Bicara tentang brand di Indonesia, tentunya kita masih ingat dengan Dagadu. Dirintis oleh 25 mahasiswa UGM jurusan arsitektur di tahun 1994 dengan semangat ‘main-main’, Dagadu berhasil muncul sebagai salah satu sarana pencitraan kota Jogja yang khas.
Didesain unik dengan kalimat-kalimat guyonan plesetan tipikal Jogja sebagai pesan utamanya, Dagadu menjadi medium yang bercerita tentang kota Jogja kepada para wisatawan. Isi pesannya semua tentang Jogja. Ya tentang artefaknya, bahasanya, kultur kehidupannya, maupun peristiwa keseharian yang terjadi di dalamnya. Saat itu, di Jogja terjadi demam Dagadu.
Namun ternyata, demam Dagadu tak hanya terasa di Jogja. Beberapa pabrik kaos di Bandung pun di era yang sama mengikuti kesuksesan Dagadu dengan menciptakan kaos serupa namun satu per satu tumbang.
Tak hanya di pulau Jawa, demam Dagadu juga menular sampai ke Bali hingga terlahirlah brand serupa Dagadu di Bali bernama Joger.
Era kaos dengan kalimat-kalimat lucu, bisa jadi, sudah lewat. Dagadu pun kini tak lagi riuh terdengar. Namun ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari Dagadu di masa lalu yaitu cara berkomunikasi alias beriklan yang tidak paritas.
Dagadu berkomunikasi lewat kaosnya, stikernya, gantungan kuncinya, papan pengumuman di toko, penunjuk arahnya, hingga pernak-pernik lainnya yang digarap dengan serius sehingga menjadi sarana iklan yang dicintai konsumen dan terus dikenang. Di saat yang sama, konsumen pemakai kaos Dagadu pun juga merupakan iklan berjalan yang menyebar di mana-mana.
Dagadu sudah menggunakan cara komunikasi non traditional di saat istilah itu pun belum dikenal di Indonesia. Dagadu juga membuktikan bahwa komunikasi dengan cara ini mampu membuat sebuah brand dikenal, dicintai, dan tidak dikonsumsi hanya oleh ‘kalangan terbatas’ seperti yang selama ini sering diperdebatkan.
Btw, Dagadu sekarang apa kabar ya?
Produk Dagadu yang terakhir gue beli adalah cover untuk HP Nokia 2300. Tulisannya, “Saya benar-benar sulit membayangkan hidup saya tanpa HP!”
Dibuat kerjasama dengan produsen aksesoris HP Wellcom, gue beli di Gramed sekitaran tahun lalu seharga Rp. 30.000-an.
(mungkin proyek kerjasamanya kurang berhasil, mengingat susahnya memetakan HP mana yang pembelinya cukup banyak dan suka gonta-ganti cover?)
Salah satu kaos favorit gue adalah kaos Dagadu dengan tema “Merdeka!” Long-copy abis, terlalu panjang buat gue ketik ulang di sini.
1st respon with 1st question…
Yang dimaksud komunikasi non traditional di dalam kontek Dagadu diatas bagaimana yah? kalo menurut sepengetahuan saya, komunikasi Dagadu adalah bentuk lain World of Mouth, seperti halnya Viral Marketing sekarang yang banyak variasinya, mohon penjelasannya.
2nd question, “tidak dikonsumsi hanya oleh ‘kalangan terbatas’”? rasanya Dagadu itu middle down tshirt, jadi siapa saja bisa punya, jadi maksudnya kalangan terbatas itu bagaimana?
thanks, and selamat malam *pas jam 12.00 AM.
Mas Andi,
Dalam perkembangan ilmu komunikasi, yang disebut dengan komunikasi traditional/traditional medium adalah Radio, TV, Cetak.
Diluar medium itu di sebut High Intergrity Non Traditional Medium yaitu komunikasi dengan memanfaatkan medium Word of Mouth, Viral, Guerilla Media, CRM, Buzz Marketing etc.
Soal kalangan terbatas, selama ini banyak yang beranggapan bahwa komunikasi dengan cara non traditional hanya akan membuat sebuah brand dikenal di kelompok tertentu. Tidak memiliki efek mass seperti media massa TV, Radio dan Print Ad.
Dagadu membuktikan bahwa tanpa beriklan lewat media massa/ media traditional pun mereka bisa menciptakan demam di mana-mana.
Dagadu dan Jogja
dua sejoli yg dulu tak bs dilepaskan (dulu)!.
namun skg..! terhempas oleh kaos2 distro yg massif menyerang Jogja.
1hal yg membuat Dagadu konsisten kt kawan sy yg bekerja di Dagadu adl pesan akan nuansa jogjanya yg khas sekali sehingga dgn demikian cuma para wisatawan lokal luar JGJ dan beberapa turis asing sebagai pembelinya untuk cinderamata. kekuatan komunikasi Dagadu sebetulnya dibantu juga oleh faktor piracy yg dilakukan PKL2 di Jl. Malioboro. yaah gak tau deh bgi Dagadu untung atau rugi.
ehmmmmmm…..
dagadu (=matamu)jogja
sama halnya dengan di bali ada JOGER deket kuta bali bahkan sekarang ada yang baru “Jangkrik” di bali juga…. atau Dadung (semarang ) atau yang terdahulu adalah C59… hehehehhe
sama- sama menggunakan media fashion ( tshirt / shirt / jaket / sandal/ topi/dll
kekuatannya ada pada tulisan di medianya…. yang mengusung Jargon2 yang ngetrend dan usungan plesetan budaya atau komunikasi sehari masyarakat ……
marketingnya memanfaatkan mulut ke mulut…. dan memang hanya di jual di tempat tersebut tanpa membuka cabang…….. ( nah ini yang rada unik)
tapi masihkah bisa bertahan dan bersaing dengan produk FO atau Distro …..
karena baik dagadu atau yang lainnya berubah menjadi bahan oleh2 wajib khas setempat.. seperti bandeng presto yang harus dibeli kalo ke semarang atau roti Kartika sari yang di bandung, atau Dodol garut atau Kacang Disco makasar.. dll
salam
selain membanjirnya T-Shirt era distro yg massif… pertumbuhan Dagadu juga dijegal plagiator2 murni. Tapi Dagadu masih tetp melaju dengan prinsip “Malu bertanya sesat di jalan, beli yg palsu memalukan”. Orang Jogja yg beli souvenir/merchandise di Malioboro gak semuanya karena suka, sebagian beli satu… sampe rumah di bongkar… tau2 seminggu kemudian dah menjamur benda yg sama, bisa jadi dg harga yg lebih murah. Itulah kreativitas Jgja, sehingga produsen musti berpikir & berpikir terus buat menciptakan kebaruan lagi.
Jangankan T-Shirt yg benda pake, makanan siap saji-pun seperti McDonald membreakdown brand-nya pada pernak-pernik merchendise, boneka, tas, t4 pensil dll.
Kabarnya Dagadu ?? masih beralamat di Pakuningratan (Paku di t4 rata)…
saya setuju dengan mario. Dagadu dan jogja adalah dua sejoli..(utk sekarang)
Dagadu melihat peluang yang bagus utk berbisnis.. Dikala jogja sudah terkenal dengan prambanan, borobudur dan budayanya (kraton dll), wisatawan domestik maupun asing yang ingin memiliki kesan bahwa ia sudah pernah menjajki jogja menginginkan sebuah stuff yang bisa mewakilkan. Nah, pada saat itulah dagadu masuk. Andai saja dagadu mengusung tema mahasiswa untuk kaosnya atau tema yang lain, tentu saja sdagadu tidak sebooming saat ini. Hal ini berlaku pada Joger. disaaat wisatawan yang berkunjung ke Bali menginginkan sebbuah souvenir yang unik dan mencitrakan Bali, maka disitulah Joger berada. Jika Joger tidak mengusung Bali, maka tidak mungkin wisatawan akan membeli kaosnya.
Terlepas dari strategi komunikasi yang dipakai, Dagadu dan Joger adalah dua brand yang menjadi “benalu” terhadap kota dimana ia diproduksi. untuk saat ini, kedua-duanya (kota & Kaos) telah ketergantungan.. Terimakasih..
Mas Budi Yuwono, problem Dagadu terbesar kok sepertinya lebih ke kreatifitas yang mandeg ya? Soal piracy, itu pasti terjadi jika sebuah brand dikenal dan dibeli banyak orang.
Mas Cobus, Dagadu punya beberapa cabang untuk jualan kok. Tapi cabangnya hanya dalam kota, karena kan dijual as souvenir daerah.
Mas Umank dan Mas Budi yang wong Jogja, saat ini wisatawan kalau ke Jogja masih cari Dagadu ngga? I mean, masih jadi the hottest item yang dicari ngga?
Kreativitas yg mandeg ?? bisa jadi… walaupun dah digali dg acara ‘lomba disain kaos Dagadu’ tapi tampaknya masih jalan di t4. Kalo kata A. Noor Arief – Dagadu- (dlm tulisannya di katalog Adex -advertising expo 2007) booming disain2 Dagadu justru pada awal2 launching, hingga cukup membombardir Jogja.
Kalo ngomongin T-Shirt khas Jogja sampe sekarangpun masih tetep Dagadu, walaupun ada juga Jaran Etnik dg disain2 yg khas etnik Jogja juga, cuman gak model plesetan kaya’ Dagadu.
Kalo ditanya apakah Dagadu masih dicari wisatawan2 yg dateng ke Jogja, bisa jadi ya ! Tapi tetep tergantung TA-nya juga, sebab gak semua wisatawan yg dateng ke Jogja adalah TA-nya Dagadu. Tiap hari kalo pulang ‘nyangkul’ di sawah jalurku ya lewat depan Dagadu Pusat (Pakuningratan) …. tapi kaya’nya deretan parkir bus pariwisata udah gak serame dulu… bahkan kadang juga sepi.
Moga bisa njawab pertanyaan Mba Iim.
Klo ndk salah sekitar 94-95 di Jogja mulai ngetrend bhs walikan & slh satu ungkapan yg acap diucapkan adl Dagadu. Pd masa itu ada trend joke tertentu di Jogja & trend joke itu pula yg kmdn di sablon di atas dagangan Dagadu. Jd pastinya TA mrk awalnya adlh masy Jogja itu sendiri, bukan wisatawan.
Disain yg sangat Jogja itulah yg kian lama jd menarik unik utk dijadikan oleh2 asli Jogja.
Yg membawa tentunya adlh mrk2 yg ingin beromansa dgn kota tercintanya. Trend oleh2 ini kmdn mjd kuat di mana setiap orng yg ke Jogja, belum lah lengkap tanpa membawa oleh2 Dagadu.
Seiring keberhasilan tersebut, produk2 palsu pun lalu menjamur & kebijakan manajemen Dagadu utk tdk melarang mrk yg saya kira mjd bomerang bg Dagadu itu sendiri, yakni keunikan Dagadu yg kian lama kian terkikis. Jd knapa Dagadu tdk lg jd mjd cinderamata khas Jogja, salah satunya adlh karena keunikannya yg hilang.
Produk2 mee too seperti ??????Jaran?????? dkk turut mengikis keunikan tersebut. Diperparah lg dgn brand extention Dagadu yg membikin band After-Hour pd awal 2000. Bukan saja sangat tdk Jogja [dan gagal], brand ini membuat t-shirt dgn permainan kata2 mjd kian lazim, tdk lg unik.
Ke-empat mungkin agak jauh dr pemasaran, tp IMHO tetap berpengaruh pada kreativitas Dagadu. Senjata awal Dagadu adalah guyonan ala Jogja dan pola guyonan ini skrg telah berubah ke pola ??????Lo-Gw??????, pola yg tentunya tdk lg unik.
Kesimpulan dr pendapat saya adlh tdk ada lg hal yg unik di balik nama Dagadu. Mohon pemcerahan Mbak Iim.
Kemudian saya jg tertarik dgn penjelasan Mbak Iim soal mana media tradisional & mana yg non-tradisional [apakah bisa diartikan modern?], utamanya terkait WOM.
Saya inget waktu melakukan penelitian ke bbrp Pemda utk skripsi, mrk bilang TV adalah medium baru bg mereka krn seblmnya mrk hanya menggunkan komunikasi getok tular, dr mulut ke mulut. Ini termasuk WOM bukan sih Mbak? Bedanya apa?
Penyampaian info scr bergerilya, dgn getok tular, one to one, mengenal dan mengingat data pelanggan kan sudah dilakukan sejak ratusan-ribuan tahun lalu? Jadi apa yg menjadi pembeda pola2 non-tradisional tersebut sehingga kmd layak disebut sebagai media modern? Mohon pencerhan Mbak Iim.
Terima kasih
Mas Wiras,
Dagadu menjadi tidak lagi unik karena yang dulu kita anggap unik kini sudah out of date. Jadi yang diperlukan adalah re-freshment.
Cuma untuk me-refresh ini juga bukan perkara mudah, butuh sensitifitas, kreatifitas dan intuisi.
Bisa jadi dengan ‘lo-gw’ Dagadu sedang berusaha merefresh content designnya dengan tetap mempertahankan style copy driven-nya, tapi ternyata banyak yang kurang suka ya? ‘Kurang jogja’, rasanya…
Yang saya dengar, Joger masih tetap digemari sekarang karena designnya berkembang tanpa kehilangan identitas ke-bali-an nya.
Soal media traditional dan non trad, itu adalah pengistilahan saja. Selama ini orang iklan ketika membuat iklan pasti bicaranya media TV, Radio dan Cetak. Akibatnya, media itu disebut sebagai media traditional (karena sudah sering dipakai).
Sementara Non trad, adalah medium yang belum biasa dipakai sehingga dianggap baru.
Sebenarnya Non Trad Med beberapa diantaranya adalah hal yang lama seperti Buzz dan word of mouth yang dulu dikenal dengan istilah getok tular.
Bedanya, getok tular versi modern dibuat lebih terformulasi karena melibatkan strategy, agent dan teknologi.
Dulu, getok tular terjadi begitu saja, mengalir tanpa rencana.
Begitu kira-kira …
Ketika baru kuliah di purwokerto pada tahun 1999 saya sempat terkagum-kagum dengan kaos yang namanya dagadu (saya saat itu bahkan tidak menganggap dagadu sebagai sebuah brand, tapi melihat dagadu sebagai jenis kaos itu sendiri, karen brand image yang begitu kuat). Menarik, lucu dan unik.
Saya sempat membeli sebuah kaos dagadu seharga 24.000 dari seorang teman yang kebetulan jual kaos itu. Tetapi sayangnya saya hanya menggunakan kaos itu beberapa kali saja, setelah itu saya biarkan geletak di lemari tanpa pernah saya sentuh kembali. Saya dengan cepat tersadar bahwa dagadu ternyata sudah menjadi budaya massa (dalam komunitas kota purwokerto saat itu). Hampir semua teman yang saya kenal pasti punya kaos dagadu, terlepas dari asli atau bajakan.
Dagadu spontan telah menjadi barang ??????basi?????? untuk saya. Karena hampir di setiap kesempatan ada saja orang yang menggunakan kaos dagadu, bahkan tidak jarang melihat beberapa orang dalam satu kesempatan, menggunakan dagadu dengan gambar atau tulisan yang sama. Malu kan kalo baju kita ada yang nyamain..
!
Dagadu telah menjadi begitu masif.
??????Kemunduran?????? dagadu sebenarnya sudah banyak diprediksi oleh teman-teman dalam komunitas diskusi di kampus pada saat itu. Kaos dagadu yang telah menjadi begitu masif, cenderung akan ditinggalkan oleh anak muda yang memiliki karakter selalu ingin tampil beda, baru, dan unik dari komunitasnya.
Dagadu sepertinya melupakan hal itu. Dagadu sudah tidak unik lagi ketika hampir setiap orang menggunakannya. Dagadu gagal melanjutkan kedigdayaannya karena setelah tahun 2000??????an tidak menampakkan gejala-gejala inovasi baru yang segar.
Namun saya tetap beranggapan bahwa apa yang dilakukan dagadu, hanya berada pada level komunitas. Kekuatannya yang begitu masif, hanya berlaku karena unsur kejawaan dan kejogjaannya. Jangan lupakan bahwa faktor Jogja juga sangat kuat untuk mendorong dagadu menjadi besar. Jogja merupakan pusat budaya, fashion, lifestyle, teknologi, dan bahkan mungkin ekonomi hampir di seluruh kota di Jawa Tengah ??????? tanpa bermaksud menafikan kota besar seperti Semarang dan Solo. Di luar wilayah itu saya pikir dagadu memang sulit untuk bisa dikatakan berkembang pesat.
Jika dicontohkan bahwa Bandung, Semarang, dan Bali ada yang seperti dagadu, itu memang benar. Namun mereka hanya mencontek konsep ??????ke-dagadu-an?????? untuk mengembangkan brand mereka sendiri. Joger misalnya tetap menggunakan ramuan Bali untuk meracik produknya, bukan ramuan Jawa dan Jogja, seperti dagadu.
Karena itu bagi saya dagadu ??????masih?????? hanya berhasil pada kalangan terbatas.
refreshment, dan refreshment..saat ini juga atau menjadi barang museum. banyak cara untuk melakukan, bisa internal maupun eksternal. undang pemikiran dengan bentuk kompetisi atau lomba mungkin lebih efektif dan efisien dan kalaupun tidak bisa menjadi langkah nyata minimal pemikiran yang terkumpul bisa menjadi stimulir untuk refreshment. secara periode produk dagadu pada tingkat maturity dan sekarang pada masa menurun kalau tidak ada usaha refreshment akan menjadi souvenir-souvenir biasa-biasa saja.
Hi Mbak Iim, makasih utk responsnya. Mo klarifikasi aja, yg bergeser ke pola lo-gw justru guyonan Jogja itu sendiri, seiring sebagian anak muda tlah trkena virus “Homo Jakartanensis”.
Makanya yg aku bilang seblmnya, hal ini di luar pemasaran, tp tetap berpengaruh pada Dagadu & entitas bisnis lain yg bergerak pd area yg sama.
Soal refreshment, setauku Dagadu tlah berkali2 melakukannya. Terakhir aku dpt t-shirt Dagadu tuh “Will work for Your Smile”, sangat jauh dgn disain di awal usaha. Era After Hour mlh lbh jauh lg haha…
Btw bbrp thn lalu jg terjadi ‘revolusi’ di Dagadu yg berakibat keluarnya bbrp jagoan kreatif mrk, mungkin hal ini jd pangkal kejatuhan Dagadu lainnya.
Btw lagi, tmn2ku yg di Jogja ato asli Jogja & butuh ‘identitas’ Jogja, skrg ini cenderung nyablon t-shirt sendiri.
“Sementara Non trad, adalah medium yang belum biasa dipakai sehingga dianggap baru.”
Yup, setuju dgn istilah ini. Mungkin lbh enak klo ditambahi “dan atau sudah jarang dipakai”.
Makasih Mbak
Mas Wiras, thx atas koreksinya.
Refreshment nya Dadagu so far berhasil ngga? Ada yang tahu?
@iim… thanks penjelasannya, world of mouth non traditional yah ternyata, saya pikir malah traditional karena jaman dulu belum ada media apa2 paling ampuh lewat mouth to mouth *makanya bingung neh…
Jangan bingung mas Andi, coba baca penjelasan di # 12
Mas Budiyanto, bisa tolong lebih diperjelas maksud kata ‘berhasil’ pada kalimat
Karena jika maksudnya berhasil dikonsumsi, itu kaitannya dengan product avaliability.
Tapi jika maksudnya berhasil dikenal, saya pikir kok Dagadu begitu terkenal meski bukan berarti harus dikenal semua lapisan masyarakat, sama hal nya dengan tidak semua orang kenal Balenciaga .
??????Dagadu juga membuktikan bahwa komunikasi dengan cara ini mampu membuat sebuah brand dikenal, dicintai, dan tidak dikonsumsi hanya oleh ??????kalangan terbatas?????? seperti yang selama ini sering diperdebatkan??????.
Sebenarnya kata berhasil disini adalah ungkapan dari penjelasan mbak di atas bahwa dagadu telah menjadi brand dikenal, dicintai, dan tidak dikonsumsi hanya oleh kalangan terbatas.
Dilihat dari konteks ??????dikonsumsi, dicintai dan dikenal?????? orang itu, bagi saya memang dagadu sudah ??????berhasil?????? dalam konteks-konteks tersebut. Hanya saja ya saya masih sangat meragukan jika dagadu dikatakan tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan terbatas, sebab seperti yang telah saya tulis sebelumnya, dagadu ternyata memang masih terbatas pada level komunitas Jawa Tengah dan Jogja, di luar itu nanti dulu..!
Contoh kasus Bandung, Semarang dan Bali sudah saya utarakan sebelumnya.
Bagi saya yang saat itu sering bolak-balik Jakarta, Jogja, Purwokerto, booming dagadu memang sangat kuat sekali di kedua kota yang saya sebut belakangan. Namun di Jakarta booming itu seakan memudar, meski juga tidak bisa dikatakan tidak ada.
Oh ok,got it clear Mas Budi.
Berarti ada point yang harus saya ralat di postingan. Karena maksud saya lebih ke ‘komunikasi non traditional bisa membuat sebuah brand dicintai dan dikenal secara luas’.
Soal konsumsi, saya cabut saja kata-kata itu. Karena ‘konsumsi’ ada kaitannya dengan product avaliability.
Hal yang harus kita perjelas juga adalah kata ‘komunitas’ karena somehow kata itu menjadi terkesan audience-nya sempit sekali, padahal komunitas juga bisa bermakna luas.
Thx koreksinya, mas!
The rest tentang apa dan bagaimana non trad akan saya bikin dalam postingan lagi khusus, mudah mudahan cukup clear di postingan selanjutnya.
Dagadu
Unik dan kreatif tulisannya!
“nyeleneh”
Itu kekuatan Dagadu
Saat ini kenapa kurang bergigi karena menurut saya memang sudah mulai kekurangan
“mata air” kata-kata unik dan kreatif yang tertulis pada kaos karya Dagadu.
Salam
Alexander L.
Ok,..
Menurut saya, Dagadu masih menjadi buruan wisatawan. Karena (walaupun ini tidak sengan research yang serius) dagadu menjadi merek kaos yang sangat banyak dijajakan di lapak-lapak jakan Malioboro. Dari situ terlihat bahwa Dagadu masih banyak dicari. Permasalahnnya sekarang adalah bagaimana Dagadu mengatasimaraknya pembajakan kaos produksinya.
Thx n Salamualaikum
Untuk mas Wirastomo, setahu saya Dagadu sekarang masih kreatif. Organisasi Dagadu menurut sya tidak mengenal istilah “bbrp jagoan kreatif”. Yang jagoan adalah Team Work dari departemen kreatif nya…. Jadi kalo beberapa orang creative nya keluar…. that’s not a big deal…. di luar masih banyak….
Dulu, waktu saya masih SMA, dan DAGADU hanya jualan lesehan di depan Mall satu-satunya di Jogja waktu itu, saya kepingin banget punya salah satu kaosnya! Kaosnya unik. lucu. Dan dicetaknya sangat terbatas. Jadi jarang ditemukan kaos dengan desain sama jika saya jalan-jalan di luar.
Sekarang! Bagi saya; DAGADU TAK LEBIH DARI KAOS BIASA SAJA.
Sampe sekarang, saya ndak pernah punya kaos DAGADU. Keinginan saya sekarang sudah tak ada utk memiliki kaos itu. Walaupun saya bisa membelinya sendiri sekarang.
Mungkin desainer DAGADU sekarang jarang nongkrong bersama teman-temannya. Di push buat kerja.. kerja.. dan kerja. Mungkin aja beda dengan generasi DAGADU pertama, yang masih baru bisa ngutang buat nyablon kaos dan suka nongkrong di depan gang, masih males jika harus berangkat kuliah, masih ngutang waktu makan di burjo sebelah kos-kosan, masih nggodain cewe kampus yang kebetulan liwat, masih nyambi jadi timer bis kota sehingga mampu menangkap istilah-istilah dan kehidupan sosial asli Jogja.
Saya setuju sama Wiras, Mending saya nyablon sendiri. Murah. Dan merupakan apresiasi saya tentang Jogja Tercinta.
Jadi ingin komentar ttg Dagadu (walo terlambat)…
kebetulan aku memperhatikan fenomena ini ketika dulu mau coba buat hal yang sama untuk Jakarta;
Yogya ada Dagadu
Bandung ada C59
Bali ada Joger
Jakarta ada ?
itu tantangan yang cukup pelik. ketika aku meneliti ini ternyata hanya Joger yang masih menjadi buruan para turis dan kebetulan aku tanya langsung ke Pak Jogernya (gara2 nanya dapat kaos khusus) ia bilang bahwa seluruh kaosnya itu ada paten-nya… (setiap disain… wuiihh repot).
namun justru hal itu yang membuat para turis memburunya… you don’t get it easly… you must go to kuta first..
lalu dagadu yang luar biasa masif… rupanya mereka tidak memprotect-nya dengan paten… mungkin ini juga cultur jogja yang egaliterian… it’s easy to get it… sepanjang jalan malioboro akeh tenan… jadi ia kehilangan ke-eksklusifannya..
lantas bagaimana dengan C59… aku inget dulu awal dekade 90an.. kalo ke bandung itu mesti ke caladi 59… cuman buat beli kaos (inget kaos pertama C59 gambarnya pesawat F16)… agak heran juga ketika akhir 90an C59 mudah sekali didapat di jakarta… termasuk sekelas toko Ramayana. mungkin pemilik C59 itu mau mengejar volume, mereka tidak menjual ke-eksklusifan, sejak itu jadi ilfil beli c59.
menurut saya kalo ingin mengembangkan merk yang berasosiasi dengan sebuah daerah/kota memang harus dipertahankan keeksklusifannya itu… persoalannya kalo daerah seperti jakarta itu apakah masih bisa? (saya rasa tidak… karena orang jakarta lah yang kebanyakan memburu apa yang unik dari daerah lain…)
cheers,
rph
kalo dilihat dari sisi perencanaan media beriklannya menurut bp dan ibu bagaimana?
Bisa gak ya disamakan dagadu=bakpia pathuk? walaupun bakpia pathuk tidak hanya dijual didaerah pathuk saja melainkan di jalan-jalan utama masuk Yogyakarta setiap musim liburan ramai sekali dikunjungi oleh pembeli.
Mungkin yang dilakukan dagadu adalah membuat toko seperti penjual bakpia yang menyediakan lapangan parkir luas untuk menjaring bis-bis pariwisata yang setiap musim liburan membanjiri kota Yogyakarta
wah menarik ni… ngobrolin dagadu,,
dagadu memang fenomena yang luar biasa dijamannya. saat ini dagadu mengeluarkan sister brand hirukpikuk dan omus. hirukpikuk masih diposisikan sebagai merchandis jogja, dengan desain-desain yang sangat sederhana, sedangkan omus diposisikan sebagai kaos untuk muslim muda.
kenapa kedua brand ini muncul?? hehehe kayaknya nanya ke DAGADU aja ya…
Kami baik-baik saja dan masih terus berkarya!
Kapan ke Jogja Lagi?