Belakangan ini saya suka bercanda sama teman-teman dengan mengatakan bahwa sepertinya sudah saatnya saya membuat kartu nama baru, dengan predikat “jabatan” yang baru pula. Yakni, hashtag engineering.
Tentu saja, saya sebenarnya sedang meledek diri saya sendiri (dan orang lain kalau memang ada yang merasa hehehe) yang gemar membuat hashtag di Twitter. Nge-twit dengan hashtag tertentu memang mengasyikkan, dan lama-lama bisa “nyandu”. Apalagi kalau hashtag kita “berhasil”, dalam arti diikuti banyak orang, tentu kita sebagai pembuat hashtag akan merasa senang. Lebih membanggakan lagi kalau hashtag itu kemudian punya daya hidup yang lama, dan seolah-olah menjadi milik umum.
Hashtag memang telah menjadi fenomena tersendiri dari situs jejaring informasi Twitter. Yang menarik adalah hashtag-hashtag yang bertebaran setiap hari itu dalam perjalanannya menjadi seperti sebuah karya yang mencari sendiri audiens-nya. Hashtag yang berhasil merebut simpati dan perhatian secara luas kemudian oleh pembuatnya dikembangkan menjadi akun, yang dikelola sendiri atau sebuah tim moderator. Contoh yang paling spektakuler sekaligus aktual adalah hashtag #anjinggombal.
Sesuai dengan namanya, hashtag #anjinggombal muncul untuk menandai twit-twit lucu yang isinya “gombalan” alias kata-kata rayuan “norak”, yang oleh penge-twit-nya tentu saja dimaksudkan sebagai humor. Sejauh pengamatan saya, (salah satu) orang pertama yang nge-twit dengan hashtag ini adalah @sepatumerah , seorang blogger terkenal dan penulis novel yang tinggal di Bandung. Namun, dalam perjalanannya hashtag ini menarik minat banyak orang. Yang kemudian “aktif” menghidupkan hashtag ini adalah @rahneputri, @miund dan @nisankubur –untuk menyebut beberapa nama yang langsung teringat oleh saya. Belakangan, hashtag ini berubah menjadi akun dengan nama sama, @anjinggombal dan langsung diserbu follower. Dalam waktu yang relatif singkat, saat ini @anjinggombal telah memiliki lebih dari 42.500 follower –mengalahkan dengan telak akun-akun generik yang sudah jauh lebih dulu muncul, seperti @alasanbuatputus (4.619 follower) dan @tebakangaring (12.456 follower).
Sama seperti @anjinggombal, akun-akun seperti @alasanbuatputus dan @tebakangaring awalnya juga lahir dari hashtag. Fenomena “hashtag menjadi akun” ini semakin menarik karena kecenderungannya terus meningkat. Keberhasilan @anjinggombal telah menginspirasi jago-jago hashtag lainnya untuk tampil. Salah satu yang paling berhasil adalah @fiksimini. Adalah cerpenis @agus_noor yang pertama kali memunculkan hashtag #fiksimini yang disambut oleh kalangan sastrawan yang eksis di Twitter seperti suami-istri @ekakurniawan – @ratihkumala dan novelis @clara_ng. Dengan cepat hashtag ini menyebar dan menuai pengikut, sehingga kemudian dijadikan akun, dan hingga kini telah memiliki hampir 7.400 follower. Ada dua akun generik lagi yang tak kalah fenomenal dari sisi jumlah follower, yakni @sombonguniter (18.909) dan @pocongasli (17.791). Semua contoh yang disebutkan merupakan akun-akun dengan twit-twit yang bersifat lucu-lucuan, kelakar, kecuali tentu saja @fiksimini yang mencoba membuat terobosan dalam dunia penulisan fiksi lewat “cerita” sependek 140 karakter.
Hashtag sebenarnya memang bukan “mainan” baru di Twitter. Siapapun bisa membuatnya, untuk menandai isu atau tema tertentu yang ingin disodorkan kepada follower. Selain itu, hashtag juga dipakai oleh para influencer untuk mengundang “massa” nge-twit hal tertentu, dengan tujuan menjadikannya trending. Hanya saja, kejelian dan kesigapan dalam menjadikan hashtag yang populer menjadi akun, memang baru terjadi belakangan, dan boleh dibilang telah menjadi tren baru. Pertanyaannya sekarang, setelah menjadi akun, lalu apa? Mau dibawa ke mana? Karena akun-akun generik itu umumnya melibatkan partisipasi follower, maka sejauh ini daya tahan hidupnya memang cukup kuat. Ada semacam rasa memiliki kolektif dari para follower terhadap akun-akun tersebut. Akun @fiksimini misalnya, tak pernah sepi menerima “kiriman” fiksi mini dari followernya. Demikian juga @anjinggombal dan @sombongunite. Tapi sampai kapan energi tersebut akan terus bertahan?
Jika memang orang-orang atau tim moderator yang ada di balik akun-akun generik tersebut mampu terus-menerus me-maintain-nya, dengan konsistensi dan intensitas yang terjaga, tentu keberadaan akun-akun itu akan memiliki nilai tambah. Mengingat jumlah follower-nya yang “bikin ngiler”, brand-brand yang ingin berkampanye di Twitter bisa memanfaatkan akun-akun generik tersebut, dengan cara-cara yang elegan, tidak mengganggu dan tentu saja saling menguntungkan. Tinggal kesediaan dan komitmen dari masing-masing pihak. Ada yang siap dan mau mencoba memulai?
artikel yg bagus, mas. saya lihat isu utamanya dua: bagaimana me-maintain dan bagaimana (brand) berkampanye.
errr… typo di akhir: ¨Tinggal kesediaan dan komiteman dari masing-masing pihak. Ada yang siap dan mau mencoba memulai?¨
Artikel yg bagusss
@Anjinggombal emang plg oke deh! #ngunyahkamus #mintaduitkekak@rahneputri #contohhashtag
Menurut saya: anjinggombal, pocongasli, fiksimini, dsb. merupakan sebuah “term” yang kelangsungan hidupnya akan sangat tergantung pada seberapa sering “term” tersebut digunakan oleh orang2. Begitu juga dengan akun yang terasosiasi dengannya.
Daripada me-maintain akun2 tersebut demi followers, lebih baik membuat suatu “term” baru yang identik dengan brand. Efeknya akan lebih dahsyat. IMO.
Kadang saya mikir. Apa yang bikin itu sehari waktunya 50 jam ya :-p
saya jutru pengen merubah kebiasaan penggunaan #ashtag bahasa inggris dengan bahasa indonesia.
contohnya: #lagilagu, #lagiliat #followen dll
mantap mas. anjinggombal itu mantap memang… haha
Baru kali ini virtual bikin artikel ringan. Tapi tetep bagus kok
btw, brand bukannya lebih seneng buat sendiri dibanding nebeng. Ada masalah ego yang gede di brand lokal
Tulisan yang menarik. #fiksimini juga menarik. Bgmn cara sebuah brand memanfaatkan hashtag populer spt ini?
hmm.. yang jadi pertanyaan saya adalah, apakah nanti kalo ada brand yang ikut di akun generik itu, bisakah followers-nya bertahan?
#fiksimini proceeds to print-out edition. pasti laku!
Sudah lama nggak nge-tweet nih. Jadi semangat lagi. Beberapa kali sempat mengikuti #fiksimini. Memang menarik.
Yang juga menjadi prestasi adalah saat semua tulisan dengan hashtag itu lalu menjadi dibukukan. Gw rasa ini akan jadi rebutan para penerbit untuk mempublikasikannya. Meski entah bagaimana cara hitungan bagi royalti dengan ribuan tweeps yang ikutan menyumbang konten di dalamnya.
Yang juga menjadi prestasi adalah saat semua tulisan dengan hashtag itu lalu menjadi dibukukan. Gw rasa ini akan jadi rebutan para penerbit untuk mempublikasikannya. Meski entah bagaimana cara hitungan bagi royalti dengan ribuan tweeps yang ikutan menyumbang konten di dalamnya.
bagus kuga ya denga adanya twitter, kita bisa komunikasi dengan orang dimanapun berda-tanpa batas
mas.. rame mana sich FB ma TW???
saya belum punya akun di TW lho… karena saya rasa FB masih layak diperdalam lagi fasilitasnya… biar lebih maksimal gitu niatannya..
gimana mas???
Gimana kalo Hashtag Architecture Executive biar lebih keren??
Hashtag Engineering Strategist >> mantap gan.
hehehe.. bagi setiap brand atau personal/individu, pokoknya yang memang ingin bermain di twitter, sangat2 dibutuhkan konsistensi (setuju kakak Mumu), klo ngga konsisten bisa-bisa tenggelam.. makanya untuk itu dibutuhkan orang-orang super yang siap sedia menjaga konsistensi dan memunculkan hashtag kreatif nan sexy.. seperti kakak Mumu dan teman-teman semua >> Hashtag Heroes
“Kicauan itu tlah tiada,tp sang jgoan slalu mncul untk mnylmatkan twitterverse,tdk sprt dewan yg trhrmat itu bsany hnya mmbual #fiksimini”
Saya belum membuat akun di TW mas, saya mungkin lebih banyak menulis dan BW di blog sedikit di FB, dan membiarkan pikiran saya mengalir seperti air disana
salam kenal dari kota medan
ya, di bukukan… saya setuju sekali, pasti akan jadi nilai tersendiri bagi orang lain yang kurang begitu aktif di online, karena dia bisa baca dari buku
Hashtag Engineering Strategist >> mantap gan.hehehe.. bagi setiap brand atau personal/individu, pokoknya yang memang ingin bermain di twitter, sangat2 dibutuhkan konsistensi (setuju kakak Mumu), klo ngga konsisten bisa-bisa tenggelam.. makanya untuk itu dibutuhkan orang-orang super yang siap sedia menjaga konsistensi dan memunculkan hashtag kreatif nan sexy.. seperti kakak Mumu dan teman-teman semua >> Hashtag Heroes
+1
wah, blogwalkingnya mbak jum sampai sini ya…
lama dah gak berlomba menjadi top komeng di blog pakdhe cholik…
BTW, kok dah lama gak diapdet ni blognya. Keasikan nge-tweet kah?
Dengan semakin tergerusnya SEO oleh SMO beberapa dekade kedepan, maka hashtag akan menjadi sangat strategis bagi sebuah brand, so nantinya pasti jabatan hashtag engineering akan ada.
salam kenal
ditunggu update nya lagi
Kenapa gak diterusin ya blognya? Apakah FB dan Twitter merupakan media online yang paling ideal untuk berkomunikasi di dunia maya?
Wah, ini merupakan info baru bagi saya. Info yang sangat menarik, bahkan mendatangkan ide cemerlang, hehehe…
Thanks Pak, dan salam sukses!
Memang sekarang untuk media informasi twitter lebih cepat seperti gempa jogja 12/09/01 langsung tersebar dengan cepat via twitter.