Sering mendapat SMS atau pesan di YM yang berisi informasi penting dan pengirim pesan itu meminta kita menyebarkan beritanya ke orang lain? Atau Anda sering tanpa diminta men-forward email atau SMS lucu ke teman sekedar untuk sharing jokes? Ingat kasus foto Mayangsari dan Bambang Tri atau video Bejah The Fly yang sukses menyebar melalui email dan blue tooth?
Inilah esensi viral. Penyebaran berita secara suka rela dari satu orang ke orang lain dengan memanfaatkan teknologi, baik internet mau pun mobile. Jika medium penyebarannya non teknologi, disebutnya ??????Word of Mouth??????.
Untuk membuat seseorang menyebarkan berita secara suka rela, ada dua poin pertimbangan. Berita itu sangat penting atau berita itu begitu menarik (lucu, controversial, hot gossip).
Oleh orang marketing, fenomena ini ditunggangi dengan pesan komersial sehingga muncullah istilah Viral Marketing. Untuk semakin mendorong penyebaran pesan, selain membuat pesan begitu menarik/lucu/controversial, disediakan juga iming iming hadiah bagi penyebar berita yang beruntung.
Di luar negeri, banyak contoh viral marketing yang sukses seperti www.subservientchicken.com yang dibuat oleh Burger King ketika mempromosikan chicken burgernya. Dengan hit yang mencapai 40 juta dalam seminggu, Viral ini tak sekedar menciptakan buzz di US namun bahkan topeng ayamnya juga sempat menjadi merchandise yang paling dicari!
Viral juga digunakan Trojan ketika mempromosikan kondomnya. Hasilnya, viral kondom.swf yang dibuat dalam beberapa seri ini berhasil mencapai 35 juta hit dalam beberapa bulan!
Bagaimana dengan Indonesia? Brand seperti Close Up yang merilis viral DJ Mouth dan kabarnya sempat menjadi buzz di kalangan anak muda serta promo undian berhadiah kalung berlian dari Fox, adalah beberapa contohnya.
Lalu, bagaimana menghitung efektifitas (penyebaran) viral marketing? Ada beberapa cara. Jika disebar melalui website, maka penyebaran viral bisa dihitung berdasarkan hit. Jika melalui email, bisa di cek melalui jumlah email yang terbuka. Jika melalui mobile, bisa di cek dari jumlah sms yang terkirim oleh provider telekomunikasi tersebut.
Namun jangan lupa, sebelum diluncurkan, pastikan ide viral Anda sangat menarik, sangat penting atau sangat menguntungkan (berhadiah) sehingga konsumen rela mem-foward-kan viral Anda ke orang lain.
Selamat mencoba!
makasih ya mba iim, infonya sangat membantu menjawab pertanyaan2 saya. Tapi kalo boleh saya mo nanya lagi, dibanding media tradisional seberapa ampuh viral marketing ini? secara audiencenya tidak sebanyak dengan koran maupun tv yang lebih mass.
PESAN SMS YANG BEGITU MEMANG BETUL BOLEH AJA DINAMAI VIRAL MARKETING, TAPI SEBETULNYA ITU DI BUAT OLEH PROVIDER SENDIRI UNTUK MENDATANGKAN UANG KE KOCEK PROVIDER, SECARA TIDAK SADAR KITA DI KERJAIN SAMA PROVIDER. DI pROVIDER ADA DIVISI KHUSUS YANG MENCIPTAKAN SMS LUCU / UCAPAN2 TERMASUK UCAPAN IDULFITRI DLL. BAYANGKAN BETAPA BESAR UANG YANG DIDAPAT DARI PERMAINAN INI
Dear pak Setiawan,
SMS yang dibuat oleh provider ada 2 jenis: SMS Blast dan SMS Content. SMS blast biasanya disebar oleh pemilik brand dan bagi yang menerima tidak dikenai biaya karena biaya ditanggung pemilik brand. Viral SMS terkadang berawal dari SMS blast, namun bisa juga berasal dari sms yang disebar dari person to person.
SMS content adalah sms langganan yang bisa diperoleh jika seseorang mendaftar layanan tersebut. Setiap menerima sms, konsumen harus membayar pulsa dalam harga tertentu. SMS inilah yang seringkali merugikan karena cara unregister yang sulit dan informasi dari provider yang tidak transparant. Jenis SMS ini salah satunya adalah yang disebut dalam komentar pak Setiawan dan ini tidak masuk kategori Viral.
Seperti saya sebut di postingan, unsur value (menarik, penting, kontroversial) harus menjadi pertimbangan karena viral harus mampu membuat seseorang secara suka rela memfoward pesan tersebut.
Di Singapore, ada sebuah campaign yang dikenal dengan “God Campaign”. Pesan ini berupa sms yang dikirim ke konsumen yang isinya pesan pesan untuk mengingatkan orang agar rajin ke gereja. Bunyi SMS nya antara lain ‘Are you coming to church this weekeend?’ Sender: GOD. atau ‘Thank Me its Friday’ Sender: GOD atau ‘U dont need the phone for direct line to me’ Sender: GOD.
SMS ini disebar dengan cara SMS blast, dan penerima tidak dikenakan biaya. Namun karena isi sms begitu menarik, membuat orang secara suka rela menyebar sms ini ke orang lain. Ini lah yang disebut Viral.
Dear Blanche,
Efektif yang Blanche maksud itu efektif secara jangkauan ya?. Itu tergantung siapa target audiencenya dan media yang dikonsumsinya. Jika TA nya memang dekat dengan internet dan HP, logikanya efektif. Tapi itu pun masih dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat menarik/tidak nya pesan, penting/tidaknya pesan, relevan/tidaknya pesan dll. Sama seperti hal nya dengan medium TV.
Sebagai analogi, sebuah pesan menjadi semakin efektif ketika pesan itu bisa menjangkau area personal, karena semakin personal mediumnya, tingkat rejectionnya semakin rendah. Seberapa sering kita tidak membuka sms? Seberapa sering kita tidak membuka email (jika kita internet aktif).
But again, ini hanya analogi jangkauan ya, bukan saya mengajarkan untuk mengintervensi hidup orang dengan SPAM. SPAM is a no-no lah.
Namun tentu saja, jika sms yang dikirim isinya tidak relevan dan kemasannya tidak menarik, tingkat rejection pun akan tinggi.
Itu jika kita bicara viral dengan mobile medium. Jika viral dengan medium internet vs penyebaran via TV atau print ad, silahkan baca postingan saya tentang medium komunikasi dan perubahan habit konsumen di http://www.virus-communications.com/blog/?p=32
hmm..
bagi saya handphone adalah sesuatu yang harus tetap pribadi. Namanya juga handphone, nomor pribadi yang seharusnya tidak sembarangan orang (termasuk provider) boleh mengakses. ini persoalan kebebasan informasi dan menjaga privasi.
Seharusnya ini berlaku juga dalam e-mail menurut saya.
Jadi, tidak ada alasan apapun yang membenarkan seseorang/suatu pihak/pemerintah sekalipun untuk mengirim sesuatu ke nomor HP pribadi yang tidak dimaksudkan untuk umum.
Operator yang mengirimkan sms ke pelanggannya, kalo itu berupa promosi dan bukan pengumuman penting, itu sudah melangar privasi.
Karenanya, viral yang dengan sukarela disebarkan antar teman, mungkin masih oke. Tapi kalo yang dengan sengaja disebarkan oleh operator, baik karena dibooking oleh sponsor tertentu atau inisiatif operator sendiri, itu namanya pelanggaran privasi.
begitu?
Dear mas rahadian,
Betul sekali yang anda sampaikan. Semua pesan yang masuk tidak boleh mengintervensi kehidupan personal seseorang.
Pada kegiatan Viral yang benar, Nomor HP atau email yang menerima pesan blast adalah nomor atau alamat yang dari awal memang bersedia dikirim pesan promosi. Perjanjian ini biasanya ada di saat kita melakukan registrasi. Jadi data yang ada bukan data sembarangan melainkan sudah terseleksi.
Saya pun termasuk yang tidak setuju dengan pesan blast yang dikirim secara serampangan/acak seperti yang sering dilakukan provider HP saat ini, apalagi jika dikirimnya terlalu sering dan mengganggu waktu istirahat.
Mbak Iim bisa kasih info lebih lanjut ttg metode pengukuran keberhasilan suatu viral?
Kalau berdasarkan viral (apakah itu swf/jpg/mov/dll) yang di download dari website jelas memang benar bisa terukur. Kita bisa tahu seberapa banyak hit dari file tersebut. Orang yang mengklik via website jelas terlihat kalau orang tersebut AKTIF melakukan sesuatu.
Berbeda dengan mobile SMS atau email. Sifatnya kan PASIF. Nah, darimana kita bisa mengukur tindakan AKTIF dia saat mengirimkan email atau SMS itu ke rekan/koleganya?
Lalu, seberapa jauh kita bisa tahu SMS atau email yang dikirimkan itu valid? Kalau memang valid, khususnya untuk email, apakah benar dibaca?
Tambahan: untuk email blast atau viral, ada batasan ukuran file yang umumnya maish ditolerir user. Jadi, jangan kirim viral yang gede2..:)
mungkin utk tambahan artikel, bisa baca juga: http://media-ide.bajingloncat.com/2005/11/21/pemasaran-viral-bagaimana-caranya/
Dear mas Pitra,
Viral memang sebaiknya terukur. Oleh karena itu, yang bentuknya email, sebaiknya dirancang agar penyebarannya lebih banyak melalui website dengan fasilitas send to friend. Dengan fasilitas ini, bukan hanya alamat yang dikirim bisa diketahui, bahkan kalau perlu nama dan profil yang dikirim bisa kita ketahui.
Atau bisa juga menggunakan cara lain: viral yang disebarkan via email hanya berbentuk link atau image/movie yang kelanjutnya harus diklik agar bisa jalan atau muncul penuh. Pada saat ada yang men-download penuh itulah, keberhasilannya diukur.
Sebenarnya, saat ini sudah banyak setting email yang melarang secara otomatis download html. Kecenderungan ini dimanfaatkan oleh email marketer untuk mengukur apakah sebuah email didownload oleh target audience atau tidak (bukan sekadar dibaca subjectnya saja)
Untuk kasus SMS, saya sendiri kurang menguasai, dan tidak rekomendasi viral via SMS, kecuali yang basisnya keanggotaan.
Sepertinya untuk Viral, hal yang perlu dipikirkan juga adalah database dari orang yang mengunjungi situs tersebut. Hal itu bisa digrab dengan cara registrasi di awal permainan, atau juga membuat semacam trivia yang akan lead seseorang untuk mengisi dan pada akhirnya bisa dikristalisasi menjadi suatu kuantitatif survey. Ini akan menjadi suatu alat yang ampuh untuk mendapatkan insight konsumer dengan tertata apik.
Tetapi beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah kebosanan dan terlalu panjangnnya sebuah pesan yang dikemas bisa membawa pada kealpaan. Mungkin cara-cara kreatif yang lebih jitu akan membuat viral bukan hanya berfungsi penyebaran informasi tetapi juga mendapatkan pengukuran yang obyektif dari database yang terkumpul.
Hmmm.
Viral marketing. Ide yang menarik dan banyak sukses. Tapi umumnya sukses untuk produk dengan target konsumen yang punya akses dengan informasi (Internet, HP dll).
Karakter konsumenku adalah berlawanan. Masyarakat pedesaan yang nota bene kurang memiliki akses tersebut. Apakah ada ide untuk menjalankan viral marketing di daerah pedesaan/petani.
salam
Mas mardianto,
Viral memang berlaku jika receivernya memiliki sarana HP atau Internet karena sifatnya yang teknology based.
Namun viral juga bisa dilakukan dengan cara yang tidak teknology based yaitu yang dikenal dengan istilah Word of Mouth, yaitu penyebaran berita dari mulut ke mulut. Cara paling gampang ya berangkat dari produk yang bagus atau kontroversial sehingga secara alami akan diperbincangkan konsumen.
Atau, kita bisa membuat kontroversi sendiri misalnya dengan membuat sebuah cerita yang kemudian disebar lewat agent atau orang orang yang potensial menyebar berita.
Metodenya sama dengan Viral, hanya mediumnya manusia.
Salam
Thanks. Sudah dapat gambarannya. Mungkin istilahnya seperti Buzz marketing ya.
Pak Mardianto, betul sekali. Bedanya Buzz disebar tanpa medium teknologi, Viral dengan medium teknologi.
dear Mba Iim atau Mas Adit, kebetulan saya sedang menyusun tugas untuk membuat makalah tentang e-Marketing. Dan saya sangat tertarik dengan bahasan viralmarketing ini. saya mohon bantuan tentang sejarah awal dari viral marketing ini dan bagaimana secara reknis pelaksanaan di lapangan. atas bantuan dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
viral marketing kaya’nya keren
tapi koq perasaan yang dibahas disini tentang virus ya?
gimana kalo ngomongin viral marketing aja?
maaf comment saya yg pertama kurang lengkap, intinya saya setuju dengan pendapat musthofa, kalo bisa dijelasin tentang sejarah penemu viral marketing, buku yang berbahasa indonesia tentang viral marketing, soalnya saya liat di luar
uda ada buku tentang viral marketing tapi berbahasa inggris, mbok dibantu rek… =)
dan perusahaan apa aja yang uda menggunakan konsep viral marketing, dan kalo bisa dijelasin tentang marketing plan juga,
terima kasih juga atas bantuannya,
smoga ini dapat ngebantu konsep viral marketing di indonesia…
[...] di sini kita membahas apa itu viral marketing, kali ini kita akan sedikit membahas tentang viral [...]
saya menemukan perusahaan MLM yang tidak mengaku MLM, tetapi sebagai viral marketing.
Menurut Anda apakah beda antara MLM dan Viral Marketing ini?
saya mahasiswa komunikasi sedang menerjakan metode penelitian komunikasi,,,
saya mengambil topik sales person komunikatif dapat meningkatkan penjualan produk,tapi,,saya kesulitan mencari teori-teori sales person yang representatif,,,
tolong dibahas donk,,,
atau buku apa yang bisa jadi referensi?
makasih….
Saya setuju dengan pendapat Bapak Rahardian…saya hanya melengkapi saja “kenyataanya pengiriman2 informasi (iklan2)melalui hand phone di Indonesia tidak dikonfirmasi kepada yg punya nomor tersebut jadi hampir semua terindakasi sebagai SPAM” hal ini mengakibatkan para pemilik hp merasa terusik privasinya.
spam itu sangat menjengkelkan bukan???,
salam
Narmadi