Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Latah Viral Justru Menjauhkan dari Online Sales

June 26, 2009
Oleh Iim Fahima Jachja

Dulu ketika saya masih bekerja sebagai tim kreatif di biro iklan, saya sangat
familiar dengan istilah “iklan Glodok banget!” yang artinya iklan yang kita buat sangat hardsale dan cenderung ngga ada kreatif kreatifnya sama sekali atau kreatif hanya muncul sebagai bungkus pemanis. Iklan yang Glodok banget ini adalah iklan yang paling dibenci banyak orang iklan tapi disukai oleh pemilik brand karena to the point, ngga basa basi, langsung jualan. Contoh iklan yang Glodok banget antara lain Sale!, iklan perusahaan telekomunikasi yang isinya perang tarif, iklan promo dan iklan seminar. Tiga jenis iklan ini biasanya memajang angka/benefit secara besar besaran sehingga memiliki call to action yang kuat terhadap target pasar.

Kesenangan pemilik brand terhadap iklan to the point dalam konteks di atas tidak salah, karena konsumen pun mengharapkan hal yang sama. Ketika kebutuhan membelinya tinggi, konsumen tak perlu diajak basa basi. Just Tell me what you offer, begitulah kira-kira.

Coba bayangkan jika iklan sale Zara, Mango, Debenhams, Matahari dibuat dengan “terlalu kreatif” sehingga pesan sale-nya tertutup atau tidak menonjol. Yang rugi tak hanya pemilik brand tapi juga konsumen karena tak menangkap pesan dengan baik padahal sale adalah sesuatu yang sudah ditunggu oleh banyak orang.

Begitu juga dalam komunikasi online. Ketika kebutuhan pembelian terhadap produk tinggi, maka komunikasi yang paling tepat untuk dilakukan adalah komunikasi yang contentnya “menangkap” pembeli yang bisa dilakukan via online order atau online registration.

Dalam konteks ini, yang diperlukan adalah pembuatan online sales landing page dengan pesan yang to the point dan menonjolkan benefit langsung, bukan viral.

Membuat viral, yang dalam bahasa umum masih diartikan sebagai game, video atau banner lucu-lucuan, tak dipungkiri, masih menjadi idola para pemilik brand yang memutuskan masuk ke komunikasi online.

Tak ada yang salah dengan hal ini, karena viral dalam konteks di atas memang sesuatu yang sexy, fun, fresh.

Jika saya pemilik brand, maka sangat menyenangkan membayangkan campaign saya bisa menviral alias di-foward secara sukarela dan menimbulkan perbincangan positif. Namun fungsi viral adalah menciptakan pembicaraan, bukan direct sales.

Secara pembuatan pun, viral juga cenderung relatif lebih lama untuk diakses karena filenya berat. Sementara online sales landing page harus bisa cepat dibuka karena orang yang butuh membeli tak ingin dipersulit prosesnya.

Contoh online sales landing page adalah SmartJump yang dalam sepekan berhasil menjaring ratusan pembeli/registrant.

Tak jadi masalah jika memang produk kita masih di tahap awal perlu diperkenalkan ke konsumen pengguna internet. Namun jika tenyata konsumen pengguna internet sudah paham/aware terhadap produk
kita, maka penggunaan viral lucu lucuan sebagai taktik komunikasi hanya akan menjauhkan kita dari sales yang sejatinya justru menjadi objektif utama marketing.

Untuk itu, meriset kecenderungan produk kita di internet menjadi bagian yang sangat krusial sebelum memulai online campaign karena hal ini menentukan strategi dan taktik yang tepat untuk mencapai objektif.

18 Responses to “Latah Viral Justru Menjauhkan dari Online Sales”

  1. betul sih, beda purpose yah…. trus ngebuat landing page yang relevant gmn ?

    gmn membangun LP yang menggiring opini , karna consumer membeli apa yang mereka inginkan bukan yang mereka butuhkan

  2. BudiTyas says:

    Setuju. Apalagi dengan web 2.0 dan makin umumnya transaksi scr online, adalah wajar jika internet tdk lagi sekedar alat membangun awareness. Internet bisa lebih didekatkan ke arah sales.

  3. Titian says:

    Perlu dibedakan iklan yang “bersifat edukatif” dan iklan yang tujuannya adalah “jualan”
    Saya rasa kedua pendekatan perlu dilakukan bersamaan.
    Dan keduanya harus berakhir di LP yang didesain untuk transaksi ol.

  4. Nadiah Alwi says:

    Thanks banget, sharingnya, Mbak. Kebetulan saya juga lagi ada tantangan untuk kedua hal tersebut, menciptakan brand awareness sekaligus menghasilkan direct selling untuk sebuah online store yang sedang saya gawangi. Harapannya, kedua hal ini bisa berjalan bersamaan. Dan, membaca paparan Mbak di atas, saya mulai terbayang harus melakukan apa. :D

  5. “iklannya glodok banget”….saya suka dengan kalimat ini….:):)

  6. darto says:

    Aku menjadi terjernihkan dengan info ini. Antara LP yang langsung menggiring pengunjung untuk order, dan LP yang mengedukasi pembacanya supaya punya minat besar utuk order. Saya kira, benar perlu diriset, mana yang perlu diutamakan dan satunya lebih mendukung sesuai timing yang tepat. Thanks.

  7. artikel bagus, Online sebeanrnya tak lebih dari ladang uaha yang lain bisa untuk brand building saja ato langusng jadi toko or store. tergantung mana tujuannya, dan tujuan/ model busines menentukan cara menjalankannya (promoting/marketing)

  8. Sepakat Mba,
    Menurut saya apakah itu Landingpage, microsite, creative/interactive banner, pada dasarnya akan jadi trigger untuk sebuah goal/objektif..persoalan kreatifnya keren apa ngk, trus berat loadingnya apa nggk, itu lain pembahasan..(technical).

    Mengacu ke case smartjump itu sdh to the point

    mnrt sy sangatlah penting dalam ONLINE BUSINESS PROCESS untuk memikirkan waktu proses transaksi dan result bisnisnya..B2C.. krn jika creative menggangu process delivery message/pesan maka oportunity bisnisnya bisa terancam.

    Justru kompetisi

  9. Sepakat Mba,
    Menurut saya apakah itu Landingpage, microsite, creative/interactive banner, pada dasarnya akan jadi trigger untuk sebuah goal/objektif..persoalan kreatifnya keren apa ngk, trus berat loadingnya apa nggk, itu lain pembahasan..(technical).

    Mengacu ke case smartjump itu sdh to the point

    mnrt sy sangatlah penting dalam ONLINE BUSINESS PROCESS untuk memikirkan waktu proses transaksi dan result bisnisnya..B2C.. krn jika creative menggangu process delivery message/pesan maka oportunity bisnisnya bisa terancam.

  10. Arie Avianto says:

    Salam
    Setuju mengenai LP ,harus ada spesifik period utk suatu LP tertentu.
    Saya melakukankannya dengan berbagai LP untk suatu Produk yang sama untuk target tertentu …;-)

  11. Ini yang masih saya perlu banyak belajar.. toko dengan visitor banyak tapi selling masih seret :) perlu optimasi landing page nya

    nuwun.

  12. hendra says:

    saya lebih setuju klo emang sebaiknya gak usah pake viral langsung aja ‘gue jual ini lo mo beli gak?’

  13. imamulki says:

    “glodok banget” tagline gw tuh bbrp tahun yg lalu ketika msh menggandrungi craftmanship ketimbang sales :)

  14. Yosafat Ariel says:

    orang amrik biasanya bilangnya “So what’s the catch?” untuk menayanyakan marketing yang terlalu bertele2

    selama berbisnis online terlebih bila berhubungan dengan orang amerika yang selalu praktis dalam berpikir, mereka tidak suka dengan landing page yang terlalu banyak flash ato embel2 marketing.

    pikir mereka hanya satu kalo berhubungan dengan belanja online , ‘beli dan pergi’, ‘kalo suka datang lagi’.

    Great info Om Nukman :)

  15. menurut saya tidak seperti itu mbak,
    ada 2 tujuan marketing, jangka panjang dan jangka pendek. untuk jangka pendek hardsell is ok. tapi untuk jangka panjang menanamkan brand dalam benak konsumen itu juga penting. karena brand tanpa jiwa akan berlaku singkat. bahkan saatchi memberi nama ‘lovemark’ untuk ini.
    nah viral inilah yang lebih cenderung menanamkan positioning dari pada hardsell.
    silahkan bagi yang mau jualan to the point via internet. tapi menurut saya, positioning itu juga penting. membuat konsumen loyal. seperti halnya bagaimana loyalnya konsumen Apple. bukan karena hardsell, tapi karena brand buildingnya sudah nancep ke hati konsumen.
    jadi internet bisa berlaku untuk hardsell dan softsell (branding) seperti viral. itu pendapat saya.

    terima kasih
    indra tw

  16. yosi says:

    terserah deh..yg penting gimana caranya dagangan gw laku..bisa glodok bisa arthagraha..

  17. Setuju banget. sebenernya intinya kan gimana biar yg baca langsung take action. beli produk. apapun caranya, mau yg bertele-tele atau yg to the point!

  18. sarif husin says:

    saya sebetulnya kurang paham masalah viral,, apalagi viral marketing tetapi sedikit yg saya ketahui yakni viral itu sebuah sistem pemasaran yang memberi komisi kepada pelanggan yg mampu mengajak membeli produk,, hampir mirip mlm tetapi lebih baik dari sistem mlm.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting