Guerilla Marketing dan Guerilla Media. Dua mahluk ini dalam beberapa tahun belakangan ini sering sekali disebut sebut oleh kalangan marketer dunia sebagai senjata yang ampuh untuk melawan competitor bisnis yang bermodal besar. Namun dalam pembahasan kali ini, saya akan focus membicarakan Guerilla Media.
Guerilla atau gerilya sebenarnya merupakan jenis strategi dalam pertempuran seperti yang pernah dilakukan Indonesia ketika berperang melawan Belanda atau Vietnam melawan Amerika. Dengan amunisi yang kalah jauh, pasukan menyusup perlahan ke daerah musuh. Sedikit demi sedikit menahklukkan area yang tak dikuasai hingga akhirnya memasuki area terbesar dan berhasil membuat musuh kalang kabut. Kunci kemenangan dengan menggunakan metode gerilya ini adalah pemahaman lokasi, strategy dan konsistensi.
Guerilla Media pada dasarnya menggunakan metode yang sama. Jika selama ini brand kelas kakap menghujani konsumen dengan placement jor-jor an di medium TV, Radio, dan Print Ad, maka Guerilla Media menawarkan solusi komunikasi yang menggunakan medium selain medium diatas yang notabene biaya medianya jauh lebih murah. Bentuk Guerilla Media bisa berupa instalasi kreatif ambience media, viral, email, pesan melalui HP, happening art, souvenir dll. Intinya, menarik perhatian setinggi mungkin tapi menekan biaya sebesar mungkin.
Secara medium, Guerrilla Media juga mempunyai peluang untuk menarik perhatian konsumen lebih besar daripada media tradisional seperti TV, Print dan Radio karena konsumen sudah terbiasa melihat iklan-iklan TV ketika menonton TV, melihat print ad ketika membaca media cetak, atau mendengar iklan radio ketika sedang mendengar radio. Karena sudah terbiasa, yang muncul bisa jadi justru penolakan terhadap iklan.
Tetapi ketika melihat pesan iklan guerrilla media dalam bentuk yang unik dan medium yang tak terduga seperti iklan-iklan di wastafel toilet, pesan iklan pada buah-buahan di supermarket atau instalasi-instalasi kreatif di tempat umum dll, konsumen tanpa sadar terpengaruhi oleh iklan dan tidak memiliki kesempatan untuk merejectnya seperti halnya yang dilakukan di medium tradisional
Pertanyaan yang sering muncul selanjutnya adalah seberapa efektifkah Guerilla Media ini? Jawabannya, semuanya tergantung strategy, konsep dan se-nendang apa ide kreatifnya serta konsistensi pelaksanaan. Strategynya bagus, ide kreatifnya ngga nendang ya tidak akan dijadikan bahan pembicaraan. Strategy bagus, ide kreatifnya cemerlang, tapi pelaksanaannya tidak rutin, hasilnya juga tidak akan maksimal.
Intinya, Guerilla Media memerlukan effort yang lebih dari sisi pemikiran dan tenaga, namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan konsisten, hasilnya bisa memuaskan.
Wah…kalo di dunia bisnis, semuanya bisa jadi media iklan, tinggal di pilih mana yg efektif. Bisa jadi mungkin suatu saat bagian belakang pintu WC umum pun jadi tempat iklan. sasarannya orang yg lagi BAB
)
guerilla marketing akan menjadi lebih kuat bila merupakan bagian dari 360 degrees marketing communication, saya rasa memang diperlukan effort yang cukup konsisten untuk menciptakan ide kreatif, meskipun kadang2 kreatif itu bisa terhalang keiinginan pemilik brand ataupun regulasi
btw, buat pak Aswar : kalo gak salah, di pintu toilet pun sekarang udah jadi sarana beriklan, idenya dimiliki sama InnoVoxa..thanks
I doubt about TV, Radio and Printing Media commercials are not effective just like what you say in your commercials as you can see yourself that from swa.co.id survey, most of the visitor would choose “Often”. This is Indonesia
To ‘Someone’
Hal lain, kalimat2 dalam iklan, website, dan blog saya tidak ada yang menyebutkan bahwa media tradisional tidak lagi efektif, tapi lebih tepatnya ‘berkurang tingkat efektifitasnya’ sehingga diperlukan cara lain untuk menggenjot efektifitas sebuah iklan, which means, mulai menggunakan medium lain yang belum terlalu cluttered.
Liat juga di http://www.swa.co.id/primer/pemasaran/advertising/details.php?cid=1&id=2234.
atau jika Anda pernah baca risetnya Nielsen tentang efektifitas medium, disebutkan bahwa di kelas AB, meski TV dikonsumsi oleh paling banyak orang, namun memiliki efektifitas terendah karena konsumen banyak mengganti channel ketika iklan muncul. Jadi semua yang dibicarakan adalah based on data. Beside, jenis polling di swa bukanlah polling yang menuntut jawaban spontan dalam sekian detik. padahal yang disebut ‘awareness kuat’ adalah jika ditanya sebuah brand kita langsung menjawab tanpa proses berpikir lagi. Seperti mis: Mie apa yang paling Anda ingat? Saya langsung jawab “Indomie’!
>> menarik perhatian setinggi mungkin tapi menekan biaya sebesar mungkin >> Di lain sisi, bukankah artinya yang bakal kita ‘dapatkan’ juga ikutan ‘sedikit’? (maksudnya dibanding pendapatan iklan dari media tradisional (TV, Radio, Print Media) tadi? Atau… dengan mengandalkan pelaksanaan yang rutin? Di sisi yang lain lagi, rutinitas juga bakal berujung kebosanan? Gitu gak bos?
To shuciantow:
Guerilla media memang sangat menguntungkan klien karena bisa mengurangi biaya campaign dalam jumlah yang lumayan besar. Pendapatan agency dibanding agency trad medium memang jauh lebih kecil, tapi besar atau kecil itu kan kembali ke perencanaan business masing2 perusahaan. Lay off besar besaran di banyak agency besar adalah pelajaran yang berharga untuk kami agar membuat perencanaan business yang lebih benar.
Soal rutinitas, justru guerilla media opportunity untuk me-refresh ideanya jauh lebih besar, karena biaya produksinya tak semahal membuat TVC baru yang paling tidak perlu ratusan juta.
Kalau yg saya lihat coverage media ini memang terbatas. dan memang biasanya aplikasinya dengan MLR. Tapi, dengan kondisi Kota(jakarta misalnya) yang begitu hiruk pikuk, macet di luar sana. apakah bukanya malah membuat orang malas keluar rumah? jadi perlu extra survey dengan produk/jasa yg akan dikampanyekan dengan data TAnya…
gimana..?
Dear Windo,
segala kegiatan komunikasi memang seharusnya berdasar analisa perilaku konsumen. Analisa kan bisa berbentuk riset formal atau analisa kuantitatif aka tanya sana sini dan dibikin kesimpulan. Tergantung karaker klien akhirnya, menuntut data analisis atau bisa diajak diskusi berdasar ‘common sense’.
Mengenai coverage yang terbatas. Pada dasarnya coverage media yang luas tidak selalu berbanding lurus dengan efektifitas komunikasi ternyata.??? Coba buka tulisan saya di http://www.virus-communications.com/blog/?p=32#comments, disana saya menulis tentang hasil riset Nielsen.
klo semua media akhirnya terpakai…toilet, wastafel, buah, sampai hapening art yang bikin macet dll…
oowh…..
dimana lagi konsumen mendapat ruang privacy…..dari melek sampe tidur lagi…
dimana2 iklan….
lama2 gunung dan laut pun jadi media iklan. bukan berarti saya gak suka dengan iklan, dan gak memerlukan iklan…tapi mkin dalam hiruk pikuk komunikasi seperti sekarang..konsumen juga butuh istirahat…hehehe
maaf klo kurang setuju
Mas Thomas, selama produk baru masih bermunculan, selama itu juga kita akan dibombardir dengan iklan. Makanya challange orang iklan adalah bagaimana bisa memasuki ruang pribadi tanpa membuat seseorang merasa terintervensi atau malah bisa merasa terhibur =)
mmm…bener juga…mkin konsumen perlu ngomong gini
“ayo orang2 iklan….hasut saya, bujuklah saya, hibur saya dimana aja…eit tapi jangan sampe ganggu saya ya…klo sampe ganggu saya ntar tak sebarin ke temen2, ke milist2, ke surat kabar klo iklan produk anda sangat mengganggu”
j/k hehehe
makasih mbak Iim dan mas Adhit
atas tanggapannya
ohya..salut buat virus comm
mungkin perusahaan IT lain harus belajar soal komunikasi…biar gak teknis banget..
Terimakasih mas Thomas. Sukses selalu untuk Anda!
di jaman seperti sekarang ini, yang namanya media promosi itu bentuknya bisa bermacam-macam. But, untuk perusahaan yang punya modal gedhe sih mereka g ada problem untuk ngeluarin budget dalam hal promosi…(setuju gw ma artikel di atas). So buat kita2 yang masih seumur jagung n dengan modal yang cupet, kita mesti pinter2 muter otak kita gimana caranya biar kita gak mati digilas ma monster2…
So, be creative and take the risk, itu intinya….
Gw mulai bisnis gw cuman modal dengkul doank, alhamdulillah bisa jalan and berkembang..
Gw cuman modal kepercayaan doank…good service, good product, and u’r consumer will be a good promotion media for you….and we don’t need pay them(simple kan?)intinya jangan sekali2 bikin konsumen kecewa dech, apalagi di awal2 kita dapetin mereka mesti kerja keras banting tulang karena belum adanya awarness buat perusahaan kita….
guerilla media buat gue merupakan sebuah medium yg lebih ‘mengena’ ke hati comsumer yang tentunya seperti yg dikatakan penulis abahwa semua tergantung dari strategy dan konsep yang ‘nendang’. seperti contoh; Kartu Kredit ABN AMRO tahun lalu launch produk kartu kredit dengan melakukan guerilla media; mereka menggunakan bunga matahari (Van Gogh’s Sunflower paintings) untuk menutupi air mancur bundaran HI. disini ide cukup nendang dan mewakili kartu kredit mereka. tapi karena eksekusi yang tidak baik maka bunga-bunga tersebut hanya bisa bertahan beberapa jam saja. dan kalau tidak salah di lakukan pada hari minggu pagi. yang mana, tidak banyak orang berkeliaran di sana kecuali lari pagi dan kongkow-kongkow (group sepeda jengki). dan beberapa tahun lalu, saya kenal seorang sutradara di bilangan kota Manhattan, NYC…mengatakan bahwa ada gosip kalau Pepsi (PepsiCo.) sedang develop strategy untuk coba memantulkan logo mereka (Pepsi) di BULAN. bayangkan !!! that’s a one crazy-ass idea !
guirrella sama dengan cerdik! ga semua iklan bisa ngebuat konsumen merasa seperti dipaksa untuk membeli produk mas thomas…toh bisa jadi entertiment juga!:)
Tapi mbak, apa pernah ada riset untuk guerilla media dan non traditional media lainnya?Klo menurut saya tetep major media tu ya di TV, liat deh budaya org indonesia yang lebih suka ke ‘nonton’.Dan pas saya magang di sebuah media specialist yang berkutat di media world, saya pernah ngasi handout waktu mba iim workshop di Jogja (acaranya anak2 UGM 2004),salah satu opening statementnya adalah : sekian % orang mengganti channel pada saat prog acara berpindah ke iklan, That’s right.Really2 right malah.Terbukti klo lagi running program emg TVR dan TVR break bener2 beda.Tapi mbak, klo diliat lebih lanjut lagi, misalnya orang ditanya : Kmu tau produk ‘X’ dari mana? Kebanyakan tau dari TV. Mungkin bisa dicompare juga sama info dari Consumer Care,dll soal ‘taunya’ si target market tu asalnya dari mana. Trus soal Guerilla Media, efektif secara jangka pendek mgkn bisa ya, soalnya org Indonesia itu kan usil2, ada yang lucu dikit dirusak, diambil, dibawa pulang.Menurutku itu ajah. Duh banyak ya..Hehe
Mbak.. Iim… emang efektifitas sebuah iklan. terutama media lini atas dihitung pake apa? AC Nilsen?
Saya tergolong orang yang tidak terlalu percaya riset. Apalagi AC Nielsen!!
Apakah sudah ada formula untuk menghitung efektifitas iklan?
Yang kalo event kan jelas, jika banyak yang datang brarti bisa dibilang sukses.
Makasi mbak Iim dan Pak Adhit
Siang mas adhit dan mbak fahima,
saya ingin memasang TVC (iklan televisi) pada acara
* Oprah Winfrey Show
* Rachel Ray
* 8-11
Trans TV
* Ala Chef
* Gula-Gula
Rate Harganya brapa? dan kayak gimana sih cara pasang iklan itu?
minta tolong ya, karena saya smp saat ini belum mendapat kabar dari pihak yang bersangkutan (Metro TV dan Trans)
terimakasih