Entah mengapa saya tertarik mengupas hal ini setelah membaca hasil riset mengenai dusta online yang dilakukan di situs kencan Enggage.com. Survei “Manners and Behavior” Enggage.com yang diikuti 600 jomblo di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 24% responden menyatakan bahwa berdusta sah-sah saja di dunia kencan online.
“Kejujuran memang penting. Namun pencari pasangan kencan online merasa perlu dan boleh sedikit berbohong yang tak merugikan (white lies),” kata Joelle Kaufman dari Enggage.com seperti dikutip Emarketer.com. Ia memberi contoh, wanita merasa khawatir jika umurnya kelihatan terlalu tua. Sementara pria suka berbohong mengenai umur. Baik pria maupun wanita ternyata sama-sama memperbolehkan dusta putih (apa ya istilah bohong tapi tak merugikan orang lain?) namun dengan kadar berbeda. Perbandinganya: 30% pria dan 19% wanita.
Nah, apa data yang mereka dustakan ketika kencan online? Pertama adalah gaji alias pendapatan (21%). Kedua, berat badan (16%). Ketiga, umur (14%).
Hasil survei di atas membuktikan: WYSIWYG (What You See Is What You Get) yang sangat populer di dunia online, tidak sepenuhnya berlaku di kencan online. Yang terjadi adalah: what you see is not always what you get.
Hasil survei di atas mengusik pikiran saya: jangan-jangan data-data profile yang diisi kebanyakan user di berbagai situs juga data-data kotor. Apakah data umur di Friendster valid? Kalau data tanggal dan bulan kelahiran mungkin valid karena ingin mendapat ucapan selamat ulang tahun dari jaringan temannya. Apakah data-data yang diisi di formulir oleh pelanggan di berbagai media online juga valid?
Pertanyaan di atas penting bagi para pemasang iklan agar jangan sampai mereka salah menembak pasar.
terlepas dari bohong atau tidak, ada teman saya yang berhasil mendapatkan jodohnya dari friendster mas nukman. apa teman saya termasuk bohong atau dibohongi, saya tidak tahu.
namun buat pemasang iklan, memang betul. apa tepat sasaran jika kita pasang di media tsb, termasuk friendster? namun nampaknya, saya lihat, banyak juga perusahaan indonesia yang pasang banner di friendster. padahal, menurut om roy, 68% data di friendster adalah palsu â„¢. hihihi…
sebenernya kronologis nya mencari iklan utk web kita gimana sih???
dan ada yang bisa sharing harga pasaran iklan gak??
Seorang tenaga pemasaran (bagian iklan) dari suatu media cetak dan elektronika terkadang mereka membohongi suatu pemasang iklan bahwa media mereka dibaca atau dilihat oleh sekian besar pembaca atau pemirsa. Padahal, angka itu tidak benar. Bagaimana dengan media internet atau online?
Percuma berbohong soal tiras media cetak dan elektronika karena sudah ada lembaga independen yang dipercaya oleh biro iklan, yakni AC Nielsen.
Percuma juga berbohong soal trafik media internet karena sudah ada log statistik independen yang bisa dipakai sebagai pembanding. Ada sebuah cerita menarik mengenai hal ini. Sebuah situs web di Indonesia mengaku trafiknya tinggi dan satu pemasang iklan tertarik. Namun, sang pemasang iklan rupanya bisa mendeteksi trafik situs itu dengan ad management independen. Hasilnya, bisa diduga, trafik yang digembar-gemborkan tinggi ternyata biasa-biasa saja, sehingga sang website harus membayar ganti rugi ke pemasang iklan
salah satu kesulitan dari situs jodoh adalah masalah sortir antara yang memberikan data asli dan palsu. selain itu, ada juga yang menggunakan fasilitas situs utk berkenalan dg cara yg tidak semestinya (kurang sopan).
sortir secara standar biasanya dilakukan dg mengenakan biaya keanggotaan, dimana keseriusan anggota yg tergabung ditunjukkan dengan meningkatkan status keanggotaannya (berbayar).
situs seperti match.com, single.com, adultfriendfinder.com
sudah terbukti berhasil mendapatkan keuntungan dari biaya
keanggotaan. di Indonesia saat ini masih sulit menarik biaya keanggotaan. salah satu alasannya karena masih banyak situs yang menawarkan keanggotaan gratis utk jasa yg sama.
alih-alih menarik biaya keanggotaan, apa harus kembali mengejar target dari pemasangan iklan aja? sepertinya harus ada terobosan baru dalam content atau pelayanan ke anggota supaya ada nuansa berbeda dibanding Friendster.
Andi
http://www.jomblo.com
Are you available?
Cari Jodoh, Sahabat dan Kencan Online
#1 : Wah, pasang banner aja sampai hrs ke Friendster ya. Mungkin ini bentuk Terjajah Online™. Hi Roy$trade;
Mari kita galakan Jujur Online™.
Salam.
Wah kalau soal dusta online saya rasa sampai kapanpun akan terjadi. Dilihat dari penyebutan kata dalam Indonesia yang menyebut dunia internet sebagai dunia maya sudah cukup menjelaskan hal itu. Dunia maya itu bisa diartikan sebagai duni yang non-reality, bukan dunia sesungguhnya, semu, penuh khayal, imajinasi, pura-pura (kalo ini sih yang nambahin saya aja..
!
Bayangkan saja, dalam konteks agama saja sering kita denger dari para ustadz dan ulama, bahwa dunia (realitas) yang kita pijak sekarang ini adalah juga dunia yang semu Jika seperti itu berarti dunia internet itu adalah dunia semu kuadrat (semu2). Lha wong semunya aja sampe kuadrat gitu kok masih mo cari yang jujur, susah…!
Tapi buat teman-teman yang kenal sama Immanuel Kant, kira-kira dunia internet itu masuk yang fenomenon atau noumenon ya, atau malah bukan keduanya..? Memang dunia ini aneh ya…?
He..he.. Maaf ya ngelantur dikit…!
tapi kadang-kadang realitas atau dunia nyata juga penug kebohongan lho,
dunia ini panggung sandiwara
orang lebih berani menampilkan dirinya di dunia maya
Diperbolehkan aja de dusta online. Soalnya di internet masih jarang yang bisa memperhatikan dan menjaga keamanan privasi seseorang.
betul nggga ya, saya ragu, mohon pencerahannya om nukman.
thanks in advance.
Seperti saya tulis di atas, sebagian merasa bahwa dusta online itu boleh dan sah-sah saja.
[...] orang dari berbagai bidang. Lebih banyak pilihan. Meski tetap perlu waspada, karena ada banyak Dusta Online [...]