Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Saran Untuk Manajemen RS OMNI Tangerang

June 4, 2009
Oleh Nukman Luthfie

Opini publik hingga hari ini dalam perseteruan hukum antara RS Internasional Omni Hospital, Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan melawan pasiennya sendiri, Prita Mulyasari sudah jelas. Publik, terutama lewat ranah maya, membela Prita, mencerca RS OMNI, bahkan menyerukan boikot kepada rumah sakit tersebut, serta dua dokter yang menangani Prita. Sampai hari ini,  saya tidak menemukan satu pun suara publik yang membela RS OMNI di dunia maya. Menurut saya, saat ini terjadi krisis pencitraan yang amat buruk bagi  RS OMNI.

Sampai hari ini, RS OMNI tetap melakukan pendekatan klasik yang selama berbulan-bulan mereka lakukan untuk melawan Prita sejak akhir tahun lalu: pendekatan legal, sehingga memenjarakan ibu dua anak balita. Bahkan ketika tekanan publik lewat Internet semakin menguat, dan akhirnya status Prita berubah jadi tahanan kota sehingga bisa menyusui anaknya lagi di rumah, manajemen RS OMNI bergeming.  Melalui kuasa hukumnya, Heribertus Hartojo, RS OMNI bisa saja menarik tuntutan hukum, jika “Prita tidak lagi meminta 27.000 itu dan juga kalau Ibu Prita mengakui kesalahannya“.

Jawaban itu menyiratkan bahwa pendekatan mereka tidak berubah. Yakni pendekatan hukum. Jawaban seperti itu sangat menjengkelkan publik, sehingga tulisan di Detik.com tersebut menuai 250 komentar negatif kepada RS OMNI hanya dalam tempo setengah hari.

Situasi yang terlanjur krisis mendalam seperti ini memang sulit diatasi. Manajemen krisis harus dibangun secara strategis dan segera dijalankan. Namun untuk jangka pendek ini saran saya satu saja: ubah pendekatan hukum menjadi pendekatan komunikasi.

Tarik mundur kuasa hukum sebagai juru bicara perusahaan. Jika kuasa hukum yang selalu bicara ke publik, besar kemungkinan isinya soal benar atau salah, soal Prita melanggar hukum atau tidak, seperti yang selama ini termuat di berbagai media, baik online maupun media konvensional lain.

Padahal, opini publik bukan lagi soal salah benar, tetapi soal keadilan, kemanusiaan (ibu yang tidak dapat lagi menyusui anaknya karena dibui), soal suara konsumen yang diberangus melaui UU ITE, serta soal keangkuhan dan arogansi RS OMNI sebagai perusahaan terhadap keluhanpasiennya (pelanggan).

Pendekatan terbaik saat ini adalah pendekatan komunikasi. Juru bicara RS OMNI sebaiknya adalah manajemen/direksi yang memahami komunikasi, kalau bisa juga memahami perilaku konsumen online, yang tidak hanya bicara soal pencemaran nama baik.

Sebab jika bersikukuh dengan pendekatan hukum saja, dan kuasa hukum menjadi jubir seperti selama ini, dikhawatirkan perlawanan publik akan semakin kuat, seperti yang terlihat di komentar Detik.com serta berbagai gerakan di social media seperti blog dan social networking (terutama facebook). Ujung-ujungnya, citra perusahaan semakin ambruk, yang berpotensi memperburuk kinerja perusahaan, termasuk menurunnya jumlah pasien dan income perusahaan.

Saya sampaikan saran ini karena mempertimbangkan dua hal penting.

Pertama, bagaimana pun juga, publik memerlukan rumah sakit (yang baik). Mereka yang sakit, perlu rumah sakit dan dokter. Jika sampai kinerja RS OMNI buruk, diboikot banyak orang, hanya gara-gara penanganan krisis yang salah, publik juga akan dirugikan karena berkurangnya jumlah rumah sakit yang layak.

Bagaimana pun juga, konsumen dan produsen saling membutuhkan. 

Kedua,  jangan dilupakan bahwa RS OMNI menampung banyak karyawan, membuka lapangan kerja. Jangan sampai hanya karena salah menangani krisis berakibat fatal kepada lapangan kerja.

Oleh karena itu, saya berharap RS OMNI berhasil melewati krisis ini dengan baik, antara lain dengan mengedepankan pendekatan komunikasi yang lebih benar.

Tulisan terkait:

Mendengarkan Keluhan Pelanggan Online

Perusahaan dan Merek vs Konsumen Online

65 Responses to “Saran Untuk Manajemen RS OMNI Tangerang”

  1. Taruma says:

    Betul! Saya setuju dengan anda. :D

  2. Riawan says:

    Agak heran juga dengan pendekatan yang dilakukan RS Omni, apakah mereka tidak belajar dari kasus yang telah menimpa mereka.
    Sudah beberapa kali komentar mereka menimbulkan respon negatif, kenapa masi dilanjutkan dengan cara yang sama.

    Kasus ini juga membuktikan media & komunitas online sudah tidak bisa diabaikan kehadirannya lagi : bukan hanya karena jumlahnya yang banyak, tapi juga solidaritasnya. :)

  3. Omni sudah kalah pada kepentingan besar untuk melindungi nama baiknya, dengan memilih jalur hukum korporasi vs individu dalam upaya melindungi nama sudah merupakan kekeliruan besar, sama saja menonton mobil menabrak pejalan kaki akan selalu mobil yg dibantai massa…, misalkan bu Prita kalah misalkan dia harus membayar denda milyaran rupiah misalkan dia harus masuk penjara 6 tahun lamanya, satu keluarga di rundung duka…, Pengacara Omni bangga kasus dimenangkan, status hukum Omni menang, tetapi puluhan ribu konsumen sudah mencap Omni RS brengsek…, apakah itu penantian Omni….

  4. didut says:

    setuju dengan pak Nukman :D

  5. dindamirda says:

    Pengen berkomentar om tapi entar saya masuk bui lagi hehehe tapi saya setuju apa yg om tulis diatas.

    semakin RS berkoar semakin terlihat aib dimata masyarakat.

  6. ruth says:

    Setuju pak.
    Apakah RSOI tdk membaca beberapa opini blogger, petisi online & yg semacamnya ya? Yg akhirnya berhasil menyedot perhatian dr masyarakat kita.
    Saya pikir, ketika mendengar Ibu Prita dibebaskan (krn adanya tekanan dr masyarakat, media, juga dimanfaatkan unt ‘kampanye’ & alasan lainnya), RSOI akan merubah strateginya, ternyata tidak,msh saja arogan & malah mengeluarkan statement yg aneh bijitu…
    sayang sekali kesempatan unt memperbaiki situasi yg mereka tdk manfaatkan.

  7. Dede says:

    Good Opinion pak….

  8. bony says:

    RS “oh ih” emang sangat arogan, kalo emang dia dapat predikat baik, itu mah cuman alat-alatnya aja. tapi percuma karena operatornya kayak gitu (bersikap buruk kepada pasien).
    dan akhirnya jadilah dia rumah sakit yang tidak layak untuk melayani masyarakat.

    dan lagi statemen “RS OMNI bisa saja menarik tuntutan hukum, jika “Prita tidak lagi meminta 27.000 itu dan juga kalau Ibu Prita mengakui kesalahannya” (detik kom) terdengar sangat mencurigakan yang mengindikasikan ke banyak hal terlebih bagi orang awam seperti saya. kenapa musti harus takut kalo emang 27.000 itu adalah hasil lab yang benar.. ya toh…. ah dasar budaya feodal kok masih ada di jaman internet… cape deh…

  9. maxi says:

    RS Omni sedang membawa perusahaannya kepada kebangkrutan…dengan melempar statement2 yang arogan…
    terlepas dari salah atau benar…keadilan akan berpihak ke ibu Prita

  10. bangsari says:

    ini seperti membunuh nyamuk dengan bom. standar internasional kok ndak paham banget psikologi sendiri bangsa sih?

  11. Om ini saya share di Blog dan facebook saya ya?

  12. Indra Kusuma says:

    Kalo saya jadi pemodal di RS Omni , udah saya ganti manajemen dan PR-nya. Terutama orang yang mengusulkan menggunakan jasa Pengacara untuk melakukan penuntutan.

    Apalagi issu ini sudah masuk juga ke televisi dan media cetak yang jelas audiencenya lebih luas lagi.

    Hancurrrr deh kredibilitas gara-gara bad move.

  13. wahid says:

    Sebagai orang jawa … saya sangat memegang amanah jawa … Menang Tanpo Ngasorake … artinya menang tanpa musuh merasa malu,menang tanpa menyakiti lawan …. Untuk saat ini, pendekatan terbaik bukan pendekatan hukum, Sangat setuju dengan Pak Nukman … mestinya menggunakan pendekatan komunikasi yang benar … saat ini OMNI tidak sekedar menghadapi permasalahan HUKUM, tetapi permasalahan Opini Publik.
    Dalam Kasus ini, ibarat perang melawan satu semut menggunakan BOM … semutnya memang mati …. tapi akibat sampingannya banyak … baik dari sisi ekonomi (biaya yang harus dibayar oleh RS OMNI, biaya pengacara,resiko masyarakat menjadi antipati,lalu kemudian akan menurunkan jumlah kunjungan pasien) maupun dari sisi effek sosial budaya.
    Kasus ini bisa diambil hikmahnya bagi siapa saja, tidak saja bagi pihak OMNI, Rumah Sakit lain, Dokter, Pemerintah, Masyarakat bisa mengambil hikmahnya.
    Saya Kira jalan perdamaian adalah satu – satunya cara termurah buat OMNI. Dalam kondisi seperti saat ini, mestinya omni langsung mengajukan perdamaian tanpa syarat, dan untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap rumah sakit,mumpung permasalahan belum terlalu melebar, justru ini kesempatan OMNI untuk memperbaiki manajemennya. Hal ini pasti akan memakan korban dari pihak RS OMNI (maksud saya manajemen RS OMNI saat ini,harus berani berkorban,secara hukum anda tidak di pihak yang salah, namun dalam kondisi ini, demi menyelamatkan keberlangsungan OMNI, yang tentunya disitu bernaung ratusan karyawan).OMNI HOSPITAL harus melakukan langkah radikal, mengumumkan ke masyarakat, yang intinya menyatakan ke publik bahwa OMNI HOSPITAL berempati terhadap peristiwa ini, dan menjadikan peristiwa ini sebagai koreksi bersama. Langkahnya ke depan apa,memberi jaminan bahwa RS OMNI telah menjadi lebih baik karena peristiwa tersebut.

    Dalam bisnis, tidak semua pelanggan kita bisa puas, itu resiko sebuah usaha, dari misalnya 5000 pasien di OMNI,pasti ada 1 atau 2 atau bahkan 20 pasien yang tidak puas, itu wajar saja dalam bisnis. Apalagi saat ini arus informasi demikian cepat, resiko komplain / keluhan di media internet sangat nyata di depan mata.

    Semakin mahal harga yang harus dibayar oleh pelanggan, maka semakin tinggi pula ekspektasi pelanggan terhadap produk/jasa yang bersangkutan. Manajemenen krisis yang kuat dan cerdas sangat diperlukan dalam dunia usaha. apalagi untuk rumah sakit sebesar OMNI.

    Untuk Bu Prita, semoga semuanya berlalu dengan baik bu, saya doakan agar ibu sekeluarga dapat teguh dan tabah menjalani semua ini. Terutama buat kedua putra Bu Prita, semoga dengan peristiwa ini bahkan membuat mereka tumbuh lebih kuat dikemudian hari.

    Terima kasih.

  14. Ruslan says:

    Setuju pak Nukman, saya sarankan RS OMNI meng-hire pak Nukman sebagai konsultan dan juru bicara supaya kasus ini cepat selesai secara proporsional.. selamat Pak Nukman!

  15. Albert Lo says:

    Dalam kasus ini terbukti Berita Buruk cepat sekali menyebar. Ada satu pertanyaan buat Pak Nukman, bila perusahaan melakukan hal yang sebaliknya yaitu memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan, kenapa berita ini sulit menyebar dan mendapat dukungan online? Adakah cara yang jitu untuk mempublikasikan excellent customer service? Mohon pencerahannya Pak..

  16. pradana says:

    Bangsa ini benar-benar belum lepas dari “penjajahan”…
    hanya demi pekerjaan, rela mengorbankan hati nurani dengan alasan profesionalisme…
    Berhati – hatilah… hukum bisa anda kelabui, masyarakat bisa anda bodohi ..
    TAPI.. hati dan TUHAN-mu akankah bisa kau lupakan
    !!!!

  17. Setuju dan jika RS OMNI tetap pakai jalur .. mari kita bergerak.

  18. San says:

    Menghadapi mslh apa nggak sebaiknya dgn kepala dingin dan nggak saling mengedepankan ego? Coba belajar mendengar, belajar saling empati juga belajar menghargai dgn nggak merasa pihaknya yg paling benar. keliatannya kedua pihak nggak 100% benar dan 100% salah, sama sama…..tp keburu ketutup sm emosi masing2. Pihak pengacara sebaiknya jadi ‘air es’ yg sejuk, bukan arang membara yg siap menghangatkan suasana.
    Yg berikut, komunikasi skrg kok spt barang langka ya…? kenapa? Mgkn kalo masing2 bicara dgn ‘HATI’ dan bkn ratio terus-terusan…..kompornya nggak jd meledak kyk gini.

  19. Arham says:

    disuatu perbincangan online, saya dengan teman, memang setidaknya OMNI harus mengubah pendekatan, lagipula secara prediksi pun menang atau kalah,citra RS OMNI akan semakin buruk

  20. Bali Mouse says:

    Omni telah merusak citra nya sendiri,
    percaya deh biar pun omni menang, saya pikir tuh RS bakal tutup segera…..karena bangkrut.
    dan buat investor….
    saya lihat, comment di face book kebencian publik semakin menjadi jadi,
    di lain sisi RS Omni makin di kenal publik tapi dengan image yang buruk…..
    mungkin RS Omni melihat dari segi hukum,
    tapi masyarakat melihat dengan hati nurani,
    dari surat yang sepat saya baca,,,,rasanya itu gamblang aja terlihat layak nya keluhan ketidak puasan pelayanan semata…..
    mungkin surh baca dah ama anak sd….pasti mereka bisa ambil kesimpulan….

  21. Sulisti Anto says:

    kasus ini bisa merupakan sinyal awal bagi kita semua untuk juga memperbaiki diri. memang benar kata orang, dunia semakin datar (walaupun bumi bulat).
    RS OMNI memang bagaimana pun jua harus membayar harga tersebut.

  22. aries says:

    Wahai RS OMNI Int’l sebagai rumah sakit yang menyandang status international harusnya berbanding lurus dengan mengutamakan sistem pelayanan. saya sarankan utk instropeksi apakah service yg diberikan sdh sesuai standart atau belum. Anda mestinya tdk usah merasa tercemar jika servicenya tdk bermasalah. benahi sistem ke-HUMAS-an anda. Menempuh jalur hukum hanya mengerdilkan RS anda dr yg semula berstatus Int’l menjadi layaknya RS konvensional.

  23. sutoyo says:

    wah tunggu aja tutupnya rs oh ih yuk…. Yang punya tuh juga punya modal kuat, ga tau siapa? Biasanya ga terlepas dari kebijakan pemilik kalo gugatan dari rs tuh… Mereka berpikir dengan uang triliunan bisa berbuat semena terhadap siapa saja yang mengganggu usahanya. 100 – 200 juta apalah artinya. Kaum kaya yang minoritas di negeri kita tercinta ini biasanya melakukan itu, soale mayoritas bangsa kita pada miskin.
    Yang masuk rs omni juga orang2 kaya, aku sih berat buka dompet buat ke rs sekelas itu… Batuk pilek aja mungkin bisa 500 ribuan bahkan lebih… takut…
    Berobat ke klinik d kampung 30 ribu aja dah dapat obat
    Yuk kita lihat rs omni kelanjutannya maksudnya tetap lanjut atau tutup….

  24. BudiTyas says:

    RS konvensional malah nggak gitu deh, .. masih mendingan

  25. Semoga RSnya jangan sampai ditutup hanya kesalahan dua tiga orang. Kalau dokter dan suster masih bisa pindah kerja ke RS lain dengan mudah. Bagaimana nasib ratusan karyawan lain yang tidak ada kaitannya dengan masalah tapi harus kena dampaknya juga? Makanya saya justru berharap agar manajemen RS sakit melakukan tindakan yang saling menguntungkan berkaitan dangan kasus Prita ini. Jangan ngotot terus dengan pendekatan hukumnya. Prioritaskan pendekatan komunikasi.

  26. Ulasan yang bijak dari Sang Begawan PR 2.0

  27. Ayu says:

    Setuju!!

    Anyway, kalau nggak ada RS Omni, saya jadi tidak tahu seperti apa wacana/contoh yang buruk. Nah, sekarang saya temukan. Saya sendiri dokter, tapi saya sering juga dalam posisi pasien. Kalau begini saya akan memilih RS lain untuk berobat. Taruhannya nyawa kalau main-main.

    Salam!

  28. fahmi! says:

    sependapat dg saran pak nukman, ini blunder PR buat rumah sakit omni. saya pikir mereka perlu juru bicara baru yg lebih manis bicaranya untuk mendinginkan situasi. kalo mereka tetep berkeras hati lewat jalur hukum, saya pikir bukan solusi yg baik untuk semua pihak, sama sama kalah.

    harapan saya semoga omni bisa belajar dari pengalaman m fahmi aulia dg sepatu edward forrer, dan gimana edward forrer merespon komplain dari pelanggannya. detail ada di blog saya.

  29. nur says:

    seperti halnya kita ingin menyatakan kepuasan atau ketidakpuasan atas pelayanan suatu instansi, sebagai konsumen dapat menceritakan kepada orang-orang disekitarnya dari mulut ke mulut. ini seharusnya menjadi strategi marketing bagi sebuah instansi, bukan malah sebaliknya sikap yang dilakukan oleh pihak RS.OMNI, saya kecewa dengan sikap RS dalam menanggapi/bereaksi dengan sikap konsumennya.

  30. bomber says:

    aku gak setuju ma kamu ..
    kamu tuu .. terlalu baik …
    rs kayak gini tutup aaajaa .laaaah

  31. edi says:

    saat nya perusahaan perusahaan Publik memiliki konsultan , team marketing dan PR yg berorientasi bisnis online , sehingga cara menangani client dan pelanggan nya bisa lebih klik sesuai dengan kehidupan Maya

  32. Agustinus says:

    Lebih baik OMNI hospital ganti “brand”, pilih PR ( public Relation ) yang handal terutama dalam bidang “bisnis ONLINE”. Nggak percaya!!, coba search di Search Engine seperti Google: ketik omni,omni hospital, omni rumah sakit, pasti berita “penipuan”nya yang lebih dilirik untuk di baca.

  33. Rhey says:

    Setuju sekali dengan saran penulis. Menurut pendapat saya, justru yg mencemarkan nama baik itu bukan email Ibu Pritta, melainkan tindakan yg diambil RS itu lah yg telah menhancurkan nama baik dan citranya sendiri. Karena jika mereka menanggapi keluhan pelanggannya, saya dan jutaan masyarakat lainnya belum tentu akan tahu ttg masalah ini. Tapi sekarang karena ulah mereka sendiri akhirnya beritanya jd terekspose besar2an.

  34. sunardi says:

    Betul sekali pak…! saya heran kenapa para petinggi RS OMNI sampai gegabah begini menyerahkan masalah KRISISNYA dengan PENGACARA yg pastinya tidak memperdulikan masalah kemanusiaan dan masalah ekonomi pemasaran,..mana tau mereka tentang itu apalagi tentang penanganan Konsumen dan komunikasi yang baik,..sekarang yang perlu dilakukan oleh RS OMNI adalah memperbaiki citranya yang telah di bangun sekian lama dan hancur hanya gara2 salah dalam menempatkan orang tuk menangani hal2 yang penting dalam perusahaannya

  35. agakmelesetnih says:

    eh sori ya agak tehnikal, tapi sebenernya selama ini gak pernah ditulis di media fakta ini hasil trombosit 27.000 itu tidak valid, karena darah membeku, jadi kenapa Ibu Prita mesti repot2 meminta data yang tidak valid?

    tapi secara umum saya juga merasa RS Omni agak “hot headed” seandainya mereka bisa merespon dengan hak jawab, saya rasa justru Ibu Prita akan malu sendiri dan nama RS Omni terjaga..

    konsumen melapor kan juga takut dipermalukan…

  36. herlambang says:

    setuju pak numan.
    ternyata RS OMNI ga cuma sekali menuntut pasien.
    baca link berikut
    http://hukumonline.com/detail.asp?id=21899&cl=Berita
    bahkan pasien dituntut melunasi tunggakan plus bunga 6%!
    setau saya lembaga keuangan kartu kredit saja kalau customernya ada masalah keuangan bisa membantu menghilangkan bunga utk tagihan. RS OMNI malah sebaliknya. sangat tidak manusiawi.

  37. whslim says:

    Menteri Kesehatan sudah memerintahkan ke Manajemen RS OMNI agar tidak menggunakan kata Internasional…. karena ternyata RS ini tidak bertaraf internasional …

  38. PS Poli says:

    Halo RS Omni n Staf, kalau Anda pakai Roh Kasih untuk melayani, akan nampak senyum dan hati yang bersih dalam pelayanan kesehatan pasien, niscaya orang akan datang mencari Anda, namun kalau Roh Bisnis, maka yang jadi seperti ini dan seterusnya.
    Maaf ini jawaban sok idealis, tapi sudah terbukti dimana-mana, yakni RS yang berbasis Agama akan memetik hasil yang indah. Terima kasih silahkan mencoba dan berhasil

  39. Irwan says:

    Yaa karena RS ini Namanya International jadi lupa budaya negeri sendiri. Bangsa Indonesia itu pema’aaf kok dan ramah tamah. Orang berbuat salah itu mash biasa asal mengerti kalau tau salah minta ma’af. MAsalh bu Prita ini kan awalnya karena salah pemeriksaan lab terus merembet ke rawat inap dan pengobatannya. Kebayangkan sudah rugi kesehatan, moril materil lagi. Kalau RS OMNI dah tau ada kesalahan bebaskan kek biaya rawat inapnya, berikan kompensasi berobat gratis untuk recovery akibat kesalah sebelumnya sekaligus pengobatan penyakitnya, pasti selesai masalahnya dan jauh lebih murah ongkosnya dari kehancuran citranya sekarang.

    Masa kalah sama bengkel mobil lokal dimana saya pernah mengeluhkan masalah performance mobil saya dan bengkel memberikan diagnosa yang tidak bisa menyembuhkan penyakit mobil saya dan bengkel tsb menggratiskan biaya pemeriksaan tsb. Lha, tentu kepercayaan saya akan bengkel tsb bertambah karena bengkel tsb sangat bertanggung jawab. Bengkel juga menjelaskan permasalahan mobil saya cukup sulit dan belum bisa diatasi bengkel tsb. Gampang kan…
    Managment International kok kalah yaa sama mangement bengkel?

  40. Omni + Manager + kuasanya = tidak menyelesaikan masalah.
    Omni + Manager + sosiolog = menata masalah sampai selesai
    Omni + Manager + psikolog = menyadarkan masing-masing
    Omni + Manager + ustadz = menyejukkan keruwetan hati
    Omni + Manager + kiai = sama-sama minta maaf dan tuntas
    Omni + Manager + mokong = Omni dikucilkan oleh masyarakat
    Omni + Manager + dablek = Omni dan otaknya diintai bajingan
    Omni + Manager + ngeyel = Omni dan karyawan gigit jari
    Omni + Manager + arogan = Manager harus kebal kulitnya
    Omni + Manager + sogok = beberapa oknum dipecat
    Omni + Manager + Nukman = saran yang kusetujui seribu persen

  41. Mas Herlambang kok yo tahu saja, kok nemu aja sih sampeyan ini, memangnya Omni itu tidak pernah tertarik tah dengan jiwa penjajah bangsa ini, jiwa kolonial kini kan masih gentayangan di sekitar Omni Internasional Alam Sutra, jangan-jangan yang mati di RS Omni pernah ada anggota penjajah sehingga ruhnya meyusup ke manager Omni… semoga nggak gitulah.. masak ruh jahat masuk ke otak manager Omni..janganlah.. manager dan pengacaranya Omni itu kan saudara kita juga, bangsa kita juga, masak jeruk minum jeruk, masak dokter tega minum darah pasiennya, masak dokter mentolo menggoreng daging pasiennya menjadi empal lalu dimakan-makan sama pengaranya, ya nggak gitulah..nddak mungkin itu.. pengacara kan juga punya nurani, punya anak dan istri, punya banyak uang untuk hidup bahagia tapi tidak diatas tangisan bayi yang tidak boleh menetek oleh oknum di dan di.., Ikuti saja saran Bang Nukman Luthfie, enak dan Omni akan semakin dikenang sebagai Rumah Sakit yang pandai menata hati, berkasih sayang, harum semerbak dan karyawannya selalu senyum bahagia karena managernya orang yang sadar… tidak gila..tidak jahat…tidak arogan… santun menghadapi orang yang sedang sakit dan disakiti…

  42. Mas Herlambang kok yo tahu saja, kok nemu aja sih sampeyan ini, memangnya Omni itu tidak pernah tertarik tah dengan jiwa penjajah bangsa ini, jiwa kolonial kini kan masih gentayangan di sekitar Omni Internasional Alam Sutra, jangan-jangan yang mati di RS Omni pernah ada anggota penjajah sehingga ruhnya meyusup ke manager Omni… semoga nggak gitulah.. masak ruh jahat masuk ke otak manager Omni..janganlah.. manager dan pengacaranya Omni itu kan saudara kita juga, bangsa kita juga, masak jeruk minum jeruk, masak dokter tega minum darah pasiennya, masak dokter mentolo menggoreng daging pasiennya menjadi empal lalu dimakan-makan sama pengacaranya, ya nggak gitulah..nddak mungkin itu.. pengacara kan juga punya nurani, punya anak dan istri, punya banyak uang untuk hidup bahagia tapi tidak diatas tangisan bayi yang tidak boleh menetek oleh oknum di dan di.., Ikuti saja saran Bang Nukman Luthfie, enak dan Omni akan semakin dikenang sebagai Rumah Sakit yang pandai menata hati, berkasih sayang, harum semerbak dan karyawannya selalu senyum bahagia karena managernya orang yang sadar… tidak gila..tidak jahat…tidak arogan… santun menghadapi orang yang sedang sakit dan disakiti…

  43. Kalau sudah begini, mau gimana lagi? semoga semua pihak bisa lebih bijaksana terutama Omni. Sudah deh gak usah ngotot, anda yang memulai, anda juga yang harus bijaksana mengakhiri semua ini. Rendah hati dan bacalah artikel ini, setuju?

  44. Hendra says:

    setuju pak! Seharusnya sebagai rumah sakit besar,bisa membedakan mana itu saran atau pencemaran nama baik.Tiadak ada asap klo tidak ada api.Lebih introspeksi organisasi saja lebih baik daripada terus-terusan press conference yang bikin publik makin geram!

  45. hardjono says:

    saya sangat setuju dengan ibu2 bapak .. tapi2 ati2 loh .. jangan2 sampeyan2 ini nanti dituntut UU ITE sama dengan mbak Prita .. .

    hihihihi…

  46. heru says:

    Denger-denger pak, kasus ini juga merembet pada rusaknya citra pariwisata Indonesia. Wisatawan takut mendapat pelayanan buruk dari layanan publik di sini…

  47. Yunus says:

    Aneh, memang pak…RS sekelas Omni yang pake embel-embel International tapi tidak mampu bersikap internasional.
    Seandainya saja sejak awal Omni menyelesaikan secara kekeluargaan, mungkin kejadiannya tidak akan sepanjang ini.
    Kesalahan fatal dibuat Omni karena telah menyinggung pasal paling kontroversi di dunia maya, yakni pasal 27 ayat 3…maka membanjirlah dukungan buat Ibu Prita….mungkin kasusnya akan berbeda jika terjadi seperti kasus Khoe Seng Seng yg dijerat KUHP, dan bukan UU ITE…

  48. kolojenking says:

    Betul sekali pak… Pendekatan legal/hukum tanpa memepertimbangkan pendekatan kemanusiaan hanya akan semakin menghancurkan citra RS Omni.

  49. Adam says:

    Pak NUKMAN bilang: “Semoga RSnya jangan sampai ditutup hanya kesalahan dua tiga orang”.

    Ada yang menarik di sini karena saya pikir hampir semua orang menginginkan RS OMNI ditutup, bukan dengan memaksa pemerintah untuk menutup, tetapi dengan proses alami karena diboikot oleh konsumen baik secara sadar mupun tidak sadar. Berikut ini skenario dramatisnya:

    * RS ONMI akan menang dalam pengadilan, dan ibu prita akan selalu dikompor-kompori oleh semua orang untuk banding sampai ke tingkat mahkamah agung (MA).
    * Di tingkat MA, RS OMNI lagi-lagi menang dan ibu prita bahkan dijatuhi hukuman lebih berat.
    * Seluruh masyarakat, baik komunitas online maupun offline akan terus mengkampanyekan boikot terhadap RS OMNI sampai kapanpun, selama RS OMNI masih beroperasi.
    * Masyarakat, yang secara naluriah mempunyai ikatan erat sebagai konsumen, yang memang selama berpuluh tahun selalu merasa dizalimi oleh rumah sakit manapun dengan mahalnya biaya pengobatan yang mahal dan pelayanan yang buruk, tentu saja akan sangat mendukung aksi boikot ini.
    * Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sejak kekalahan ibu Prita di tingkat MA (kasasi), tidak ada lagi satu pasienpun yang masuk ke RS, dan RS OMNI akan segera tutup dengan sendirinya karena bankrut.

    Nah itu tadi adalah skenario yang diharap-harapkan banyak orang, meski itu ada di alam bawah sadar. Kenapa saya katakan di alam bawah sadar adalah karena, kita, selalu berpura-pura mengatakan semoga RS OMNI segera menyadari kesalahan dan mencabut tuntutan kepada ibu Prita. Ini saya kira tidak sesuai dengan imajinasi banyak orang yang cenderung lebih menyukai kisah yang lebih tragis seperti yang saya skenariokan tadi.

    Pada dasarnya, demi mendapat tontonan yang jauh lebih menarik dari sinetron karena sifatnya yang nyata, manusia cenderung menginginkan hal-hal yang dramatis agar terjadi dalam kehidupan nyata. Masyarakat, secara praktis, sebenarnya kehidupannya tidak terpengaruh dengan dipenjaranya ibu Prita dan BANGKRUTNYA RS OMNI, dua hal yang diskenariokan tadi. Orang-orang tetap saja akan punya kehidupannya masing-masing. Akan ada rumah sakit-rumah sakit lain yang lebih baik bermunculan.

    Yang lebih menarik lagi, adalah tulisan saya ini (mulai narsis nih… hiks), bahwa meskipun ini cuma skenario yang sangat jelas tidak termasuk penghinaan dan pencemaran nama baik, skenario KEBANGKRUTAN RS OMNI ini bisa menjadi semacam ramalan atau bahkan kutukan. Ini terjadi jika di masa yang akan datang, skenario KEBANGKRUTAN RS OMNI yang ditulis ini benar-benar terjadi. Ini bukan hal yang aneh karena memang KEBANGKRUTAN RS OMNI yang diskenariokan di sini memang sesuatu yang ditulis berdasarkan tanda-tanda alam. Yang perlu diingat adalah bahwa takdir atau karma ini memang sering kali terjadi begitu saja, bahkan ketika tidak ada satupun orang yang bisa membaca atau menskenariokan hal-hal seperti ini.

  50. aryo says:

    update terbaru, dpr meminta omni menarik tuntutannya tanpa syarat.
    bila tidak izinnya akan dicabut.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting