Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Media Cetak Wajib Konvergensi ke Internet

May 5, 2009
Oleh Nukman Luthfie

Fenomena ambruknya media-media cetak di Amerika Serikat seharusnya membuka mata banyak media cetak di Indonesia. Pekan lalu, koran hebat di negeri Paman Sam, yakni The Boston Globe, menunggu nasib untuk ditutup atau diteruskan oleh investor baru. Performa koran yang sudah berusia 137 tahun itu terus merosot karena perubahan perilaku konsumen membaca berita, serta perubahan strategi pemasang iklan. Oplah pemenang 20 Hadiah Pulitzer, penghargaan tertinggi jurnalisme AS, ini terus merosot 14 persen dalam enam bulan terakhir. Mereka juga harus menghadapi penurunan pendapatan iklan karena pemasang iklan beralih ke Internet. Pada saat yang sama, mereka juga ditekan oleh biaya produksi yang tinggi karena harga bahan baku koran semakih mahal.

Jika tidak mendapatkan investor potensial, The Boston Globe akan gulung tikar.

Merosotnya sirkulasi dan pendapatan dari iklan juga memaksa Tribune Co mempehaka 61 orang dari 205 tim berita The Baltimore Sun. Sepekan sebelumnya, Chicago Tribune juga merumahkan 53 karyawan ruang redaksi.

Apa boleh buat, penetrasi Internet yang tinggi di AS merupakan salah satu faktor utama yang merongrong kinerja media cetak. Saat ini, 76 persen penduduk AS sudah tersambung ke Internet.

Pertanyaanya, jika di Indonesia baru sekitar 10% penduduk yang terkoneksi ke Internet, perlukah media cetak sekhawatir rekannya di AS? Menurut saya, harus khawatir. Hanya soal waktu saja perilaku mengkonsumsi media di Indonesia berubah signifikan. Oleh karena itu, saya secara konsisten mengatakan bahwa media konvensional wajib konvergensi ke Internet. Tahun lalu, ketika diundang sebagai pembahas dalam seminar nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI),  Rabu 27 November 2008, di Sanur Beach Hotel, Denpasar, Bali, saya mengatakan  harus konvergensi ke online.

Sayangnya, di tengah krisis ekonomi global, yang juga berimbas ke krisis ekonomi nasional, banyak media cetak yang menunda langkah konvergensi ini.  Itu yang saya katakan kepada Bisnis Indonesia kemarin dan dimuat hari ini di koran bisnis terbesar di Indonesia itu.

Saya kutipkan beritanya di bawah ini.

Media Tunda Rencana Konvergensi

JAKARTA: Sejumlah media menunda rencana untuk melakukan konvergensi atau penyatuan antara media cetak, online, televisi, dan radio, karena dampak dari krisis ekonomi global. Rencana untuk mewujudkan konvergensi tersebut diperkirakan baru akan kembali dilanjutkan setelah kondisi bisnis media kembali membaik.

“Menebak [arah] media di Indonesia itu agak susah, apalagi dalam kondisi krisis begini. Barangkali, kalau ada yang mau konvergensi, mereka menundanya dulu,” ujar CEO PT Virtual Media Nusantara Nukman Luthfie kepada Bisnis, kemarin.

Namun, dia mengingatkan agar pengelola media tetap menjalankan rencana tersebut, karena tanpa konvergensi, dalam 5 tahun hingga 10 tahun ke depan, media akan sulit untuk bersaing dan bertahan hidup.

Menurut Nukman, investasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan konvergensi media memang relatif besar, sehingga kondisi krisis ekonomi saat ini dipastikan akan sangat berdampak terhadap rencana pembentukan konvergensi. ”Namun, kalau tidak siap-siap mulai sekarang, mereka [pengelola media] akan menghadapi kesulitan dalam 5 tahun hingga 10 tahun ke depan,” katanya.

Kesiapan pengelola media tidak hanya sebatas masalah modal, tetapi juga menyangkut budaya kerja dan model bisnis.

Anggota Dewan Pembina Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Djafar Assegaf, yang dihubungi terpisah, menyebutkan konsep konvergensi media di Indonesia akan mulai ramai dijalankan setelah 2010. Dia menuturkan tren konvergensi media akan ditandai dengan peralihan bentuk koran atau media cetak ke dalam bentuk media digital atau online. ”Konvergensi media setelah 2010 akan berjalan dengan amat pesat dan ini mengubah pola konsumsi khalayak terhadap informasi, hiburan, dan data yang didapat secara seketika,” ujarnya.

Pada saat itu, menurut Djafar, akan banyak terjadi penggabungan antarperusahaan media. Kecenderungan bisnis media akan mengarah pada konglomerasi. Selain itu, media asing yang masuk ke Indonesia juga akan banyak bermunculan.

Kesenjangan informasi

Namun, konvergensi media yang mengarah pada tren digitalisasi media akan menciptakan kesenjangan dalam penyebaran informasi kepada warga masyarakat yang tidak memiliki daya beli dan akses terhadap informasi.

Pada masa konvergensi, masyarakat membutuhkan perangkat digital untuk dapat mengakses informasi. ”Tidak semua masyarakat Indonesia mampu membeli perangkat tersebut. Ini mengakibatkan kesempatan orang untuk memperoleh informasi di Indonesia menjadi tidak merata,” kata Djafar.

Menurut Nukman, hal tersebut memang tidak bisa dihindari. “Mau apalagi? Ini memang sulit. Kalau tidak konvergensi, peluang media cetak untuk bisa bertahan akan sulit pada 10 tahun ke depan,” katanya.

Adapun, Djafar menilai pada saat semua media cetak berubah ke bentuk online, penyajian berita tidak akan terlalu mendalam, digantikan dengan konten gambar dan data yang akan mendominasi isi berita. Untuk itu, Indonesia membutuhkan jurnal ilmiah untuk menggantikan peran koran atau media cetak, sehingga kebutuhan terhadap informasi yang lengkap bisa dipenuhi.

Dia menjelaskan konvergensi media juga bertujuan untuk menekan biaya perusahaan, karena kebutuhan sumber daya manusia yang lebih minim. Dia mencontohkan korektor tulisan pada media cetak merupakan salah satu posisi yang akan hilang saat konvergensi terjadi.

Namun, media yang telah melakukan konvergensi membutuhkan server berkapasitas penyimpanan besar untuk menampung berita yang dibuat oleh wartawan untuk kemudian disalurkan ke televisi, radio, ataupun media online. (14) (yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)

16 Responses to “Media Cetak Wajib Konvergensi ke Internet”

  1. Sundoro says:

    Bener je kang, wingi yang punya percetakan mampir kantor rodo sambat, beberapa penerbitan rutin (media) kecil mulai angel mbayar biaya cetak yang ujung-ujungnya berhenti terbit.
    Namun apa ya koran bakalan punah ? Padahal paling enak baca koran sambil ngopi, sambil nongkrong atau paling enak nggusah laler ya pake koran, ora nganggo notebook :)
    Salam

  2. Billy K. says:

    pak nukman,, ya jelas belum siap lah.. saya aja sekarang lagi ngerjain project buat konvergensi ituh..

  3. .
    Akur, boss…
    Tinggal menunggu waktu sajah.

    Mungkin contoh sedikit melenceng adalah ditutupnya kantor telegram di Inggeris karena penetrasi e Mail dan SMS.

    Maka media cetak Indonesia harus memulainya dari sekarang….

    ***nunggu cipratan rejeki ngelola web nya…*** :mrgreen:

  4. ajisaka says:

    Setuju, meskipun pengguna inet di indo mungkin hanya 20-25 juta. Tapi, kemungkinan besar mereka adalah yg literate. Jadi, konvergensi cetak ke online adalah strategi layanan yang tepat.

    Saya punya pengalaman, bicang2 dg pimred Harian Yogya (Haryo) bulan lalu. Harian ini adalah anak perusahaan terbaru grup Bisnis Indonesia di DIY. Apa yg dilakukan si PImred di masa awal setting hariannya? Menantang stafnya membuat e-paper.

    “Sekarang itu keharusan”, sebut si PImred itu kepada saya. Dan sekarang meski belum setahun, Haryo sudah mulai mendapat iklan dalam jumlah besar. Kehadirannya pun, dengar2 sudah membuat gentar harian lainnya di DIY dan Jateng yang telah puluhan tahun bercokol.

  5. contoh yang bagus. anda contoh 1 dari beberapa orang indonesia yang berpikiran maju. bravo. andaikata 50:50 saja orang indonesia yang berpikiran maju seperti anda, tinggal menunggu waktu indonesia akan berjaya.

    goodluck! maju terus indonesia.

  6. Hendry Lee says:

    Saya setuju. Di Indonesia tren ini tidak akan berlangsung begitu cepat, tapi strategi online dapat dipergunakan untuk memperluas jangkauan.

    Ulasan di blog saya minggu lalu membahas topik ini.

    http://tibidip.com/masa-depan-bisnis-publikasi

  7. gufron b says:

    saya setuju dan faktanya memang begitu !!!bukti nyata,di negri kita aja sekarang,media cetak maupun elektronik (radio & TV) juga mesti kudu creative ‘mengkawinkan’dengan internet.
    Bang NUKMAN LUFIE,100% BETUL!!!

  8. -GoenRock- says:

    Asalken media cetak ecek2 macem koran LAMER jangan ikut2an konvergensi ke internet. Haduh duh duh duh… amburadul :lol:

  9. wadiyo says:

    bagaimana segmentasi pengguna internet di indonesia?

  10. blogpreneur says:

    saat ini sudah banyak yang goes online pak, cuman tinggal bagaimana customer yang diarahkan kesana

    oia, tanggal 23 maret… berita seperti ini sudah ada OM… di inventco dot net
    Selamat tinggal surat kabar

  11. aryo says:

    selain go online, yang paling penting adalah promosi & sosialisasi. saya pribadi sudah mulai mengurangi langganan koran. cukup buka web harian nasional saja tiap pagi :-)

  12. Andre Birowo says:

    Konvergensi ke arah online jika dilakukan secara bertahap seharusnya tidak membutuhkan biaya besar.

  13. Suherman Suman says:

    perubahan ke arah itu saya yakin 99% akan terjadi, hanya masalah waktu. tantangan ini harus dijadikan peluang oleh media nasional, jangan sampai konsumen dalam negeri jadi ladang garapan media online asing, sementara media nasional hanya jadi saksi bisu

  14. secara teori memang benar begitu. tapi koran-koran di indonesia umumnya tidak memerlukan teori demikian.

    umumnya koran indonesia lahir tanpa teori bisnis media, tanpa kalkulasi untung-rugi, tanpa resep untuk tampil unggul dari pesaing. ini bukan gombal — mengutip istilah paman tyo — bahwa koran-koran indonesia tidak memerlukan teori jurnalisme, apalagi teori untuk beralih ke jurnalisme online.

    hanya satu hal yang diperlukan oleh mereka: KORUPSI. selama masih banyak koruptor di sini, maka selama itu pula koran akan bertahan untuk terbit. kugaransi! umumnya media di indonesia bisa kaya-raya adalah karena ikut menikmati korupsi.

    reporter bisa bertahan hidup di jakarta padahal gajinya cuma 2 juta adalah karena berita bisa dipesan sesuai selera lalu dapat amplop dari narasumber korup. redaktur bisa beli mobil karena dapat transfer rekening dari pejabat korup. pemimpin redaksi dan petinggi koran bisa sumringah setiap saat, tanpa takut korannya tak laku, karena sekali setahun dapat proyek dan cek dari maling-maling berdasi.

    pengusaha, politisi, dan pejabat koruplah yang diperas untuk menghidupi koran — cara yang paling banyak dilakukan adalah dengan meminta [baca: memaksa] mereka beriklan. cuma segelintir media yang tidak melakukan itu. tanyalah orang-orang pers termasuk di dewan pers, aji, pwi, ijti, dll, mereka pasti manggut-manggut. kalau dibantah, mereka sedang membohongi nuraninya.

    aku berani bertaruh dengan bang nukman: teori tadi takkan pernah berdampak pada media cetak indonesia seperti sudah terjadi di usa. koran indonesia takkan pernah bangkrut bila tidak mengadopsi media online.

    artikel yang bagus, bang nukman. salam.

  15. hendra says:

    apalagi menurut berita 4G akan hadir tahun 2010. Wuih pasti bakal rame nih….klo gak cepet-cepet bakal ketinggalan semua tuh media cetaknya!

  16. Atik says:

    Setuju Pak, kita memang harus siap-siap. Jangankan koran dan media cetak, penjualan buku dan VCD di Indonesia juga mulai turun karena pengaruh online.

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

  • Pengembangan Diri: - Pikiran terbuka terhadap peluang bisnis online yang besar.. Terima kasih Bu...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting