Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Twitter dan Politik(us): Harapan Baru Demokrasi Ideal atau Euforia Para Megalomania?

September 2, 2010
Oleh Ismujiarso

Online Marketing Communication Strategist Iim Fahima pernah mengaku kecewa dan batal bersimpati kepada seorang politikus muda. Lewat Twitter, @iimfahima (follower: 4,117) mengungkapkan perasaannya itu secara implisit, namun banyak tanggapan yang masuk menyatakan, mereka tahu siapa polititikus muda yang dimaksud itu. Ceritanya, si politikus kita ini sedang membangun eksistensi di Twitter, dan mulai mencoba mendekati tokoh-tokoh yang lebih dulu eksis di situ. Namun, itulah antara lain hasilnya: tanpa strategi dan pendekatan yang “benar”, potensi-potensi dukungan pun lepas dari tangan.

Twitter memang telah menjadi “tempat gerilya” baru bagi sebagian kaum politikus di Tanah Air yang melek-internet untuk memperluas basis massa. Seorang politikus senior PDIP yang juga punya posisi penting di DPR selama Bulan Puasa ini rajin mengundang seleb-seleb Twitter untuk berbuka bersama. Sebelumnya, dia juga telah melakukan upaya-upaya awal untuk menggalang para influencer di media baru yang lagi hit tersebut dengan mengundang mereka beramah-tamah di rumahnya yang mewah.

Politikus dan Twitter? Memang bukan cerita baru. Beberapa orang yang sebelumnya telah kita kenal namanya sebagai penyanyi, artis atau pun aktivis, dan kemudian menjadi anggota DPR/DPRD, barangkali sudah tak asing lagi bagi Anda keberadaannya di Twitter. Bahkan mungkin Anda salah satu follower dari akun-akun ini: @novariyanti (Anggota DPR RI Komisi IX 2009-2014 dan Badan Kerjasama Antar Parlemen Desk Hubungan Bilateral, Fraksi Partai Demokrat; follower: 3,786), @wanda_hamidah (Ketua Fraksi Amanat Bangsa DPRD DKI, Notaris, istri & ibu 3 anak; follower: 6,600), @Teretorial (Bio: Seniman itu beyond politician; follower: 3,039); @budimandjatmiko (tanpa bio: 1,868 followers), @evndari (PDIP – Kom XI, BAKN; 1,621 followers). Itu untuk menyebut beberapa contoh saja.

DPR sendiri merupakan salah satu lembaga negara yang paling banyak disorot di Twitter. Hampir setiap kabar dan peristiwa yang datang dari Gedung Kura-kura Senayan itu selalu menciptakan kehebohan di kalangan pencicit. Terakhir, timeline sibuk dengan berbagai tanggapan, komentar dan kecaman mengenai rencana pembangunan gedung baru DPR yang konon akan dilengkapi dengan kolam renang dan spa. Keberadaan anggota DPR di Twitter tentu penting dalam konteks ini: mereka bisa langsung ikut terlibat dalam setiap obrolan dan diskusi yang menyangkut kebijakan mereka. Misalnya, @pramonoanung (6,944 followers) via TwitRocker-nya menyeruak di tengah keriuhan itu dengan pernyataan yang memberi sedikit harapan akan masih adanya kepekaan pada suara rakyat.

Sebagai Pimpinan DPR, terus terang saya malu dgn rencana pembangunan gedung DPR yg baru, tdk sensitif dan jauh dr rasa keadilan masyarakat.

Rencana pembangunan gedung DPR tsb belum pernah diputuskan dalam rapat pimpinan, saya akan minta untuk dievaluasi atau ditunda…

Pada sisi lain, keberadaan para politikus Senayan di Twitter memungkinkan masyarakat yang telah memilih wakil-wakilnya di DPR bisa “menembak” langsung ke sasaran. Proses yang demokratis ini membuat @evndari yang mewakili suara “pro” gedung baru menjadi sibuk menjawab kritik-kritik yang dilontarkan langsung kepadanya.

@evndari @NajwaShihab nana yg cantik, gedung baru adl kebut krn di renstra DPR mau nambah TA. Tapi nilai gedung harus ke fungsional bukan sensasional

@evndari @agustinatyas biarkan diassess PU. Mari kritisi nilainya, jangan kebut atas gedung. Masak lembaga neg, staffnya kerja di tenda2?

@evndari @trisnoss kalau gedung n remunerasi depkeu kok gak disoal? GAJI naik berlipat tanpa didahului kinerja membaik.Gedung unt inter generasi,

Eva bahkan berdebat dengan kolega dari partainya sendiri yang tidak setuju pembangunan gedung baru:

@evndari @budimandjatmiko sy mendukung, tanpa kolam, spa, semata krn tambah beban staff n sesuai studi + rekom tim kinerja

Begitulah ceritanya; karena informasi gampang disebar di Twitter, para politikus itu sepertinya percaya bahwa timeline bisa menyatukan orang secara politis. Harapannya, sudah barang tentu, kita bisa membahas persoalan sehari-hari, kebijakan publik dan isu-isu sosial-kenegaraan dalam bentuk diskusi demokratis yang ideal. Namun, masih ada kenyataan yang jauh dari “ideal” itu. Beberapa politikus sepertinya asik sendiri, bermonolog, menguasai panggung sebagai seorang orator yang gagah, serba tahu dan, yeah….setidaknya itulah penilaian banyak orang atas twit-twit @Fahrihamzah (follower: 3,711) yang belum lama ini menggegerkan. Akunnya tanpa bio, tapi dia adalah anggota Komisis III DPR dari PKS. Serial twit-nya yang membahas KPK memerahkan kuping banyak orang. Gayanya jumawa dan sengak:

Tentu saya tidak anti KPK, memang itu terobosan dari DPR masa lalu. Tapi bersikap kritis kepada keadaan apa tidak boleh. Kapan korupsi selesai

Saya wajib mempersoalkan penggunaan APBN untuk pemberantasan korupsi + bantuan asing yang janggal sampai 15 juta US/tahun. Apa tdk boleh?

Itu sebabnya saya juga curiga..ada kelompok yg “pemberantasan korupsi itu adalah proyek”, jadi buat mereka yg penting tetap ramai..

Kelompok ini sama dengan kelompok yang menganggap terorosme itu proyek…supaya bantuan asing tetap keluar..maka teroris harus tetap ada

Soal korupsi dan teroris itu harus kita letakkan dalam khazanah kita sendiri.pertanyaannya apakah kita bangsa maling? Apakah maling tradisi?

Maka, pembacaan saya atas UU tipikor itu, fokus pada suvervisi, kordinasi untuk pencegahan..bukan petatang-petenteng dapat popularitas

Tapi kalau dari awal didorong untuk memusuhi bangsanya sendiri lalu terima bantuan asing untuk mensucikan indonesia…go to hell kpk!!

Jelek2 saya ini pimpinan komisi hukum. Sedikit banyak tahu isu pada semua lembaga negara, khususnya penegak hukum. Juga tahu gajinya berapa.

Kepada salah seorang pengritiknya, dengan perkasa @Fahrihamzah membalas:

@Fahrihamzah @treespotter // anda bicara atas nama siapa? Jangan terlalu banyak polisi moral deh…capek!

Kepada yang lain dia menyergah: Anda kayak orde baru aja mau main sensor…nikmati kebebasan dong!

Dengan gaya seorang megalomania sejati, sang politikus terus merangsek, mengisi detik demi detik waktu kosongnya dengan kesibukan jemari di atas tombol-tombol mungil BB-nya (“Pegel juga rupanya…pakai Onyx sih”, kata dia). Dia menampilkan diri sebagai seorang “korektor” yang membabat, menyerang dan mengecam sana-sani lewat twit-twit berantainya yang panjang, menggebu-nggebu, bombastis:

Dunia ini di rusak oleh 1 dari 2 macam manusia…yg bekerja terus tanpa pikiran dan yang berpikir terus tanpa kerja.. koreksi yg salah dong.

Anak-anak anti korupsi ini mau enaknya aja, mereka kira kalau sudah berhasil mengejek-ejek polisi dan jaksa di pinggir jalan masalah selesai

Saya ingin korupsi menjadi kecil di mata kita dan bahwa soal kecil ini akan kita lampaui dan kita akan membangun masa depan kita bersama..

Kalau ada generasi tua yg membesar-besarkan korupsi itu hanya untuk ambil popularitas, kita jangan ikut-ikut.generasi kita akan akhiri ini..

Di Amerika Serikat sana, Obama telah menunjukkan kekuatan sejati jejaring sosial online dengan kemenangannya yang sebagian besar atas keberhasilan kampanye dan lobi-lobi lewat teknologi internet. Di Indonesia, “kekuatan sejati” itu agaknya masih diraba-raba, dicoba-coba, dijajaki, dengan strategi (kalau ada), pendekatan dan gaya masing-masing para politikus. Ada yang masih menganggapnya sekedar main-main, ada yang memperlakukannya sebagai pelengkap untuk “yang penting punya agar tak ketinggalan tren”. Ada juga yang dengan santun mencoba meletakkan dasar-dasar pendidikan politik bagi masyarakat. Namun, tak terhindar pula adanya kecenderungan eforia yang riuh-rendah, berisik, penuh riak, namun dangkal.

Harapan memang selalu ada. Namun, jika akun seorang ketua partai saja bio-nya adalah “Pecinta kuliner Nusantara” atau “Abah dari 2 anaknya” maka sepertinya di mata kaum politikus ini Twitter masih dianggap sesuatu yang informal, bahkan mungkin sekedar “lucu-lucuan”. Sehingga, menggadang Twitter sebagai media baru menuju dialog demokratis yang ideal masih jauh panggang dari api.

14 Responses to “Twitter dan Politik(us): Harapan Baru Demokrasi Ideal atau Euforia Para Megalomania?”

  1. mas stein says:

    paling ndak sudah mulai disadari tho pak, bahwa twitter punya kekuatan yang bisa dimanfaatkan, entah itu untuk membangung atau menghancurkan

  2. rusabawean says:

    hahaha #barutahu kalo bionya Pecinta Kuliner Nusantara :D

  3. arham says:

    Kalau diliat dari ceritanya sih.. Politikus masih sama sejurus dengan para brand yg nyoba asik di media horizontal.
    Bertingkah pahlawan, cuap cuap layaknya pemimpin, memposisikan diri ia yg paling tau, plus berlagak diatas.padahl
    Media rakyat ini, semua punya derajat yg horizontal mutlak. Tanpa pemimpin, idealnya hatilah yg menggerakan untuk bergerak bersama
    Tanpa adanya pemimpin.

  4. yos beda says:

    gue suka banget ma gaya @Fahrihamzah,,,
    slengekan tapi asik…
    itulah politikus yang handal :) )
    ” anda bicara atas nama siapa? Jangan terlalu banyak polisi moral deh…capek! ”
    mantap kali ni,,,,
    :cendolbig :cendolbig :cendolbig

  5. nabun says:

    buat kaum politisi, banyak hal yang diremehkan. media, musisi, film, termasuk twitter. tanpa menyadari peran semua itu membentuk opini.
    fakta 1 : SBY tidak keberaan albumnya dibajak, justru menjadi alternatif hiburan murah. dia presiden. musisi yang lain? yang hidup dari kreasinya?
    fakta 2 : artikel JA Pasha di kompas, pernyataan yang muncul dari istana justru menganggap mayoritas pengguna twitter merupakan ‘kendaraa politik pihak lain’ dan pendapatnya tidak valid.
    fakta 3 : berita2 negatif di media tentang aparat, tidak ada penggarapan ‘imej’ pemerintah di ranah media, seolah-olah semua keputusan dan tindakan aparat tidak disaksikan secara langsung oleh rakyat.
    fakta 4 : artikel diatas. saya menyimpulkan bahwa memang bukan public image yang penting, tapi penyandang dana dan penyaluran ‘dana’.

    saya membayangkan twitter sebagai corong lapisan masyarakat tertentu yang kritis dan mampu mempengaruhi sebagian rakyat dan bisa memberikan feedback secara real-time. saat ini sangat mudah sekali mengetahui keinginan publik secara gratis dan anonim. artinya mudah sekali memberikan apa yang diinginkan/dibutuhkan rakyat. faktanya semua hal yang muncul bertentangan.

    tidak akan ada artikel2 menyedihkan yang membuat perasaan hancur berkeping-keping seperti gedung DPR, pidato tanpa ketegasan, dan segudang kabar buruk lainnya yang selalu bersumber dari tempat bergantungnya harapan.

  6. Djadja says:

    Re: Argumentasi Anggota DPR tentang Gedung Baru DPR Rp. 1,6 T

    Mereka lebih sibuk dengan permainan alam pikiran “pasar” mereka (termasuk corporate & personal branding-nya)…..Dalam bahasa Sunda diibaratkan sebagai “Monyet ngagugulung kalapa” (Monyet yang sibuk sendiri dengan kelapa)…..Mereka tidak bisa mengambil daging dan air kelapa (Root Problem/inti permasalahan), namun sibuk dan bingung memainkan kelapa (berargumentasi terhadap hal-hal yang bukan prinsip) ….:-))

  7. Coky says:

    Kalau membandingkan penggunaan jejaring sosial online antara US dengan Indonesia ya jelas jomplang. Mayoritas masyarakat kita, termasuk para politisi itu, memang baru pada tahap melek teknologi jadi tentu saja belum sangat memahami apa yang Anda sebut sebagai “kekuatan sejati jejaring sosial online”.

    Saya sendiri mahfum akan hal ini. Jadi biarkan saja semua berlangsung apa adanya karena waktu yang mendewasakan para politikus itu dalam memanfaatkan jejaring sosial online. Dinikmati saja.

  8. Saya pikir twitter telah menjadi “corong pembesar” untuk gagasan, ide, kritik, masukan yang mengalami kemandekan, kebuntuan bahkan diacuhkan….saya yakin lama-lama bisa jadi penghimpun opini alternatif yang dahsyat….

  9. Media sosial memang patut diwaspadai penggunaanya. Walau hanya 140 karakter sekalipun.

  10. Dadi Krismatono says:

    Twitter itu media elite dan bias kota. Jadi, tidak usah terlalu serius berkicau…

  11. Sayangnya yang bisa protes baru yang twitteran… yang belum kenal internet masih banyak lagi suarnya. Apakah akan membantu untuk proses demokrasi? Saya gak yakin, terlalu jauh. Kalo untuk meningkatkan popularitas empunya akun.. nah lebih masuk akal

  12. andri says:

    sejak kapan twitter menjadi “formal”??
    oh sejak para konsultan online jualan jasa mereka untuk kampanye “profesional” :D

  13. rahadian says:

    “Sehingga, menggadang Twitter sebagai media baru menuju dialog demokratis yang ideal masih jauh panggang dari api.”

    WOW :D Saya masih melihat harapan yang “masih ada” itu. Twitter bisa jadi alat untuk demokrasi deliberatif, asal tiap user sadar, bahwa suaranya bisa sejajar dengan politikus yang lebih eksis di dunia nyata.

    Tapi hanya jika mereka tidak terpaku pada satu tokoh, terutama yang di-follownya, secara membabi buta. http://politikana.com/baca/2010/08/25/media-sosial-dan-demokrasi-deliberatif.html

  14. Afri says:

    Kalau saya cuma berharap apapun medianya … berbicara yang baik.

    Kata-kata adalah keinginan dan do’a bukan sekedar pembentuk opini, do’a yang baiklah sebetulnya yang diperlukan negeri ini aga menjadi lebih baik lagi.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Kurnia Septa: - wah, selamat ya

  • mirza: - Saya dulu pernah magang di Virtual. Selamat ulang tahun ke-9! Mudah2an...

  • Zulfikar Akbar: - Tulisan yang cukup menarik. Memang soal mendirikan komunitas itu lebih karena...

  • samehadaku: - klo untuk “Direct Connect from Google Search” bagaimana caranya mas?

  • hendra andiarto: - Met Millad untuk Virtual Consulting. semoga tetap mewarnai dunia marketing...

  • sony set: - sugeng tanggap warsa…tetap semangat mbak Iim, Mas Nukman…tetap mewarnai...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting