Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Online Itu Strategis, Bukan Eksekusional

April 27, 2008
Oleh Iim Fahima Jachja

Jika Anda berencana membuat komunikasi yang salah satu mediumnya adalah internet, libatkan orang yang paham medium tersebut dalam diskusi grand strategy dari awal. Mengapa? Karena (komunikasi) online itu strategis, bukan sekedar eksekusi.

Selama ini, masih banyak yang beranggapan bahwa komunikasi di internet ‘sederhana dan mudah ditebak’ seperti komunikasi di medium lain. Akibatnya, ketika brief komunikasi turun, biasanya sudah ada bentuk eksekusi/taktik apa yang akan dilakukan di medium tersebut. Misalnya:

TV membuat TVC 30 sec atau sponsorship program.
Print ad membuat iklan cetak biasa atau advetorial.
Radio membuat adlibs atau spot.
Online membuat viral.

Pertanyaannya: Bagaimana mungkin kita bisa menyebut kalau ke online eksekusi/taktiknya berupa forum saja,viral saja, atau blog saja, jika kita sendiri tak cukup paham ragam jenis komunikasi yang ada di internet, dinamika, plus minus, serta rambu-rambunya?

Masih mending jika online di strategy tersebut hanya sebagai medium pendukung sehingga ketika pilihan taktiknya salah tidak terlalu mengorbankan banyak hal. Tapi apa jadinya jika online dijadikan medium utama yang kemudian alamat url-nya dikampanyekan secara besar-besaran di medium lain, namun ternyata pilihan taktiknya bukanlah alat yang tepat untuk mencapai objektif?

Sebagai gambaran contoh: Saat ini banyak pemilik dan pengelola brand yang tersihir oleh kemeriahan web 2.0 yang memungkinkan terjadinya komunikasi antar user atau pun antara brand dengan loyalist-nya. Bahasa gampangnya, ada diskusi,lah. Bentuknya bisa forum, community site atau apa pun.

Oleh pemilik/pengelola brand –karena dianggap cara yang hot dan pasti asik abis– taktik ini kemudian dijadikan sebagai alat untuk mencapai objektif, misalnya, membuat awareness produk yang baru diluncurkan.

Nama domain dipilih. Campaign dilakukan di mana-mana.

Ketika konsumen menge-klik ke url tersebut, bukannya edukasi tentang produk yang diperoleh, melainkan diskusi yang berjalan tanpa kendali, doesnt lead to anything.

Kok Bisa?

Ya bisa, karena yang dipilih adalah bentuk komunikasi online yang sifatnya sangat cair, dikendalikan konsumen. Mau isinya seperti apa, ya terserah konsumennya.

Jika stratgy komunikasi selalu didasari penemuan atas consumer insight, maka strategy komunikasi online didasari oleh consumer insight dan online user behavior alias online insight. Untuk memahami hal ini, ngga ada cara lain. Libatkan orang yang paham medium tersebut dalam diskusi grand strategy dari awal

9 Responses to “Online Itu Strategis, Bukan Eksekusional”

  1. Pitra says:

    Iim.. bisa tambahin contoh kasus dunk, biar lebih jelas.. misalnya cooldesak.com nya nokia itu menurut Iim kira2 gimana? Kayaknya tiba2 di sana terjadi perubahan konsep n desain yg luar biasa. Kira2 ada kaitannya dgn menggali insight dari member yg sudah ada? hihi, apa mesti tanya developernya ya?

    Input juga, pengalaman saya berhubungan dgn 1 agency di bintaro (hayo tebak), sepertinya yg namanya viral ya polanya selalu spt ini: buat flash lucu2an, blast (entah blast kemana), selesai, lalu ngelead ke site (ato bahkan tidak ada lead sama sekali). Dari duluuu begitu terus, saya sendiri heran, nggak ada pola baru. Hihi, sudah ditawarkan utk brainstorm bareng, tapi kayaknya kekeuh. Ya sudah, saya biarkan saja.. :D Takut kalo saya terlibat sampe creative/strategy, bayarnya tambah mahal kali.. :D

  2. Rama says:

    Salam kenal :)

    Menurut saya salah satu masalah nya beberapa pemilik Brand itu menganggap bahwa internet adalah (hanya) perpanjangan dari Konvensional Advertising (TV, Radio, Print Ad, etc.), it’s all about visual.
    Ada yang mereka lupa (atau belum sadar) bahwa di online media itu ada experience.

    Misal, banyak yang nganggep viral = game. Loh viral itu kan yg penting proses forwarding nya. Kalo yang penerima nya hanya enjoy bermain dan kemudian nggak forwarding ya percuma aja viral nya.

  3. Rangga says:

    Hallo salam kenal.

    mungkin salah satu permasalahannya banyak orang yang merasa paham on line tapi blm paham betul tentang strategy komunikasi yang menyeluruh, yang terpenting bagaimana kita bisa menjawab objective dari klien dan memberikan solusi yang tepat dengan melibatkan beragam alat komunikasi, yang perlu dicari adalah orang yang mampu berbicara komunikasi yang terintergrasi, sehingga payung besar dari sebuah komunikasi yang akan di aplikasikan bisa berjalan sesuai dengan yang di inginkan tidak berdiri sendiri.

    jadi untuk yang paham betul salah satu dari alat komunikasi, sekarang mungkin harus mengetahui lebih dalam juga apa itu strategy komunikasi lainya, karena menurut saya kedepannya tidak ada lagi yang namanya atl, btl, area abu2, crm, trade marketing, tradisional, non tradisional, etc, yang ada hanyalah intergrated communication yang memberikan solusi dan memiliki cangkupan yang lebih besar.

    Orang yang merasa bergerak di bidang komunikasi apapun harus mempersiapkan diri, mungkin bisa dengan memiliki divisi baru, atau menjalin partnership dengan orang yang paham dengan alat komunikasi lainnya, sehingga sinergy nya bisa membuat suatu strategy komunikasi yang utuh dan effective.

    Maaf kalo ada yang kurang berkenan.

  4. Iim-Adhit says:

    Setuju sekali dengan point Rangga soal komunikasi yang terintegrasi, perlunya sinergy antara ‘generalis’ dan ‘spesialis’, hilangnya istilah ATL BTL dll.

    Tapi point postingan saya bukan itu.

    Yang saya bicarakan di sini adalah soal proses penggalian sebuah strategy besar yang sebaiknya mempertemukan generalis dan spesialis dari awal grand strategy dibuat, untuk menghindari salah memilih taktik.

    Sebagus apapun grand start-nya atau pun rencana integrasinya, jika taktik (pilihan eksekusi) di medium onlinenya salah, hasilnya akan payah.

    Silahkan baca postingan saya soal Online Behavior dalam kasus Mizone untuk mendapat gambaran lebih lanjut mengenai cantiknya sebuah komunikasi intergrasi tapi lemah di taktik per medium. http://www.virus-communications.com/blog/?p=142#more-142

    Btw, buat saya, pemahaman ilmu marketing dan komunikasi itu mutlak dimiliki oleh siapapun yang bergerak di bidang mark-komm. Apa pun labelnya. Generalis, atau pun spesialis.

  5. Rangga says:

    Mungkin saya salah menafsirkan atau saya mencoba melihat ini dengan cara yang berbeda, karena yang saya lihat dan ingin saya bahas adalah ketika kita membahas sebuah ide besar ialah kita membahas payung besar dari sebuah strategi marketing, tahap itulah dimana kita perlu seorang strategik planning ( Ini bisa berasal dari klien itu sendiri, karena klien/pemilik brand seharusnya punya pemahaman secara holistic mengenai strategynya ), ketika sudah didapatkan, tahap berikutnya kita lanjutkan dengan berdiskusi dengan orang yang memiliki pemahaman lebih luas di bidangnya, disini lah kita bisa berdiskusi apa yang musti kita lakukan untuk membuat sebuah ide itu terjadi, di tahap ini bukan semata mata hanya membahas eksekusinya tapi bisa juga strategy per bidangnya.

    Biasanya disini lah seorang yang ahli di bidangnya bisa melihat dan menyarankan apakah strategy ini bisa berjalan atau tidak.

    Saya sangat setuju dengan yang namanya online behavior, tapi menurut saya kita juga harus melihat consumer behavior nya jika ingin sebuah campaign kita juga dilirik oleh orang2 yang basicly tidak menggunakan internet ( dengan ini pertumbuhan pengguna internet bisa bertambah juga =) ).

    Dalam kasus mizone saya melihat tidak terlalu lemah komunikasinya, karena kalo kita lihat tvc dan ad serta beberapa event-nya kita melihat bahwa mizone berbicara mengenai brand dengan pendekatan personal tanpa harus mengedukasi dengan productnya, soft sales lah kurang lebih ( yang terpenting orang masih mau aware dengan mizone, karena sejauh yang aku tau pada saat itu mizone diserang dengan issue bahwa productnya menggunakan salah satu zat yang dilarang jadi dia tidak mungkin mengeluarkan productnya secara terang terangan, karena trust orang sedang menurun pada saat itu).

    Apple, zyrex, holcim, nike beberapa contoh dari campaignnya pernah menggunakan cara yang hampir sama dengan mizone, ketika itu saya juga berfikiran bahwa eksekusinya kok aneh yah tidak melibatkan sm sekali productnya ataupun tujuannya gak langsung kelihatan, hanya ada branding logo saja.

    Tapi ketika saya bisa melihat objective dari cliennya dari seorang teman, saya baru mengerti apa yang ingin didapat dari campaign itu.

    Btw, pastinya aku juga setuju bgt kalo setiap yang bergerak di bidang marcomm harus mempunyai pemahaman tentang marketing dan komunikasi, kalo gak mungkin sedikit berbahaya yah =).

  6. Iim-Adhit says:

    Rangga, soal Mizone, Apple, Zyrex, saya punya opini sendiri, tapi tidak akan saya bahas di sini karena bisa bikin diskusi kita terlalu melebar.

    Kembali ke soal perlu/tidaknya spesialis –dalam hal ini, spesialis online, meski tidak menutup spesialis bidang lain– terlibat dalam pembuatan grand strategy komunikasi dari awal, terutama jika medium utama komunikasinya adalah online.

    Kalau saya tidak salah tangkap, Rangga berpendapat bahwa itu tidak perlu? Biarkan itu menjadi area-generalis? Dalam menentukan objektif besar komunikasi, mungkin ya. Tapi kalau sudah bicara how to achieve the objective saya kira kok sangat wajib spesialis itu dilibatkan. Karena fungsi spesialis adalah memberikan input apakah sesuatu taktik works atau tidak untuk mencapai objektif itu. Jika tidak, solusinya apa. Dan itu bukan area eksekusi visual ya, tapi jauh lebih luas dari itu. Ini soal langkah yang diambil strategis atau tidak, tepat atau tidak. Kalau ekseskusi visual sih, ngomong aja sama web developer, bukan online consultant.

    Juga, statemen Rangga soal

    banyak orang yang merasa paham on line tapi blm paham betul tentang strategy komunikasi yang menyeluruh,

    dan

    yang perlu dicari adalah orang yang mampu berbicara komunikasi yang terintergrasi

    menjadi kurang relevan ya dalam diskusi ini. Karena saya, again, tidak sedang mempertentangkan/mengadu antara spesialis dan generalis (dan saya ngga tertarik membahas hal itu karena saya penganut paham kerjasama antara generalis dan spesialis), tapi soal kapan waktunya mulai duduk bareng. Apakah dari awal atau pas sudah bicara turunan komunikasi.

    Mudah-mudahan cukup clear.

  7. Rangga says:

    Menjawab post yang tadi malam mba/mas.

    Sebenernya post diawal yang menyebutkan grand strategy yang saya tangkap adalah strategy marketing, dan di post sebelumnya saya mengakui mungkin saya salah tangkap atau melihat dengan cara yang berbeda makannya tulisannya jadi melebar=).

    Untuk online behavior yang saya maksud disini ialah jika sebuah campaign ingin menggunakan media online sebagai alat utamanya akan tetapi target mereka juga orang yang tidak pernah menggunakan online maka disini saya melihat consumer behavior sebagai dasarnya perlu diperhatikan lagi, karena mungkin saja media tradisional perlu di aplikasikan kembali.

    Nah hubungan dengan pengguna online bertambah, ialah jika banyak pemilik brand memakai cara ini, maka pertumbuhan pengguna online pasti lebih bertambah, kalo gak salah sekarang di Indonesia kurang lebih baru 32 juta orang, nah kalo udh gitu komunikasi online pastinya bisa lebih berkembang lagi.

    Kalau saya tidak salah tangkap, Rangga berpendapat bahwa itu tidak perlu? Biarkan itu menjadi area-generalis? Dalam menentukan objektif besar komunikasi, mungkin ya. Tapi kalau sudah bicara how to achieve the objective saya kira kok sangat wajib spesialis itu dilibatkan. Karena fungsi spesialis adalah memberikan input apakah sesuatu taktik works atau tidak untuk mencapai objektif itu. Jika tidak, solusinya apa. Dan itu bukan area eksekusi visual ya, tapi jauh lebih luas dari itu. Ini soal langkah yang diambil strategis atau tidak, tepat atau tidak. Kalau ekseskusi visual sih, ngomong aja sama web developer, bukan online consultant.

    Nah tulisan diatas, kurang lebih memang itu yang mau saya bicarakan Mba/Mas =), jadi kalo strategy marketing based on online, tapi ternyata sebenernya tidak sesuai dengan targetnya, online/web/digital agency wajib memberikan masukan apakah wilayah strategis ini bisa di aplikasikan atau tidak dan memberikan solusinya.

    Tapi idealnya hal ini harus juga didukung oleh pemilik brand
    juga, karena terkadang mereka suka berpikiran agency adalah developer bukan hehehe, jadi suka susah diajak diskusi.

    Menarik juga nih diskusi di ruang publik maya, kalo ada kesempatan duduk bareng atau diskusi verbal pastinya asik juga yah =).

  8. iqranegara says:

    “Libatkan orang yang paham medium tersebut dalam diskusi grand strategy dari awal”

    dan orang yang paham itu adalah Iim dan Adhit :D

  9. denging says:

    ya mungkin contonya web ini ya, saya kok pusing membaca huruf-hurufnya untuk waktu yg agak lama, fontnya terlihat samar (untuk menyebutnya ‘kelabu’ agak sungkan, hehehe, plis deh mod & min… dipertegas warna font nya, supaya terukir di dalam benak ingatan saya jadi agak lebih lama…

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting