Dua hari lalu saya diskusi dengan Amalia E. Maulana mengenai riset online. Saya kebetulan perlu mendapat insight kebutuhan pengunjung online terhadap sebuah situs web. Dengan antusias, Lia — demikian panggilan akrab doktor jebolan di School of Marketing, University of New South Wales, Australia ini — membagi ilmu tentang netnografi. Nah, mahluk apa pula ini?
Di dunia riset, sehebat apapun FGD (focus group discussion) dilakukan, menurut Lia, tak akan mampu merekam perilaku yang sesungguhnya. Lha siapa yang bisa bebas berekspresi di tengah ruangan yang isinya orang yang tak dikenali? Kalau ingin melakukan pengamatan dan mendapatkan hasil yang lebih mantap, lakukan pengamatan di lingkungan aslinya. Ingin melihat perilaku anak ABG misalnya, ya lihatlah saat mereka ngrumpi dengan teman-temannya. Inilah yang disebut etnografi.
Jika entografi ini dijalankan di dunia online, maka disebut netnografi. “Netnography adalah studi etnografi yang dikerjakan secara online. Observasi bisa dilakukan dalam diskusi-diskusi di mailing list, yang diikuti dengan eksplorasi secara lebih mendalam melalui online chatting dengan responden,” kata Amalia E Maulana.
Tentu ini sangat menarik. Saya pernah menulis soal Web Eyeball, Cara Baru Mengkaji Perilaku Pengunjung Online pada 13 Juli 2005 lalu. Inti tulisan itu adalah, sehebat apapun tools analisa web yang kita miliki, hasilnya tak akan mampu mengungkap perilaku pengunjung situs kita. Kita masih perlu pengamatan tambahan, bagaimana pengunjung berinteraksi dengan situs kita.
Klop sudah tulisan itu dengan penjelasan Lia. Bergegaslah saya menerapkan ilmu itu ke dunia online.Bagi yang penasaran dengan diskusi kami, silahkan simak tulisan Lia di majalah SWA yang berjudul Insights via Ethnography.
topik yang sangat menarik mas
netnography bisa jadi sangat penting utk memastikan, kalau apa yang kita buat di situs itu benar-benar selaras dengan apa yang diharapkan oleh visitors.
saya hanya memikirkan operasionalisasi pengukurannya saja, lewat live chat mungkin lebih cocok ya, karena kita bisa dapatkan langsung direct response mereka.
Kalau observasi lewat milis.. mungkin momentumnya sudah hilang. Karena eyeball visitor sudah lepas dari tampilan situs kita. Walau begitu, analisis interaksi visitor di milis bisa sangat membantu kita untuk melihat kemungkinan kebutuhan visitors ke depan.
Mas Nukman & Mbak Amalia, terima kasih utk ilmu barunya ya
FGD? Salah umpan, salah sampel, salah tempat, salah pemanduan, hasilnya adalah sontoloyo. Bisa berupa angin surga, seolah bau dit anyar Peruri sudah tercium. Bisa pula berupa kilau pentungan logam, yang belum-belum bikin kita keder dan pesimis.
Adapun Netnografi dan segala peranti pengukur perilaku online, lha ini barang anyar sekaligus asing buat saya. Tampaknya sexy juga sih. Kayak dulu itu lho waktu kita dengar grounded research dan partisipatory action research. Ah memang saya yang ndesit
teknisnya kurang dijelasin dgn baik ya ( apa emang saya aja yg bolot? ). masih belom ada bayangan ttg apa maksutnya netnografi ini nih.
apa termasuk analisa statistik web, eyetracking, click tracking, polling, dll?
trus dari macem2 metode survey ini, mana yg ROI-nya paling oke mas?
oia, sori lupa. met puasa buat yg menjalankan. cheers!
Netnografi adalah survei kualitatif, bukan kuantitatif. Metodologi utamanya adalah:
1. Pilih sample untuk segmen pasar yang dibidik.
2. Ajak sample untuk melihat langsung situs web yang akan dianlisa.
3. Biarkan segmen jalan-jalan semau gue di situs web tersebut.
4. Ajak ngobrol, bimbing, dan sejenisnya.
5. Catat baik-baik pengamatan kita.
6. Analisa hasil amatan terhadap sekelompok segmen pasar.
Gampang ya? Kelihatannya.
Yang jelas, yang bisa melakukan survei semacam ini hanya mereka yang biasa melakukan survei kualitatif, yang pintar menggali kebutuhan user dan menganalisa hasil.
Jadi Netnografi ini merupakan survey kualitatif ya pak,mmm…saya ragu apakah bisa menemukan metode pengambilan sampel dan data yang mendekati hasil yang optimal. Itu pandangan saya sebagai orang awam riset ya pak ,hehehehe
Bisa saja.
Seperti biasa, kalau kita mau melakukan survei kualitatif, maka yang pertama kita lakukan adalah segmentasi siapa yang mau kita survei. Kita harus paham betul siapa yang mengunjungi situs kita dan siapa yang bakal menjadi target pengunjung (potential visitor).
Perlu diingat, hasil dari survei kualitatif ini hanyalah dasar untuk melakuka survei kuantitatif. Jadi mesti ditindaklanjuti dengan survei kuantitatif, yang bisa saja dilakukan secara online
pak, bisa minta alamat email mba Amalia g’?
dan sekalian minta ilmunya donk ttg internet marketer….
makasih!!!
diharapkan balasannya,
makasi ata balasannya
Setelah menekuni dunia desain, kreatifitas dan hubungannya dengan dunia branding & marketing, dunia marketing dan jagat cyber semakin sini semakin menarik. Selalu ada inovasi-inovasi baru. Dan setelah sekian lama mengamati, membandingkan dengan site e-marketer yang lain (termasuk dari luar negeri) dalam perpektif saya, website ini salah satu yang paling ‘wise’ dan kreatif. Selamat buat om Nukman. Goodluck.
Berdasarkan riset saya, Kata pembuka yang baik membawa prospek positif juga bagi pengunjung web kita.
Dari pada sibuk menunjukan tentang company profile kita, misi dan visi, yah yah yah… bikin capai mata pengunjung.
Sapa mereka dengan salam hangat, beberapa perusahaan besar online telah mengadopsi tehnik tersebut, hasilnya sesuai yang saya duga, WOW.
Ajak mereka berbicara, biarkan mereka seolah-olah mereka merasakan sejuknya berada di ruang front office kita, ramahnya senyuman cantik dari CS kita,
Pengalaman lucu saya ketika saya mencoba membantu mendevelop sebuah situs inggris yang bergerak di bidang penjualan buku, namun setelah menggunakan trik tersebut, akhirnya mereka mengubah bisnis online mereka menjadi jasa konsultasi psikologis …. emang agak gile yang punya web ..hehe
[...] Nah, di dunia Internet, praktik ethnography disebut sebagai netnography. Apa itu netnography, silahkan simak postingan jadul saya: Netnografi, Mengamati Tingkah Polah Online [...]
sama seperti kemana arah burung dara terbang setelah diberi kejutan suara
Boleh minta email mba amalia tidak? Thengkyu
[...] Netnografi, Mengamati Tingkah Polah Online [...]