Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Berubahnya Habit Konsumen, Berubahnya Medium Komunikasi.

March 10, 2006
Oleh Iim Fahima Jachja

koneksi.jpgJika diperhatikan, saat ini kesadaran biro iklan untuk melibatkan website sebagai medium penting dalam kegiatan campaign mulai muncul. Hadirnya sejumlah temporary website seperti Jawaragaktakutjerawat, Jagogebet, clearnation dll serta mulai banyaknya placement iklan di sejumlah website terkemuka di dalam maupun luar negeri tentunya berdasarkan data perilaku konsumen yang valid.

Riset yang pernah dikeluarkan biro riset Nielsen di akhir tahun 2005 tentang pola konsumsi media konsumen dengan SES AB, menunjukkan bahwa meski internet dikonsumsi konsumen tak sebanyak TV, namun internet memiliki tingkat efektifitas komunikasi PALING TINGGI dibanding media lain seperti TV, Radio, Print Ad dll. Kebalikannya, meski dikonsumsi oleh banyak orang, TV memiliki tingkat efektifitas komunikasi PALING RENDAH.

Kaget? Tak perlu. Karena sebenarnya tanpa ditunjukkan data ini pun, seharusnya kita sudah mulai bisa “meraba” seperti apa pola konsumsi konsumen terhadap media belakangan ini. Konsumen tak hanya orang yang memakai produk atau jasa Anda, tapi kita semua adalah konsumen.

Berapa jam kita bekerja di kantor? Berapa jam dalam sehari kita berinteraksi dengan email dan mailist ? Berapa jam dalam sehari kita menghabiskan waktu untuk browsing internet? Berapa jam dalam sehari kita bertelepon dan ber SMS? Berapa jam dalam sehari kita menghabiskan waktu di jalan? Berapa jam dalam sehari kita menghabiskan waktu didepan TV? Seberapa sering kita benar benar focus menonton TV tanpa diselingi baca Koran, kirim sms, mengurus anak, istri atau suami?

Menyadari habit konsumen yang berubah ini, sejumlah biro iklan mulai terbuka matanya untuk melihat bahwa internet adalah medium yang potensial untuk menyebarkan pesan. Dipelopori oleh Ogilvy dengan teori komunikasi 360  branding atau TBWA dengan teori Connection-nya yang keduanya menyarankan untuk menyebar pesan kepada konsumen dari segala sisi dengan memanfaatkan berbagai medium (salah satunya internet) agar komunikasi menjadi semakin efektif..

Memang, hal ini bukan berarti tumbangnya medium tradisional seperti TV, Print ad dan Radio. Namun, hal ini merupakan indikasi bahwa medium tradisional tak selamanya raja. Bahkan pada SES tertentu, disarankan menggunakan internet sebagai sarana komunikasi utama.

So, untuk para pengiklan, waktunya melirik internet sebagai medium yang potensial untuk menggaet konsumen.

13 Responses to “Berubahnya Habit Konsumen, Berubahnya Medium Komunikasi.”

  1. Wah, kalo ini bener maka kita-kita yang kerja di koran ini bakal kesulitan makan lantaran semakin sedikit orang pasang iklan. Perusahaan tak lagi bisa memberikan gaji karena gak ada pemasukan iklan.

    Tapi, dunia tak sebesar daun telinga dan bola mata. KIra-kira, dari 220 juta penduduk di Indonesia, berapa persen orang yang familiar dengan internet. Jadi jangan berkecil hati, masih banyak yang pilih nonton tv, baca koran dan majalah.

    So, nice blog.

  2. Ghe-Ghe says:

    Setuju banget niy… Internet sudah pasti bisa jadi alternatif bahkan raja media baru. Ga mungkinkan kita lg kerja di kantor sambil baca koran, majalah bahkan nonton TV skalian. Kl jabatan tertentu sih pasti bisa tp rata2 mreka yg tiap hari duduk di dpn komputer pasti lbh memilih internet dr media2 yg td. Sebab mereka bisa dapat hiburan dan informasi skaligus sambil melakukan pekerjaannya tanpa org laen ktahui… So turn on ur computer & start browsing!!!!!!

  3. Saya setuju sekali bahwa euforia yang akhir – akhir ini muncul adalah media website yang digunakan sebagai media promosi dan satu – satu nya media yang bisa berinteractive secara langsung dengan end usernya.
    Namun penggunaan website sebagai media campaign baru sebatas membahas mekanisme suatu event tertentu e.g. sunsilkbeautycamp.com, jawaraenggatakutjerawat.com atau clearnation.net
    padahal melalui media website banyak hal yang bisa di dapat terutama berkaitan dengan rencana campaign suatu produk selama setahun penuh.

  4. Pitra says:

    Nice to read similar blog like mine..:)

    Saya yakin paling nggak 5 tahun lagi di Indo internet udah bisa dipakai benar2 sbg media campaign yg utama, stlh infratruktur broadband benar2 ada n murah..

    tapi kalo ga salah denger, 90% orang Indo itu punya TV, dan 90% lebih daripada yg punya TV adalah penonton TV aktif. Sementara Indo tersebar banyak pulau, yg akses hiburan utamanya masih TV.. jadi, setidaknya TV masih sangat berperan membangun brand awareness product. Tapi ga tau deh, kalo TV swasta sudah tidak boleh nasional lagi.. apakah data ini masih applicable?

  5. kere kemplu says:

    kodak yang melibatkan ogilvy untuk menjadikan jepretan konsumen sebagai iklan, tapi masih nginduk di situs utama, layak dicontoh.
    http://createyourown.kodak.com/

    terbosan adidas untuk mempodcastkan jeena jameson (duhhhh) juga menarik.
    http://coolhunting.com/archives/2006/03/adicolor_podcas.php

    media baru ini masih dieksplorasi lebih jauh tapi saya nggak tahu apa saja kemungkinan yang terhidang.

  6. niu says:

    TV as the least effective media is not a new story. Remote control helps people to escape from advertisements. Tapi ada juga orang yang remote control-nya digunakan untuk mencari iklan-iklan menarik (bukan hanya pekerja periklanan, perfilman, dan pekerja komunikasi lainnya).

    Biar TV commercial enggak di-skip begitu aja sama audiens, ads people musti kerja lebih keras buat bikin karya yang asyik ;)
    Asyik di mata audiens, bukan cuma asyik di mata pembuat ad dan kliennya.

  7. indieshare says:

    yup… yup… yup…
    udah 2 tahun ini gue gak pernah baca koran… (yah sekali2 sih)
    nonton tv cuman sekedarnya, kalo sebulan dihitung cuma 2 jam perhari.
    berita semua dapet di internet.
    alhamdulillah gak pernah dapet hoax.
    musik taunya dari charts di radio dan internet, karena sambil kerja dengerin radio…
    semua info semuanya ada di internet. hidup gue setiap hari menghabiskan sekitar 14 jam di depan komputer. kalo sabtu minggu minimal 3 jam.
    malahan gue nonton tv sebenernya cuman buat ngeliat iklan, bukan acaranya. maklumlah… tv adalah salah satu media kreatif buat para kreator iklan.

    viva internet…!!!

  8. oomroy says:

    apakah memang seperti itu ? tapi sepenuhnya saya masih memiliki keyakinan tersendiri (baca:naif) kalau medium selain internet tetap mempunyai daya magis tersendiri.. oke lah kalau ternyata televisi telah kehilangan power-nya, tapi seharusnya itu semua kembali lagi ke ad agency yang sebaiknya telah memiliki jawaban2 atas tantangan tersebut..

    bagaimana sebuah iklan yang bagus di mata client dan ternyata juga memiliki daya tarik tersendiri bagi target audience untuk terus mau “dihipnotis” oleh sebuah produk..

    dan saya pikir sekarang adalah saat yang tepat bagi ad agency untuk kembali memikirkan komunikasi yang “pas” dan tidak melulu memikirkan billing.. dan tentu saja sarana yang tepat untuk mengkomunikasikannya..

  9. hmmm.. hati-hati dengan AC Nielsen punya penelitian. Metodologinya gmana? Ingat buku “Berbohong dengan statistik”. Ini cuma contoh saja.
    Komunikasi efektif itu diliat dari mananya? Perbandingan jumlah biaya per kepala? Atau seberapa dalam pemahaman pesan? AAtau apa?

    Jumlah biaya per kepala akan sangat efektif kalau nilainya rendah. Ini jelas kuantitatif. TV bisa menjawab itu.

    Pemahaman pesan? Jelas kualitatif. Apa AC Nielsen pakai kualitatif yg valid? hmm..

  10. Iim-Adhit says:

    oomRoy,
    saya pun masih meyakini bahwa TV, Radio dan Print Ad masih memiliki daya magis tersendiri untuk mempengaruhi konsumen. makanya saya cenderung menyebutnya dengan ‘bukan berarti tumbangnya medium tradisional seperti TV, Print ad dan Radio. Namun, hal ini merupakan indikasi bahwa medium tradisional tak selamanya raja’.

    Anda betul, waktunya adv agency memikirkan medium komunikasi yang tepat. Orientasi biling tak masalah, selama??? ‘ orientasi billing’ disini juga diartikan ‘menaikkan billing klien’

  11. budiyanto says:

    Aduh, ibu..! Tulisannya membuat kami para kerja di bidang media online jadi tambah PD! He..he..
    Hanya masalahnya kan ga semua pengiklan itu berpikiran sama dengan apa yang ibu tulis. Kita tahu bahwa, konsumsi internet di masyarakat masih sangat rendah, dan bahkan mungkin internet masih dikategorikan sebagai ‘barang’ mahal dan ekslusif. Jika sudah seperti ini, berarti karakteristik penikmat media online kan juga sangat kentara. Sebagai contoh, saya tidak pernah melihat ada iklan ‘kacang pilus’ di internet!
    Jadi sejauh mana perubahan habit konsumen seperti yang ibu tulis, kok kayanya masih butuh proses lagi..!?

  12. Iim-Adhit says:

    Pak Budiyanto, kesadaran para pemilik brand terhadap besarnya pengaruh media online sudah semakin membaik. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya brand-brand yang beriklan di medium ini.

    Memang tidak semua brand perlu beriklan di internet, tergantung siapa target audiencenya.

    Perubahan habit yang saya tulis tidak berlaku secara general melainkan pada SES AB (coba baca lagi tulisan saya…).

    Kacang pilus, target utamanya SES AB bukan? =)

  13. Eka says:

    Dear All,

    Ada lagi lho yang mesti dipertimbangkan dan punya efek viral yang cukup besar..itu adalah mobile advertising. Kalo liat dari perilaku pengguna internet di Indonesia gak seganas pengguna handphone. So..mobile juga punya efek yang luar biasa. Kombinasi antara mobile advertising dengan online advertising akan jadi luar biasa impactnya bagi pemasang iklan.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting