Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Saling Balas Pantun Statistik Detik.com dan Kompas.com

July 10, 2008
Oleh Nukman Luthfie

Kalau jeli, kita sedang menyaksikan balas pantun antara Detik.com dan Kompas.com di Koran Kompas. Untuk ronde satu, mereka balas pantun soal statistik, siapa paling besar diantara mereka. Sehari setelah saya menulis bahwa jika mengacu pada Alexa.com, pageview Kompas.com berhasil mengalahkan Detik.com untuk pertama kalinya, mereka memasang iklan hampir setengah halaman, memanjang dari atas ke bawah, tentang kemenangan pertamanya. Nah, kemarin, memperingati ulang tahun yang ke 10, Detik.com memasang iklan terima kasih setengah halaman di koran Kompas. Iklan itu ditujukan kepada pemasang iklan dan pembacanya — yang mengutip Comscore telah mencapai 8,6 juta orang. Sebuah angka yang jauh melampaui dugaan saya yang sekitar enam juta orang.

Ini memang balas pantun yang cantik.

Karena baru pertama kali mengalahkan Detik.com — setelah bertahun-tahun tak mampu menyentuhnya — Kompas.com versi baru memang layak merayakannya. Ia juga berhak memproklamirkannya di mana-mana, baik melalui iklan maupun kegiatan lain. Meski itu sesungguhnya itu baru kemenangan pageviews — salah satu acuan key performance indikator keberhasilan sebuah portal. Belum kemenangan yang sesungguhnya, karena kalau mau mengaku mengalahkan Detik.com secara keseluruhan dari sisi statistik, maka pembaca Kompas.com harus lebih banyak dari Detik.com.

Saya yakin, Kompas.com sangat paham bahwa jumlah pembaca Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detik.com. Mengalahkan Detik.com dari sisi ini butuh kerja ekstra keras, biaya yang tidak sedikit dan waktu mungkin cukup lama.

Saya juga yakin, Detik.com amat paham bahwa klaim kemenangan sementara Kompas.com dalam hal pageviews amat mudah dipatahkan oleh Detik.com dengan dua cara.

Pertama, mendidik pasar — terutama pemasang iklan — untuk mengetahui bahwa cara mengukur keberhasilan portal bukan hanya pageviews, tapi yang jauh lebih penting adalah jumlah pembacanya.

Kedua, menyajikan data-data statistik dari lembaga yang lebih kompeten dan kredibel.

Comscore yang dipakai Detik.com jelas lebih kredibel dibanding Alexa.com

Alexa menghitung statistik (pageviews dan jumlah pengunjung) dari user langsung. Yakni para pengguna Internet yang memasang toolbar Alexa di browsernya atau terpasangi cookies Alexa. Padahal kita tidak pernah tahu berapa banyak “pengguna Alexa” yang datang ke sebuah portal. Itu sebabnya, Alexa sudah memberi peringatan kepada mereka yang menggunakan datanya, bahwa Alexa punya kelemahan di sini. Itu sebabnya pula Alexa tidak memberikan angka eksak. Alexa hanya mengatakan situs A lebih banyak dilihat dan dikunjungi dibanding situs B dan seterusnya.

Itu sebabnya, jika kita menggunakan Alexa sebagai dasar perhitungan, analisa kita bisa meleset jauh. Kenapa? Karena dugaan saya amat sedikit pengguna Internet di Indonesia yang memasang toolbar atau terpasangi cookies Alexa. Hanya mereka yang addict dengan Internet — yakni para internet marketer, programmer, web admin, pebisnis dotcom, pembeli buku di Amazon.com, dan sejenisnya — yang kemungkinan besar terpasangi Alexa.

Ibaratnya di dunia nyata seperti ini: Jika pengunjung mall A yang menggunakan celana jeans lebih banyak dibanding mall A, bukan berarti total pengunjung mall A otomatis lebih banyak dibanding mall B.

Alexa, singkat kata, mengukur performance sebuah situs dari sisi user yang menggunakan toolbar atau cookies Alexa. Itu sebabnya data-data Alexa bisa kita dapatkan gratis.

Comscore? Sebaliknya. Lembaga riset ini mengukur performance situs dari server-server para Internet Service Provider yang menjadi pintu gerbang masuknya user ke berbagai situs. Tidak peduli user menggunakan browser apapun, toolbar apapun, semua aktivitasnya tercatat di server. Data itulah yang diakumulasi dan disajikan sebagai performance sebuah situs.

Tentu data seperti ini menggambarkan lebih tepat performance sebuah situs.

Kelemahannya: tidak murah berlangganan Comscore. Hanya portal-portal besar yang mau merogoh ribuan USD untuk berlangganan statistiknya.

Jadi, untuk ronde pertama, 1-0 untuk Detik.com vs. Kompas.com.

Detik.com jangan buru-buru senang. Masih banyak ronde yang harus dijalani. Kompas.com bagaimanapun juga sekarang bukan anak bawang di dunia online. Saya masih punya keyakinan mereka bisa mencuri nilai dari jurus-jurus lain dan bisa meng-KO Detik.com. Belum lagi lawan tangguh lain sudah siap antri naik panggung.

NB:

Bagi yang kurang familiar dengan istilah statistik, baca tulisan saya Cara Tukul Menjelaskan Statistik Web.

29 Responses to “Saling Balas Pantun Statistik Detik.com dan Kompas.com”

  1. udhien says:

    Saya pribadi cukup senang dengan makin berkembangnya (ke arah positif) media online di Indonesia saat ini. Mereka berlomba-lomba memperbaiki design, content, programming dan server performance-nya.

    Seperti yang kita lihat sebelumnya di era 1998 – 2002 bisnis dotcom berkembang pesat, portal bertaburan dimana-mana, namun akhirnya runtuh semua.

    Kebangkitan media online saya rasa dibarengi dengan pertumbuhan blogging di Indonesia. Seperti yang kita lihat juga semakin hari semakin banyak orang yang menggandrungi aktifitas blogging ini, mereka semakin care dengan blog/media-nya sendiri, dan mereka juga memperhatikan media-media lainnya.

    Semoga hal ini bisa bertahan lama dan mengalami kemajuan lebih berarti.

  2. Erna says:

    Karena ini diandaikan tinju, maka pertarungan detik vs Kompas adalah pertandingan yang seru, menegangkan dan amat sangat layak disimak. Selain asyik ditonton, juga bisa jadi sarana pembelajaran buat “pemula”.

    Btw, mas Nukman, kayaknya kita perlu kasih “jatah” berapa ronde pertarungan ini akan atau harus berlangsung — yang jelas, untuk ronde “jumlah pembaca” detik sdh menang angka. Atau, mas Nukman punya ramalan siapa bakal KO di ronde berapa?

    NL:
    Masih sulit meprediksi sekarang. Sepertinya pertarungan memakan waktu beronde-ronde dan makin rumit karena melibatkan petinju lain. Yang jelas, petinju bernama Detikcom itu saat ini sang juara bertahan, yang sudah biasa bertarung keras dan berdarah-darah di awal kebangkitan dotcomer tahun 2.000an tapi kurang banyak latihan karena bertahun-tahun tak punya lawan tanding. Sebaliknya, Kompas.com yang selama ini menonton di pinggir arena kini masuk dan berniat meng-KO sang juara. Meski belum pernah bertarung serius, asupan gizi Kompas.com versi baru ini luar biasa, ndak kalah dengan Detik.com.

  3. kw says:

    kenapa ya selalu memakai analogi “bermusuhan”?

    NL:
    Kan memang mereka “bermusuhan”. Indikasinya jelas: saling klaim siapa yang paling besar — baik secara tersirat maupun tersurat.

  4. Happy Hanantoputro says:

    Tulisan yang menarik, taktis dan berimbang. Jika klaim detikcom atas pengakses/pembacanya di angka 8 jutaan, berapa ya klaim kompas.com? Lalu dari jumlah total pengakses keduanya, berapa juta ya yang membaca/mengakses detikcom sekaligus kompas.com?

    NL:
    Memang ada overlaping pembaca antara Detik.com dengan Kompas.com. Nanti saya bahas pada postingan lain

  5. [...] Alexa Membuat Detik.Com Dan Kompas.Com Berbalas Pantun Posted on July 10, 2008 by Tukang Ketik Nukman Luthfie menulis tentang berbalas pantun mengenai tingkat trafik antara detik.com dan kompas.com. Sebenarnya, bukan soal tingkat trafik yang dipersoalkan, tapi soal Alexa yang dipakai kedua portal terbesar itu. Nah, mengenai apa dan kenapa alexa tidak bisa jadi acuan, silahkan baca selengkapnya di sini. [...]

  6. rendy says:

    yoi… detik lebih banyak pembacanya…

  7. iip says:

    Kalau detik.com tidak segera membuat terobosan, pasti deh akan dilibas oleh kompas.com. Sudah nampak kalau tampilan detik.com langsung jadi ‘ndeso’ ketika disanding dengan kompas.com.

  8. Ben says:

    mau detikcom lebih banyak pembacanya atau tidak, tetap aja Kompas cetak dapat duit dari detikcom utk pemasangan iklan :)

  9. vlisa says:

    Pertarungan baru saja dimulai. Dan, sejauh ini masih di koridor yang “cantik” untuk diamati dan benar-benar pertarungan yang bebas, tanpa rekayasa. Dengan tampilan baru detik, STP mereka masing-masing sudah terlihat berbeda, setidaknya ini impresiku ketika membaca keduanya.
    Di luar data-data statistik, ada data-data kualitatif yang menjadi faktor penentu khususnya dalam meraih iklan. Btw, kita masih nunggu juga portal-portal yang dibikin oleh kekuatan modal besar lainnya.

  10. Angka 8,6 juta itu visitors per bulan atau per hari? Apakah visitors atau unique?

  11. KPR says:

    kalau pakai sitemeter (http://sitemeter.com) pengukurannya, bisa dipercaya gak ya?

  12. cah solo says:

    Wah……
    Ruar biasa detik.com, ultah yang manis, dengan tampilan baru, fitur baru, dan tentunya lebih matang aja.
    selamat buat detik,

  13. Anak Nakal says:

    Pa Nukman, bukannya pageviews itu berbanding lurus dengan jumlah page yang dibaca/dilihat (pembaca) ? Kalo Pa Nukman mengatakan begini “Pertama, mendidik pasar — terutama pemasang iklan — untuk mengetahui bahwa cara mengukur keberhasilan portal bukan hanya pageviews, tapi yang jauh lebih penting adalah jumlah pembacanya.” kemudian bagaimana Pa Nukman menjelaskan bedanya pageviews sama jumlah pembaca?

  14. IMFreakz says:

    Kalo Detik udah masang iklannya di kompas gede2, tinggal nunggu kompas masang iklan di detik full page di homepage. Itu baru seru :D

  15. Buat pemasang iklan, dengan segala hormat buat detik dan kompas, pageview sering tak obahnya sebuah fatamorgana, masih banyak yang perlu diketahui berapa unik visitor dan visitor regular. Blum lagi mapping visitornya baik secara geografi dan jenisnya (news reader, c2c onliner, b2c onliner or b2b), pemasang iklan yang businesnya b2s (di rattan or textile) tentu mesti perlu dipikir ulang 10 x kalo mau masang ads di kedua media tersebut. Bahkan lebih tololnya lagi kalo target pasarnya luar negeri (macam website visit indonesia), kok pasang iklan di detik. Lha semua kan tahu kalo visitor detik itu orang dewek, bukan orang asing seperti target yang semestinya dari website visit indonesia,
    kecuali kalo cuma mau habisin anggaran dan lomba boros sih ok.

    Pak Nukman coba dong educated juga soal ini.

    NL:
    Great comment mas Taryono. Hal ini nanti akan saya bahas di seminar Sharpening Your Online Strategy tanggal 23 Juli nanti.

  16. Okto Silaban says:

    @Anak Nakal : Pageviews itu banyaknya halaman yang dibuka. Walaupun di detik lebih banyak pengunjungnya, tapi tiap pengunjung itu membuka lebih sedikit halaman. Sementara di Kompas.com, walaupun pengunjungnya lebih sedikit, tetapi mereka banyak mengunjungi halaman – halaman lain di dalam Kompas. Yang bisa berarti, mereka senang dengan halaman – halaman yang ada di Kompas.

    Btw, kalau pengunjung sudah banyak membuka halaman suatu web dalam satu kali kunjungan, bukankah itu berarti calon loyal visitor? Wah.. salut deh buat Kompas.

    Oh iya, ketika Detikcom sadar, dan meninggalkan penempatan iklan model atas bawah dalam frame, mengapa Kompas justru mempraktekkannya?

    Satu lagi, saya masih kurang sreg dengan anak2 nya Kompas.com. Coba saja bandingkan Kompas Tekno dengan DetikInet.. Jauh sekali..

    NL:
    Mengapa pageviews Kompas.com bisa mengalahkan Detikcom bisa dilihat di postingan saya SEBELUMNYA. Datanya masih harus diperdebatkan. Tanpa memahami itu, kita bisa salah menyimpulkan fenomena ini

  17. @AnakNakal:

    Pageviews memang berbanding lurus dengan jumlah pengunjung. Pada umumnya, sekali datang ke sebuah portal, pengunjung membaca 3-5 halaman.

    Beberapa waktu lalu ada perusahaan yang memasang iklan di sebuah portal yang pageviews-nya amat tinggi (bukan Kompas.com). Kebetulan, di portal ini, sekali visit, satu pengunjung rata-rata membuka lebih dari 10 halaman web.

    Sang pemasang iklan berpendapat, tingginya perbandingan antara pageviews dengan jumlah pembaca itu menunjukkan keberhasilan portal tersebut menyengangkan user — persis yang disitir Okto di #16 di atas.

    Namum, ketika menghitung RoI (return on investment) iklannya, sang pemasang iklan kecewa karena sedikit sekali yang mengklik iklannya di portal tersebut dibanding portal lain yang perbandingan antara pageviews dengan visitornya lebih rendah.

    Dari contoh kasus inilah saya mengatakan seperti di atas: pageviews itu penting karena menunjukkan BERAPA SERING iklan kita dilihat. Namun jumlah pengunjung tidak kalah pentingnya karena menunjukkan BERAPA BANYAK PENGUNJUNG yang melihat iklan kita.

  18. Mulky says:

    Saya tinggal di salah satu negara Eropa Barat. Suatu ketika saya ada agenda kegiatan di Oslo University. Yang mengejutkan, Director of the Indonesia Programme, NCHR, Knut D. Asplund mengatakan bahwa untuk memonitor Indonesia mereka menggunakan 3 referensi utama: 1. Detikcom, 2. Jakarta Post, 3. Kompas. Saya tanya mengapa Detikcom sebagai referensi paling utama? Jawab Mr. Asplund, karena updatenya 24 jam dan infonya beragam. Pro Mas Nukman, inilah barangkali yang bisa menjelaskan mengapa REACH detikcom begitu tinggi grafiknya (luas range-nya worldwide), karena mungkin banyak Indonesia Programmes plus WNI/ekspatriat kita dan warga negara setempat yang mengakses di luarnegeri. Jangan lupa banyak orang asing yang menguasai bahasa Indonesia dan meminati masalah-masalah keindonesiaan.

  19. ginanjar says:

    Detik.com tidak akan bisa dikalahkan, kecuali… detik.com berhenti meng-update berita2nya. Karena selama detik.com masih terus mengupdate atau menambah berita/artikel maka selama itu juga google akan membantu mengalirkan traffic ke detik.com.

  20. Hari ini Kompas.com pasang iklan besar-besaran di Kompas: sampai tiga halaman!. Isinya, antara lain. klaim mengenai pageviews tertinggi serta cita-cita menjadi portal berita nomor satu, bukan hanya di Indonesia tapi di Asia Tenggara.

    Siapakah portal berita terbesar di Asia Tenggara saat ini? Ada yang tahu?
    Kalau memang ada, berarti melampaui Detik.com hanyalah langkah awal Kompas.com.

  21. iip says:

    Eh, dah liat republika.co.id?
    ternyata tampilannya sedang berubah juga. mirip kayak kompas.
    ayo kejar-kejaran

  22. Boncel says:

    maklum yang punya blog ini kan mantan direktur IT detik.com

  23. cah solo says:

    secara pribadi kalau belum baca detik tuh kayak masih ada aja yang kurang.

  24. johnherf says:

    Perkembangan yang baik kalau media memiliki pesaing. Media tanpa pesaing sering tidur panjang. Jadi, malas. Enggan berekplorasi, jauh dari kesan inovatif.

    Persaingan yang menjadi contoh jika pesaing masing-masing berusaha dengan cara elegan. Jauh dari kesan mentalitas menerabas. Jalan pintas. Asal dapat vitamin D (duit) cepat lalu menghindari tanggung jawab. Nah, begitulah letak portal yang lagi bersaing demi pembaca, pengeklik, dan pemerhati. Tujuan akhir dari persaingan biar semakin banyak yang bisa ditampung di media online. Pengangguran jadinya semakin menipis dikikis habis. Mantaplah itu!

  25. pandu says:

    Di Indonesia, selain portal berita Kompas dan Detik yang memang merajai pasar saat ini, ada satu buah website lokal yang sebenarnya dari sisi trafic sangat jauh meninggalkan keduanya dan mereka tengah berbenah. Tunggu kabar selanjutnya tanggal 17 Agustus nanti :)

  26. [...] pandu: Di Indonesia, selain portal berita Kompas dan Detik yang memang merajai pasar saat ini, ada satu buah website… [...]

  27. [...] 10, 2008 · No Comments Benarkah kesuksesan kompas.com mengalahkan detik.com dalam hal pageview bisa berlanjut dengan kesuksesan kompas.com mengalahkan detik.com secara [...]

  28. [...] ditandai dengan mulai semaraknya kembali bisnis dotcom. Lihat portal berita Detikcom yang mulai disaingi oleh Kompas, dan juga oleh grup MNC melalui Okezone, kemudian sangat banyaknya pegiat yang [...]

  29. Fickry says:

    :)

    merasa bangga jadi bagian dari detik.. :)

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Sita: - Hallo mas Andi, mas Andi punya referensi jurnal tentang gamification? Kalo ada tolong di...

  • surdat: - mas andi, info lebih mendalam lagi dong ttg ketiga tahapan ini. kalau dikaitkan dengan...

  • wayan: - Makasih Mas Andi, informasinya memberi pencerahan banget bagi saya. Saya tunggu...

  • Joko Susilo: - Hmm.. saya pikir ada benarnya juga. Nice share ya :)

  • Santi: - ::Social TV:: di era sosial-media sekarang, hampir semua orang bisa memiliki...

  • MdarulM: - Owh jadi begitu…akhirny a baru bisa mantuk-mantuk memahaminya *Nice Artikel*

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting