Mohon maaf kepada blogger kondang, Ndoro Kakung, saya pakai hak paten “pencas ndahe” untuk judul kali ini. Ini karena berkali-kali saya ketemu banyak orang yang menggambarkan marketing adalah segala-galanya, nyaris seperti tuhan sebuah perusahaan. Segala hal yang membuat perusahaan berhasil, dikaitkan dengan marketing. Sebaliknya, kegagalan perusahaan juga seringkali dibahas sebagai kegagalan marketing.
Marketing dipaksa masuk ke semua lini, mulai dari promoi, branding, public relations, pelayanan, distribusi, penjualan, penetapan harga, pengembangan produk, riset dan tetek bengek lainnya. Kalau perusahaan berhasil, mereka disanjung-sanjung. Sebaliknya, kalau gagal, jadi sumber caci maki. Orang marketing pun jadi pecas ndahe (plesetan dari umpatan khas Yogyakarta, Solo dan sekitarnya “pecah ndase” — yang artinya pecah kepalanya).
Padahal, sepengetahuan saya, marketing bukan segalanya. Maka, ketika pagi ini saya membaca kolom Handito Hadi Joewono, di Bisnis Indonesia, makin jelaslah bahwa marketing bukan selling, bukan pula service. Marketing, menurut Presiden Arbey Indonesia tersebut, adalah sebuah proses yang mengawali terbentuknya barang dan jasa, yang diikuti dengan proses produksi, penetapan harga, promosi dan distribusinya ke konsumen. Pada perusahaan besar, fungsi dasar marketing merupakan awal dari diproduksinya sebuah produk, yaitu riset pasar dan pengembangan produk, desain, serta proses uji coba.
Untuk memperjelas posisi marketing dalam perusahaan, pengarang buku Great Branding and Marketing tersebut mengajak kita menggunakan indikator keberhasilan bersaing perusahaan atau institusi.
Ada tujuh indikator yang disebut “7n1 Competitive Indicator”, yakni: sales, market share, customer awareness, customer image, customer satisfaction, customer loyalty, stakeholder value through frofit, dan growth.
Untuk mencapai ketujuh indikator itu, diperlukan tiga pilar kokoh dari operasional layanan bisnis perusahaan, yang tak lain adalah: Selling, Marketing dan Services, yang disingkat SMS.
Di mana tugas utama marketing dalam tujuh indikator itu? Menurut Handito, tugas utama marketing adalah untuk pencapaian customer awareness dan customer image.
Meski demikian, Marketing tidak berjalan sendiri. Tiga pilar Selling, Marketing dan Services, saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan perusahaan. Marketing misalnya, punya tugas penting mendukung pencapaian kinerja Selling (berupa sales dan market share) dan Service (berupa customer satisfaction dan customer loyalty).
Maka setelah membaca tulisan Handito berjudul “Pemasaran Bukan Penjualan” tersebut, saya menduga, para marketer tidak lagi pecas ndahe.
Hal yang sama berlaku juga untuk marketer di dunia maya. Selama ini, internet marketing didominasi oleh orang-orang yang mencari uang di dunia maya, dengan menyebut diri sebagai internet marketer. Internet Marketing sudah di-salah-kaprah-kan dengan cara cepat kaya via Internet atau berjualan di media online.
Merujuk pada penjelasan Handito, maka internet marketing bukanlah internet selling. Tugas utama internet marketer atau emarketer adalah bagaimana mencapai tujuan customer awareness dan customer image di dunia maya.
Dear Pak Nukman Luthfie,
Di bisnis saya, perhatian dan fokus tugas antara Selling, Marketing, dan Services (SMS) ini saya masukkan menjadi satu kesatuan ke dalam satu Bagian Public Relations.
Menurut Pak Nukman Luthfie, bagaimana sebaiknya langkah-langkah yang perlu saya ambil, guna semakin meningkatkan fungsi dan efektivitas Public Relations, berkaitan dengan 3 Pilar Operasional Bisnis Perusahaan (SMS) ini.
Terimakasih atas pencerahannya.
Salam,
Wuryanano
NB: Adakah address Web/Blog Pribadi Pak Nukman?
“Di mana tugas utama marketing dalam tujuh indikator itu? Menurut Handito, tugas utama marketing adalah untuk pencapaian customer awareness dan customer image.”
bukankah itu tugas brand manager? atau disini disamaratakan dengan marketing? saya selalu berpikir, bahwa 3 pilar utama itu (SMS) merupakan tugas pokok seorang marketing director, yang kemudian di-share kepada sales manager (selling), brand manager (branding), dan account manager (service)… yang artinya, kutipan diatas baru sepertiga tugas seorang marketer…
atau selama ini pola pikir saya salah? mohon pencerahannya…
Sebuah pembahasan yang sangat menarik.
tapi pada level perusahaan menengah kebawah apa perlu dibedakan proses marketing dan sales, atau sebenarnya ini hanya sebagai sebuah difinisi dan sebuah pembagian? Mungkin seseorang bisa menjadi seorang pemasar sekaligus penjual, demikian juga dalam dunia maya, suatu web bisa dibilang sebagai web-nya internet marketer, internet seller atau keduanya.
Ketika fungsi-fungsi entitas bisnis dijalankan dan tujuan tercapai apakah itu belum cukup? atau perlu memisahkan marketing dan sales?
Nah klo ini yang pecas ndahe mungkin ownernya.:)
Kembali lagi, apa ini hanya sebuah definisi, seperti pendefinisian web 2.0
Atau tulisan ini sebagai awareness & image bulding terhadap “internet marketer” yang saat ini mempunyai dualisme definisi oleh seorang internet marketer “sejati” Bos Nukman?
Tapi memang terkadang definisi juga penting
waks??!!? …. posting pecas ndahe ki ..
hehehe… akhirnya fotonya diganti juga… tapi rambutnya yg sekarang kayaknya lebih pendek deh…
“So tentu artikel ini memberikan pencerahan & ilmu yang siip banget dech..hingga fungsi marketing di perusahaan maupun marketing on line di dunia maya bisa berjalan sebagaimana mestinya.”
“Internet Marketing sudah di-salah-kaprah-kan dengan cara cepat kaya via Internet atau berjualan di media online.”
Sebelum terlambat pak, “enaknya” bagaimana pak?
Saya setuju dengan mas Nukman,
Proses Awareness melalui dunia maya memang sangat baik dibanding proses Selling sendiri.
Saya sebagai salah satu “penikmat” bisnis dunia maya merasakan bahwa untuk proses Selling tidak bisa menafikan bahwa perlunya proses offline.
Salam,
Mahadaya a.k.a Mada
#1. Mas Wuryanano,
Terima kasih sudah mampir ke sini mas. Saya baru mendengar sekarang bahwa SMS dimasukkan dalam satu bagian Public Relations. Mungkin kasus mas Wuryanano tergolong unik. Di banyak perusahaan besar, Public Relations berada di bawah Marketing atau Coprorate Secretary, atau jika dianggap sangat strategis bisa berdiri sendiri dan bertanggungjawab langsung kepada CEO.
Kemarin saya sempat berkomunikasi dengan pak Handito dan beliau mengabarkan bahwa buku Great Branding and Marketing akan terbit Maret nanti. Moga-moga buku itu bisa menjawab pertanyaan mas Wuryanano mengenai bagaimana memaksimalkan SMS.
#2. Mas Noudi,
Di beberapa perusahaan besar, terutama yang bergerak di bidang retail, terjadi pemisahan yang amat tegas antara direktur marketing dan direktur sales. Sebagai contoh, di Exelcomindo – perusahaan selular — ada direktur marketing, ada pula direktur sales. Direktur sales banyak berhubungan dengan distribusi kartu telpon sehingga harus memahami dan berkomunikasi dengan pasar distributor telepon seluler seperti Roxy.
#3. mas Ardha
Pemisahan SMS memang terasa dibutuhkan di perusahaan besar, dan terutama untuk produk-produk retail, consumer goods atau SMCG. Untuk perusahaan kecil, marketing dan sales sering dijadikan satu karena cara pandang perusahaan kecil bukan marketing tapi sales, sales dan sales!
Menarik. Kalau kembali ke tahun 2000, dan membaca buku Marketing Plus 2000 (kalau tidak salah), apa yang ditulis Pak Handito cukup bertolak belakang. Di pertengahan tahun 2006, Harvard Business Review dalam artikel “End of Sales and Marketing”, juga sudah mengangkat polemik antara Sales dan Marketing. Dan, sampai saat ini tidak ada pemisahan yang jelas antara keduanya. Hanya saja, dalam artikel tersebut dikatakan bahwa bila terjadi konflik antara kedua fungsi tersebut, duplikasi effort, and kompetisi untuk mendapatkan funding, maka sebaiknya digabung menjadi satu integrated sales and marketing yang dipimpin oleh seorang Chief Revenue Officer.
Kalau faham yang sudah mengakar ya marketing adalah 4P (yang nambah juga jadi 7P), dimana marketing adalah keseluruhan yang proses dari riset, ide produk hingga transaksi penjualan dan after sales service. Jadi sales adalah bagian dari Marketing. Makanya umumnya ada CMO (Chief Marketing Officer) tapi gak ada CSO (Chief Sales Officer).
Namun pada prakteknya, lebih banyak terjadi pemisahan personel untuk Marketing dan Sales. Dimana Sales identik dengan product distribution dan transaction, sementara Marketing mengerjakan hal lain dalam marketing cycle.
btw, buku baru nampaknya memang harus memberi pendekatan baru supaya cukup menarik untuk dibaca
Seperti halnya Blue Ocean yang sebenarnya konsep lama tentang inovasi tapi berhasil dibungkus dengan baik.
Rasanya kegiatan SMS ini bukanlah hal yang baru. tapi yang jadi masalah adalah kejelian manajemen perusahaan melihat kegiatan ini. Perkara organisasinya seperti apa, rasanya sangat bergantung pada besaran, jangkauan dan kapasitas dari sang enterprise itu sendiri.
Tapi mungkin yang perlu digarisbawahi secara jelas adalah kesuksesan dan kegagalan sebuah enterprise bukanlah tanggungjawab satu orang. Singkatnya tidak ada superman, namun mungkin ada sebuah superteam dengan understanding mengenal situasi dan bertindak tepat sasaran.
pakde, fotonya gantii… yang kemaren lbh bagus,, oiya pakde, saya mau tanya ada ndak search engine punya orang indonesia terima kasih..
Matur nuwun Pak Nukman atas respons dan informasi bukunya.
Senang kenal dengan anda.
Salam,
Wuryanano
Mudah-mudahan dengan desain web baru http://www.export-import-indonesia.com bermanfaat untuk para eksportir importir di Indonesia. Amiin.
Cak Nukman, Sampeyan iki memang beneran sobat setia, membuka perdebatan SMS sesuai RE-Definisi Marketing dalam tulisan “Pemasaran Bukan Penjualan” ternyata mendapat banyak respon. Berikut beberapa komentar saya:
Buat Mas Wuryanto, Noudie, Ardha & Andri :
Selling, Marketing dan Services merupakan tiga pilar operasional layanan Bisnis Pemasaran
Tentang organisasi di perusahaan untuk mengelola tiga pilar operasional tersebut, silahkan disesuaikan dengan kebutuhan & kemampuan perusahaan masing-masing. boleh dibuat 3 divisi/bagian, silahkan juga digabung asal ketiga tugas tadi terdefinisi dengan jelas sehingga indikator kerja masing-masing personil jadi jelas dan tidak ‘eker-ekeran’ atau ‘cakar-cakaran’, seperti kata Cak Nukman, kalau perusahaan kecil yang penting Dodolan, Dodolan lan Dodolan.
Mas Doni, Andrias dan Machless
Apakah “Pemasaran bukan Penjualan” Bertolak belakang dengan Marketing Plus 2000? Atau apa bedanya dengan tulisan di Harvard Business Review 2006 “End of Sales and Marketing†?
Saya ingin mendudukan pemasaran pada konteks kekinian di 2008. Tentu saja Referensi-referensi sebenarnya merupakan bahan penting untuk sebenarnya merupakan bahan penting untuk me-Redefinisi pemasaran menyesuaikan dengan sikon-nya
Diperlukan pemikiran-pemikiran berikutnya dari Anda semua para marketer untuk terus meredefinisi marketing sesuai perkembangan jamannya.
Wah, dapet ilmu lagi ni.. ternyata marketing tu seperti itu. Thanks bgd Pak nukman saya jadi belajar mengerti sedikit demi sedikit.
Andi Yusuf
Selamat pagi siang,dan sore mas2 dan bapak2 semua..
Saya seorang pemasar, itu perintah dari bos saya..
dan jujur, selama kuliah saya tidak pernah mendapatkan pendidikan formal mengenai pasar,pemasaran dan memasarkan..
Lha, yang jadi masalah saya belum begitu paham mengenai konsep menjual dan memasarkan sendiri..
Kalo saya, ngertinya cuma Penjualan adalah bagian Pemasaran Je, bener g tho? masalahnya kok, jadi ribet gini ya..
Wadhuh, nanti bener2 pecas ndah saya..
Mohon penjelasan yang sederhana,
Regards,
Ali
bapak..ibu,,saya pendatang baru in marketing..
yang saya tanyakan mungkin sangat sederhana?
apakah tugas dari marketing development apakah sama dengan brand product manager
mohon pencerahannya
thx
Dari artikel sampai komentar terakhir, kayaknya pokok masalahnya adalah … masyarakat awam menganggap bahwa Marketing & Sales itu adalah satu. Padahal untuk penerapan, harusnya diserahkan pada orang yang berbeda.
Ada kecenderungan lain, perusahaan lokal maunya sewa orang yg serba bisa (superman). Jadinya suatu kesuksesan atau kegagalan jadinya terfokus pada satu orang/departemen saja.
#20 – Kalo dari namanya, development lebih ke arah riset kali, dan manager lebih ke arah pelaksanaan. Sekarang tergantung susunan dan ukuran perusahaan, ujung2nya malah digabung dan butuh Superman lagi
Waduh, jadi ternyata begitu ya…
Memang banyak juga persepsi mengenai marketing ini. Buku2 yg saya baca kebetulan semua menjelaskan bahwa marketing ya seperti yg pak andrias ekoyuono sampaikan (#11)
Buat saya marketing adalah sebuah proses untuk memberi nilai terhadap suatu produk atau jasa.
Jadi saya setuju dengan pak Handi, yang penting disini adalah pemberian nilai tambah. Melalui produk development (riset pasar, model atau disain produk), price, deferensiasi dll.
Untuk perushaan kecil biasanya marketing dan sales disatukan … itulah yang jadi pecah ndase … kalau ndak salah lho
NL:
Mastono betul banget. Marketing itu kuncinya di nilai tambah
pecas ndahe opo pecah ndase.???