Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

SWA: Peluang Baru Koran Digital

September 19, 2008
Oleh Nukman Luthfie

Awal Juli lalu, industri surat kabar nasional memasuki babak baru. Hanya berselang beberapa hari, setidaknya ada lima surat kabar nasional meluncur versi baru korannya, yaitu koran Internet atau disebut pula e-paper.

Sebenarnya, onlinenisasi berita koran sudah terjadi sejak lama, yakni hampir semua surat kabar memiliki website yang di dalamnya juga memuat edisi cetaknya. Namun, selama ini format tampilan yang digunakan di Internet sama sekali berbeda dari edisi cetaknya, yaitu hanya berupa teks dan sesekali disertai foto. E-paper menampilkan layout yang sama persis dengan edisi cetak di depan layer computer.

Yopie Hidayat, Pemimpin Redaksi Harian Kontan, menyebutkan bahwa ide pembuatan e-paper Kontan sudah ada sejak tahun lalu. Kontan sudah mencari – cari vendor yang sesuai tapi sayangnya tidak ada yang berjodoh dengan berbagai alasan. “Tampilannya kurang oke, fiturnya kurang bagus, yah banyak lah,” ujar Yopie. Sampai akhirnya awal Juni 2008, Kontan menyampaikan kepada tim Seriousetec yang ketika itu sedang mengelolah software editorial dan pengarsipan Kontan akan kebutuhan tersebut. “Seriustec ternyata memiliki program yang kami inginkan. Hanya dalam waktu dua hari, format yang di inginkan sudah disediakan,” ungkapnya. Dan 1 Juli 2008, e-paper Kontan meluncur.

Berselang dua hari, saudara tua Kontan, Harian Kompas juga meluncurkan format e-paper – nya yang kemudian diikuti oleh Koran Tempo dan Rebuplika.

Handy Dharmawan, Manajer Teknologi Informatika PT Tempo Inti Media, menerangkan, salah satu latar belakang peluncuran e-paper Koran Tempo adalah cukup tingginya (30%) jumlah pengunjung website Koran Tempo (www.kontantempo.co.id) yang berasal dari luar negeri. Namun, versi online dari Koran Tempo hanya berupa teks. “Padahal kekuatan kami justru terletak pada kekayaan infografisnya,” unjar pria yang akrab disapa Wawan ini.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Wawan mengusulkan format e-paper kepada manejemen Tempo. Gayung pun bersambut. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, e-paper Koran Tempo telah siap meluncur. Untuk menyajikan kontennya, Tempo bekerja sama dengan Pressmart.

Ada beberapa fasilitas tambahan yang diselipkan Tempo di e-paper-nya, seperti fasilitas suara yang bisa membaca isi artikel sayangnya, pengisi suara dalam konten itu dialeknya masih sangat bule, jadi seperti mendengar aktris sinetron Cinta Laura sedang membaca berita. Adapula fasilitas download, cetak, dan kirim e-mail, serta add to my clipping.

Menurut Wawan, kehadiran e-paper Koran Tempo tidak akan mengancam Tempo online. Pasalnya, e-paper hanya terbit setiap harinya (layaknya koran cetaknya), sedangkan online di-update setiap saat.

Pendapat senada diungkapkan CEO Virtual Consulting, Nukman Luthfie. “E-paper tidak bersaing dengan portal berita,” ia berujar. Dia menambahkan, karakteristik e-paper dan portal berita sangat berbeda. Lagi pula, salah satu keunggulan Internet adalah kecepatan, dan itu tidak dimanfaatkan oleh e-paper. “Jika dibandingkan dengan berita di portal, berita koran cenderung basi,” kata Nukman.

Menurut pria yang sehari – harinya berkecimpung di bidang pemasaran online ini e-paper hanya sebuah upaya pengelola media cetak untuk meningkatkan bargaining positionnya di depan pemasang iklan. “Ini sebagai value-added bagi pemasang iklan, karena selain di koran, iklan mereka juga akan muncul di Internet,” tuturnya. Dengan cara ini, lanjut Nukman, diharapkan akan semakin banyak iklan yang bisa dijaring. “Persaingan berebut iklan di media cetak sangat ketat, jadi harus kreatif dan inofatif,” ia menambahkan.

Pemimpin Redaksi Detik.com, Budiono Darsono, juga berpendapat sama. Dia sama sekali tidak khawatir portal yang dikelolahnya bakal tersaingi oleh munculnya e-paper. “E-paper itu kan ancaman untuk koran cetak sendiri,” jawabnya melalui sms.

Sumber SWA di Serioustec yang enggan disebutkan jati dirinya mengatakan bahwa e-paper merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah distribusi. Dia menyebutkan warga Negara Indonesia tersebar di 86 negara. “Bayangkan jika mereka harus dikirimin satu per satu edisi cetaknya.” Singkatnya, dia menyebutkan bahwa dengan menggunakan format e-paper, jumlah pembaca akan meningkat secara signifikan, dan ini sangat membantu dalam memasarkan iklan.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat sebuah e-paper juga tergolong cukup murah. Serioustec, lanjutnya, menggunakan teknologi Softpress dari Realview Technologies , Australia. Adapun harga paketnya dibagi menjadi dua. Softpress Basic dan Softpress Premium. Harian Kontan dan Kompas menggunakan paket premium dengan biaya US$ 600 (sekali bayar), dan US$5 per halaman/edisi. Sementara bagi yang merasa harga itu terlalu mahal, disediakan paket Softpress Basic. “Softpress Basic akan menjadi alternatif menarik bagi entry level,” katanya seraya menyebut bahwa untuk paket basic, loading halamannya sedikit lebih lamban.

Wawan menerangkan, e-paper tak hanya sebatas pelengkap surat kabar edisi cetak, tapi bisa menjadi revenue stream yang baru. Di halaman e-paper bisa dibuat iklan dengan format flash. Selain itu, sangat memungkinkan pula akan ada iklan baris dari Google. “Pembagian keuntungannya dengan pola bagi hasil dengan penyedia software,” ungkapnya. Selain itu, bisa dikeruk pula pendapatan dari biaya berlangganan.” Tetapi, saya tidak tahu akankah dibuat berbayar atau tidak,” kata Wawan.

Yopie menambahkan, saat ini kemungkinan untuk memungut biaya dari e-paper masih sangat kecil. “Untuk Internet saja sudah harus membayar, dan kualitasnya masih lamban.” Kendati demikian, dia menyebutkan peluang itu tetap ada. “Layanan ini akan terus kami kembangkan,” katanya seraya menyebutkan bahwa Kontan hendak membangun server sendiri di kantornya. “Nanti rencananya server akan digabungkan dengan megaportal Kompas Cyber Media.”

Sumber: Majalah SWA no 20/XXIV/18 September-8 Oktober 2008

35 Responses to “SWA: Peluang Baru Koran Digital”

  1. Menurut saya, ke depan e-paper akan semakin berkembang, seiring dengan berkembang infrastruktur jaringan telekomunikasi dan internet yang sudah masuk ke pelosok indonesia. Kedepan koran tradisional (cetak) akan tinggal kenangan alias mati. Dan e-paper tidak hanya akan terbit satu kali sehari, mungkin akan menyaingi portal, e-paper akan terbit 2-3 kali sehari.

    Setyo Budianto
    http://www.setyobudianto.com

  2. Nike says:

    Itu toh di SWA. Katanya di Plurk ndak boleh baca, jadi ya saya ndak baca *nurut mode on* :D

  3. mastono.info says:

    saya setuju dg pendapat mas Nukman, saya pernah coba baca e-papernya kompas. Jadi rasanya cukup baca disana saja tdk perlu langganan Kompas lagi.

    mastono.info
    http://risecareer.com

  4. Taufan says:

    wah makin paperless dunia ini
    semoga hutan bisa tidak gundul semua dengan e paper ini
    amin…

  5. Andhee says:

    Apakah e-paper ini termasuk dalam blue ocean strategy? mengingat pasar ini memiliki potensi bisnis yang baik..

    NL:
    e-paper bisa dibuat oleh koran manapun, sehingga tidak bisa dimasukkan sebagai blue ocean strategy

    Hemat saya, kalau e-paper ini telah berhasil menggantikan koran versi kertasnya bearti sudah tidak perlu dibedakan lagi antara e-paper dengan news portal. Apa gimana yah?

    NL:
    Tidak akan bisa menggantikan. Sekadar melengkapi

  6. e-paper tuh rasanya jalan buntu, susah untuk cari article. Bener omongan Detik.com, ga usah bingung, kosen aja di portal berita.

  7. @Ivan
    Kalau e-papernya lebih mirip seperti screenshot, memang benar, ya maaf, rada useless sepertinya :D . Sekali dua kali mungkin masih seneng, tapi habis itu pasti udah cape ngebrowse gambar tanpa diberi kesempatan mencari.

    I think somebody has really missed the opportunity to be great.

    BTW, soal e-paper yang mengancam keberadaan versi cetak, saya kira hal tersebut tidak akan terjadi di Indonesia yang koneksinya masih anjrut-anjrutan :p. Afterall, banyk dari kita yang menyukai kecepatan navigasi membaca koran versi cetak. Flip, flip, flip, done. Tapi kalau disurvei dengan sample pemilik koneksi ramah gambar namun supersibuk, tentu saja lebih enak membaca e-paper. Tidak perlu mencari dan membawa-bawa koran cetak. Tak perlu khawatir lupa beli koran.

    NL:
    e-paper memang tidak akan menyaingi koran. Lebih tepatnya: melengkapi. Khususnya buat pemasang iklan

  8. amar alpabet says:

    e paper memang susah di akses untuk sekarang dengan modal kecepatan 32- 64 kbps jangan harap nyaman mengakses nya.
    tapi saya yakin dunia internet segera sampai pada kecepatan e-paper friendly. endak akan lama paling 1-2 th kedepan semua bisa lancar.

  9. Ceria says:

    e-paper nampaknya memang difungsikan sbg produk substitusi untuk yang sukar mendapat versi cetak (dan ingin tahu versi cetak). Segmen sudah jelas, tinggal liat aja mereka puas atau tidak. Saya kira itu sekedar tren sesaat. Informasi yang relatif sama disajikan lebih simple & nyaman dgn portal berita.

  10. Danang says:

    Trend digital, sudah merasuk ke media cetak. Memang, akses ke e-paper seperti yang telah disebutkan oleh Pak Nukman, memiliki prospek. Karena tampil beda. Banyak software, untuk membuat e-paper. Salah satu contoh, dengan Desktop Author, atau joomla dengan component 3d flip. So, e-paper why not?

  11. Adams says:

    haha Paperless dan saya berharap semua penduduk indonesia bisa mulai menikmati era digital ini

  12. lho, saya udah punya e-book khusus gaming PC sejak januari 2008 lalu malah. Ah ide saya di curi nih.

    http://majalahgamebuzz.com/gamebuzz-download/

  13. e-paper sudah berkembang menjadi kebutuhan yang utama bagi sebagian kalangan yang kesehariaannya berhadapan dengan internet. Akan tetapi jumlah kalangan ini hanya sebagian kecil saja (tidak pakai persentase – karena takut salah, belum riset sih!!) yang menggunakan fasilitas ini dan tidak membeli dan atau berlangganan koran atau majalah secara fisik.
    Memang komentar saya ini berlatar pekerjaan saya sebagai marketer perusahaan kertas. Namun patut dicermati dari nilai stratejiknya bahwa sudah ada perkembangan penggunaan kertas secara tepat guna.
    Tapi saya berpendapat bahwa bagaimanapun canggihnya teknologi, peranan kertas sebagai media utama penyambung ilmu pengetahuan secara universal, tidak bisa tergantikan secara mudah.

    hahah…agak jualan nih…

  14. ndoro kakung says:

    fyi, epaper koran tempo sudah online sebelum 1 juli 2008. aku bahkan sudah menulis tentang epaper koran tempo pada 23 juni 2008 di sini.

  15. iqranegara says:

    Seharusnya ada pembeda antara berita versi digital (portal) dengan versi tradisionalnya (cetak). Versi digital cenderung pemaparan singkat dan analisis dangkal. Sebaliknya, versi cetak dengan pemaparan lebar dan analisis mendalam. Di sini peran redaksi/editor sangat menetukan. Karena analisis mendalam tidak bisa dibuat dalam hitungan ‘detik’ :D
    Tanpa pembedaan itu, yang ada hanya kanibalisme pasar cetak oleh versi digital.

    NL:
    Ya memang itulah yang selama ini dilakukan oleh media cetak. Mereka membedakan yang portal dan tradisional. Tampaknya mas Igra missed the point

  16. Salam …

    Barusan tadi baru baca artikelnya di majalah SWA trus saya bilang sama istri saya nih pak Nukman salah satu seniornya TDA … sukses selalu untuk pak Nukman

    Wassalam.

    NL:
    Terima kasih mas. Sukses juga untuk mas Idris…..

  17. Vandy says:

    Memurutku e-paper itu sangat keren dan membantu orang2 yang gak bisa beli koran untuk mendapatkan informasi..

  18. Basuki_Hardjo says:

    Memang e-paper akan disambut baik oleh mereka yang melek-internet yang jumlahnya minoritas.Yang pasti masih sangat lama meluas pada orang banyak.Jadi saat dekat iki nggak bakalan menjadi pesaing koran cetak.Makanya Kontan,Kompas,Tempo,Bisnis Indonesia ya enteng aja bikin e-paper.

  19. Hmm., kayaknya koran versi cetak tetep akan berjaya, abis gimana ya, ga enak kalo nongkrong di WC ga bawa koran. Mo bawa laptop takut kecemplung! Ya seenggaknya sampe 20th kedepan lah, saat masyarakat udah terbiasa baca koran lewat layar monitor dan membalik halamannya dengan cara di Klik. Syukur kalo ada laptop super tipis anti air.. wua.. semakin nyaman bermeditasi di WC.. hihi.
    Bagaimanapun, koran cetak memiliki keasyikan tersendiri bagi pembacanya yang tidak (belum?) tergantikan media lainnya.

  20. Eka K. says:

    Bisnis media sebagai pioneer ke arah paperless tentu selain lebih efisien, praktis dan dapat diakses dari berbagai tempat, telah diikuti juga oleh rumah sakit sebagai bagian dari bisnis jasa. File pasien dengan passwordnya sudah bisa dipelajari dari mana saja, tentu untuk kepentingan medis…
    Nampaknya dunia makin sempit saja..!

  21. Minal Aidzin Wal Faidzin…

  22. samudra says:

    sebagai pengurang biaya langganan koran dong…. asyik bisa buat tambah langganan internet …..

  23. M JHON says:

    yang jelas dengan adanya e-paper membuat kita lebih cepat mendapatkan berita yang akurat, walau kita berada di tengah hutan belantara sekalipun. kedepan orang akan mencari yang; cepat, tepat, murah, akurat dan multi fungsi.

  24. DS Rachmat says:

    Yang saya heran, kenapa SWA tidak menampilkan seluruh edisi majalahnya di e-papernya. Bukankah kita hidup di jaman paperless.

    Kenapa SWA tidak mencontoh Detik yang bisa hidup dari portalnya.

  25. hendro says:

    pak..mau ralat sedikit.itu websitenya bukan http://www.korantempo.co.id
    tapi http://www.korantempo.com

    thx

  26. Diar says:

    Saya juga punya e-majalah (PDF) gratis berbahasa Inggris di blog saya (tapi kayaknya bukan signal bahwa saya bisa bersaing sama koran-koran digital, hehe… — eh, tapi who knows? ;) )

  27. andri says:

    Ya, suatu terobosan yang ditunggu-tunggu.

  28. mazadjie says:

    Sangat menarik, tiap detik kejutan baru saya yakin akan muncul. Berakhirnya era koran bukan karena kehabisan hutan ato kelangkaan kertas, tapi karena pola/gaya hidup yang berubah di generasi yang akan datang, mari berinovasi dan siap berubah dan menerima perubahan ini, sukses selalu…

  29. mohamad sobari says:

    ya sekarang jaman maju ya para pembaca yang ingin tambah maju bukan mundur lagi pakai cetak,sekarang para pembaca ingin di sajikan yang serba instan ? kaya makan pizza aja mau nya gitu sih dapat informasi ini tantangan bagi pengusaha koran / media cetak/ harus ikuti perkembangan zaman nich he he he …

  30. gia josie says:

    e-paper sebenarnya sudah beredar lama sekali sekitar tahun 2005, peluang untuk bisnis e-paper itu masih ada, mungkin strategy-nya yang berbeda dengan yang sudah beredar sekarang ini. Saya pernah men-develop engine dari e-paper pada tahun 2005, (almost 1 year to develop), e-paper ini bukan untuk ditampilkan di website melainkan ter-integrasi dengan OS (win/mac) dan menjadi sebuah Desktop Application atau RIAs(Rich Media Application). Konsep Dekstop Application ini yang pernah saya buat sudah memiliki fitur Notification, Flip 3D, News Ticker, Video, Games, etc. (more information see at http://www.newsenses.biz).

    Yang menjadi kendala yang saat ini adalah Bandwidth di Indonesia masih tergolong rendah, jadi akses untuk dial up masih memerlukan waktu, karena Desktop Application ini menerima datanya direct langsung dari database. Dan selain itu mungkin masih tergolong baru dengan teknology ini (Desktop Application/RIAs).

    So, masih ada peluang bisnis untuk e-paper tetapi dalam konteks strategy-nya saja yang berbeda. :)

  31. peluang hade says:

    artikel yang menarik…

  32. Rifai says:

    saya dukung revolusi e-paper di Indonesia.

    btw, apakah format/fitur e-paper2x itu bisa ke-googling ?
    karena pada dasarnya e-paper yang saya lihat berformat .jpg

  33. gia josie says:

    @Rifai, format dari e-paper tidak dapat di google dikarenakan format yang ada di e-paper kompas menggunakan javascript dan memang setiap halaman pada e-paper Kompas berformat .jpg tetapi “terkunci” dengan coding.

  34. dendi says:

    Koran digital menurut saya sudah menjadi keharusan di era serba digital saat ini. Saya setuju jika di negara kita akan sangat dibatasi oleh infrastruktur yang belum mendukung ditambah budaya masyarakat yang masih minim dengan yang namanya teknologi. Saya lebih melihat kepada life style atau gaya hidup masyarkat saat ini sudah bersandar pada gadget walauapun masih sekedar mencari hiburan. Melihat trend ini minimal adalah meningkatnya brand image yang bisa meningkatkan penjualan iklan. Peluang periklanan masih sangat cerah dan terbuka lebar.

  35. Rina As says:

    Sekarang ini Indonesia sudah mulai melek teknilogi internet jadi mereka2 yang bergelut dalam usaha bisnis juga harus mengikuti tren di dunia internet.. agar kita semakin terdepan..
    Majulah Indonesiaku !!

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting