Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Pemahaman Karakter Produk & Alokasi Budget Pemasaran Online

November 21, 2010
Oleh Tuhu Nugraha Dewanto

Saya baru saja membaca tulisan Brian Solis tentang promoted tweet. Artikel ini membahas mengenai Twitter yang mengeluarkan promoted Tweet, dengan menangkap peluang bagaimana konsumen menggunakan Twitter, dalam istilah Brian Solis berdasarkan Interest Graph.

Tulisan Brian Solis ini kemudian memicu pemikiran lebih jauh,  bagaimana seharusnya kampanye sebuah brand membagi alokasi budget iklannya di berbagai pilihan channel Targeted Ad yang ada saat ini, sesuai dengan karakter brand. Apa itu Targeted Ad? Mengutip dari Wikipedia, ini adalah tipe iklan dimana pengiklan bisa menjangkau konsumen  berdasarkan berbagai macam variabel seperti demografi, hingga perilaku belanjanya.

Saya mengamati, fenomena yang terjadi saat ini, ketika terjadi booming social media terutama Twitter dan Facebook, semua brand memusatkan alokasi budget iklannya ke sana. Benarkah itu pilihan yang tepat? Ketika Magnum banyak memanfaatkan Twitter untuk kampanye onlinenya, mungkin ini pilihan yang tepat karena produknya yang bersifat impulse buying. Tapi apakah kemudian orang akan berbondong membeli mobil Kijang Innova atau memesan kamar hotel setelah membaca di timeline Twitter ?

Sebelum membahas lebih jauh mengenai alokasi budget iklan yang digunakan. Kita perlu memahami dulu apa saja tipe Targeted Ad, lalu memahami perilaku konsumen yang menggunakan medium tersebut, yang kemudian akan mempengaruhi keputusan kita dalam mengalokasikan budget sesuai dengan karakter produk yang kita pasarkan.

Paling tidak ada 3 tipe utama targeted Ad yang cukup populer dan dominan saat ini :

Pertama, Search Based Ad, Google Ad adalah iklan yang sangat terkenal di kategori ini, sekaligus menjadi sumber penghasilan utama Google Inc. Anda perlu memahami iklan ini akan muncul di hasil pencarian, sesuai dengan kata kunci yang relevan yang kita pilih. Keunikan dari iklan ini adalah,kita menyasar konsumen yang pro aktif mencari, dan memang punya kebutuhan akan produk atau informasi tertentu.

Kedua, Social Graph Ad, ini adalah skema iklan yang diperkenalkan FB,  seperti halnya di Google Ad bisa mentarget konsumen yang relevan, tapi kali ini iklan di dasarkan pada data-data demografi dari target audiens, dan lingkaran  sosial mereka. Mengapa? Karena dengan kebijakan terbaru di Facebook, sebuah iklan FB Page misalnya, apabila dalam lingkaran teman kita banyak yang Like, maka dia bisa keluar dari kolom iklan, dan masuk dalam streamline home, karena dianggap relevan dengan kita. Iklan disini bersifat mendatangi konsumen yang pasif, menunggu disuguhi informasi.

Ketiga, Interest Graph Ad, konsep iklan inilah yang dikembangkan oleh Twitter dengan promoted Tweet-nya. Mengapa Interest Graph? Karena Twitter menghubungkan orang-orang yang terkadang tidak saling kenal, tapi perduli dengan isu tertentu, di suatu waktu tertentu. Iklan ini menyasar konsumen yang sedang search isu tertentu, atau sedang membaca timeline untuk segera melakukan tindakan pada saat itu juga. Di Twitter isu bisa bergerak begitu cepat dan menghangat, tapi dengan cepat juga akan terlupakan.

Apabila dilihat dari ketiga Targeted Ad itu, maka tiap medium punya fungsinya masing-masing yang tidak tergantikan satu sama lain. Fenomena yang terjadi saat ini, banyak perusahaan hijrah ke FB dan Twitter, dan melupakan Search Engine karena social media sedang tren, dan menganggap ketika social media datang maka semua konsumen juga berpindah kesana, dan tidak lagi menggunakan search engine. Padahal konsumen tetap melakukan pencarian di search engine, dan setiap kategori produk mempunyai karakteristik yang berbeda dalam pengambilan keputusan pembelian.

Misalnya ketika menyebut pemesanan hotel. Apakah orang akan mendadak memesan kamar hotel, ketika ada special offer yang ditawarkan di Twitter? Konsumen justru akan melakukan riset di search engine, sebelum melakukan keputusan pembelian hanya ketika mereka butuh. Oleh karena itu, misalnya untuk industri seperti perhotelan, maka budget terbesar yang harus dikerahkan adalah di Search Engine bukan di Social Media. Walaupun kehadiran di social media tetap harus ada, untuk menjalin loyalitas pelanggan.

Lain halnya, ketika Anda meluncurkan film baru, konsentrasi iklan sebaiknya di Twitter, mengapa? Karena konsumsi produk gaya hidup seperti ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh Twitter yang mudah menyebarkan isu, dan membuat orang segera mengambil tindakan. Sementara produk yang mengandalkan kekuatan cerita, hubungan yang personal, dan komunitas misalnya Starbucks dan Bodyshop, sepertinya lebih bijak bila konsentrasi utama ditempatkan di Facebook untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan konsumen, berkomunikasi dengan lebih intens dengan mereka.

Sebagai agency atau tim digital marketing di sebuah brand, harus lebih sensitif terhadap hal ini, agar budget yang dikeluarkan efektif. Mengapa inimperlu diketahui? Karena saya memahami, setiap perusahaan berusaha menggunakan budget yang seminimal mungkin untuk menghasilkan dampak yang optimal. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka pembagian sumberdaya harus dilakukan dengan optimal juga sesuai kebutuhan. Tapi ini bukan berarti ketika produk Anda lebih cocok di Twitter, maka tak perlu membuat FB Page, dan melupakan Search Engine, brand harus tetap hadir disana tapi dengan alokasi sumber daya yang lebih kecil.

Untuk lebih memudahkan maka dapat dibagi pentahapannya sebagai berikut. Pertama, ketahuilah dulu karakter produknya. Apakah konsumen akan membelinya secara impulsif? Atau perlu riset sebelum pembelian? Atau konsumen akan mudah tergerak untuk mengambil keputusan ketika produk itu sedang hangat dibicarakan? Kedua, tujuan dari kampanyenya apa? Apakah membangun awareness? Mengambil tindakan segera? Atau untuk membangun komunitas yang loyal? Tahap ketiga, baru diputuskan budgeting terbesar akan dialokasikan dimana, berdasarkan pertimbangan poin pertama dan kedua.

Bagaimana menurut Anda? Ada pendapat lain?

18 Responses to “Pemahaman Karakter Produk & Alokasi Budget Pemasaran Online”

  1. Rio Lagoa says:

    Apakah dengan strategi mengkoneksikan fb page dengan twitter akan lebih efektif ? dengan mengkomunikasikan info produk dengan bersamaan dalam satu kali update, kemungkinan audience yang tidak tersentuh ikut mengetahui info produk tersebut.

  2. catur pw says:

    Setuju, kalau dilihat social media sebagai media iklan (targeted ads channels) memang harus dioptimalkan penggunaan budget perusahaan di socmed yg tepat sesuai karakter produk/services perusahaan yg ditawarkan.

    jika dilihat dari kacamata social media as product and brand online information channel dan fakta bahwa consumer banyak menggunakan major social media seperti facebook dan twitter di Indonesia, maka major social media channel harus digunakan terutama sebagai “engaging channel”

    toh bikin akun twitter dan fans page di facebook masih gratis ;)

  3. verli says:

    :D Contoh Anda tentang pemesanan hotel membuat saya tergelitik untuk berkomentar. Kebetulan kami dari tim Klikhotel.com (B2C online hotel reservation) sedang berpikir keras bagaimana melakukan marketing ke customer secara cerdas. Usul Anda untuk mengerahkan dana iklan di search engine sudah pernah kami coba, tapi ternyata butuh alokasi dana yang besar. Akhirnya kami beralih ke iklan FB yang lebih murah. Namun kelihatnya sejauh ini masih kurang efektif untuk mendorong sales, mungkin baru sebatas membangun awareness. :D PR kami untuk terus mencari cara kreatif yang bisa menghasilkan dampak optimal.

  4. Tulisan yang menarik dan informatif.

    The medium is the message, begitu marshal mcluhan pernah bilang sekitar dua dekade silam.

    Jadi media yang berbeda memang punya karaktar yang berlainan pula; dan membawa pesan yang berbeda. Tulisan diatas membantu kita untuk memilih mana media yang paling pas dengan pesan yang mau kita sampaikan.

  5. @Rio, saya tidak merekomendasikan digabung, mengapa? Karena kedua medium ini punya karakteristik yang berbeda, kalo digabungin jadi terlihat seperti berkomunikasi dengan mesin.
    @Verli, bukankah biaya iklan di search engine dengan google adword bisa bidding juga sendiri sama halnya dengan FB? kalau terasa mahal, coba cari kata kunci yang banyak berhubungan dengan industri ini, tetapi belum banyak pemasang iklannya. Tools yang bisa digunakan untuk melakukan analisa ini adalah Google Keyword tools.

  6. Keke says:

    kalo saya seneng SEO pake WP ajah… ngirit dan pinter jualan:D

  7. Wadiyo says:

    Setuju Pak,

    Memilih media yang tepat adalah salah satu kunci sukses untuk menyampaikan suatu pesan.

    Kalau untuk produk-produk masal, di mana ada segmen modern dan tradisional, media yang pas apa ya Pak?

    Thanks sebelumnya.

  8. Rio Lagoa says:

    Terima kasih saran dan masukannya mas tuhu..nice share..:)

  9. @Wadiyo, maaf kategorinya masih belom jelas, jadi tidak bisa memberikan rekomendasi. Yang harus diliat adalah karakter konsumen ketika mengambil keputusan pembelian. Apakah orang akan membeli tanpa pikir panjang, atau menggali informasi lebih lanjut dulu sebelum membeli? Itu yang harusnya menjadi dasar pengambilan keputusan.

  10. saya suka artikelnya .. tapi ko’ malah jadi lebih banyak ‘teoritikal’ yah ketimbang ‘best practice’ .. mungkin akan lebih enak klo ada sambungan sample best practicenya.. tp overall .. great post! thanks for sharing.. :)

  11. @Web Design Jakarta, saya bisanya berteori saja LOL. Kalo best practice blog di Indonesia banyak yang sudah membahasnya bahkan mereka lebih update. Tapi sisi lain yang perlu dipelajari adalah, memahami dan membuat analisa yang kemudian bisa menjadi best practice berikutnya…

  12. Giandra says:

    wah ternyata ribet juga ya ….jadi twiter and fb bisa juga dipake masarin produk ya ndak cuman buat iseng…
    makasi infonya I Love It

  13. Kalau toko online, alokasi wajibnya pasti harus ke Google Ad. Tapi kalau jalur distribusinya secara pasar/man 2 man, ya sepertinya harus bener2 meriset typikal produk yg mau dipasarkan untuk menentukan alokasi budget pemasarannya

  14. ismail says:

    social network memang potensial dlm marketing tapi cara maksimalinnya aja ne yang aga’ ribet..

    Makasih infornya

  15. ayuparamita says:

    pak tutu,kalo jualan starterpack dan pulsa ke costumer itu termasuk impulsive buying,research buying,atau popular buying??? trims

  16. Sepertinya sebelum membeli starter pack biasanya orang akan melakukan riset sederhana dulu nanya ama temen-temennya provider mana yang paling bagus, dan juga riset di social media ke temen-temennya. Tapi ada beberapa kasus mendadak berubah pikiran dan impulsive kalau sedang ada promo harga murah

  17. rahmat says:

    terima kasih infonya pak,..

  18. mukhiban says:

    informasi yang menarik, memang dalam alokasi budget untuk iklan harus bener-bener pilih media yang paling tepat.. tks infonya..

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

  • Pengembangan Diri: - Pikiran terbuka terhadap peluang bisnis online yang besar.. Terima kasih Bu...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting