Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Hal Pertama yang Harus Dipahami Sebelum Nyemplung ke Internet.

February 6, 2008
Oleh Iim Fahima Jachja

Dua hari lalu ketika saya membuka Friendster, di sebelah kanan profile Friendster saya muncul banner sebuah iklan coklat yang konsep komunikasinya adalah ‘Tabrakan Rasa’. Ketika banner itu saya klik, yang saya temukan adalah sebuah gambar statis yang di upload di site gratisan imageshack.us

Beberapa waktu yang lalu, sebuah film Indonesia yang mengambil setting di Bali diluncurkan. Salah satu bentuk komunikasinya di internet adalah mengajak para blogger berlomba menulis review tentang film tersebut dan salah satu syarat menjadi pemenang adalah jika postingan mendapat komen dari banyak orang. Ketika para pemenang diumumkan, muncul pertanyaan di sebuah milis kepada penyelenggara contest: Kok yang menang pegawainya sendiri dan kenapa jumlah komennya cuma sedikit?

Seorang teman saya bercerita kalau dia baru saja menyelesaikan project online branding sebuah produk donut. Salah satu hal yang dilakukan adalah me-redesign website yang objektif komunikasi selain mengangkat image brand tersebut, juga untuk mempermudah partner bisnis dan calon partner bisnis mengakses informasi tentang brand tersebut. Ketika saya buka website yang dimaksud,saya harus melewati flash intro dan setiap menu yang saya klik harus menunggu proses loading yang cukup lama.

****

Kesalahan yang masih banyak dijumpai pada sejumlah brand adalah mengadopsi mentah-mentah kebiasaan dari offline ke online. Mereka sering kurang memperhatikan, atau mungkin tidak mengetahui, perbedaan karakter antara media online dengan offline, juga perbedaan perilaku konsumen online dengan offline.

Sebelum melakukan komunikasi online, hal pertama yang harus diperhatikan adalah pemahaman online user behaviour , seperti dari mana user mengakses website kita, berapa lama berada disana, apa saja yang dicari, bagaimana kecenderungan mereka berkumpul atau browsing di Internet.

Terkait 3 contoh di atas, maka pemahaman online user behaviour yang dimaksud diantaranya adalah:

- Benarkah mendisplay file JPG saja cukup untuk berbicara ke ABG online? Jika tidak, apa approach yang tepat untuk berbicara ke mereka? interaktivitas apa yang sesuai? Media apa yang terbaik untuk menyebarkan pesan?

- Benarkah blogger bisa diarahkan untuk berlomba menulis cantik tentang sebuah produk? Bukankah blogger itu independen? Jika tetap ingin menggunakan media independent, bagaimana seharusnya meng-approach mereka ? Apa tools yang paling tepat?

- Apa manfaat memiliki flash intro pada sebuah site? Mengapa untuk membuka sebuah menu perlu proses loading yang lama, padahal karakter pebisnis adalah ingin segala sesuatunya cepat dan jelas?

Hal di atas adalah sekelumit contoh tentang online user behaviour , pembahasan tentang hal ini akan sangat luas dan mendalam karena melibatkan pengaruh komponen lain seperti keberadaan media-media baru serta perkembangan teknologi yang menimbulkan kebiasaan baru.

6 Responses to “Hal Pertama yang Harus Dipahami Sebelum Nyemplung ke Internet.”

  1. Pitra says:

    Iim, hihi, kudu banyak posting di milis lagi.. ditinggal bbrp bulan, yang balik ke blog ini utk comment kok jadi dikit ya.. :-)

    nyambung dgn topik di atas, jd inget waktu campaign Gery di FS. Pas diklik masuknya ke web korporatnya Garudafood, yg gak ada hubungannya sama sekali. Seharusnya para brand sdh bisa belajar dari pengalaman spt ini. Ternyata masih ada juga yg mengulang kesalahan sama ya?

    Utk point blogger sih pasti bisa dipakai sbg word of words (wong ditulis bukan diomongin), asal targetnya blogger yg tepat. Sayangnya, yg bikin campaign itu mungkin bukan blogger, jadi gak “kenal” dgn para blogger yg punya tema tulisan yg tepat yg sesuai dengan brand mereka. Kalau diumbar begitu saja melalui kompetisi blogging, mungkin cuma bisa berhasil kalau kompetisinya dalam lingkup internal komunitas blogger (mis; blogfam, im3, dagdigdug) – mungkin

    Ttg flash sih sudah cerita lama. Hihi, yg dibrief sama kliennya mungkin langsung website developer yg jago desain n development, tapi mungkin kurang dari sisi komunikasi onlinenya. (nggak bilang saya pakar loh, saya juga masih belajar mendesain user interface yg baik bagi pengunjung).

    n salam utk si anak.. jangan digendong terus.. kasian sang suami, siapa tau dia yg kali ini minta digendong..hehe…

  2. iqranegara says:

    Kita memang masih lambat dalam mengadopsi budaya online. Tapi pengalaman saya lain lagi. Website saya sengaja mengadopsi budaya offline, terutama untuk penggunaan istilah2, yg di dunia nyata udah terlanjur melekat. Maksudnya biar pengunjung nyaman dan gak asing dengan istilah2 yg dipake

  3. Aria Hamdani says:

    Teman saya, seorang web designer + flash specialist, pernah berpendapat: “Orang iklan disuruh bikin web ya susah lah…” Ada benarnya, tapi apa sih yang gak bisa dipelajari? Pertanyaannya berubah jadi: “Mereka pada mau belajar atau nggak ya?” Hehehe…

    Yang ini pendapat saya pribadi mengenai beberapa kekurangan yang seharusnya dipahami terlebih dahulu oleh para kreator karya markom di internet di Indonesia. Antara lain sbb:

    1. Tau akan kualitas koneksi internet di Indonesia, terutama di daerah. Janganlah terlalu luar negeri minded. Yang di Jakarta nggak usah jauh2 nyari tau kualitas koneksi di daerah. Cukup perjalanan darat 1 jam ke Bogor dan cobain akses warnet di sana. Dijamin langsung paham.

    2. Flash adalah pemanis yang menarik, tapi… kualitas output berbanding lurus dengan ukuran filenya. Balik lagi ke point nomer 1 deh.

    3. Website “konvensional” bisa didesign semenarik mungkin, tapi… ukuran filenya mengacu ke point nomer 2; dan balik lagi ke point nomer 1.

    4. Saya masih setuju dengan pendapat mbak Iim mengenai website, content adalah inti dari semuanya. Wow effect bisa belakangan. Sepertinya mayoritas sekarang malah terbalik. Balik lagi jadinya ke point nomer 3, lalu nomer 2, dan kembali ke nomor 1.

    Capek? Anggap aja latihan dapat client yang butuh web skala internasional. ;)

  4. Iim-Adhit says:

    Zillion percent agree with aria :D

  5. aviantara says:

    jadi apakah sebaiknya hanya berupa tulisan saja di blog? atau menggunakan flash dan semacamnya untuk menarik perhatian pengunjung ya…?

    salam,
    aviantara
    http://abpras.blogspot.com

  6. ovan says:

    @aviantara
    Menurut saya sih, ya tergantung objective awalnya.

    Kyk punya Mbak Iim ini, kan bicara soal marketing online, online branding dan yang sealiran.

    Di sini yg kita cari adalah informasinya, jadi cukup dg tulisan aja ya udah bagus.

    Yg penting konten OKE, pasti visitor nya akan jadi visitor loyal.

    Klo blognya mau utk para fotografer, ya…. harus banyak menampilkan foto-foto karena yg dicari visitor kan mana foto yg bagus selain beberapa artikel tentang cara memotret yg baik.

    Semoga berkenan dan salam kenal semuanya.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Jauhari: - Terima kasih atas pencerahannya

  • Bagus Abdurrahman Wahid: - Mas Andi, saya punya produk baru clothing (spesialis produksi)....

  • Historee: - Artikel yang bagus buat bahan pengetahun kita2 yg mengelola startup social media....

  • Andi Primaretha: - Iya pengukuran tentang level influence bisa diukur dari Klout atau PeerIndex....

  • Akhlis: - Patokan yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah aku termasuk influencer atau tidak...

  • vina: - Salut deh ilmunya.. Maju terus mas..

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting