“Jadi kapan kita bisa start online campaign-nya, bu Iim?” tanya seorang brand manager sebuah perusahaan terkemuka setelah selesai memamparkan problem brandnya.
“Soon setelah saya mendapatkan finding researchnya, saya akan come up dengan rekomendasi” jawab saya.
” Waduuuh bu, kelamaan. Bisa ngga kita skip saja bagian risetnya?” protes mas manager
” kalo di skip, lalu kita me-measure keberhasilan atau kegagalan campaign-nya based on apa?” tanya saya balik.
Mas manager : “…”
*****
Memetakan permasalahan secara jelas dan menggali consumer insight terkait current problem maupun future opportunity adalah dua hal wajib yang mendasari strategy komunikasi kita, apa pun medianya. Tanpa dua hal tadi, jangan harap kita akan memiliki strategy komunikasi yang tajam.
Tuntutan untuk mendapatkan peta permasalahan dan insight konsumen secara jelas, semakin tinggi ketika sebuah brand masuk ke area komunikasi online. Hal ini disebabkan online adalah medium yang terukur, gagal suksesnya bisa langsung diketahui.
Salah satu contoh, seorang brand manager menyebut produknya kurang laku karena rendahnya brand awareness. Kata manager, kesimpulan itu muncul karena berdasarkan riset terhadap brand awareness, produknya kalah jauh dibanding kompetitor.
Sebagai brand manager atau pun konsultan komunikasi, menurut saya kita harus kritis terhadap data. Kita wajib menggali lebih lanjut apa yang membuat awareness rendah. Kurang campaign kah, salah konten campaign kah, salah positioning kah, atau malah jangan -jangan pembanding dalam riset kita tidak setara (brand untuk B2B harus bersaing awareness dengan B2C, dan ini sering terjadi!)
Dari sinilah kemudian kita bisa menentukan apa next step yang harus kita lakukan.
Dalam bahasa sederhana: Kita harus tahu posisi kita sekarang dimana untuk bisa menentukan posisi kita selanjutnya. Jika posisi sekarang seperti apa saja kita tidak tahu, bagaimana mungkin kita bisa menentukan next step musti ngapain?
Untuk itulah kita memerlukan riset.
Namun sayangnya, masih banyak yang menganggap riset sebagai cost. Padahal, riset adalah investasi. Alih- alih ingin berhemat dengan men-skip tahap riset, yang terjadi malah pemborosan luar biasa karena marketing dan komunikasinya salah sasaran karena dilakukan tanpa pemetaan permasalahan yang jelas.
Sip mba Iim, edukasi terus =)
Topik ini menarik tapi cara penyampaian daripada penulis bisa manyalahartikan kata “partner”. Setiap kasus kan beda-beda. Ada bbrp perusahaan yang buta riset tapi tidak semua klien bodoh dan harus digurui,karena ada yang sudah mengumpulkan data sejak lama.
pernah dengar ada pepatah:
“tinggi hati mendahului kehancuran”?
Sharing menarik, mba iim.
Kontras: Dibagian mana saya menganggap klien bodoh ya? tulisan ini dibuat untuk mengingatkan pentingnya riset untuk semua brand agar tidak kehilangan budget sia sia. Di postingan pun saya menyebut : Brand manager dan konsultan komunikasi, berarti artinya dua pihak harus kritis.
iya. kadang suka terjadi yang kayak gitu, mbak iim / mas adhit. ujung2nya kreatif dapat brief yang kurang solid. duh, beratnya kerja kayak begitu.
ada tips2 lainnya supaya sebuah perusahaan mau ngelakuin riset mendalam untuk permasalahan marketingnya?
jangan sampe salah kaprah deh… gara2 mao hemat budget malah… bingung di belakang
Terima Kasih Mbak Iim dan Mas Adhit atas semua sharing ilmu dan pengalamannya selama ini…
Namun sayangnya, masih banyak yang menganggap riset sebagai cost. Padahal, riset adalah investasi. Alih- alih ingin berhemat dengan men-skip tahap riset, yang terjadi malah pemborosan luar biasa karena marketing dan komunikasinya salah sasaran karena dilakukan tanpa pemetaan permasalahan yang jelas. , ini closing yang sangat menarik buat saya, karena semakin “meneguhkan iman” bahwa tidak ada yang disebut sebagai cost, bila komunikasi pemasaran (atau apapun yang kita lakukan) akan memberikan manfaat yang sangat besar baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Please keep on sharing ya Mbak Iim dan Mas Adit… soal pro-kontra itu kan biasa… bukankah hidup kita jadi semakin lengkap dan indah bila masing-masing orang melihat dari sudut pandang yang berbeda?…
Itulah inti dari riset mba Iim. Makasih banyak ya mba, tulisannya menginspirasikan banyak ke saya bagaimana menyiasati berada di industri kreatif ini. Mohon doanya terus mba, terima kasih.
Ikhwan Aryandi
sure,..
riset adalah awal dari sesuatu,. how can kita bisa tahu dimana posisi kita, dimana posisi kompetitor, kondisi alam luar,.. jangankan Pemasaran produk,.. untuk melakukan sebuah perjalanan/travelingpun biasanya seseorangakan mengadakan “riset’ kecil2an mengenai kota tujuanna,.. hidup riset…!!!!
Yah sekarang itu trendnya selain daripada customer driven juga data driven, tanpa adanya data dari research, kita kurang bisa meng-capture market yang ada saat ini.
sebelum melakukan apapun biasanya riset dulu, kalau untuk produk saya seh biasanya tes market dulu, diliat pasar qira2 cocok gak dengan produk yang qt punya, walau agak berdarah2 dikit tapi selanjutnya Insya Allah akan ada jalan.
trima kasih ya mbak dah share disini, bermanfaat bgt buat kami.salam sukses
Ada beberapa kawan yang berpendapat bahwa riset hanyalah mampu untuk meng-”capture” insight konsumen pada masa lalu, sehingga mereka berpendapat bahwa data dan informasi yang diperoleh dari riset belum tentu dapat digunakan untuk meramalkan masa depan.
Saya sendiri setengah setuju dengan pendapat tersebut. Menurut saya (mohon dikoreksi jika saya salah), data & informasi yang diperoleh melalui riset dapat digunakan dalam kurun waktu tertentu, selama belum terjadi perubahan drastis terhadap prefensi konsumen terhadap produk dan jasa tertentu.
Mbak Iim Fahima yang baik,mohon pencerahan mengenai riset seperti apa yang mungkin bisa dilakukan untuk meng-”capture” insight dari konsumen agar online campaign yang kita buat bisa benar-benar efektif ? Terima kasih mbak…
Mbak lim Fahima yang baik,
Saya sangat setuju dengan pendapat Anda. terkadang kita merasa mampu melakukan campaign tanpa melihat siapa sasaran campaign kita sebenarnya.
Jangankan positioning, asalkan ada program yang bisa dikerjakan mari kita kerjakan bersama-sama. begitu macet dan tak bisa diukur indikator keberhasilannya, lantas kita mau ngapain?
Begitu banyak program campaign kita yang salah sasaran. Tidak usah lihat jauh-jauh, contoh bus way : utk siapa bus way itu sihh> bagus sihh bagus tapi kalau harganya Rp. 2.500,- kasihan metro mini dan kopaja – karena penumpangnya lari semua naik bus way… lantas gimana dong… ha,ha,ha ,,,, itu karena risetnya kurang bagus hingga segmentasinya menjadi kacau…
terima kasih,
saya setuju sekali …. apalagi kalo riset sebagai investasi, cuman seharusnya dengan research creative yang reliable dan costable, research doesn’t expensive kok…