Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Model Bisnis Berikutnya: e-Commerce

July 19, 2010
Oleh Nukman Luthfie

Setiap bisnis online memiliki model bisnis masing-masing, entah itu B2B, B2C maupun C2C. Masing-masing juga memiliki sumber pendapatan yang berbeda pula. Sebagai contoh, portal (berita) seperti Detik.com berusaha menjaring sebanyak mungkin pembaca online, dan mengandalkan iklan online sebagai sumber pendapatannya. Demikian pula portal berita lain seperti Kompas.com, Vivanews.com, Okezone.com dan lainnya. Namun DetikPortal.com mengandalkan pendapatan dari pelanggan berbayar. Sedangkan Juale.com mengandalkan dari sewa toko online.

Google, Yahoo, dan Bing yang selama ini berkutat di mesin pencari online. Bahkan Twitter dan Facebook yang merajai media sosial dunia pun (juga Kaskus.us yang menguasai media sosial lokal) masih melihat iklan online sebagai sumber pendapatan utama mereka.

Tentu hal ini berbeda dengan model bisnis toko online, seperti Amazon.com, Alibaba.com, eBay.com (di luar), dan di dalam negeri Plasa.com, Tokopedia.com, Tokobagus.com, serta Juale.com, yang sumber pendapatan terbesarnya dari transaksi online, bukan iklan.

Namun, saya menduga, ke depannya, sebagian besar bisnis online akan mencari sumber pendapatan lain melalui e-commerce. Detik.com misalnya, sudah merintis dengan membangun Detikshop.com sejak beberapa tahun lalu. Kaskus juga sudah membangun Kaskus Jual Beli (KJB) sejak lama.

Mereka yang memiliki basis komunitas dan pembaca yang sangat besar, seperti Detik.com dan Kaskus, selalu berusaha mencari jalan untuk memonetisasi trafik. Salah satu peluangnya adalah e-commerce.

Mengapa ke e-commerce? Karena perilaku pengguna Internet di Indonesia sudah semakin baik. Jika dulunya hanya membaca, kemudian interaksi via online, bahkan kemudian bermediasosial, “diam-diam” para pengguna Internet Indonesia juga membangun pengalaman melakukan transaksi via online. Hasil riset dari AC Nielsen dua tahun lalu menunjukkan, hampir separo pengguna Internet di Indonesia pernah melakukan transaksi online. Kalau riset yang sama dilakukan tahun ini, kemungkinan besar angkanya akan naik.

Itu sebabnya, Kaskus membangun kaspay yang menfasilitasi jual beli barang di FJB, dan mengambil komisi dari transaksi. Jangan heran pula jika Facebook pun sudah memiliki Facebook Credit yang bisa dibeli dengan kartu kredit atau Paypal, dan bisa digunakan untuk membayar berbagai game yang disediakan di Facebook. Bahkan, Facebook akan memperluas Facebook Credit untuk bisa dipakai sebagai alat bayar belanja online.

Berhasil atau tidak langkah-langkah para portal-portal besar itu tidak perlu diperdebatkan. Yang jelas, model bisnis portal akan berkembang ke arah e-commerce, bukan hanya mengandalkan iklan. Bagaimana caranya menuju ke sana, tiap portal akan membangun strategi dan menyediakan layanan yang mungkin berbeda.

Di tengah fenomena ini, saya sendiri, sangat merindukan alat bayar online yang khas Indonesia, dengan komisi transaksi yang murah, agar pasar transaksi online di Indonesia tumbuh pesat. Mengapa rindu? Sebab jika mengandalkan fasilitas dari luar, seperti Paypal, sangat mahal karena basis transaksinya US$. Sementara kartu kredit, kecuali masih mahal komisinya, tidak disukai pengguna Internet di Indonesia.

49 Responses to “Model Bisnis Berikutnya: e-Commerce”

  1. Pitra says:

    Setau saya sudah cukup banyak yg bikin alat transaksi bayar online versi lokal, tapi entah kenapa nggak ada yang terdengar wow. Telkomsel punya t-cash, Indosat punya I-pay (kalau gak salah), Telkom juga punya.

    Para pemain online game juga sudah punya sendiri utk mereka melakukan jual beli item. Saya lupa namanya. Namun memang tidak ada yg sepraktis PayPal. Yang dilakukan masih sebatas e-wallet, dimana user beli ke merchant tertentu dengan rupiah, dapat voucher berisi sekian point. Point ini yang di-redeem di dalam game.

    Sebenarnya yang paling dekat dan pasti penetrasinya berhasil adalah seandainya BCA berani membuka layanan Klik BCA yang bisa di-embed di website ala PayPal. Mungkin Pak Nukman tau kenapa sampai sekarang BCA masih enggan melakukan itu? Meski logikanya secara teknologi, itu tinggal dikiiiit lagi.

    Saya juga tau akan banyak portal commerce, meski sejujurnya saya masih pesimis berapa besar sih kue yang diperebutkan? Apakah sebanding dengan investasi gede2an yang dikeluarkan oleh Plasa.com misalnya? Hingga saat ini pun Plasa.com pun setau saya tidak mengutip apapun dari hasil penjualan. Entah kalau budget operational mereka di-cut dari atas, apakah mereka akan bisa tetap survive?

    Satu lagi, yang masih jarang dilirik adalah betapa banyaknya penjual indie yg bergerilya via Facebook dan BBM Groups. Coba saja search di Facebook produk2 health dan butik, buanyak banget. Seharusnya kalau ada semacam “portal” di dalam Facebook yg bisa menjembatani transaksi mereka, mungkin eksposur mereka pun akan jadi lebih besar.

    Btw, ini kok saya ngeblog di sini ya? :D

  2. Okto Silaban says:

    Alat bayar online yg dari lokal akan segera diluncurkan Pak. Harusnya sebelum Lebaran tahun ini sudah launching. ;)

  3. ayuvanda says:

    Betul itu. Namun selama ini, so far banyak pemilik e-commerce masih nyaman menggunakan inet banking bank local.
    Kalaupun ada paypal a la Indonesia, kepercayaan publik masih minim karena banyaknya “e-tanganjahil” di negeri ini.
    Menurut ku, akan lebih baik ada lembaga independen yang dilindungi pemerintah, yang fungsinya memfasilitasi tools pembayaran online ala paypal Indonesia ini.
    Dan sementara (maunyaa..) biaya atau fee nya 50 persen disubsidi pemerintah, sebagai bukti keseriusan negri ini dalam pemanfaatan teknologi.
    Salam! ;)

  4. #1. Pitra:
    Ada beberapa faktor mengapa solusi online payment lokal tidak (kurang) bunyi.
    Pertama: upaya brandingnya nanggung atau salah sasaran sehingga tak terdengar di telinga para pemain toko online
    Kedua: Menyulitkan web untuk memasang/menggunakan solusi tersebut
    Ketiga: biayanya mahal, terutama untuk penjual (pemilik web), termasuk biaya bulanan dan komisinya.
    Dua keluhan terakhir ini sering saya dengar dari pemilik toko online

    Nah, fenomena jualan di Facebook yang makin merebak itulah yang ikut memicu Facebook untuk segera merilis Facebook Credit sebagai alat bayar! Tapi saya duga tidak akan cepat diterima di Indonesia karena basisnya pasti USD, seperti Paypal, yang pada akhirnya sulit diterima lokal Indonesia karena konversi USD ke IDR nya merugikan Rupiah

  5. Kang Rachmat says:

    Model pembayaran seperti Paypal cukup praktis
    Kita tinggal tiru saja sistemnya Paypal

  6. #3. Ayuvanda:
    betul, fakta menunjukkan, konsumen lebih suka membayar pembelian online (dan pemilik toko lebih suka dibayar)dengan dua cara: transfer (termasuk via Internet banking) serta COD (cash on delivery) alias bayar di tempat.

    Mengapa dua cara itu paling populer?
    Pertama: karena kartu kredit banyak fraudnya.
    Kedua: alasan yang saya jawab buat Pitra di atas

  7. thea says:

    kira-kira apa yang masih menjadi kendala utama belum menonjolnya alat bayar online made in Indonesia ya, Pak? BBrp waktu lalu kan bapak pernah menjadi speaker peluncuran alat bayar online yang dikeluarkan oleh salah satu BUMN kita. Tapi kok skrg ga ada gaungnya juga ya?!?!

  8. #6. Thea:
    nah itu dia Thea :)
    Coba lihat jawaban saya #4 untuk Pitra :)

  9. rsigit says:

    betul, orang sekarang tak hanya baca dan isi data pribadi palsu. walau pemula, saya merasakan bahwa kian banyak orang yang berani bertransaksi online. bila ada alat bayar lokal yang kredibel dan bisa diterima semua pihak, saya yakin makin ramai transaksi online di Indonesia. Harus negara yang berperan, tak cukup hanya BUMN saja.

  10. Saya lihat dari semua e-mall yang ada (juale, plasa, dinomarket, dll); maka tokopedia kelihatannya paling terdepan ya.

    Kompetisi masih terbuka; dan kita lihat siapa yang akan berhasil.

    Kita berharap akan berhasil. Jangan lagi mengulang kegagalan dotcom 2000 lalu.

  11. ya benar, pak nukman. saya juga rindu pembayaran online gaya indonesia. Dari pengalaman, saya sudah pakai 2CO.com dan paypal, ternyata 2CO.com masih bisa ada fraud, berbeda dengan paypal yang terjamin. sekali bikin masalah, account nya bisa ditutup, galak tapi konsekwen. Mudah2an dari blog ini ada yang mau invest utk pembayaran online versi Indonesia. Amiin.

    Tonton

  12. Harian says:

    Oh, kok kita memendam kerinduan yg sama ya pak Nukman. Sudah sejak bbrp tahun lalu berandai2 ada yg sepraktis PayPal tapi lokal punya. Klo COD jelas bukan solusi bagi penjual online yg jauh dari ibukota. Padahal pembeli online masih didominasi Jakarta.

    Yg saya andalkan selama ini adalah klikbca yg cukup praktis meski tdk compatible langsung. Selain itu adalah … PayPal. Saya rasa PayPal mencoba melokalkan diri di Indonesia. Selain menyediakan bahasa lokal, di awal tahun ini PayPal mencoba mengkoneksikan layanannya tidak melulu dengan kartu kredit, tapi melalui akun kita di bank lokal. Karenanya kita jadi bisa memverifikasi dan mengisi balance PayPal via rekening bank selain via kartu kredit. Tapi layanan ini tidak lama kemudian dipending entah sampai kapan.

    Apakah klikbca yang kemudian menyediakan platform transaksi online semudah Paypal. Ataukah PayPal yg berhasil memenuhi selera lokal. Mana yg lebih dulu? Mudah-mudahan kedua-duanya.

  13. Setuju! Alat bayar online yang khas Indonesia, sangat penting untuk mendorong pertumbuhan transaksi online di Indonesia.

  14. ago says:

    Salam kenal,, saya langsung berlangganan artikel dari blog ini, karena banyak ilmu yang saya bisa dapatkan,,,
    Mengenai isi postingan kaimat “diam-diam” para pengguna Internet Indonesia juga membangun pengalaman melakukan transaksi via online, berarti peluang terbuka,,,
    Terima kasih postingannya,,,,

  15. #10. Yodhia, lebih indah jika semuanya berkembang. Tapi itu rasanya mimpi, karena dalam kenyataan, jika konsepnya sama, selalu ada yang tersisih.

  16. #12. Harian:
    Tampaknya BCA sudah melihat peluang itu

  17. e-comerce yang baik apa perlu didukung oleh transaksi offline? dari pengamatan terdahulu mengenai bisnis e-comerce di Indonesia ternyata yang bisa survive adalah pemain e-comerce yang juga bermain di media offline. apakah trend-nya sudah berubah?
    terimakasih.

  18. arif says:

    Salam kenal, semua.
    setelah saya membaca dan coba memahami ternyata, banyak yang harus kita pelajari. Model penjulanbegitu cepat berkembang, pola-pola yang muncul lebih kreatif, semoga membawa berkah untuk kemajuan bangsa ini. Saya mencoba menawarkan model jualan dengan berbayar dan gratis, dan transaksi yang terbangun juga model kepercayaan, ternyata sampai hari ini, saya merasa nyaman, bahkan konsumen lebih sering merasa bersalah kalau belum mentransfer uangnya, padahal yang saya lakukan silahkan anda bayar kapanpun konsumen mau, bisa jadi ini hal yang mudah karena saya jualan ide kreatif. http://www.desaingratis.in/ , sampai hari ini perlahan, ia mulai tumbuh dengan datangnya pemesan. Semoga bisnis online menjadi pilihan kita ke depan, dan transaksi online adalah solusi. thanks, pak luthfi, mohon izin tulisan ini saya copy di blog saya,http://www.geraiblog.com/

  19. Charles says:

    Asik nih, klo uda ada sistemnya dan keamanannya sudah OK, masyarakat sudah terbiasa belanja online. Proses jual-beli bisa dilakukan lgsg dari rumah… :D

  20. selamat datang, di real bisnis onlie ; tidak cuma payment server tapi semua perangkat bisnis offline belum tersedia atao msih bisa menjadi peluang .
    misal : fullfilment company, shipping operator, admistasi online dan tenpu saja 3rd party verificator.
    yang kalo di luar sano sudah mudah sekali ditemui.
    yang pasti go onlie reach the market…
    sukses bang Nukman

  21. pamoengkash says:

    @Harian dan yang lain, ini saya ada info bahwa BCA sudah terkoneksi dgn paypal. Semoga ini bermanfaat. Coba cek alamat dari sahabat kita yang membagi ilmunya di yahoo! answer : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100531012209AA2IH3C

    Saya belum praktekin sih. Tapi saya tetap berharap ada paypal buatan lokal dimotori bank lokal (imej security-nya udah terbangun) yang eksis untuk di Indonesia. Soalnya saya juga sedang mencari2 mesin pembayaran yang bukan paypal untuk ditambahkan pada sistem pembayaran di website saya.

    Dia bilang:

    Cara menghubungkan akun PayPal dengan rekening BCA adalah dengan memasukkan informasi rekening BCA ke akun PayPal.

    Caranya adalah sebagai berikut:
    - login ke akun PayPal
    - masuk ke profile > add/edit bank account
    - pilih bank Indonesia
    - masukkan informasi rekening bank (BCA untuk kasus ini)
    - setelah semua terisi, tekan tombol simpan
    - PayPal dan rekening BCA akan terhubung dan rekening yang telah ditambahkan dapat digunakan untuk menerima uang dari PayPal dengan catatan bahwa nama pada rekening sama persis dengan nama pada PayPal.

    Terima kasih.
    materi referensi:
    - http://www.indonesiapal.com/2008/01/with…
    - http://www.indonesiapal.com/2010/03/daft…

  22. rahmat says:

    cepat or lambat e-commerce akan bangkit,spt wepreplika saya di http://pondokjaya.bonuspulsa.com yg sdh terkunjungi sebanyak hmpr 10.000 pengunjung dan 1000 mitra yg bergabung,salam sukses selalu…

  23. Joko Susilo says:

    Betul. saya juga merindukan alat bayar online yang asli Indonesia. Selama ini mungkin klikbca.com yang cukup banyak dipakai. semoga selanjutnya sejumlah alat bayar online lokal lainnya bisa lebih diterima di masyarakat. karena dengan didukung alat bayar online yang diterima masyarakat, demikian pasti akan sangat membantu tumbuhnya e-commerce di tanah air. Salam ACTION!

  24. Bayu says:

    mungkin anda perlu baca yg ini
    http://www.mcmobilecash.com/webreg/
    Produk asli anak Indonesia, dan tunggu saja produk2 inovatif berikutnya.

  25. Pembayaran online Indonesia, asli ditungggu. Walau saat ini kita sudah cukup puas dengan transfer antar bank. Tapi kalau orientasinya ekspor, ada baiknya pengusaha IT bisa memikirkan online payment khusus untuk Malaysia, Singapore. Bisa juga Asean … pasti bisnis e-commerce Indonesia akan lebih maju. Singapore dan malaysia besar pembeliannya, tapi pembayaran masih sebagian besar pakai WU dan transfer yang biayanya tidak murah …

    salam

  26. dika says:

    iya memang, alatb pembayaran khas dan asli indonesia belum ada, peluang bisnis nih pak

  27. gardino says:

    Rasanya sih belum ada yang menjadikan bisnis alat pembayaran sebagai “menu utama” di Indonesia. Semua masih menganggap sebagai pelengkap saja.

    Saya pribadi pernah digandeng oleh smart dalam konsep smart dompetnya. Tapi toh ketika kami mau mengaktivasi responnya agak lambat. Bahkan hingga kini tidak juga diaktifkan.

    Padahal waktu itu Smart sudah memberi fasilitas hape gratis untuk toko online kami untuk mempermudah lalu lintas transaksi. Tapi ya itu tadi, cuma semangat diawal dan berhubung bukan cuma sebagai menu tambahan dalam bisnisnya penggarapannya jadi agak kurang.

  28. Maghfur Amin says:

    Betul.. e-commerce memang akan menanjak kedepannya.
    Saya juga mengharapkan akan segera ada alat pembayaran lokal yg bisa dipercaya dan booming (minimal dalam lokal indonesia), sehingga perkembangan e-comerce di indo bisa berkembang dan terpercaya

  29. iza says:

    mudah-mudahan paypal indonesia segera muncul. biar ecommerce indonesia tambah maju..

  30. Andy MSE says:

    apapun cara bayarnya, sepanjang calon nasabah memperoleh keyakinan akan keamanan transaksi termasuk jaminan memperoleh produk berkualitas, saya yakin e-commerce akan berkembang pesat…

  31. yupz dengan e_comerce lebih memudahkan kita untuk bertransaksi tanpa perlu meluangkan banyak waktu dan tenaga.
    harapan na supaya pembayaran na juga online ya perlu pengamanan yg ekstra supaya g terjadi hal yg merugikan bagi pengguna na .

  32. Setuju bahwa konsep e-commerce akan menjadi media bisnis dimasa yang akan datang.Konsep ini akan berjalan dengan baik bila infrastruktur teknologi internet telah diperhatikan tingkat pengembangan dan penyebarannya di Indonesia. Seperti kita perhatikan saat ini, area indonesia yang begitu luas, berapa persen yang telah bisa dijangkau oleh teknologi internet? Hal ini menjadi keprihatinan bersama, bagaimana teknologi internet yang sangat mendukung peningkatan bisnis di Indonesia saat ini hanya dapat dimanfaatkan oleh beberapa persen dari penduduk Indonesia ini. Faktor lainnya adalah biaya untuk mengakses internet itu sendiri, masih dirasa mahal. Bagaimana peran seluruh entitas institusi terkait agar teknologi ini dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh seluruh entitas masyarakat Indonesia, sehingga tingkat perdapatan perkapita penduduk Indonesia dapat meningkat dengan signifikan. Nah bila hal ini telah terpenuhi beberapa persen saja, maka kesejahteraan bangsa ini dapat terwujud. VIVA INDONESIA

  33. “Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s :)

  34. Kedai Obat says:

    Saya setuju tuh dgn pembayaran menggunakan PAYPAL, Praktis dan Mudah :D

  35. Mawardi says:

    Terima kaih infonya

  36. Perlu ada solusi lain disamping kartu kredit untuk transaksi online di Indonesia.

  37. Blog Kreatif says:

    Setuju, gan. Saya juga merindukan alat bayar yang khas indonesia. Gak semua orang mau bayar pake dollar PayPal. Kapan ya…??

  38. hesty says:

    Waah saya terlambat baca mas Soal yang ini….?mantreb deeh..?
    saya ikutan dari belakang mas soal e commerce

  39. Eviwidi says:

    Sudah pernah coba transaksi atau beli buku di http://www.bookoopedia.com? di sana sudah bermitra dengan alat pembayaran yang sangat fleksibel dan aman dengan mata uangnya Rupiah dan tidak membutuhkan kartu kredit.

    Bisnis E-Commerce sepertinya akan menjadi primadona di Indonesia ke depan, seiring dengan makin baiknya infrastruktur yang ada dan meningkatnya trust masyarakat dalam bertransaksi secara online.

    Pasar Indonesia cukup luas, dan selama akses internet bisa dinikmati oleh sebagian besar masyarakatnya dan bisa mendorong lebih melek internet, bisa diprediksi berbisnis online utamanya E-Commerce bukan saja jadi pilihan, tapi sudah tujuan.

  40. Sastro Darsono says:

    Halo,

    Saya tergelitik dengan artikel ini. Saya baru lihat blog ini, jadi maaf baru bisa komentar sekarang.

    Pertama, istilah e-Commerce atau eCommerce atau e-business (http://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_commerce) diperkenalkan pertama kali oleh Louis Gerstner, bekas CEO dari IBM pada tahun 1996. Saya terus terang agak kaget e-Commerce baru diprediksikan sebagai model bisnis berikutnya Pak Nukman setelah 14 tahun berikutnya. Bukankah kita pernah menyaksikan dotcom bubble akibat berlebihannya eCommerce pada tahun 1999-2000? Bukankah saat ini perusahaan-perusahaan besar sudah settle dengan sistem ERP-nya, data mining dan data warehousing-nya? Yang di mana membawa ke pendapat saya berikutnya.

    Kedua, yang menurut saya tidak tepat, lingkup eCommerce seharusnya bukan semata-mata transaksi online, tapi juga termasuk Enterprise Resource Planning systems (ERP), data mining dan data warehousing (sumber: wikipedia). Jadi istilah eCommerce sendiri di sini terlalu besar untuk digunakan apabila yang dimaksud adalah transaksi online.

    Ketiga, di artikel ini, sepertinya ada masalah lingkup. Seberapa besar lingkup yang digunakan Pak Nukman untuk membahas model bisnis berikutnya bisnis online dengan eCommerce? Apakah hanya di Indonesia atau juga global? Karena kalau global, saya agak bingung kenapa nama Amazon yang sudah bermain di transaksi online sejak 1995 disebut-sebut di artikel ini.

    Keempat, apa definisi bisnis online? Kenapa di awal artikel mengeneralisasikan ‘bisnis online’ akan mengikuti model bisnis eCommerce lalu di paragraf berikutnya mengeluarkan istilah ‘bisnis toko online’ sebagai pengecualian dari trend eCommerce?

    Demikian pendapat saya.

    Cheers.

    Sastro.

  41. @Sastro:
    e-commerce sudah diperkenalkan di Indonesia sejak awal 1999, dengan adanya berbagai jenis e-market place, situs lelang mirip e-Bay (saya lupa namanya), serta berbagai toko online yang menggunakan alat bayar kartu kredit secara online.

    Namun, sayangnya, semuanya tewas diterkam dotcom bubble.

    Yang tersisa adalah portal-portal berita.

    Nah, tahun ini kembali bermunculan e-market place seperti Plasa.com, Tokopedia.com dan Juale.com. Mereka sedang menanam benih. Bukan untuk sukses sekarang. Tetapi mungkin baru 3-5 tahun lagi.

    Itu sebabnya, untuk Indonesia, e-commerce, dalam bentuk e-market place, akan menjadi model bisnis berikutnya di bisnis online.

    Apa itu bisnis online? Bisnis apapun yang berjalan di platform online. Detik.com, Kompas.com, PortalHR.com, JobsDB.com dan lainnya itu bisnis online.

  42. joe says:

    Setuju pak Nukman, e-commerce memang sudah lama dikenal di Indonesia, tapi gaungnya tidak sedasyat tahun2 terakhir.
    Sepertinya mulai sekarang akan semakin pesat perkembangannya, hal ini ditunjang dengan semakin banyaknya pemakai internet di Indonesia.
    Saya sendiri sudah mulai terbiasa belanja secara online pak. lebih praktis.

  43. Harry's says:

    Meskipun artikel ini sudah lama tetapi menarik juga untuk ikut serta dalam diskusi ini, dan pengen share juga.
    saya adalah salah satu pengelola web e-commerce. memang bisnis di dunia maya ini mengalami pasang surut, dan kami juga mengalaminya sendiri, menurut pak Nukman, berapa bulan sebuah web e-Commerce mampu stabil dalam menjalankan bisnisnya ?
    dan apakah masyarakat indonesia nyaman dalam transaksi dengan model bisnis online ?
    karena mnurut pengalaman kami, belum lama di launching toko online kami sudah lumayan pengunjungnya, namun yang take action untuk melakukan transaksi masih terbatas,
    sehingga kami mempunyai kesimpulan bahwa masyarakat kita masih “ragu-ragu” dalam melakukan transaksi dalam bisnis ini.

  44. Sastro Darsono says:

    @Nukman

    Saya lihat masih ada masalah di definisinya. e-Commerce bukan cuma transaksi online. Walaupun ada dotcom bubble, e-Commerce tidak turun karena sebenarnya cakupan e-Commerce lain seperti ERP, data mining, dan data warehousing tetap tumbuh subur di lingkungan korporat.

    Yang dimaksud di artikel ini adalah transaksi online, bukan e-Commerce.

  45. A.Martin says:

    iya transaksi online di Indonesia berkembang pesat

    Tapi kendalanya pembayarannya masih kuno/jaman dahulu kala dimana saya pribadi masih menggunakan sistem transfer yang mengakibatkan banyaknya pemesan yang memesan tapi tidak ada pembayarannya.

    Jadi bukan hanya pembeli yang di rugikan/ditipu tapi penjual juga sering kali merasa di permainkan karena sudah memesan dan tidak ada pembayaran, bahkan kadang jika di sms in/di telp kita bisa kena omel blbalbalblabla…

    Jadi meskipun bisnis online berkembang pesat tapi perilaku pembeli maupun penjual masih musti di perbaiki dahulu sebelum bisa seperti negara” luar….

    Terima kasih

  46. foredi gel says:

    Bisnis lewat internet akan naik terus sepanjang tahun trendnya.. benar-benar dahsyat.

  47. Oki says:

    kalau kita lihat dari sisi Bank nya. Bagaimana tentang business model internet banking ?
    apakah businees model tersebut mempengaruhi kegiatan dari e-commerce yg sedang berjalan ?

    terima kasih

  48. Anton Siji says:

    Ayo kita perbanyak komunitas dan portal-portal di Indonesia, sehingga kehidupan masyarakat di Indonesia menjadi lebih baik.

    Thanks for sharing-nya ,Pak.
    Salam Kreatif Selalu

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • umar: - Terambat Saya……..

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting

Warning: Unknown: open(/var/lib/php/session/sess_718lt51uf6nespi12vt5sodss7, O_RDWR) failed: No space left on device (28) in Unknown on line 0 Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/var/lib/php/session) in Unknown on line 0