Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Memindahkan Pengalaman Belanja Offline Ke Online Via Social Commerce

October 11, 2010
Oleh Tuhu Nugraha Dewanto

Artikel sebelumnya tentang social commerce yang ditulis oleh Meisia Chandra, sudah membahas mengenai tren 2011 sebagai era social commerce. Isu yang diangkat lebih banyak menggali mengenai Facebook Like, sebagai medium social commerce. Aplikasi ini memang sangat populer, dan dapat dianggap sebagai salah satu tonggak penting yang berkontribusi pada pouplaritas social commerce.

Namun yang perlu diingat social commerce, seperti definisinya adalah sebuah konsep e-commerce yang memungkinkan konsumennya berinteraksi, difasilitasi oleh social media, misalnya Facebook, atau aplikasi lainnya yang memungkinkan interaksi sosial sesama konsumen. Artikel yang sangat komprehensif tentang bagaimana social commerce bekerja, dan contoh-contoh aplikasi pendukungnya, terangkum dengan sangat bagus di artikel ini

Social commerce diperkirakan akan menjadi tren berikutnya di social media. Pemilik merek ke depan bukan hanya berbicara tentang engagement, dan membangun komunitas, ketika berbicara tentang social media.Perkembangan berikutnya,  lebih jauh lagi konsumen bisa diajak bertransaksi di online, atau paling tidak dipicu untuk melakukan transaksi dengan berkembangnya aplikasi-aplikasi social commerce yang memungkinkan hal ini.

Artikel ini tidak akan banyak membahas mengenai aplikasi apa saja yang bisa diimplementasikan ke dalam website agar dikategorikan sebagai social commerce.Saya lebih tertarik untuk berdiskusi, konsep fitur seperti apa yang seharusnya dibangun berdasarkan consumer insight, yang menghambat konsumen online secara psikologis untuk melakukan transaksi online terutama dalam konteks konsumen Indonesia.

Pertama, konsumen Indonesia punya sejarah yang kurang baik mengenai e-commerce, misalnya kasus penipuan, fraud kartu kredit, dll menyebabkan konsumen di online hanya mempercayai website e-commerce yang mereka kenal dengan baik, dan penjualnya mereka kenal secara personal, maka yang berkembang kemudian adalah e-commerce yang berbasis komunitas, misalnya Kaskus. Oleh karena itu apabila Anda ingin membuat bisnis e-commerce, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun komunitas pembeli, maka pikirkan aplikasi social commerce apa saja yang akan memungkinkan konsumen berkomunitas dan bersosialisasi.

Kedua, konsumen di offline sering kali meminta teman untuk memberikan pendapat atau rekomendasi sebelum memutuskan membeli sebuah produk, karena pada dasarnya konsumen perlu “persetujuan” dari orang lain tentang produk yang mereka konsumsi.

Bayangkan ketika konsumen harus berbelanja via online, pilihan yang ditawarkan jauh lebih banyak dibandingkan di offline dan mereka bisa membandingkan begitu banyak website dan produk hanya dengan satu klik. Banjir pilihan dan informasi justru membuat konsumen mengalami kebingungan.

Aplikasi-aplikasi di website harus memberikan kemudahan bagi konsumen untuk menentukan pilihan. Social media sangat membantu dalam hal ini, misalnya mereka bisa meminta temannya untuk memberikan nasihat apakah produk ini bagus atau tidak menurut mereka. Atau mereka bisa mengintip dari FB “likes” di produk tersebut siapakah di antara teman-temannya yang menyukai produk yang sama. Apabila Sang Teman dianggap mempunyai otoritas, atau seleranya sama dengan dirinya ini akan memudahkan konsumen mengambil keputusan.

Ketiga, persoalan berbelanja terutama produk tertentu, misalnya fashion, bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar, tetapi perlu diingat ada juga kebutuhan sosial terutama di konsumen Indonesia yang sangat mementingkan pengakuan sosial. Ketika mereka berbelanja di offline, kebanggaan keluar dari gerai Nike plus menenteng kantong belanjaan bagi beberapa orang adalah sesuatu yang lebih penting karena ini pengakuan bahwa dia mampu membeli sepatu sekelas Nike.

Aplikasi social commerce yang dibangun harus juga peka terhadap fenomena ini. Dengan meledaknya social media terutama Facebook, seharusnya bisa dibangun sebuah “ruang pamer” yang memungkinkan konsumen untuk memamerkan belanjaannya  ke teman-temannya.

Menurut saya sebuah social commerce harusnya menjawab tiga permasalahan ini, dengan memanfaatkan semua aplikasi yang memfasilitasi mereka, dan membuat mereka merasa lebih nyaman untuk berbelanja via online. Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda punya tambahan insight konsumen lain yang menarik? Mari kita berdiskusi.

19 Responses to “Memindahkan Pengalaman Belanja Offline Ke Online Via Social Commerce”

  1. Arham says:

    Kalau data tambahan saat ini belum ada, namun ada beberapa hal yang menurut saya cukup menarik.

    1. Kalau Saya pikir pikir rasanya social eCommerce berkembang lebih cepat di Indonesia. Kalau begtu apa ‘seharusnya’ ecommerce luar mengacu pada Indonesia :D

  2. Dr.acer says:

    Benar sekali, pendapat teman lebih penting dbandinkan rekomendasi brand ambassador ataupun tokoh tokoh. Karena itu jikalau kita menajdi teman, bukan saja dapat membangun social commerce yg terpercaya dimata konsumen tapi juga meraih insight(feedback) yg berkualitas karena datangnya dari teman

  3. hartoto says:

    Artikel sangat membantu.. penuh inspirasi.
    Semoga kita dapat membangun social commerce yang sesuai dengan kultus budaya Indonesia….

  4. Pitra says:

    Saat waktu itu datang ke launching ecommerce portal kemana.com, saya cuma melihat bisnis mereka unggul dari sisi infratruktur (secure payment, safe delivery, pure online transaction). Namun mereka melupakan point2 yang Tuhu sebutkan di atas. Sesuatu yang sebetulnya IMHO jauh lebih penting utk konsumen Indonesia. Memang infrastruktur payment penting, tapi menurut saya komunitas dan efek sosial itu (termasuk ajang pamer diri) di Indonesia jauh lebih penting.

    Kalau teman saya misalnya yg sudah belanja menyatakan puas di salah satu portal (meskipun transaksinya masih manual), saya akan lebih tertarik untuk mencoba portal itu, daripada saya ke portal lain, yg meskipun secure, tapi gak ada yang merekomendasikan.

  5. @ Arham, kalau pelaku e-commerce dan pemilik brand sangat paham mengenai perilaku ini, dan mampu mengaplikasikan dengan baik mungkin kita akan menjadi tren setter di dunia social commerce, karena sifat orang Indonesia yang doyan bergaul, dan bersosialisasi serta pamer membuat sesuatu akan menyebar dengan lebih cepat

    @Dr. Acer, benar sekali pendapat teman sangat berpengaruh, dan Facebook sangat tahu mengenai hal ini. Makanya semua aplikasinya dibuat mengarah kesana, similarity dengan lingkaran teman-temannya sengaja di highlight. Karena asumsinya orang lebih percaya dengan teman, dan dalam lingkaran pertemanan pasti mereka punya kesamaan.

    @Pitra, jadi teringat diskusi kita mengenai e-commerce pas acara IYCE di Santika BSD, mungkin konsumen sebenarnya tidak butuh kecanggihan ya, tapi lebih rasa aman bahwa ini beneran nyampe barangnya ke tangan mereka, tanpa meninggalkan eksistensi pamer ke temen-temen hahahaha

  6. iqranegara says:

    the power of jempol

  7. Acho says:

    Sisi psikologis dalam berbelanja online selalu menarik untuk diperbincangkan. Btw, untuk masalah trust, mungkin perlu campur tangan pemerintah juga, yaitu dalam membuat regulasi.

    Misalnya, setiap toko online bisa mendaftarkan usahanya ke sebuah badan khusus, yang bisa memberikan ‘label halal’ buat si toko online ini.

  8. Wadiyo says:

    Mas Tuhu,
    Jika melihat dari sisi konsumen,
    sebenarnya hal apa saja yang mereka inginkan?

    Kemudian jika produk yang dihasilkan berupa
    produk-produk masal, apakah tidak ‘merepotkan’ atau menambah
    pekerjaan produsen, ketika konsumen yang banyak ingin berinteraksi dengan produsen, baik mengenai informasi produk,komplain, atau hal lainnya berkenaan dengan produk?

  9. @Wadiyo, apa yang diinginkan konsumen kan sudah dijabarkan ke dalam 3 poin di atas. Untuk lebih detilnya, silahkan baca linknya yang saya kasih.
    Sebenarnya yang dimaksud interaksinya bukan interaksi antara produsen dengan konsumen, tetapi antar konsumen sendiri. Jadi yang dibutuhkan adalah produsen memberikan fasilitas aplikasi yang memmungkinkan konsumen saling berinteraksi, dan sebenarnya adalah promosi gratis bagi produk Anda.

  10. kafey says:

    lagi coba proyek kecil2an yg nerapin social commerce, intinya mah sebenarnya selama ini sudah dilakukan oleh orang2 melalui review di blog, ataupun share di twitter n facebook, tapi pinginnya itu bisa tergabung di satu situs yang bisa nanti menjadi referensi orang2 kalua mau belanja dan interaksi dalam belanja..project ini diberi nama blanjaa.com terinspirasi dari http://thisnext.com

  11. @Kafey, benar sekali interaksi itu sudah ada di jaman dulu, tetapi kehadiran social media membuat ini menjadi tren, terutama FB Like, mengapa? Karena membangun sebuah interaksi di website e-commerce tanpa bantuan social media membutuhkan effort yang sangat besar, dan membentuk komunitasnya juga setengah mati.
    Contoh paling menarik bagaimana perusahaan membangun kerajaan social commercenya sendiri selapis demi selapis adalah AMazon.com

  12. Johanes says:

    kalau semua bisa via on line, ym, bb, fb, twiter, email, dll

    yang turun ke jalan hanya kurir, ekspedisi

    Jakarta dijamin tidak macet.

  13. pengen juga menggeluti bisnis online, tapi susah di niatnya :)

  14. rahmat says:

    iya memang cukup menantang, seperti http://bola.bonuspulsa.com yang saya promo-kan sudah mencapai ribuan kunjungan namun yg closing belum mencapai puluhan lewat transaksi online, tetap semangat dan maju terus…

  15. A.Martin says:

    Thanks untuk artikelnya……

    Emang bisnis online promising tapi challenge nya banyak sekali seperti poin” diatas tadi yang sudah disebutkan.

    Saya baru mulai tahun ini bisnis online sebelumnya bergerak di bidang offline retail baju tidur ……

    Masih mencoba” terus dan website ini sungguh banyak artikel” yang bagus….

    Terima kasih

  16. Netofa says:

    saya terkesan dan suka membaca artikel yang up-todate seperti ini. Pertama saya pun sering mempunyai masalah seperti konteks KEDUA diatas.
    Tapi pengalaman saya pendekatan REAL ke ONLINE marketing (COMMERCE) tentu mengacu kepada 5 W H yang sering di ungkapkan oleh pakar ekonomi.
    What ,Where ,Who ,Which,Why ,How Much(PRICE).
    Jadi tinggalkan pola lama ,maupun yang datang dari luar.Tentu saja ada pemahaman baru untuk E-Commerce ini.
    Frame work yang dimengerti semua kalangan.Terima kasih.

  17. dika says:

    yup….saya setuju dengan point ke dua, lebih tepat mungkin aksi getok tular, karena sifat dari orang2 indonesia, sangat memmpercayai rekomendasi dari teman2 atao rekan2 terdekat mengenai suatu produk, dan ini saya yakin bisa diterapkan juga di ecommerce, tinggal bagaimana format nya yang tepat suapay bisa dimanfaatkan dengan baik oleh shopper.
    Sebenernya peta ecommerce Indonesia itu sudah kebaca, dengan prospek yang bagus dan menjanjikan, dan dengan tingkah laku shopper yang cukup unik yang tidak bisa dibandingkan dengan shopper amerika, ataupun jepang. hanya startup lokal yang lebih mengerti pola tingkah laku shopper indonesia yang bisa merajai pasar ecommerce.
    ngomong-ngomong saya juga lagi ada project neh tentang ecommerce, nanti kalu sudah waktu launching kami beritahu ke forum. ok semoga jadi solusi yang tepat untuk e-commerce indonesia. amien.

  18. Menarik, bahwa dukungan social media tidak bisa kita lihat sebelah mata.

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • umar: - Terambat Saya……..

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting