!!!!!
    minimalis concept…. siapa yang bilang desain Visual Yahoo jelek…???
    itu jualan Image nomer satu…. tanpa membuka internet… kita pasti tahu desain Yahoo ( langsung terekam di otak) berarti penting banget…..!!!

    hehehsori kepanjangan sist Iim…

  27. Iim-Adhit says:

    Agus, liat komen no 13 tentang apa yang banyak dipikirkan konsumen. Plus coba ikut jawab pertanyaan no 16 untuk mendapat akar dari pembicaraan saya.

  28. Andy Santoso says:

    Mba Iim, saya boleh donk menjawab 3 pertanyaan mba… :)

    1. Saya akan sering berkunjung ke yahoo, google, friendster selama belum ada website lain yang lebih menarik dari berbagai aspek seperti konsep website tersebut, kebutuhan saya sendiri, tampilan menurut selera saya (saya mulai tertarik tampilan http://www.live.com sebagai search engine dibanding google lho), user friendly, kecepatan akses dan faktor lainnya.

    2. Memang yang utama bukan karena tampilannya, tetapi jika ada service lain dengan “kemampuan” yang sama dengan tampilan lebih baik, saya akan mencobanya dan mungkin bisa beralih. (Seperti yang saya bilang diatas, sekarang saya mulai mencoba http://www.live.com untuk search enginenya, sedikit bosan dengan google, atau contoh lainnya saya lebih suka dengan FS daripada MySpace karena tampilan FS lebih bagus, ingat itu bukan “harga mati” lho)

    3. Yang utama pengalaman yang menguntungkan, tetapi jika saya bisa mendapatkan pengalaman yang sama dengan design lebih bagus, why not?

    Jadi semakin terbuka bahwa membangun sebuah website tidak bisa hanya melibatkan satu faktor jika ingin berhasil, design tampilan juga termasuk dalam bagian “design” system seperti faktor lain konsep, integritas, userfriendly, interativitas, dan masih banyak lainnya.

    Mungkin perlu diingat juga, bahwa sekelas Google, Yahoo, Friendster atau yang lain ketika sudah mampu men”design” sebuah system yang bagus, urusan design tampilanpun saya pikir mereka tidak perlu diragukan…

    Saya mba Iim juga menyadari topik yang mba Iim tulis sendiri juga memang bukan “harga mati” kan? dan pendapat yang lain tentang design tampilan juga perlu itu masuk diakal.

    Perlu dingat juga tidak semua orang paham akan “design” system seperti kita2 disini (hehe…) misalnya untuk user anak2 kecil sampai remaja, buat mereka mungkin Google akan lebih menarik jika halamannya berwarna-warni? who knows?

    Thanks.

  29. catur pw says:

    maaf mba Iim boleh saya bertanya?
    Yang dimaksud dalam artikel ini apakah men-Generalisasi semua website? Bahwa Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website “manapun”? Atau hanya berkisaran Case Study Google, Friendster, Yahoo, You Tube, Flickr, Multiply?

    Menarik dari komentarnya 28# mas Andy, “user anak2 kecil sampai remaja, buat mereka mungkin Google akan lebih menarik jika halamannya berwarna-warni? who knows?”

    Kalau kita perhatikan halaman utama search Google, terkadang di Re-Design Typo Style Logo Google menyesuaikan dengan musim? event Natal? atau bahkan hari lahir Einsten.

    Nah saya bisa jadi hal ini dilakukan oleh Google untuk mengantisipasi rasa boring pengunjungnya, dan ada kemungkinan juga untuk menarik perhatian pengunjung baru google, agar sering-sering visit google.com

    Case selanjutnya saya ambil pada design yg lebih ekstreem, pada Email Yahoo.

    yg beberapa waktu lalu mencoba menawarkan kepada usernya totally new design “Yahoo Beta”. Mungkin issue yg mendasar dikarenakan perkembangan technologi AJAX, atau hal lainnya? Apakah ada kemungkinan bahwa hal ini merupakan suatu strategi yahoo untuk bersaing dengan email provider lainnya untuk menarik user sebanyak2nya?

    Nah yg jadi pertanyaan saya disini adalah, kalau designer Yahoo yakin Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai Yahoo, maka ngapain mereka bersusah payah Re-Design halaman emailnya? Buang-buang duit dan tenaga saja :)

    IMHO juga lho mba.

    Thanks

  30. Langsung saja ya:

    Saya rasa terlalu dangkal kalau kita menilai sebuah web hanya dengan patokan Yahoo, You Tube, Flickr, Multiply dan lain-lain.

    Agar bisa lebih cernih menilainya, kita harus tahu dulu tujuan yang diinginkan dari web itu sendiri, lalu siapa yang dituju, baru memilih technology yang sesuai dan bisa dipakai untuk menyampaikan message utama.

    Coba pikirkan, bagaimana jadinya kalau http://www.disney.com memakai layout Google, atau http://www.warnerbros.com pakai style yahoo. pfft ….?

    Bagaimana mungkin sebuah web dengan kategory search enginee seperti google menjadi standar bagi web kategori entertaiment. Jadi sebelum membandingkan kita harus melihat secara rinci.

    Soal kecepatan tampilan Website memang masih jadi perdebatan. Memang benar website harus dapat di-load dengan cepat. Tapi seorang web design juga jangan terlalu PARANOID … sehingga kita memberlakukan web kembali ke teknologi jaringan 1998.
    - I hate that kind of designer almost as much as I hate people who hate design.

  31. Iim-Adhit says:

    28# 29# 30#

    Bahwa desain tampilan itu penting, adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan. Postingan saya pun menuliskan itu, jika dibaca dengan cermat paragraf terakhir.

    Tentu saja, hal ini bukan berarti kita boleh menciptakan desain yang alakadarnya, karena desain merupakan salah satu bentuk komunikasi sebuah brand/korporasi kepada publik. Buruknya desain akan membuat buruk image brand/korporasi tersebut. Tapi jika bicara desain yang ??????wow??????, maka media online memiliki kriteria sendiri yang berbeda dengan medium lain yaitu desain yang mengutamakan fungsi, bukan semata -mata demi keindahan.

    Yang saya soroti adalah banyaknya orang-orang yang justru konsentrasi awal di tampilan yang pada akhirnya membuat tujuan akhir website (sering dikunjungi) menjadi prioritas sekian.

    Saya yakin mas Andi punya banyak pengalaman ketemu klien atau konsumen yang seperti ini. Hal yang sama diungkapkan oleh Pitra di komen no 13.

    I’ve been ages in advertising and I know how beautiful design would attract people and elevate our brand image.

    But than again, ada tugas yang lebih utama untuk diselesaikan sebelum kita ribet mengurus detail desain tampilan antara lain membuat navigasi yang bagus, arsitektur informasi yang jelas, management informasi yang lancar dan lain-lain. Jika tugas utama itu sudah selesai, dengan (let say) tampilan yang biasa-biasa saja, trafick ke website akan tinggi.

    Lain halnya jika kondisinya dibalik. Tampilan sangat keren, tapi navigasi buruk, arsitektur informasi acak-acakan, management informasi tidak mulus. Bisa dipastikan kunjungan ke site itu akan rendah.

    Ibarat makanan sehat, 4 sehatnya dulu harus benar baru bicara 5 sempurna (mudah-mudahan analoginya tepat ;)

    Mengenai contoh yang saya angkat seperti Google, Yahoo dan site-site terkemuka lainya, itu karena saya menemukan banyak komentar ‘orang awam online’ yang ketika akan membuat website atau komunikasi online, memandang desain site-site tersebut kotak-kotak banget, ngga kreatif (ngga pakai flash yang dinamis) dll.
    Padahal jika menggunakan menggunakan kacamata online yang user oriented, tampilan site-site di atas sangat user friendly dan keren, serta terbukti dikenal sebagai site yang sukses.

    Bukan detail desainnya yang saya bicarakan, ke- user friendly- an nya lah yang seharusnya dijadikan acuan.

    ‘orang awam online’ ini cenderung membandingkan medium cetak dan TV dengan online yang notabene berbeda sifat interaksi, kebiasaan konsumen dan teknologinya. Akibatnya, website yang dihasilkan bukan user oriented melainkan personal oriented. Memuaskan satu pihak dan mengabaikan kebutuhan user.

    Bukankah ‘orang awam online’ ini yang sering kita jumpai setiap harinya, mas Andy?

    Mengapa saya melemparkan polling? Karena untuk membuka mata mereka bahwa content, navigasi yang user friendly, arsitektur informasi, management informasi, adalah hal basic yang dibutuhkan konsumen. Dan desain tidak masuk dalam kebutuhan basic user. Dengan memahami kebutuhan basic user ini, diharapkan ketika seseorang membuat website atau komunikasi online, hal basic ini dipenuhi terlebih dahulu.

    Mudah-mudahan ini cukup menjelaskan bahwa saya bukan anti design keren ;) . Usability dan desain keren adalah gabungan ideal. Tapi tetep…at least di mata saya…usability menduduki prioritas paling utama.

  32. Sedikit nambahinnya untuk

    “Karena untuk membuka mata mereka bahwa content, navigasi yang user friendly, arsitektur informasi, management informasi, adalah hal basic yang dibutuhkan konsumen. Dan desain tidak masuk dalam kebutuhan basic user.”

    Wah .. kalau gitu kita mundur seperti tahun 90 an. Dimana orang-orang lain di luar sana berusaha membuat basic need sebuah modern website makin bertambah, tidak sekedar itu-itu saja, kok malah disarankan basic standar banget?

    Semua kebutuhan website seperti yang disebutkan itu nantinya akan dikerjakan oleh coder, designer, writer, dan lain-lain yang terlibat.

    Mereka mereka ini yang nantinya mengolah “blue-Print” dari sebuah website. Ini berkenaan dengan pengerjaan semantic markup, CSS, unobtrusive scripting, card-sorting exercises, HTML run-throughs, involving users in accessibility.

    Jika bukan mereka siapa ya yang ngerjain? Orang IT? Marketing?

  33. Iim-Adhit says:

    32#

    Mengajarkan melihat hal yang basic kan bukan berarti tidak mengenalkan yang advance. Kecuali Anda memahami tulisan no 31# secara setengah setengah, seperti yang Anda lakukan dalam memahami keseluruhan postingan awal saya yang berujung komen no 30, sehingga berpikir bahwa saya hanya akan berbicara tentang hal basic ke konsumen.

    Lagi pula, Jika kenyataannya mayoritas konsumen kita memang masih harus banyak disadarkan, masih harus belajar di level I, kenapa memaksa mereka menelan pelajaran level 4 secara bersamaan?

    Toh terbukti di lapangan banyak konsumen yang malah salah kaprah pengetahuannya. Lebih peduli bungkus dari pada fungsi. Bisa jadi ini muncul karena banyak yang terpesona dengan level 4 tanpa pernah belajar di level 1,2 dan 3.

    Kecuali, Anda memang mau terus memaksa mereka berbicara di level 4 yang akan membuat website/dunia online terus disalah mengerti fungsinya dan tidak dimanfaatkan dengan tepat oleh masyarakat.

    Kalau itu lebih tepat menurut Anda, ya silahkan saja.

  34. Andy Santoso says:

    @Rio… Ini hanya masalah prioritas dari masing2 pihak, saya sendiri berpendapat design tidak mungkin di abaikan begitu saja, dan saya mengerti maksud mba Iim, dan ketika saya akan membangun sebuah website (untuk bisnis client/pribadi) prioritas saya adalah strong concept terlebih dahulu, dari sana akan berkembang dengan sendirinya.

    Web developer yang hebat akan memperhitungkan semua faktor berdasarkan objectif dari website tersebut. mungkin misalnya seperti ini :

    Concept : xx %
    Speed : xx %
    UserFriendly : xx %
    Design : xx %
    Information : xx %
    Other : xx %

    Masing2 team web developer bisa berbeda kan?! karena mungkin objectifnya berbeda kan?! :)

  35. glenn says:

    Menurut saya kualitas web design memang mempengaruhi pengunjung untuk revisit suatu website, karena design hendaknya menjadi guide visitor untuk memahami dan mempercepat transfer content, bukan sebaliknya.

    Banyak web menggunakan desain (yang kelihatannya) sederhana tapi mendapat banyak pengunjung. Itu karena design dan system design mereka bersatu padu untuk menopang content sebagai hal utama. Akibatnya secara tidak sadar membuat pengunjung seolah-olah hanya bergaul dengan content saja dan munculah judul seperti diatas: “Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website Anda”

    Konsep less is more banyak dianut portal2 populer dan mereka berhasil menempatkan content menjadi hal yang utama.

    Wow effect design mempunyai beban lebih berat. Bukan hanya content saja yang ditopang tapi Wow design akan menjadi beban tersendiri karena life time designnya menjadi pendek.

  36. Hallo semua, mas Andy dan mba Iim,

    Officially, Saya pengagum berat blog ini. Itu jujur. Dan comment saya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Saya cuma senang dengan wacana seperti ini. Jika ceplas-ceplos saya menyinggung satu pihak, saya minta dibukakan pintu maaf. Mungkin saya harus lebih soft.

    Sebuah web terlalu besar untuk hanya satu paradigma.

    1. Apa yang menjadi dasar sebuah website haruslah mengacu pada fokus website itu sendiri. Benar sepeti kata mas Andy, sebuah website mempunyai setidaknya 3 aspek: information, experience, dan interaction.

    Dan sebuah design harus melihat aspek mana yang menjadi fokus.

    Saya ambil contoh Nike, Disney, Warnerbros. Fokus pada website ini adalah memberikan suasana yang penuh cita rasa, melibatkan emosional seseorang akan product yang ditampilkan. Untuk itu kehadiran gambar dan graphic design sangat penting. Mau ganti 1.000 kali is ok mungkin.

    Lain halnya dengan detik.com yang terfokus pada penyediaan informasi (fact). Lebih menarik memang jika ditampilkan dengan sedikit nuansa graphic, tapi tidak penting.

    Dan terakhir yang menjadi perhatian utama pada sebuah Amazon, hotmail, gmail, blogger adalah sistem dan efektifitas (function), aspek yang lain hanya berada pada urutan kesekian.

    2. #mba Iim, jujur loh mba, tidak ada maksud saya untuk bicara high-tech, hik hik hik. Saya cuma ingin share: “Internet is not a rocket science.”

    3. Kita semua tahu bahwa teknologi web semula bertujuan sebagai media pengganti kertas untuk bertukar informasi. Namun sangatlah naive jika kita tetap mengharapkan kehadirannya seperti awal kelahirannya.

    Jaman sudah berubah, musim telah berganti.

    Memang, saya agak meragukan web dapat dengan cepat menjadi media interactive TV, namun tetap saja akan terasa kering dan sia-sia jika kebutuhan dasar akan kehadiran sentuhan graphic dihilangkan.

    Kita semua manusia. Ada sedikit sifat venus dalam diri kita.

    4. Mari kita bernyanyi bersama:
    “Kemesraan ini, jangan lah cepat berlalu. Kemesraan ini, biar ku kenang selalu. Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu. Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu.”

    Now, Substitute “Kemesraan” with “Graphic Drsign” :)

  37. Iim-Adhit says:

    Rio #

    Memang, saya agak meragukan web dapat dengan cepat menjadi media interactive TV, namun tetap saja akan terasa kering dan sia-sia jika kebutuhan dasar akan kehadiran sentuhan graphic dihilangkan.

    Nah lho..keukeuh menyebut soal menghilangkan sentuhan graphic! Nyerah deh saya kalau Anda tetap tidak bisa menangkap esensi yang saya maksud he he he.

    Kemesraan dengan desain grafis? Saya dari dulu mesra sama mereka! Saya punya tim besar yang terdiri dari desainer-desainer yang membantu saya meng-achive kebutuhan klien-klien Virus Communications dan Virtual Consulting. . Kalau saya mengabaikan desain, ngapain repot punya tim desain khusus?

    Tulisan saya (sekali lagi dan terakhir kalinya) bukan untuk mengabaikan desain atau desainer, tapi untuk mengajak konsumen awam yang ingin masuk ke komunikasi online, berpikir secara logis dan menggunakan skala prioritas. Memahami fungsi, bukan sekedar bungkus.

    Kalau masih salah tangkap juga…aduh…nyerah beneran deh saya, rio!

  38. catur pw says:

    mba Iim – mas Adhit.
    Esensi artikel ini sedikit banyak telah saya mengerti.
    Tetapi mungkin juga antara esensi artikel dan judul artikelnya masih kurang tepat.

    Seperti yg mba dan mas katakan:
    Tulisan saya (sekali lagi dan terakhir kalinya) bukan untuk mengabaikan desain atau desainer, tapi untuk mengajak konsumen awam yang ingin masuk ke komunikasi online, berpikir secara logis dan menggunakan skala prioritas. Memahami fungsi, bukan sekedar bungkus.

    Seringkali orang awam akan lebih mengingat judul artikelnya lebih baik dari esensi artikelnya.
    Biasanya judul artikel menjadi triger pengingat esensi yg ada.
    Nah kalo judul artikelnya sudah salah, maka esensi artikelnya pun bisa salah kaprah juga.

    Jadi saya kira banyak yg menangkap esensi artikel ini adalah menganggap “Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website”

    Sedangkan kalo menurut saya setelah membaca keseluruhan artikel dan komentar yg berkembang, maksud mba Iim dan mas adhit adalah, untuk mengedukasi konsumen awam yang ingin masuk ke komunikasi online, bahwa design bukanlah segalanya untuk menarik perhatian market anda.tetapi mereka harus juga memahami fungsi, bukan sekedar bungkus.

    Itu menurut saya, mohon maaf jika saya termasuk yg salah kaprah soal esensi artikel ini.

    ps:blog virus-communications.com sudah jadi bacaan online favorite saya sejak lama :)

  39. Iim-Adhit says:

    Catur, kita masuk area komunikasi ya. Memang tujuannya biar orang awam ngeh dengan pola pikir yang salah selama ini. Untuk lebih detail insight konsumennya lihat lagi tulisan saya dan reply-an saya ke sejumlah komen atau komen Pitra no 13.

    Kalau yang ditangkap pertama adalah judulnya, ya memang itu tujuannya! Biar orang awam tidak meributkan dulu urusan desain sebelum hal-hal lainnya dijawab.

    Di milis CCI (kalau Catur ikutan milis ini), komen sejumlah orang awam online malah bagus-bagus lho. Mereka bilang kalau judulnya diganti malah efek memperingatkannya ngga ada.

    Ini saya kutip sejumlah komen orang awam dari milis periklanan ya:

    Kikan

    ini komen dari saya yang ngga ngerti urusan internet.

    Tapi kalo baca dari tulisannya mba iim kok rasanya justru sangat jelas apa yang mau disampaikan dibanding yang pake istilah istilah njlimet. Bisa jadi targetnya mba iim emang masyarakat luas yang ngaa ngerti apa-apa soal internet tapi mau masuk ke dunia ini kayak saya salah satunya.

    Jelas banget sih buat saya. Prioritaskan ke gimana bikin konsumen sennag dengan websitenya lewat fungsi-fungsi yang gampang dimengerti.

    Judul postingannya buat saya yang awam justru tepat banget. Kalo mau bikin website, jangan terpesona sama visual dulu, soalnya ada hal lain yang lebih penting gituu.

    Polingannya juga sangat sederhana, tapi hasilnya bikin saya ngeh apa yang musti diprioritaskan

    Kemal

    Mo komen soal judul juga.

    Jujurnya saya malah ketolong banget sama judulnya. Kayak ditampar Soalnya saya pernah cerewet soal desain pas ngurus website perusahaan tempat saya kerja ha ha ha . Hal lain yang lebih penting malah ngga kepirkir, soalnya asik ngurus desain.

    Dugaaan saya, orang kaya saya ini banyak banget. Makanya bener kata kikan, tulisan mba iim itu gampang dicerna orang yang baru mau masuk internet, Apalagi ditambah poling nya yang bikin kita makin sadar apa yang musti diprioritaskan.

    Masih banyak komen2 lainnya, tapi saya ngga bisa cut paste semuanya.

    Gimana tuh, catur? Judulnya masih salah? ;)

    Menurut saya, ngga ada salahnya kita sering-sering melihat dan berbicara dengan kacamata konsumen biasa yang ngga ngerti apa-apa, bahasanya sederhana, tidak punya kepentingan untuk menjadi tersinggung. Bukan kacamata ego desainer/web developer yang paham definisi desain website seperti apa, HTML, AJAX, CSS etc.

    Buat saya, tugas kita untuk membuka mata mereka dan menyadarkan fungsi website sesungguhnya dan keuntungan apa yang bisa diperoleh dari komunikasi di dunia online. Masalah bahasa atau istilah atau judul dianggap salah oleh orang-orang yang ngerti online, buat saya itu bukan point.

    Saya senang berbicara dengan bahasa sederhana dan insightful karena mayoritas konsumen kita pun berpikirnya juga sederhana.

  40. iqranegara says:

    mbak Iim & mas Adhit, blog ini banyak dikunjungi karena isinya yang menarik. Tapi gak ada salahnya kalo tampilan visualnya juga diganti biar orang gak bosen ;)

  41. afoez says:

    Setuju banget, Mbak Iim. Kebanyakan orang lebih suka melihat kulit ketimbang isi. Padahal, seberapa cantiknya kulit tak bisa dinikmati. Teruslah berkarya untuk bangsa ini, sehingga semakin banyak isi yang bisa kita pelajari.
    Salam kemerdekaan…

  42. home d???co says:

    Mbak Iim, diskusi ini sangat menarik karena sangat menambah wawasan.

    Kalau boleh ikut berdiskusi, kami menggunakan jasa online untuk berbisnis. Karena yang kami jual adalah desain, maka kami mencoba menggabungkan desain dengan kemudahan pengunjung dalam mengakses website kami. Sayangnya kami masih baru (belum sampai 1 bulan) dalam menggunakan jasa online ini sehingga kami belum dapat mengukur apakah desain yang kami pentingkan tersebut berpengaruh atau tidak terhadap tingkat bolak-baliknya pengunjung.

    Bila dibutuhkan, silakan menjadikan website sebagai contoh kasus.

    Salam,
    home d???co

  43. Centro says:

    Gw rasa, nothin’s wrong with the title. Bisa aja mba Iim bikin judul mungkin..”Desain bukan faktor utama yg membuat pengunjung menyukai website anda” tapi ini judul yg ngga ‘tasty’ kl buat saya, biasa banget. Dan judul yg ky gini kl tujuannya buat ‘bikin melek’ para orang2 yg men-dewa-kan desain diatas informasi, ya ngga mempan. Memang harus pakai judul yg lebih ‘nyentil’ biar ada sedikit momentum sehingga para orang2 tadi bisa lebih open mind. Saya juga seorang web developer yg sering kali nemuin klien yg cuma ingin menjadikan developer sebagai ‘operator’, bukan ‘consultant’. Dan tentunya tulisan dengan judul seperti ini bisa jadi pencerahan.

    Mba I’im anti desain?? Oh, come on.. dia justru orang yg kerjaannya setiap hari harus bergumul dengan desain.

  44. cc-line says:

    mungkin kita kemakan ulasannya John Naisbit dlm bukunya yg baru “Mind Set” katanya kita lagi bergeser dari bahasa tulis ke bahasa visual… Atau emang bener gitu ya ??

  45. j sukmana says:

    dear all..

    “Desain, bukan faktor yang membuat pengunjung menyukai website Anda”. Mba iim memberikan judul seperti ini bertujuan ingin menarik audiens pembaca. Karena sebuah judul sangat penting untuk sebuah artikel, cerita maupun berita.

    Menurut saya antara “design website dan manfaat/kegunaan website” saling berhubungan (ter-integrasi). Jadi satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan, mungkin diantara keduanya dapat dibedakan dengan apa yang ingin lebih kita tonjolkan sesuai dengan tujuan membuat website itu sendiri.

    salam kenal..

  46. hahaha, “usability vs design”

    Let the celebrity death match begin. Gentlemen, I expect a good clean fight. Come out with your hands up, and may the best web paradigm win.

    Sebenarmya gw lihat semua ini satu, tidak bisa dibahas dengan memisah-misah. Tidak ada yang king, tidak ada yang slave … Kalau web mau bagus ya semuanya harus terpenuhi … kalau satu komponen kurang …. jangan harap dapat hasil maksimal.

    Yahoo? usability ada, design ada …informasinya? ada juga. Ok contoh apa lagi mau … contoh kecil aja … wong buat design juga pake dreamwaver yang kategorinya program webdesign … jadi kenapa harus dipisahkan kalau semua itu satu.

    Pembahasan ini akan panjanggggggg … dan panjangggg …

    Ada seorang yang menulis mars dan venus, dan saya setuju bahwa:

    Usability/ Information Architecture => the masculine => the left side of the brain => doing => math/science => the rational => logical action => the articulatable => Mars.

    Graphic Design => the feminine => the right side of the brain => being => art => the emotional => intuitive action => the inarticulatable => Venus.

    Kalau yang satu dari mars dan yang lain dari venus, … why the war? Kalau konten / isi jago bercuap-cuap selangit tapi ga bisa layout? pasti ngebosanin. Tapi kalau jago layout tapi ga ada content … ya kosong melompong ompong.

    Percaya deh, kalau ada job buat web, unsur write, program, dan design pasti saling membutuhkan. Ga bisa kerja sendiri2. Kalau ada … ya … gw ketawa aja … boleh kan ketawa :)

    Jadi kenapa harus dibahas adanya pemisahan. Seperti kata Danarto pada film cinta pada sepotong roti: ”

    “aku dan matahari tidak pernah bertengkar, siapa yang menciptakan bayangan”

  47. trias afiandy says:

    Dear all,

    cuma mau tambahin sedikit aj,
    “desain komunikasi visual” ga melulu bicara keindahan,cantik ataw bagus, tapi “ketepatan” menyampaikan pesan ke TA. karena desain lahir dari sebuah kebutuhan, maka kenali dulu apa kebutuhannya.

    jadi gw kira itu alasan kenapa google dll yg d contohkan mba iim desainnya sangat tdk woow, tapi hal itu ga bisa dibilang tanpa desain…tapi lebih bisa diartikan ‘desain yg tepat’ untuk TA nya.

    ga tepatkan klo jualan nasi bungkus dengan kemasan restoran mewah ala eropa, bagi mereka yg penting isinya…kalo kebagusan isinya tar malah pada lari karena pasti mahal….hehehe

    sallam

  48. Lia says:

    setuju sama trais afiandy.
    menurut gw sih web yg bagus itu adalah yg merupakan gabungan dari design yg bagus dan content/usability yg oke. design yg bagus di sini bukan melulu ttg masalah keindahan dlm artian pake flash macem2, banner2 dan gambar2 keren dll, tapi bagaimana membuat web tsb sesuai dengan fungsi dan TA-nya. kalo cuma membuat perbandingan menggunakan contoh web2 seperti Google, Yahoo, Friendster, mungkin agak biased. web2 tsb secara design memang tidak “wah”, karena memang lebih ditekankan ke fungsionalitas. apakah ada yg bisa menjamin kalo pembuat web Google/Yahoo/FS dikasih project bikin web Nike (misalnya), dia gak bakal bikin tuh web Nike jadi “wah” komplit dgn flash dsb? gak kan? krn udah jelas web Nike gak bisa dibikin se-simple web Google krn TA dan objective-nya beda. jadi sebenernya inti dari diskusi ini cuman satu: bikinlah web yg sesuai dgn TA dan objective web tsb. content emank tetep nomer satu, tapi memang ada web2 yg mengharuskan design itu juga menjadi sepenting content. ada juga web2 yg malah mendingan dibikin se-simple mungkin design-nya (seperti Google). jadi ya pinter2lah membaca dan mengerti objective dan TA dari web yg akan dibuat.

    oh iya dan gw mau menyorot jg soal pertanyaan polling #1 ttg apakah kalo skrg design Google dibikin lebih keren, kita bakal makin rajin ke situ.
    kalo menurut gw, jawaban org biased karena Google udah terlanjur jadi leading search engine site. udah melekat di kepala orang2. jadi ya gak peduli mo diapain juga, orang2 bakal tetep ke sono. perbandingan yg lebih fair dan lebih menarik untuk diskusi adalah kalo misalnya pas Google launching, pada saat yg bersamaan ada search engine laen yg sama hebatnya dari segi content, tapi jg dgn design yg menarik dan user-friendly (lebih bagus dari Google). apa yg akan terjadi?

  49. valentinohen says:

    komunikasi marketing bisa melalui komunikasi verbal, visual, dan audio. kemudian dari komunikasi yang diluncurkan memberikan dampak emosional bagi konsumen.
    Menurut saya keduanya penting cuman musti lihat kebutuhan dan efektifitasnya, tapi saya tidak setuju klo design merupakan elemen yang tidak penting.
    bisa dibayangkan aja klo dunia internet designnya hanya tulisan dan monokrom(karena pemilihan warna adalah bagian dalam design design). Mungkin bios adalah contoh yang dimaksud tanpa design.
    Seperti websitenya http://www.cnn.com, apakah minimalis seperti itu bukan bagian dari design? Apakah keseragaman icon dan white space bukan bagian dari design? Lalu apa itu design?
    Saya curiga yang dimaksud mbak Iim bukan design tapi “gaya design”. Gaya design kan ratusan seperti : pop art yang akhir2 ini dipakai 3, psychedelic, punk, simplicity, art nuvo, futurisme, dll. Seperti friendster dan google adalah gaya design simplicity atau yang sering dikenal minimalis. Dan menurut penelitian gaya design simplicity adalah gaya design yang paling efektif karena komunikasi searah dan center poinnya jelas.
    Mungkin yang dimaksud tidak efektif adalah gaya-gaya design selain minimalis yang terlalu menonjolkan elemen ilustrasi yang dipikir kebanyakan orang sok tau adalah design dan minimalis adalah bukan design. Kalau tidak ada design di dunia internet, mungkin semua situs akan seperti bios-bios lama yang monokrom.
    Kesimpulan: design merupakan elemen yang vital dan terintegrasi dengan headline atau copy.

    salam

  50. faozy says:

    oww maaf saya kurang setuju dengan artikel diatas,… bal bla bla bla inget gak ada pepatah lama yang mengatakan penampilan adalah cermin jatidiri,.. opss “penampilan”, ingat yah penampilan, jadi menurut saya interes apa tidaknya seseorang biasanya melihat dari covernya dulu, itulah design, sesuatu tanpa kemasan waw jadi apa yah, begitu juga website,.. aw aw aw jangan bandingkan dengan google atau yahoo itu sih beda hahah itusih search engine jelas fungsinya berbeda dan orientasi pengunjungnya juga beda, kalo website (bukan search engine) harus lah design yang utama dan tentunya juga materi, itu sesuatu yang nggak bisa dipisahkan. saya percaya dan orang lain juga saya yakin percaya bahwa kemasan itu akan membawa sesuatu yang biasa jadi luar biasa, yang murah jadi mahal, yang mahal jadi lebih mahal, yang luar biasa menjadi sangat luar biasa. perhatikan saja inovasi ponsel setiap versinya lihat perbandingan antara fitur dan designnya justru banyakan design (ini contoh) dan satu hal design website merepresentasikan isinya atau minimal bidang yang diusungnya,. gitu deh kira kira, maaf yah ini hanya pendapat saya. ow sory satu hal lagi tergantung juga persepektif kita dari sisi mana nih, mungkin anda penulis yah, sehingga gak butuh ornamen indah, eeemmmm

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting