Majalah Fast Company artikel menawan mengenai bagaimana Barack Obama membangun personal brand-nya. Artikel berjudul “The Brand Called Obama” yang ditulis oleh Ellen McGirt tersebut mengungkap bagaimana Obama menciptakan sebuh brand yang terbuka dan inklusif yang mampu mereflesikan pernyataan “We are the change that we seek.” Salah satu kunci pentingnya adalah strategi Obama menggunakan media baru di Internet: web 2.0.
Web 2.0 adalah sebuah terobosan baru di dunia Internet, yang memungkinan pemilik situs web dan audience-nya (termasuk pengunjungnya), serta sesama audience, saling berinteraksi satu sama lain membentuk sebuah jaringan sosial di dunia maya. Web 2.0 adalah tempat di mana audience bisa mengungkapkan pendapatnya sebebas mungkin.
Obama — yang memang disukai anak muda — tahu betul memanfaatkan media yang sedang digandrungi anak muda di AS, yang merupakan segmen pemilih terbesar untuk pemilihan presiden AS. MySpace, Facebook, Youtube, serta online social networking lainnya, menjadi tempat nongkrong ABG di negeri Paman Sam. Itu sebabnya, situs resmi Obama dilengkapi dengan hampir semua fasilitas yang ada di situs social networking.
BarackObama.com bukan hanya menyajikan informasi yang up-to-date , baik dalam bentuk videos, photos, ringtones, widgets, maupun info kampannya, yang membuat pendukungnya ingin selalu berkunjung ke situsnya. Lebih dari itu, barackobabma.com dilengkapi dengan jaringan sosial untuk kampanye di mana para pendukungnya bisa membuat blog mereka masing-masing sesuai dengan isu yang diusungnya, mengusulkan rekomendasi kampanye, bahkan membuat situs mini untuk menggali dana kampanye, mengelola kegiatan, bahkan menggunakan phone-bank widget.
Cukup? Tidak. Para pendukung fanatiknya membuat profil Obama di berbagai jaringan sosial, baik yang umum seperti Facebook dan MySpace, maupun yang khusus seperti BlackPlanet.com, Asianave.com, Migente.com, Glee.com serta Faithbase.com. Hasilnya luar biasa. Dalam waktu singkat, teman Obama di BlackPlanet.com bisa mencapai hampir setengah juta “friends”.
Melalui Internet berjenis Web 2.0 ini Obama mempersilahkan pendukungnya untuk menulis apa saja mengenai dirinya, menceritakan harapan-harapan mereka. Situs Obama adalah mengenai pendukungnya. Hal sebaliknya justru dilakukan oleh pesaing ketatnya, Hillary Clinton. Mantan ibu negara AS ini lebih banyak menceritakan dirinya sendiri, bagaimana dengan pengamalannnya ia bisa menyelamatkan AS, dengan cara konvensional dan media konvensional. Ia tidak berusaha mengajak pendukungnya untuk berperan.
Soal Obama kelak menang atau kalah, itu urusan lain. Yang jelas, dengan pendekatan jaringan sosial, Obama berhasil membangun sebuah personal brand dalam waktu singkat. Politisi lain pasti membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan personal brand sehebat Obama saat ini. Dan semua itu bisa terjadi karena, antara lain, Obama memanfaatkan jaringan sosial online dengan amat cerdas.
Ya..sekali lagi kita lihat bagaimana dasyatnya the Power of Internet..
Mudah2an pemilu 2009, capres kita ada yang kayak gitu memanffatkan internet
mungkin kalo tiap cagub ato wagub buat blog seperti diatas dia bisa tahu inspirasi orang-orang , bisa juga sebagai bahan perbandingan untuk lembaga-lembaga survey yang telah menyurvey si calon tersebut. Tapi apakah cukup representative bila blog dijadikan survey kepupuleran ato jadi barometer kemenangan si calon itu bila dibandingkan dengan survey langsung seperti lembaga-lembaga yang sudah ada , patut di coba kayaknya
Di Malaysia, UMNO sudah menyadari kekuatan Internet setelah mengabaikannya dan membuatnya kalah dalam pemilu. Di Indonesia, sekarang kan sudah dekat pemilu… Saatnya bikin blog politik (yg di Amrik laris manis)… isinya jangan cuma jual kecap, tapi edukasi politik. Hayo siapa tertarik bikin…?
Gile memang Barack Obama. Itu orang pinter banget memanfaatkan teknologi Web 2.0. I’m sure..BO bakal sukses.
Hebat memang Obama, orang muda yang creatif dan cerdas…
Sayangnya di Indonesia gak ada yang seserius ini hanya pada saat2 pemilu saja menjamur website2 politik seperti efek deterjen pencuci pakaian berbusa setelahnya dicuekin, obama bisa dijadikan contoh ok nih karena apabila sosok seperti obama muncul diindonesia dan ternyata berhasil membangun personal brand yang booming, yang kebagian rezeki tentunya para insan developer indonesia hehehe betul gak, bisa menimbulkan chain reactionnya di industri perweban tanah air nih
Politisi negara sebelah sudah merasakan dampaknya. Tinggal kita nih, tahun 2009 makin dekaat…
kapan ya indonesia punya calon pemimpin kek dia. hmmm *ting.. dapet ide* calonin diri jadi presiden aja om… hehehehehe
@ mas ilham : setuju mas, kalo’ pak nukman jadi “presiden”…
Presiden Internet Marketing..gitu lo…krn beliau sudah punya personal branding yang bagus…
@ pak nukman: salam kenal pak, dari pontianak, sy selalu langganan RSS blognya bpk…kpn nih pak bisa sharing kyk seminar gitu ke pontianak..gmn cara ngundang bapak..via email sy aja pak..thanks>
Tak kenal maka tak sayang, jadi BO ingin dirinya dikenal sebanyak-banyaknya orang
Hebaat.. dilain media, orang menggambarkan situs web Obama sebagai komputer yang menggunakan OS Mac sedangkan Hillary dengan OS Windows. Lho?
Di Jabar alias Bandung kota sya tinggal mau pilihan Gubernur-wagub tg 13 nich pak nukman, cuman mash konvensional dibangun brandnya. Ya dengan tempel2 spanduk & mengumpulkan massa kampanye nya. Mungkin kisah Obama ini harus ditularkan pada politisi kita ya, jelang 2009 yang dh di depan mata.
Cobe perharikan pendapat Perdana Menteri Malaysia, Badawi, yang sebelumnya pernah memojokkan blogger.
http://afp.google.com/article/ALeqM5gMhSjYgPDaJjl8Iqv2RS-NEECyJA
Malaysia PM says ‘big mistake’ to ignore cyber-campaign
KUALA LUMPUR (AFP) — Malaysia’s premier Abdullah Ahmad Badawi said Tuesday his “biggest mistake” in disastrous elections was to ignore cyber-campaigning on the Internet which was seized by the opposition.
The powerful Barisan Nasional coalition suffered its worst-ever results in March 8 polls that left five states and a third of parliamentary seats in opposition hands.
The opposition, which was largely ignored by government-linked mainstream media, instead waged an enormously successful online campaign using blogs, news websites and SMS text messages.
“We certainly lost the Internet war, the cyber-war,” Abdullah said in in a speech to an investment conference.
“It was a serious misjudgement. We made the biggest mistake in thinking that it was not important,” he said.
“We thought that the newspapers, the print media, the television was supposed to be important, but the young people were looking at SMS and blogs.”
The comments are a major about-face for the government, which had vilified bloggers, calling them liars and threatening them with detention without trial under draconian internal security laws.
In line with promises to reform after the humiliating election results, Abdullah said the government would “respond effectively” and move to empower young Malaysians.
“It was painful … but it came at the right time, not too late,” he said.
Malaysia’s mainstream media are mostly part-owned by parties in the ruling coalition, and what was seen as biased coverage in the run-up to last month’s vote alienated voters and boosted demand for alternative news sources.
Media watchdog Reporters Without Borders ranks Malaysia 124 out of 169 on its worldwide press freedom index. It says mainstream media are “often compelled to ignore or to play down” opposition events.
Bagi yang ingin ‘mengikuti’ jejak Obama di cyberspace, silakan ‘mbuntut’ di http://twitter.com/barackobama
With online communication being achievable with just the click of a mouse, the internet has become the world’s biggest marketplace. That is why most advertisers believe that viral marketing is the most effective way to get customers to buy your products. As Tom Kinnear, executive director of the Zell Lurie Institute for Entrepreneurial Studies at the University of Michigan.
Hampir 90 % pentingya company website, blog, dan B2B leads benar-benar menjadi pilar online marketing, sisanya 10 % cara kreatif kita dan hasilnya 20 % memang terjadi purchase order (berdasarkan pengalaman saya sebagai Internation Marketing Reseach & Development serta online coordinator pada Pura Group)
kita harus belajar cepat utk mengejar ketertinggalan …
interesting…
sudah saatnya saya nyari community manager nih kayaknya hahaha…
internet seolah2 udah jadi planet yg punya kehidupan selain bumi yg kita pijak….
kalo di Amerika mungkin sudah hampir seluruh warganya memiliki akses internet. kalo di Indonesia tercinta sendiri mungkin hanya kalangan tertentu. untuk kampanye politik di Indonesia menurut saya masih lebih cocok metode konvensional.
hayuuuk rame rame konvoi
knalpotnya di buka biar berisik ganngu tetangga sebelah
I Lope Indonesia
Menarik sekali Pak ulasannya,
Kebetulan tim kami juga menggunakan internet untuk kampanye calon wali kota- wakil wali kota Bandung. Kami melihat cukup banyak komunitas melek internet di kota ini. Masak sih kota yang ada ITB, UNPAD, ITENAS, UNIKOM, ITT, dst ga melek internet
.
Apalagi kami merupakan calon muda yang mewakili kalangan akademisi-LSM (saya dosen ITB dan wakil saya pendiri Rumah Zakat Indonesia). Jadilah kami membangun situs http://www.taufikurahman.com sebagai bagian dari kampanye kami.
Mohon sekiranya bapak bisa ikut melihat dan mengometari situ kami ini.
Hatur nuhun,
Bangkit Bersama Selamatkan Kota Bandung !
TRENDI untuk perubahan !
[...] Personal Branding Barack Obama via Web 2.0 DIPOSTING OLEH Nukman Luthfie PADA 08.09.08 8:21 am | [...]
aku sangat tertarik dengan situs web 2.0, apa di indonesia sudah bisa di laksanakan ya, eh tolong Pak menteri yang membidangi bagian ini, tolong sosialisaikan kepada teman sesama menteri bahakan rakyat banyak pentingnya web 2.0 ini. terima ksih.
sayangnya di indonesia belum begitu dimanfaatkan oleh para politisi kita. Padahal kalau saja bisa di gunakan dengan baik, web 2.0 tentu akan memberikan dampak yang sangat signifikan.