Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Tradisional Medium VS Non Traditional Medium?

February 9, 2007
Oleh Iim Fahima Jachja

Sejumlah pertanyaan lewat blog,email,YM mau pun Friendster mampir ke saya setelah saya menulis tentang STOP BIKIN IKLAN! beberapa minggu lalu. Rata-rata pertanyaanya selain protes tentang tema saya, juga berkisar tentang kekuatan dari non traditional media dalam melawan penetrasi media traditional media seperti TV, Radio dan cetak.

Hal mendasar yang perlu digarisbawahi, konten materi yang saya sampaikan sama sekali tidak mengarah pada pertarungan medium traditional dan non traditional sebagai medium komunikasi melainkan ajakan untuk melihat komunikasi dengan helicopter view, cara pandang yang lebih luas.

Mengenai Traditional Media VS Non Traditional Media:
Dalam kondisi yang ideal, untuk mencapai sebuah totalitas campaign diperlukan kerjasama antara traditional media maupun non traditional media. Selain untuk memperlebar dan mempercepat penyebaran pesan, setiap media dengan karakternya yang berbeda akan mampu menterjemahkan pesan dengan cara masing-masing sehingga semakin memperkaya komunikasi.

Contohnya adalah kampanye Unleash Your Self yang dilakukan Toyota Rush. Selain lewat media TV dan Cetak, Rush juga memiliki kampanye online yang secara eksekusi kreatif berbeda jauh dengan iklan di TV dan media cetak.

Di medium TV, tema Unleash Your Self memunculkan gambaran pria yang sedang menerobos kemacetan dengan caranya yang berbeda.

Di medium non traditional (online) tema ini dikembangkan lebih jauh sehingga unsur unleash-nya lebih terasa. Hal ini tentunya sesuai dengan medium internet yang secara general konsumennya lebih liberal cara berpikirnya.

Selain itu, kampanye online ini pun tidak hanya di umumkan lewat internet, tapi link websitenya juga muncul di sejumlah print ad dan bilboard.

Dari kasus ini terlihat bahwa keberadaan masing-masing medium memiliki keunggulan berbeda yang jika digabungkan dengan benar, akan saling memperkuat.

Hal yang tak mungkin dilakukan di medium traditional, bisa dilakukan di medium non traditional. Hal yang sulit dicapai oleh medium non traditional, bisa diperkuat oleh medium traditional.

Itu hanyalah salah satu contoh bagaimana tiap media saling melengkapi.

Memutuskan mengambil jalur medium non traditional bukan berarti anti terhadap penggunaan traditional medium. Begitu juga sebaliknya.

2 Responses to “Tradisional Medium VS Non Traditional Medium?”

  1. Widi Asmoro says:

    I’ve read your article on Adoi. Interesting!

  2. aam says:

    bikin tema lebih seru dong mas biar rame kayak sebelumnya.

    soal media tuh tergantung product and target market to…

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Jauhari: - Terima kasih atas pencerahannya

  • Bagus Abdurrahman Wahid: - Mas Andi, saya punya produk baru clothing (spesialis produksi)....

  • Historee: - Artikel yang bagus buat bahan pengetahun kita2 yg mengelola startup social media....

  • Andi Primaretha: - Iya pengukuran tentang level influence bisa diukur dari Klout atau PeerIndex....

  • Akhlis: - Patokan yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah aku termasuk influencer atau tidak...

  • vina: - Salut deh ilmunya.. Maju terus mas..

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting