Seusai membahas rencana seminar strategi Internet tadi pagi, Amalia Maulana, Head, MM-Strategic Marketing, Binus Business School, yang sekaligus juga dikenal sebagai brand consultant menyodorkan kartu nama baru. “Saya sekarang sudah memproklamirkan diri sebagai ethnographer lho,” kata doktor jebolan School of Marketing, University of New South Wales, Australia ini.
Benar, di kartu nama terbarunya tercetak Brand Consultant & Ethnographer. Mahluk apa itu ethnography? Kenapa saya tulis di sini? Apa pentingnya untuk diketahui para dotcomers serta emarketer?
Ethnography adalah riset kontemporer yang sedang marak dibicarakan di perusahaan, merupakan sebuah pendekatan baru yang menggunakan culture sebagai landasan memahami interaksi antara konsumen dengan produk/brand. Dasarnya adalah ilmu antropologi budaya.
Seorang ethnographer melakukan riset dengan cara masuk dalam kehidupan konsumennya, paling tidak melihat dari dekat dan melakukan pengamatan langsung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi yang lebih real tentang apa yang dikerjakan oleh konsumen dalam hubungannya dengan produk, bukan hanya mencatat apa yang mereka katakan mereka kerjakan.
Ethnography adalah proses penggalian lebih dalam pengetahuan tentang konsumen. Dengan riset ethnography, kita bisa melihat banyak hal dari perspektif konsumen, bukan dari perspektif produsen/pemasar saja. Seorang ethnographer harus open-minded, punya kemampuan untuk membuka mata, telinga dan hati untuk bisa mengerti feelings dan emotions di balik perilaku konsumen yang berkaitan dengan produk/brand.
Riset ini menjadi jawaban bagi pemasar yang sudah tidak puas dengan hasil riset konvensional seperti fokus group dan survey. Ethnography merupakan teknik riset kualitatif dengan metode kontemporer, adakalanya dilakukan kombinasi dari beberapa teknik. Misalnya kombinasi observasi langsung, tidak langsung dan depth interview. Riset konvensional seperti fokus group masih bisa dilakukan tetapi dengan pendekatan yang lebih kreatif sehingga tidak hanya superficial saja outputnya.
Nah, di dunia Internet, praktik ethnography disebut sebagai netnography. Silahkan simak postingan jadul saya: Netnografi, Mengamati Tingkah Polah Online
Dengan mengamati komentar-komentar yg diposting di blog ini bisa dibilang mas Nukman sudah mengamalkan netnografi juga dong. Setidaknya fasilitas “Leave a Reply” di blog mas Nukman, bisa diibaratkan sebagai FGD Virtual dengan discussion membernya para dotcomers dan pemerhati internet lainnya.
Nah mas, tentunya ada insight2 terkini yg sudah diperoleh mas Nukman, sharring dong
makasih.
Tambahan sedikit Mas Nukman. Ethnographer yang dimaksud adalah dalam konteks pemasaran/marketing. Yang sudah umum adalah ethnographer di bidang sosial budaya. Masih jarang yang menekuni profesi ethnographer in marketing.
NL:
Thanks Lia. Judulnya sudah saya perbaiki.ÂÂÂÂ
Menarik juga, tapi apa bakal ada yang melabeli dirinya “Netnografer”?
Ngomong-ngomong soal netnografi, sejauh ini yang saya terapkan baru sebates click tracking pake heat map dan analisa funnel. Pake Eyetools kayaknya masi susah dilakukan disini. Jadi metode apa lagi yang bisa bantu proses ini?
Saya pikir salah satu tantangan bagi etnografer di pemasaran adalah bagaimana melakukan etnografi dalam skala besar.
Etnografi memang memberikan peluang bagi kita mengetahui karakteristik suatu komunitas dengan mendalam. Tapi ada trade-off disini, pengetahuan mendalam ini biasanya diperoleh untuk suatu komunitas kecil. Di dunial ilmu sosial dimana etnografi memang menjadi hal biasa; banyak hasil riset etnografis ini terbatas pada suatu komunitas relatif kecil. Sehingga kita kesulitan mengetahui apakah kesimpulan yang ditarik masih berlaku di kelompok dengan skala lebih besar.
Melakukan etnografi untuk sebuah toko besar, misalnya, memang pantas dilakukan. Tapi jika obyek penelitiannya memiliki daerah luas dan masyarakat yang heterogen; perlu diperhatikan secara serius apakah riset etnografis masih ekonomis untuk bisa dilakukan.
Anyway, selamat untuk Amalia akan profesi barunya. Saya tertarik untuk mengikuti perkembangan etnografi marketing di Indonesia.
Ada dua buah buku ethnografi yang menggetarkan tentang dunia internet, yang mungkin layak dibaca oleh para pemerhati studi tentang cyberspace.
1. Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet karangan Sherry Turkle (yang acap dijuluki Queen of Cyberspace). Buku ini amat luar biasa dan, ada komentator yang pernah bilang, “Every blogger on earth must read this book”.
2. The Internet: An Ethnographic Approach. Sebuah karya etnografis yang memikat tentang dunia maya.
2.
Life on the Screen berkisah tentang proses keterpecahan identitas dan retaknya kepribadian dalam dunia maya….terutama ketika dunia virtual itu menemukan wujudnya yang kian konkrit.
Ambil contoh tentang fenomena http://www.secondlife.com. Sungguh, dunia imajinatif virtual yang dibangun oleh secondlife acap membuat kita tak lagi bisa membedakan mana dunia nyata, mana dunia maya. Melibatkan diri dalam dunia secondlife membuat kita benar-benar bingung — apakah kita masih tinggal di bumi yang nyata, atau hidup dalam “kehidupan kedua” di alam Mars sana…..
Identitas kita dalam dunia riil, dan identitas kita dalam dunia maya menjadi kabur — dan ini memunculkan problem keterpecahan identitas.
Sherry menggunakan metode etnografis dalam mendedahkan kisah-kisah dramatis itu, dan kemudian menarasikannya dengan amat memukau. Buku Sherry ini disebut-sebut sebagai salah satu buku terbaik tentang dunia cyberspace. Dan karena buku ini, Sherry Turkle kemudian dijuluki sebagai “Queen of Cyberspace”.
#5 Mr. Strategy
Wah boleh tuh utk dishare review singkatnya disini
Beberapa kesimpulan sementara saya, setelah melakukan uji pasar dalam rangka pembukaan Sekolah Internet marketing di beberapa kota di Indonesia.
1. Yogyakarta : Produk dengan harga terjangkau akan lebih mendominasi pasar.
2. Surabaya : Lebih membutuhkan testimonial dan bukti bukti yang yang nyata dari produk yang kita tawarkan.
3. Bali / Denpasar : Pemasaran melalui komunitas akan lebih berhasil.
4. Jakarta : Jangan pernah menawarkan Produk / Bonus Gratis ….
Kota lain menyusul
)
Walaah ada pakar Social Networking juga disini *nunjuk2 Roby*. Apa kabare Kang Roby ?
Selamat juga buat Bu Amalia, saya juga jadi tertarik nih belajar etnografi dan mengikuti perkembangannya di Indonesia.
Beberapa hari ini banyak perubahan di blog ini, posisi “recent comments” sekarang di atas “recent entries”. Apakah ini bagian dari studi Ethnography
?
Netnografi ada metodolooginya. Yang saya lakukan baru sebatas menganalisa kecenderungan trafik saja dan kemudian melakukan perbaikan. Semenjak ada recent comments, efeknya terasa pada meningkatnya jumlah komentar, makin asiknya komentar, serta makin hidupnya postingan lama. Maka, dengan senang hati, recent comment naik ke tempat yang lebih terhormat, di screen pertama, sehingga langsung terlihat begitu user akses ke blog ini.
Dengan kata lain ethnografi ini bagian dari consumer immersion ? atau sebaliknya ?
Mas Andrias,
Consumer immersion atau masuk dalam kehidupan konsumen (disebut juga dengan partisipatory observation) adalah salah satu teknik yang bisa digunakan dalam metode etnografi. Belakangan memang terminologi itu sering muncul, digunakan oleh tulisan2 marketing, sangat berkaitan dengan etnografi. Tetapi yang perlu dicatat, tidak selalu etnografi harus dilakukan dengan teknik consumer immersion.
^^
terima kasih atas penjelasannya bu
Mohon bantuan bapak/ ibu, yang mau meluangkan waktu buat saya. Saya kesulitan membuat target dan budget marketing. Maklum masih pemula….thx. email: joehenpur@yahoo.com
mohon bantuanya jika ada buku tentang ethnography marketing bahasa indonesia dan saya mendapatkanya dimana thanxs
kalo saya simpulkan, intinya mengetahui calon konsumen lebih dalam melalui pendekekatan sosial budaya. Trus apa saja prinsip2 risetnya? Apkah sama dengan riset pemasaran pada umumnya?
[...] Profesi Baru di Indonesia: Ethnographer di Bidang Marketing [...]