Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Mengapa Mengabaikan Online Consumer Insight?

March 25, 2008
Oleh Iim Fahima Jachja

Memangnya insight-nya apa ?

Perasan insight-nya ngga begitu deh…

Strategy ini dibuat based on consumer insight yang menyebutkan bahwa…’.

Insight. Insight. Insight.

Kata ini seolah menjadi mantra yang bakal meng-gol-kan sebuah strategi komunikasi maupun pemasaran, sehingga diharapkan komunikasi maupun kegiatan pemasaran bisa diterima konsumen dengan lebih mudah dan engaging.

Berbicara soal insight, belum banyak yang menyadari bahwa internet sebagai sebuah medium juga memiliki consumer insight sendiri. Bagi yang biasa berbicara tentang grand strategy dan belum mengenal medium internet ini secara mendalam, biasanya cenderung menghindari membahas hal ini karena dianggap ‘membuat kotak tersendiri’, karena seharusnya sebuah komunikasi akarnya adalah human insight.

Betul. Sangat betul.

Sebelum berbicara tentang insight medium, kita harus berbicara hal yang paling mendasar yaitu human insight.

Namun, ketika kita berbicara komunikasi online, kita juga harus mengingat bahwa bahwa komunitas online memiliki perilaku tersendiri yang dikenal dengan istilah Online User Behavior.

Beberapa contoh online user behavior yang paling dasar adalah:

- Konsumen ingin informasi penting terdisplay secara jelas, bukan disumputin di sebuah menu
- Nama menu harus menggambarkan content, biar konsumen tidak mebuang waktu meng-klik info yang tidak dibutuhkan.
- Konsumen benci iklan pop up.
- Konsumen cenderung meninggalkan situs yang untuk membukanya perlu loading lama.
- Konten yang basi pasti ngga akan dikunjungi
- Audio yang hidup secara otomatis itu mengganggu.
- Dlsb.

Adanya web 2.0, membuat online user behavior semakin kompleks. Keberadaan forum, maling list dan blog yang menjunjung asas bebas merdeka berbicara, menuntut konsultan komunikasi dan pemasaran lebih cermat dalam membuat pendekatan komunikasi online. Memahami behavior internet user ketika berinteraksi di user generated content adalah hal yang wajib dilakukan sebelum memutuskan membuat komunikasi yang berbentuk diskursif.

Alih-alih ingin melibatkan konsumen dalam berkomunikasi, bisa-bisa malah jadi PR buruk, seperti yang dialami oleh Mizone ketika melakukan kampanye awaskecolongan.com. Bahkan blog Virus Communications yang mencoba mengupas campaign ini dari sisi yang positif pun, tak bisa menahan obrolan yang cenderung menganggap campain ini ngga paham insight komunitas online.

Untuk para pemilik brand: Ada 32 juta internet user di Indonesia yang mostly adalah potential buyer. Angka ini jauh meninggalkan jumlah pembaca koran. Seriuslah menggarap mereka, atau kompetitor Anda yang akan melakukannya.

PS:Silahkan googling istilah online behavior, dan Anda akan mendapatkan banyak contoh tentang online behavior itu sendiri serta perkembangannya.

12 Responses to “Mengapa Mengabaikan Online Consumer Insight?”

  1. Bechman says:

    Dear Mba Iim,

    Saya interested ketika bahas consumer insight,
    karena kalau kita membahas demikian, jgn lupakan amazone.com
    dimana setiap behavior dari pengunjung portal dianalisa kebiasaannya. Dan ini yang juga saya buat pd stiap client saya.

    Sekadar share Mba, saya selalu menawarkan riset portal pada client, sebelum membuat portal brand itu. Portal Riset itu sederhana, isinya portal umum yang berisi fasilitas2 umum, seperti Flight Schedule, Agenda/Scheduler, Movie/Cinema Info, Pricelist Electronic, dsb. Dari Portal Riset itu kemudian saya dapat menganalisa, kira2 target potensial bagi brand client saya itu kebutuhannya fitur apa sih?

    Dari situlah rancang bangun sebuah portal yang cunsomer insight dilakukan. Namun sayang banyak brand di Indonesia yang cuma melihat Time to Produce dan Cost saja, tanpa mementingkan Analisa Perilaku Online Surfer. Trims.

  2. Iim-Adhit says:

    Bechman,

    yang Anda sampaikan sangat betul, akar komunikasi baik online maupun offline adalah riset behavior/insight. Sejumlah brand sudah mulai menyadari itu, namun masih banyak juga yang berpikir riset sebagai cost, bukan investasi.

  3. rachman tea says:

    Dear Iim…

    Salam jumpa lagi..sebenarnya kita dulu pernah satu atap di Matari, khususnya waktu jaman jahiliyah ketika Iim masih belum berjilbab…he..he..

    Terus terang, saya suka dengan tulisan Iim ini yang membahas tentang peran riset dalam penyusunan strategi komunikasi; termasuk riset yang dilakukan melalui media online.

    Saya juga setuju bahwa user media online adalah sebuah komunitas yang potensial sebagai target market. Hanya saja, ketika kita mencoba mengaitkan kedua pemahaman tersebut (kegiatan riset online dan user media online), kita harus tetap berhati-hati untuk menjelaskan bagaimana tingkat kepentingan dan manfaat yang akan diperoleh dari kegiatan riset online. Setidaknya ada dua hal mendasar yang harus kita perhatikan.

    Pertama, ada perbedaan asumsi-asumsi mendasar yang bersifat sosio-psikologis yang melatarbelakangi gambaran bentuk perilaku (consumer habit) antara user media online dan konsumen biasa.

    Perbedaan ini berimplikasi pada pemilihan bentuk metodologi penelitian yang tepat; yang disesuaikan dengan perbedaan latar belakang dan karakteristik kedua jenis responden tersebut.

    Kedua, perbedaan mendasar bentuk pendekatan dan metodologi penelitian yang akan digunakan untuk melakukan riset online dibandingkan dengan riset konvensional (yang biasa dilakukan secara face to face) tentu saja akan berimplikasi pada sistem dan mekanisme kontrol yang harus dikembangkan dalam menjalankan validasi hasil temuan penelitian di antara kedua jenis penelitian tersebut.

    Oleh karena itu, sekalipun saya tetap meyakini manfaat dari jenis riset apapun yang digunakan (konvensional ataupun online), setidaknya kita juga harus memperhatikan aspek proses di dalam menjalankan kedua bentuk penelitian tersebut. Alih-alih ingin menggunakan insight untuk kepentingan penyusunan strategi komunikasi, kita malah terjebak pada penggunaan insight yang kurang valid, karena ada peluang bias secara metodologis.

    Salam,
    RAR
    (M.Kh.Rachman R.)
    Ex-Mat 2000-2003
    Tim Account Planning & Research

  4. Iim-Adhit says:

    Halo Rahman, apa kabar?

    Pertama, ada perbedaan asumsi-asumsi mendasar yang bersifat sosio-psikologis yang melatarbelakangi gambaran bentuk perilaku (consumer habit) antara user media online dan konsumen biasa.

    Bisa ngga diberi contoh, perbedaan asumsi mendasar itu yang seperti apa misalnya?

  5. rachman tea says:

    Hai, Iim…kabarku baik-baik aja, yang jelas masih tetep kok gak ninggalin dunia riset, meski sekarang harus merambah ke bidang lain juga, seperti strategic planning, business development, dan corporate strategy (change management). Tapi, tetep masih belum bisa kayak Iim yang udah berani banting setir..dari profesional ke entrepreneur di industri komunikasi pemasaran….he..he..he…

    Mengenai pendapat saya kemarin tentang perbedaan asumsi-asumsi mendasar yang bersifat sosio-psikologis yang melatarbelakangi gambaran bentuk perilaku (consumer habit) antara kedua jenis target responden tersebut (user media on-line dan konsumen biasa), bisa dijelaskan sbb :

    Menurut pandangan saya, konsumen itu hidupnya bukan berada di wilayah ‘empty space’; yang bebas dari pengaruh aspek-aspek sosiologis, seperti : nilai, norma, keyakinan, tradisi ataupun budaya komunitasnya.

    Oleh karenanya, sangat wajar bila kita juga harus memperhatikan perbedaan karakteristik yang ada diantara kedua jenis target responden tersebut; dimana kita bisa lebih merasakan bentuk keterikatan yang relatif lebih kuat pada kehidupan konsumen biasa dari pada yang terdapat pada kehidupan user media online yang relatif lebih cair.

    Ketika kita sebagai peneliti sedang melakukan proses pengumpulan data dari responden konsumen biasa, kita bisa melakukan probing lebih mendalam ataupun melakukan klarifikasi dan konfirmasi data pada saat itu juga dengan memanfaatkan situasi sosial ataupun lingkungan sosiologis yang dimiliki oleh responden tersebut. Termasuk juga, pada saat nanti kita melakukan analisis data, faktor-faktor sosiologis responden tersebut dapat membantu mengurai latar belakang sosial budaya yang mendasari pembentukan perilaku tertentu dari responden tersebut. Aspek ini yang agak berbeda pada target responden user media online; dimana mereka bisa saja ‘menanggalkan’ atribut-atribut sosiologis yang mereka miliki selama ini.

    Sementara untuk dimensi psikologis, biasanya saya lebih concern pada setting suasana dan bentuk ikatan emosional yang dimiliki oleh setiap individu dengan individu lain di dalam komunitasnya. Ini juga sesuatu yang berbeda kondisinya bila kita membandingkan diantara kedua jenis target responden tersebut.

    Mudah-mudahan penjelasan singkat ini bisa membantu….Terima kasih untuk responnya.

    Salam,
    M.Kh.Rachman R.

  6. Satrio A. Wicaksono says:

    Dari milis Tangan di Atas:

    Menarik sekali Bu posting-nya, saya pernah mempelajari consumer insight namun kenapa tidak pernah terpikir online consumer insight ya sebelumnya? Terima kasih banyak atas sharing ilmunya dan ditunggu posting yang lain.

    Salam,
    Satrio A. Wicaksono

  7. Hasbi Assidiqi says:

    Dear Pa Adithya / Ibu Iim..

    Saya sering mendengar hal mengenai insight..

    Saat ini saya sedang mencari bahan untuk penelitian sebagai topik tesis saya.. terus terang saya sangat tertarik untuk meneliti mengenai Customer Online Behaviour ini.. Jikalau seandainya ingin diteliti, pada bagian mana nya kah yang seharusnya diteliti…

    Terimakasih atas sharing nya…

  8. iqranegara says:

    Apa aja sih Online User Behavior atau online habit atau website visitor behavior?
    Apakah isi/bidang website juga berpengaruh pada segmen pengunjungnya?

  9. Widi Asmoro says:

    terima kasih buat share tentang ini :D
    newbie di dunia insight2an :D

  10. febri says:

    wah seru banget nih

  11. irul says:

    sekedar tanya… metodologi penelitian apa yang paling sesuai untuk internet marketing strategi??
    biasanya kita dapat mengetahui sesuatu itu berhasil atau tidaknya lewat penelitian.
    terima kasih

  12. [...] Pemahaman online user behavior.  Kalau ngga paham hal satu ini, bagaimana bisa mendevelop content yang bikin online user jatuh [...]

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting