Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Bagaimana Menentukan Tarif Iklan di Situs Web Kita?

February 9, 2007
Oleh Nukman Luthfie

tanya.jpgPak saya mau nanya nih, bagaimana kita menentukan tarif iklan di situs web kita? Kira-kira berapa charge normalnya yaa? Saya masih bingung bagaimana menghargai iklan menggunakan per clikthrough dan per impresi. Itulah pertanyaan Ariza, yang mengaku sedang membangun online portal.

Jujur saja, menjawab ini butuh kuliah cukup panjang. Pricing strategy adalah sebuah ilmu yang agak kompleks. Dan sayangnya, di dunia online, ilmu ini susah di dapat. Namun kita bisa saja menggunakan pendekatan benchmark, yakni perbandingan dengan situs lain. Saran saya, pakailah standar termurah Detikcom, yaitu satu rupiah per ad view.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah:

- jika menggunakan pendekatan itu, berapa harga di portal kita?
- Lebih tinggi atau lebih rendah dari harga benchmark tersebut?

- Berapa persen lebih tinggi atau lebih rendah dari harga termurah Detikcom?

Hm… ini seni yang menarik. :)

50 Responses to “Bagaimana Menentukan Tarif Iklan di Situs Web Kita?”

  1. Andi says:

    6 juta pageviews/hari
    Rp. 6juta/banner/hari

    gurihnya .. :)

    gimana dg portal yg 2nd tier
    kalau pakai rumus Rp.1/pageview..
    sptnya belum maknyus hidangannya :P

  2. Mardi says:

    Kalo menurut saya, sebaiknya pemilik website menawarkan harga yang semurah mungkin sehingga para pemasang iklan mau memasang iklan dan melihat manfaatnya sendiri. Apabila mereka ternyata memasang iklan secara terus menerus dan website anda berkembang berarti sudah saatnya anda melihat harga yang lebih tinggi untuk pemasangan iklan.

    Mardi
    http://www.duniakarir.com

  3. azhari says:

    pak saya mau nanya, sebagai seorang pemula bagaimana cara mudah untuk mempelajari internet marketing?

    terima kasih sebelumnya

  4. Harga paling murah di internet adalah Rp. 0 alias gratis. Kita banyak menemukan berbagai service yang ditawarkan gratis, bahkan ada komputer yang ditawarkan gratis di internet :D . Nah, kita sudah melihat ujung dari perang harga, kan?

    Seperti kata Pak Nukman, strategi pricing adalah seni marketing; didalamnya ada unsur persepsi, dll. Siapapun paham bahwa pengunjung detikcom adalah repeated visitor, mereka sudah hapal letak iklan (untuk diabaikan). Selalu ada celah, bukan?

  5. strategi iklan detikcom yg baru bisa jadi bermata dua
    pertama, mereka ingin memperluas basis advertiser dg membuka kesempatan bagi lower budget advertiser utk bisa ikut beriklan di sana.
    kedua, mereka secara langsung (tdk disengaja?) mengirim pesan ke advertiser yg ingin beriklan secara online utk semata-mata berpatokan pada jumlah pageview sbg dasar harga iklan. dengan 6 juta pageview perhari (hal depan?), dia bisa menerapkan harga Rp. 1/pv/iklan dan bisa meraih pendapatan yg sangat besar.

    utk situs-situs yang jauh lebih kecil, kalau skema iklan detikcom menjadi acuan bagi para calon advertiser bisa membuat repot. coba dihitung, berapa sih jumlah pageview yang kita punya sehari (hal depan) dan dikalikan Rp.1/pv. Apa masih menguntungkan?

    Seperti yang disinggung mas Agus, visitor detikcom adalah repeated visitor. dalam 1 hari, berapa kali kita buka detikcom (kalau saya minimal 10 kali). berapa pageview yang didapat secara akumulasi.. disitulah kelebihan detikcom sbg portal berita yang visitor selalu datang kembali (menciptakan pageview) utk mengecek berita terkini.

    strategi lain yang mungkin tepat (imho), justru kita harus melepaskan diri dari bayang2 detik.com. jangan sampai didikte oleh harga iklan mereka. visitor harus disegmentasi dg jelas, dan bisa menawarkan advertiser sesuai dg segmennya. alhasil traffic mungkin tidak terlalu besar namun benar2 segmented. dari sana baru kita menetapkan harga sendiri. Detikcom mungkin raja di portal berita, tapi dia bukan raja di portal iklan properti (spt yg sedang diusahakan rumah123 saat ini), dan di segmen lainnya.

    Andi
    Wirausaha.com – Portal Wirausaha Indonesia (launch soon)
    Saatnya memulai & membangun bisnis sendiri
    http://www.wirausaha.com

  6. Okto Silaban says:

    Wah.. lagi dong pak detailnya.. :D

  7. Nukman says:

    #3.

    Mas Azhari.

    Untuk belajar mudah mengenai Internet Marketing adalah:
    1. Pahami dulu ilmu marketing tradisional. Banyak yang salah kaprah, maunya langsung tahu Internet Marketing tanpa paham ilmu marketing. Internet Marketing hanyalah salah satu kembangan dari ilmu marketing. Tanpa memahami dasar ilmu marketing, semakin sulit memahami Internet Marketing.
    2. Pahami istilah-istilah teknis di dunia Internet yang dipakai sebagai alat ukur marketing
    3. Ilmu Internet Marketing berkembang sangat cepat, dan dipengaruhi oleh teknologi. Sebagai contoh, viral marketing berkembang pesat di dunia Internet karena dukungan teknologi web dan mobile.

  8. Nukman says:

    #4.
    Kalau yang mas Agus contohkan adalah: harga akses Internet gratis. Bukan harga iklan gratis. Itu sebabnya ada yang bagi-bagi komputer gratis (untuk yang menerima). Tapi yang membuat atau mensponsori tentu saja tidak gratis. Inti dari strategi ini adalah: bagaimana menyampaikan pesan (komunikasi pemasaran) ke publik dengan biaya nol bagi publik.

  9. Nukman says:

    #5.
    Hahahaha saya senang dengan pandangan mas Andi. Itu memang pisau bermata dua. Oleh kerena itu, seperti yang saya tulis di atas, benchmark hanyalah salah satu masukan untuk strategi harga.

    Harga sesungguhnya lahir dari resultante berbagai inputan. Salah satunya sudah disebut mas Agus: persepsi. Kalau bisa memadukan berbagai inputan ini dengan apik, akan keluar harga yang diterima pasar. Ingat lho kata-kata ini: harga yang diterima pasar (bukan berarti murah, bukan pula berarti mahal). Saya tidak sependapat dengan # 2, mas Mardi,  memberikan harga semurah mungkin.

  10. #8.

    Dalam kasus tertentu harga iklan bisa dipandang gratis lho, Pak… Misalnya untuk booking agent yang sumber pemasukannya dari komisi reservasi, beberapa kan gak pake annual fee.

    Hehehe…, (*ngeyel mode*)

  11. Nukman says:

    hahaha.. bisa. Dalam kasus-kasus tertentu, khususnya yang berbasis transaksi, harga iklannya bisa dibuat nol, tapi kemudian ada perjanjian bagi hasil. Contohnya: Tiket box di detikcom, reservasi hotel di Yogyes dan di Indo.com. Tapi pada dasarnya, itu tetap membayar, hanya polanya saja yang berbeda.

    Untuk portal yang mengandalkan iklan, porsi ini dijaga sekecil mungkin. Porsi yang terbesar tetap ke iklan berbayar dimuka, yang biasanya adalah iklan-iklan untuk tujuan branding, bukan transaksi langsung.

  12. jadi kalau diurutkan variabel utk menentukan harga iklannya, bisa jadi:
    1. Benchmarking (dr harga iklan market leader)
    2. Harga iklan kompetitor
    3. Statistik (pageviews, uniques, …)
    4. Persepsi (kudu survey dulu)
    5. … apa lagi?

  13. Nukman says:

    Yang penting ini mas Andi: konsep produknya dan target pasarnya.

    - Apakah konsep produk nya premium dan target pasarnnya berdaya beli tinggi? Kalau iya, ini sangat tersegmen. Ndak perlu page views banyak, tapi harga iklannya bisa premium. Harga Rolex kan lebih mahal ketimbang Seiko misalnya.

  14. wah makin dalam dan seru ini
    punya ndak mas, contoh portal yg khusus target pasar premium. visitors nya kelas premium (A+)
    daya beli tinggi, traffic tdk begitu besar

    kalau dibandingkan dg real world,
    toko kelas premium biasanya kelihatan dari tampilan tokonya
    common shopper pasti ndak berani masuk
    apa portal kelas premium juga spt itu?
    content yg mereka punya mestinya cuma menarik bagi visitors yang premium aja

    kalau media cetak, mungkin kelas premium spt majalah Harpers Bazaar.. atau SWA Premium? (sisipan)
    dan satu lagi, apa kelas premium browsing internet?
    kebanyakan mereka kan ber-”sosialita” aja :D

    btw, kembali ke topik utama diskusi ini,
    jadi berapa donk harga iklan di situs saya? hehe.. :)

  15. Nukman says:

    Jadi berapa harga iklan di situs mas Andi?
    Ya dihitung dan disimulasikan hingga ketemu harga pasarnya dong.

  16. Mas Wawan says:

    #7

    meski tidak pernah belajar marketing, menurut saya kayanya kalo terjun ke online marketing tidak harus belajar ilmu marketing tradisional, karena sistem dari online marketing dari segi media, target, audience dan formatnya berbedah jauh.

    keculai format mareking yang ditawarkan dari offline ke online, bukan online ke online.

  17. khalil says:

    Kalo iklan di media cetak yang no 2 di tiap daerah selalu menentukan tarif 1/2 dari tarif koran no 1 lalu di diskon antara 50-80 persen…kl situs ya patokan kita 1/3 tarif iklan detik lalu diskon 40-60 persen…

  18. Nukman says:

    16#
    Tidak sedikit orang Internet yang berpendapat seperti mas Wawan. Tapi fakta di lapangan menunjukkan, orang yang memiliki pengetahuan marketing dasar, sejauh yang saya lihat lho, lebih berpotensi ketika masuk ke disiplin ilmu internet marketing.

    Isu ini kita bahas di topik selanjutnya saja karena sangat menarik. Sementara case closed di sini.

  19. Nukman says:

    #17.
    Kalau pakai rumus benchmark mas Khalil, jangan mengacu pada harga terendah Detikcom, yang serupiah rper impresssi. Nanti terlalu rendah harganya, yang malah membuat pemasang iklan OGAH memasang.

  20. #13
    Bagaimana melihat apakah pengunjung kita berdaya beli tinggi atau tidak terhadap iklan yang dipasang? Efektifkah klo misal dicoba memberikan free trial iklan atau hanya cukup filter dari konten yang ada di website?

  21. Nukman says:

    Iklan premium hanya akan memasang iklan di media yang dibaca kalangan premium juga (A+). Oleh karena itu, yang perlu diaudit adalah pengunjung/pembacanya, bukan iklannya.

    Untuk mengetahui ini tentu saja harus menggunakan riset serius. Untuk media tradisional, sudah ada lembaga independen yang melakukan hal ini, misalnya AC Nielsen. Namun untuk online masih belum ada. Ya maklum saja, industri online di Indonesia masih kecil nilainya. Detikcom saja baru sekitar Rp 15 miliaran nilai iklannya. Belum layak diaudit oleh lembaga besar. Bandingkan dengan teve dan cetak yang bisa mencapai triliunan rupiah per tahun.

    Oleh karena itu, terpaksa pemilik portal harus melakukan riset sendiri dengan menggunakan tenaga atau lembaga profesional.

  22. #14 hehehe portalhr.com ya Pa? :d
    #15 Pertanyaan masih sama seperti waktu pengajian Pa’ (waktu itu : apa yang pertama kali disentuh untuk menaikkan trafik),
    Klo yang sekarang : Menghitung dan mensimulasikan hingga ketemu harga pasar untuk yang pertama kalinya itu gimana sich? Klo mungkin hanya sekedar ada yang pasang iklan khan bukan hal yang sulit :d, dijawab pake bahasa Tukul saja ya Pa’ biar saya paham hehehehe

  23. Yohannes Chandra says:

    Untuk Pak Andi Pallampa, untuk melepas bayang2 dan supaya tidak didikte detik.com, gimana klu pak Andi buat tandingan portal berita juga? mungkin aja harga iklan di portal berita bapak bisa kita pakai sebagai patokan?

  24. #23 pak Yohannes
    portal tandingan detikcom… bisa aja pak Yohannes :)

    nanti lihat aja hasil pertarungan 3 media besar: detikcom, kcm, dan mnc. mestinya akan ada standar baru harga iklan dari portal berita.

    kenapa kita harus lepas dari bayang2 detikcom? krn harga iklan detikcom tdk fair kalau diterapkan di portal lain yg tdk satu segmen dg detikcom (portal berita).

    tdk bisa membandingkan “apple to apple” menganggap semua portal sama

  25. Andy Santoso says:

    Sedikit selingan informasi, jika ada diantara teman2 yang ingin beriklan dan ingin sesuatu yang berbeda dengan system De**k yang begitu crowded / non exclusive advertising *1 page more than 5 ads.

    Dan ingin mencoba beriklan di MSN ID, MSN Hotmail & Windows Live / MSN Messenger, Friendster, SCTV Network *sctv.co.id, liputan6.com, liputanbola.com teman2 bisa menghubungi saya di andy@interactivehub.com kebetulan saya bekerja di Interactive Hub tersebut.

    *mohon maaf untuk pak Nukman, insting menjual saya keluar karena blog ini bagus sekali dari segi bacaan, ilmu dan pembahasan / respon pengunjungnya. :)

  26. Nukman says:

    Mas Andy Santoso,
    1. kalau diskusi di sini blak-blakan saja. Tidak perlu pakai istilah seperti “De**k”.
    2. naaah karena promo di sini, kalau laku jangan sungkan2 traktir keluarga besar blog internet marketing ya :P .

  27. Trikoro says:

    Warmest regards for all Indonesian Netpreneurs and especially for Mas Nukman as a host in this blog. Saya mau nyumbang informasi sebagai tambahan referensinya mas Ariza yang punya rencana bikin web portal.

    Menentukan tarif iklan online dengan cara ‘Pay-per-click’ (PPC) adalah seperti lelang (auctions). Dasar perhitungan tarifnya yaitu dari keywords atau key phrases yang dipilih oleh si pemasang iklan (advertiser). Para Advertiser dipersilahkan melakukan bid pada keywords atau key phrases pilihannya, Biasanya 3 – 5 Advertiser pemenang urutan bid yang akan diambil & ditayangkan oleh PPC search engine. Semakin populer keywords atau key phrases, semakin mahal harga keywords atau key phrases tersebut. harga awal bid berkisar antara 0.5 cents s/d beberapa dollar. Contoh: Salah satu key phrases yang populer adalah ‘Internet marketing firm’ dengan nilai bid USD. 8.- per-click. ‘desktop search engine’ dengan nilai bid USD. 15.- per-click.

    Pada PPC, advertiser hanya membayar tagihan iklannya berdasarkan visitor yang meng ‘click’ iklannya yg ditayang di website mas Ariza. Misalkan traffic di website mas Ariza dikunjungi 1 juta visitor per hari, namun (cerita ekstrimnya nich…) tidak satupun visitor yang meng ‘click’ iklan si advertiser tersebut maka tidak ada charge/ tagihan iklan bagi si advertiser itu.

    Sedangkan iklan dalam bentuk impression digunakan untuk banner ad, yaitu: berapa kali banner tersebut di download dari server (dan kemungkinan dilihat oleh visitor). Perhitungannya adalah per-1000 impressions atau disebut ‘Cost per-thousand’ (CPM). CPM basis memberikan pengukuran relatif yang tidak akurat, oleh karena itu bagi advertiser, CPM ini hanya digunakan sebagai alat ukur seberapa efektif-nya promosi iklan yang dilakukannya.
    Sampai sekarang saya masih belum mendapatkan data mengenai tarif iklan dengan basis ini.

    Saya juga mau balik tanya nich. Detik.com punya pola tarif iklan Rp. 1,- per-page view; Itu page view nya advertiser atau page view nya detik.com?

    Ok, Mudah2an sedikit pengetahuan ini bisa jadi tambahan referensi untuk mas Ariza. Kalo ada waktu, ‘jalan-jalan’ ke website saya, ya! Bagi yang perlu istilah-istilah dalam internet marketing, bisa mampir di http://www.destromall.com/Resources/glossary.html.

    Trikoro
    http://www.destromall.com

  28. rooney says:

    pak aq belum punya website dan ga bisa bikin website tapi keinginan saya besar sekali untuk belajar internet marketing. Sebab selama ini tidak ada yg membimbing saya. tolong beri petunjuk saya harap dengan hormat. kirim konfirmasinya di roniajadeh@mystarone.com

  29. no_nickname says:

    sebisa mungkin ketika mao bikin website dibentuk tim. Yg spesialisasi ngurusin database, desain, marketing,security, promotion etc. Kalo sendirian agak sulit. Karena tidak adanya second,third etc opinion yang “membangun” (sehingga subjektif, menggangap web kita ud sempurna). Minimal 3 orang:
    1. ngurusin bhs pemorgraman : PHP,mySQL,html, database
    2. ngurusin desain dan content web
    3. ngurusin marketing, keuangan, promosi

    Sebelum buat web: tentuin dulu topik web dan target konsumen, kalo bisa yang unik

  30. made yudhi says:

    numpang tanya sekalian minta saran juga nih. website saya: http://www.chordfrenzy.com baru saya bangun 1 bulan ini. pengunjungnya per hari (unik) rata2 100 (aduh, malu…). ingin bertanya soal tarif iklannya berapa? saya dan rekan2 sering bingung soal ini. klo ada yg mau bantu saya dgn sedikit petunjuk, tolong ya. mengingat saya masih baru di bisnis dunia maya ini.
    masukannya bisa diposting disini atau email: yudhiarsana@yahoo.com / webmaster@chordfrenzy.com.

    terima kasih…

  31. eddy says:

    Jumlah Unique visitors bukan jaminan juga untuk menentukan tarif iklan, banyak hal lain yang saling mendukung selain jumlah unique visitornya, misalnya page views dan bounce rate.

    Page views pernah dibahas oleh Mas Nukman, mungkin bounce rate yang masih agak membingungkan (termasuk saya). Menurut Google: “Bounce Rate is the percentage of single-page visits (i.e. visits in which the person left your site from the entrance page). Bounce Rate is a measure of visit quality and a high Bounce Rate generally indicates that site entrance (landing) pages aren’t relevant to your visitors.”

    Maksudnya si google, bounce rate itu jumlah pengunjung yang masuk ke site kita kemudian langsung keluar lagi.

    Jadi walaupun jumlah unique visitornya besar, apalagi counternya juga sudah jutaan, tetapi bounce rate-nya tinggi, itu tandanya kebanyakan pengunjung kita bukanlah target market yang kita tuju, dengan kata lain pengiklan juga akan mikir mau pasang iklannya di site kita (walau harganya murah), karena pengunjung yang masuk tidak sesuai dengan isi website dan atau barang yang mau di iklan-kan.

  32. made yudhi says:

    #31. oo begitu. di statistik yg disediakan hosting saya, ada 3 kategori visitor yg persentasenya SAMA BESAR, yaitu:
    0-30detik, 5-15menit, dan 1jam++. ada masukan untuk statistik ini?

  33. eddy says:

    Mas Yudhi,

    Kalau begitu, konsentrasikan untuk halaman dengan presentasi visit length yang terbesar untuk quota halaman iklan-nya, untuk page itu bisa dikasih tarif iklan yang paling mahal, dan seterusnya untuk halaman-halaman dengan presentasi yang lebih kecil dengan tarif yang lebih murah.

    Mungkin perlu di buat satu halaman khusus dengan screenshots data-data statistic yang mendukung untuk halaman tarif iklan masing-masing page-nya.

    Semoga ada sedikit pencerahan :) and Good Luck!

  34. made yudhi says:

    #33
    wah2, ga salah ak cari ilmu disini. mantap. sangat mencerahkan.
    #Nukman
    wonderful blog!

  35. made yudhi says:

    skrg sudah naik 300/hari! hehe. gara2 banyak blajar disini. makasi smuanya!

  36. Fajar Nindyo says:

    Weeh…diskusinya luar biasa..Saya masih newbie di msalah ini..Thanks infonya…

  37. Yulianto says:

    Saya rasa selain dari pageview, harga juga ditentukan dari segmen pembaca website. Misalnya website tentang golf, mayoritas pembacanya dari kalangan atas dan jumlahnya sedikit. Tentunya pricing iklan berbeda.

    Yulianto
    http://www.kartubisnis.com

  38. agus says:

    Ada gak kompetitor ads per view di indoensia selain adpoint dari detik.com?
    Brarti detik bisa claim jadi pertama dong?

  39. Kompetitor ads per view?

    Bukannya dari dulu periklanan internet di Indonesia adalah per view (impression)? Lihat aja parameter yang digunakan adalah statistik pageviews, visitor, dsb. Jadi, apanya yang baru?

    Justru yang PPC / PPA yang masih agak jarang di Indonesia.

  40. pandit says:

    menurutku harga tarif iklan selain liat Page Impresion, PPC ada juga liat peletak iklannya. Bukan berarti yg besar itu mahal.. jika taruhnya di bawah yah murah.
    aku pernah chat ma agen iklan di singapura. Dia pernah membandingkan PPC ngiklan di detik dan di kompas.. walaupun kompas pageviewnya lbh dikit dari detik. Namun menurut dia lebih efektif ngiklan di kompas :D
    makin penasaran, aku kontak temenku di kompas.. ternyata di kompas kira2 6 bulanan melakukan redesain utk meningkatakan PPC di iklan mereka. kata temenku juga harganya mahal dan dibuat sama orang jerman. weleh2

    maaf kalau saya salah, saya juga baru belajar

  41. zeux says:

    hmm, cukup menarik jika berbicara akan adanya suatu banner didalam site kita, akan tetapi ada hal yang tidak bisa dianggap remeh, kekuatan akan Add-on dari Firefox yaitu AdBlock Plus, hehe jika semua orang mengetahui ini, aku yakin beriklan dimedia on-line akan kebakaran jenggot, salah satunya saya yang mengaplikasikannya pada detik.com hehehehe.. No Banner please..

  42. dimas says:

    Sebenarnya diindonesia sendiri untuk bisnis periklanan di web ini bagaimana yah prospeknya?

    http://www.gadgetindo.com

  43. tuyulganjen says:

    Minta tips untuk menggaet advertiser secara online maupun offline dong pak. Mana yg lebih sering berhasil, menggaet secara online ataukah secara offline?

  44. Indra says:

    Mohon untuk juga diberikan pencerahan untuk (calon) pemasang iklan. Nilai Rp1 bisa sangat menyesatkan para (calon) pemasang iklan yang tidak tahu seluk beluk advertising, ROI, tracking, measurement dll. Perusahaan/pemain besar buang milyaran rupiah untuk iklan sih biasa perusahaan/pemain kecil kalau kepleset kan kasihan….:(

    Menurut saya iklan di d**** tidaklah murah karena trafik yang sangat tidak tertarget. Bisa-bisa puluhan atau malah ratusan ribu melayang tanpa dapat satupun klik :(

    CMIIW ;-)

  45. Sarda Eka says:

    Faktor apa saja yang mempengaruhi tarif iklan pada suatu situs web?

  46. Cindy says:

    Bagaimana saya harus menentukan tarif dalam website?

  47. Wah kalo De**k bikin harga Rp. 1 /PV berarti bikin web yang lain pada kalang kabut….

    Padahal webku hari ini baru aja mulai sentuh angka 100.000 Page Views per hari.

    Help …… siapa yang mau jadi marketer web ku untuk dapetin iklan tunjuk tangan ya…bisa telp langsung ke 0812.1828.9278 … ada tawaran menarik.

    Untuk review web ku bisa langsung ke sini dulu :

    http://www.indoface.com

    Thanks All (Especially to Mr. Nukman)

  48. Jul says:

    ternyata susah juga ya menetukan tarif iklan banner
    terimaksih atas pencerahannya

  49. ainul says:

    wah mantap juga , wawaupun satu rupiah per ad view, tapi jika kita punya blog dengan traffic ratusan ribu page view per hari , jadinya lumayan tuh………

  50. AKu baru 3 Bulanan mengelolah web news, dan rating sedang menanjak terus http://www.alexa.com/siteinfo/http://mediapalu.com?p=rwidget#

    sekarang lagi mencari standart harga utk iklan.

    Kalo koran hitungannya per,mili kolom, sementara, klo di web dasar hitungannya mengunakan standart apa ya..?

    Mohon bantu solusi dari teman2.

    terima kasih..

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting