Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Transformasi Menuju Social Enterprise Bagian 1

January 4, 2012
Oleh Andi Primaretha

Awal tahun 2009 silam merupakan kali pertama saya memulai karir di industri social media. Ketika itu saya bertanggung jawab menjabat sebagai admin dari akun FB profile sebuah brand otomotif ternama. Pekerjaan social media yang saya lakukan waktu itu mulai dari mempersiapkan konten harian, mengelola lomba dan ikut aktif live update di acara offline gathering, ya tidak jauh berbeda seperti umumnya pekerjaan social media saat ini. Namun yang menarik adalah dulu FB fanpage belum diluncurkan sehingga untuk keperluan reporting dilakukan secara manual, tidak seperti sekarang sudah ada FB insight yang sudah canggih. Tidak terasa sekarang sudah tiba di tahun 2012, sudah 3 tahun. Selama itu juga yang akhirnya membawa saya kepada sebuah pemahaman bahwa social media tidak hanya sebuah teknologi media baru tetapi merupakan sebuah budaya baru. Mengapa saya katakan demikian? Karena saya melihat tidak sedikit para marketer yang memperlakukan social media hanya sebagai alat promosi atau channel tambahan untuk berkomunikasi dengan konsumennya. Saya menilai bahwa karakter dari social media bisa memberikan benefit yang lebih untuk para pemilik brand dari hanya sekedar sebagai saluran komunikasi tambahan.

Kembali pada pernyataan saya bahwa melihat social media adalah budaya baru dibanding hanya sebuah teknologi media yang baru, coba perhatikan ilustrasi mengenai Social Business Culture di bawah ini:

Hal pertama kita mulai dari Social Customer. Kita semua sudah sangat paham bahwa media yang kita konsumsi setiap hari dipengaruhi oleh perkembangan dari teknologi media tersebut. Dengan adanya teknologi Internet Web 2.0 seperti yang kita kenal sekarang, ada perubahan sikap dan perilaku dari masyarakat kita yang sebelumnya pasif karena karakter dari media tradisional yang tidak memungkinkan audiens untuk memberikan feedback dan kemudian era saat ini ketika semua media menjadi interaktif, masyarakat kita akhirnya menjadi sebuah masyarakat yang aktif atau malah hiperaktif. Nah, aktif disini tidak hanya rajin memproduksi konten di social media tetapi juga aktif berinteraksi tanpa kenal waktu dengan orang lain di social media. Karena keaktifan tersebut maka lahirlah istilah social customer, yaitu customer yang aktif, gaul, sering berinteraksi dengan teman-teman atau keluarganya di social media. Menghadapi kenyataan bahwa kini customer telah menjadi Social Customer, maka para brand juga tidak mau kalah eksis dengan customernya, maka lahirlah banyak akun-akun brand di social media. Semuanya berkompetisi untuk mendapatkan likes dan followers sebanyak-banyaknya karena itu lah indikasi umum sebuah Social Brand dianggap sukses di social media. Sebenarnya tidak 100% saya nyatakan salah keinginan untuk memiliki banyak likes dan followers di social media dengan campaign quiz yang sering berkeliaran tersebut. Namun, yang saya permasalahkan bahwa saya melihat Social Brand yang ada saat ini beberapa tidak sepenuhnya memiliki jiwa / budaya yang seharusnya ada di social media. Untuk itu lah kemudian ada istilah Social Business. Perlu dipahami bahwa Social Business disini bukan bisnis yang bertujuan untuk membantu gerakan sosial seperti apa yang dilakukan Moh. Yunus dengan Grameen Banknya melainkan Social Business disini adalah bisnis yang mendukung budaya komunikasi yang open / terbuka dan juga menciptakan adanya kolaborasi diantara stakeholder (konsumen, karyawan) dari brand / perusahaan tersebut.

Apabila para Social Brand yang sudah terjun memiliki akun di Facebook dan Twitter maka seharusnya mereka sadar bahwa mereka sedang berada di dalam Social Business. Dengan begitu, keberadaan mereka di social media tidak hanya melulu untuk heboh membuat quiz dan campaign untuk mengumpulkan likes dan follower tetapi juga lebih untuk menjadi terbuka dengan mendengarkan suara konsumen dengan lebih baik lagi. Tidak hanya itu, Social Brand tersebut harus memungkinkan kolaborasi terjadi antara brand dan konsumen juga di dalam internal brand tersebut. Untuk itu tahapan selanjutnya adalah menciptakan Social Enterprise yang akan mendukung dari budaya Social Business tersebut. Dibutuhkan organisasi dengan pemahaman dan keahlian yang dibutuhkan untuk benar-benar menjadi sebuah Social Enterprise. Benar, tidak mudah untuk melakukan transformasi organisasi untuk menjadi social karena merubah paradigma seseorang saja sulit apalagi harus merubah paradigma di seluruh lini organisasi.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menciptakan Social Enterprise yang bisa “nyambung” dengan Social Customer (para stakeholdernya) ? Jawabanya adalah Social Enterprise itu harus memiliki Social Intelligence. Apa itu Social Intelligence? Mudahnya adalah suatu kemampuan dari seorang atau organisasi untuk memahami kondisi lingkungan sosial di sekitarnya. Saya juga merumuskan tahapan untuk mencapai Social Intelligence dengan gambar di bawah ini:

Penjelasan mengenai peran penting Social Intelligence dalam mengembangkan sebuah Social Enterprise akan saya sampaikan pada artikel Transformasi Menuju Social Enterprise Bagian 2

4 Responses to “Transformasi Menuju Social Enterprise Bagian 1”

  1. Agus Roma says:

    Ternyata tidak hanya sekedar membuat akun social media tapi lebih dari itu. Terima kasih atas artikelnya.

  2. haris says:

    alhamdulillah menambah ilmu terus dari mas andi gratis lagi hehe :) semoga terus berkarya

  3. Andi Primaretha says:

    Alhamdulillah, terimakasih teman2 untuk apresiasinya, semoga bermanfaat ^^

  4. waah,thanks udah share artikelnya, sangat bermanfaat bagi penggiat marketing, terutama yg fresh graduate :)

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Wawan: - Social Media memang menjadi booming setelah tersedianya berbagai macam aplikasi social...

  • omel: - iya mas,, saya juga sekarang lg cari teori tentang gimana cara ngukur efektivitas...

  • Kinan: - Mas Andi, boleh minta referensi buku2 mengenai social media ga? Tentang bagaimana cara...

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Hanif, idealnya seperti itu, followers banyak dan tingkat...

  • Hanif Mahaldi: - wah, akan lebih maksimal lagi kalau yg punya followers 5000 itu juga memakai...

  • Andi Primaretha: - Engagement bisa diukur berdasarkan berapa banyak total post yang kita publish...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting