Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Malaysia Dikeroyok Blogger, Pelajaran Penting CyberPR

March 22, 2007
Oleh Nukman Luthfie

Jika Anda seorang petinggi negara, figur publik, CEO atau manajer Public Relation sebuah perusahaan, perhatikan baik-baik kasus menarik berikut ini. Gara-gara respon pemerintah yang salah terhadap keluhan pribadi (ya, pribadi) seorang seorang presenter acara SCTV yang diundang pemerintah Malaysia untuk meliput, negara jiran ini menoreh noda hitam dalam dunia kehumasan. Bukan citra positif yang diunduh, alih-alih malah dapat ganjaran viral marketing negatif melalui blog dan media online.

Ini runtutan kisahnya yang saya pantau dari sekian banyak tulisan baik di blog maupun media, yang terjadi sejak akhir Januari lalu dan meledak Maret ini:

- Sebanyak 170 jurnalis di seluruh dunia, termasuk Indonesia, diundang ke Malaysia dalam rangka pembukaan Festival Bunga 2007, yang merupakan bagian dari acara Visit Malaysia 2007. Harapannya, tentu saja media yang diundang menulis yang baik-baik mengenai Malaysia agar kunjungan wisata ke negeri itu meningkat.

- Salah satu yang berangkat ke sana Nila Tanzil, mewakili SCTV. Ia adalah host dari acara Melancong Yuk.

- Wanita cantik ini kecewa karena layanan Malaysia dianggap buruk. Ia tidak bisa memotret dan merekam objek yang ia kehendaki. Minta izin merekam pun dipingpong ke sana kemari.

- Sepulang dari Malaysia, ia menuliskan kekesalan pribadinya di blog. Isinya: Ia mengakui keindahan Malaysia, namun sekaligus mengeluhkan pemerintah Malaysia ndak becus mengelola acara itu.

- Tulisan itu kemudian diposting juga di blog Maverick, tempat ia bekerja sebagai konsultan humas.

- Karena blog Maverick yang berbahasa Inggris itu cukup terkenal di kalangan media, maka menyebarlah ke blogger Malaysia, dan kemudian entah bagaimana caranya tulisan negatif terbaca oleh Menteri Pariwisata Malaysia Tunku Adnan .

- Tersinggung dengan keluhan itu, sang Menteri pun mengeluarkan statemen: semua blogger itu penipu, dan 80 persen di antaranya adalah perempuan yang tak bekerja alias penganggur.

- Celakanya statemen negatif (mencela, menghina, merendahkan para blogger dan wanita) itu dimuat di media cetak (berbahasa Cina).

- Hasilnya bisa diduga: ucapan gebyah uyah sang menteri justru menambah musuh baru, memperkuat citra negatif Malaysia, bahkan memicu isu lain (bahwa rakyat Malaysia tidak punya kebebasan bicara sebagai mana halnya di Indonesia), sekaligus mempererat tali komunikasi para blogger. Entah energi apa yang menggerakkannya, sekian banyak blogger membela Nila dengan tulisan khusus, termasuk diantaranya: Pecas Ndahe. Bahkan Detikcom pun terpancing menulis tiga liputan mengenai hal ini. Sementara blogger Malaysia mengeluhkan ucapan pemimpinnya yang kurang pantas. Lihat blog Elizabeth, Ranting, atau Michael Yip. Yang lainnya, simak saja di blog Nila sendiri.

Tuan-tuan petinggi negara, figur publik, CEO sebuah perusahaan, atau manajer Public Relation, sementara lupakan dulu apakah etis atau tidak Nila yang dipercaya SCTV sebagai profesional menulis hal pribadi semacam itu di blog. Yang jelas tuan-tuan semua sedang menghadapi era baru kehumasan. Saat ini sedang merebak media-media baru yang dapat dimiliki orang setiap orang. Media baru itu, antara lain bernama BLOG. Inilah tempat paling asyik mengutarakan segala macam hal tanpa harus dibatasi aturan. Jika tuan-tuan dulu dengan ilmu Media Relation mampu mengelola hubungan baik dengan media tradisional seperti TV, cetak, radio, bahkan juga dengan media online, kini tuan-tuan menghadapi mahluk baru bernama Consumer Generated Media. Blog salah satunya.

Yakinlah, jika tuan-tuan mengelola media baru ini dengan cara kuno seperti yang dilakukan tuan dari negeri seberang, maka tuan akan menuai badai seperti yang dirasakan tuan Adnan.

Apa yang saya tulis September tahun lalu kini dirasakan oleh Malaysia. Simak lagi tulisan saya mengenai Sadarlah Wahai Para Pemasar dan Pehumas, Kini Anda Menghadapi Konsumen dan Publik Langsung.

Tuan-tuan, selamat datang di dunia digital.

34 Responses to “Malaysia Dikeroyok Blogger, Pelajaran Penting CyberPR”

  1. riawan says:

    Tambahan :
    Dan kini blog virtual yang menjadi tempat rujukan dotcomers pun membahas hal tersebut, yang artinya makin bertambahnya masyarakat mengetahui hal ini.

    Kalo hal seperti ini terjadi, baiknya diselesaikan dengan cara apa? Spt Pak Nukman bilang, blog ini kan penyebarannya tak terbatas karena dimiliki semua orang. Bagaimana merubah image yg semula negatif menjadi positif?

  2. cahyo says:

    contoh kasus viral negatif (buat malaysia)?

  3. deriz says:

    Memang blog menjadi tools efektif sekaligus contoh nyata bagaimana demokrasi bekerja. Menanggapi komentar riawan, saya rasa sekarang keterlibatan PR (public relations) bukan strategi jangka pendek berupa mitigasi ketika ada kasus, tetapi sudah terlibat jauh sebelumnya pada saat pengembangan produk.
    Dalam kasus Malaysia ini, jika PR adalah strategi jangka panjang, mungkin si Menteri tidak akan mengeluarkan pernyataan yang malah membuat semua makin runyam.

  4. Nukman says:

    Baru saja saya posting tulisan ini, Detikcom memuat liputan mengenai sikap Menteri Penerangan Malaysia, Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor, yang menyerukan publik agar tidak mempercayai blog.

    Rupanya mereka lebih memilih melawan blogger ketimbang mempelajari perkembangan media baru ini dan kemudian mencari cara memanfaatkannya sebagai salah satu media komunikasi.

    Apakah di Malaysia tidak ada pakar internet marketing communication yang bisa memberikan pandangan ke pemerintah?

  5. Tuhu says:

    Benerrrr bangetttt Pak, kebetulan saya di Maverick dan tahu ceritanya sejak awal. kasus ini tidak akan menjadi besar apabila pemerintah Malaysia mau berbesar hati mengakui kesalahannya, bukan membuat statemen yang provokatif.
    tapi runutannya mungkin bisa diperjelas lagi, bahwa entah bagaimana Malaysian Tourism Board membaca blog Nila, lalu menegur pihak SCTV karena tulisan tersebut.
    Lalu SCTV menonaktifkan Nila untuk sementara. Lalu kita mengundang Budi Putra dan Ndoro Kakung untuk sharing session, maka makin membesarlah kasus ini.
    Berita ini juga sempat heboh di Malaysia karena sempat dipublikasikan di The Stars. Lalu muncullah statemen si menteri itu yang lebih memperparah suasana.

  6. Nukman says:

    Terima kasih updatenya mas Tuhu.
    Membaca ulang liputan Detikcom mengenai sikap pemerintah Malaysia, saya bener-bener geleng-geleng kepala. Ini untuk pertama kalinya sebuah pemerintahan melawan blogger. Sebuah kasus yang unik.

  7. wah seru juga ceritanya. jujur saya jarang blogwalking jadi baru tahu. konyol juga mau melawan blogger :D ditunggu update beritanya pak. jadi pingin tahu gimana pemerintah malaysia menyelesaikannya. ;)

  8. Adi S says:

    Yah, namanya juga petinggi negara. Mana ada yang mau dikritik. Apa lagi jika yang lawannya dibawahnya (dalam hal kekuasaan) tentu saja asal waton saja ngomongnya tanpa tahu efek sampingnya. Moga-moga para petinggi di Indonesia gak begini ya, sejak ada bagi-bagi laptop gratis.

  9. ndoro kakung says:

    trackback sudah dikoreksi pakde … suwun sudah mampir dan telpon in personal. sungguh suatu kehormatan … :P

  10. Nukman says:

    Maturnuwun ndoro kakung atas kesigapannya mengoreksi… sungguh suatu kehormatan bagi saya … ;)

  11. Sial, saya gak punya blog.
    (Ari genee? Gue gitu lho… :D )

  12. marwan mazwan says:

    Haloo oom,,, ada ngga ya blog yang khusus mengkritisi Tajuk, Editorial, Surat Redaksi, whatever dari media massa? Dari blog itu kita bisa memantau sekaligus belajar. Saya soalnya baru membaca Suara Kebon Sirih (Apa Sih yang Oke-oke?), semacam surat redaksinya Okezone, isinya tentang feedback perkembangan media baru tsb. Tapi kok kentara sekali nyantol/nempel banget dengan para pejabat tinggi? Sebaliknya feedback dari publik umum tidak disebutkan. Bagaimana redaksional seperti ini ditinjau dari PR? Sebab suara redaksi pada intinya adalah PR media ybs. Saya berpendapat redaksional seperti itu mengesankan sebagai alat pejabat tinggi, setidaknya kurang netral.

  13. sketsa sebagai ganti foto –> keren abiz. Btw, bikin di mana, Boss?

  14. siti says:

    wah..jadi semangat buat ngebglog, ternyata punya multiplier effect yang dahsyat dan mendunia, cukup efektif juga untuk mengkritisi pemerintah.mudah2n pemerintah kita kita mau mendengar dan menyikapi kritik rakyat dengn bijaksana.kapan2 komentarin blog saya ya pak, tapi masih dibenahi dulu, jadi belum bisa kasih tahu alamatnya..maklum, ngenetnya sambil kerja..

  15. catur pw says:

    Sudah saatnya para pemimpin tanggap tehnologi, dan jangan meremehkan kekuatan www (bisa berakibar positif ataupun negatif)

    setelah baca blognya nila, ko jadi merinding, dan rada ada semangat 45, kepingin bela para blogger, terutama bloger indonesia. mungkin kayak para pejuang kita disaat para penjajah mulai semena-mena.

    harus diikuti nih berita terkininya ;)
    ———————————
    ps: SKETSA mas Nukman T.O.P B.G.T

  16. Okto Silaban says:

    Jadi inget postingan Priyadi.net “Pembantaian berjamaah”.. :D

  17. Andy Santoso says:

    wah2… kek peribahasa aja “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” kalo menurut saya pribadi, mungkin memang personal individunya yang kurang mengerti bagaimana harus bersikap, berpikir, bertindak & berbicara sebagaimana mestinya, apalagi jika orang tersebut menduduki jabatan yang cukup penting. semoga masalah ini cepat selesai dan tidak berkepanjangan, dalam arti tidak mengganggu kerjasama2 yang memang seharusnya terjalin dan sama2 menguntungkan.

    Saya beberapa kali membaca gara2 blog orang dipecat dari suatu perusahaan, atau sebaliknya penganguran dapet pekerjaan gara2 blognya, ditambah case ini, apa itu berarti blog bisa berubah menjadi teman atau lawan?… who knows?! :)

  18. uletbulu says:

    Om Nukman said: Apakah di Malaysia tidak ada pakar internet marketing communication yang bisa memberikan pandangan ke pemerintah?

    Om… sepertinya ini peluang bagi virtual.co.id untuk “turun tangan” membereskan masalah “online marketing communication” di malay … mungkin dengan bikin ref office di Malay. ;)

    Prihatin liat kondisi kebebasan berpendapat di malay emang. Jadi inget Indonesia beberapa tahun yg lalu.

    Btw salam kenal Om, dah lama nyuri-nyuri ilmu di web virtual.co.id, tapi baru sekarang berani ngasih komen

    Thank juga atas tulisan2nya om… sangat membuka wawasan.

  19. haykal says:

    seharusnya pemerintah malaysia berusaha mencari tau dan mengoreksi diri , bagaimana keluhan dari saudari Nila Tanzil tersebut bisa terjadi, bukannya melontarkan pernyataan-peryataan yang cendrung bernada fitnah yang justru memberi citra negatif bagi image malaysia sendiri.

  20. [...] Nara sumber diundang karena latar belakang yang berbeda. Saya diundang karena pernah memberikan statement mengenai maraknya media baru ini serta menulis kasus ini di blog,  dengan latar belakang pengusaha online. Wimar Witoelar karena beliau seorang intelektual yang memiliki acara tv Wimar World dan menggunakan blog sebagai media komunikasi. Sedangkan Budi Putra adalah blogger profesioal pertama. Ia memutuskan keluar dari Tempo untuk mengandalkan hidupnya hanya dari blog. [...]

  21. Olly says:

    Kode etik utk blogging itu emang ada ga ya? Atau selama ini batasan2 itu diraba2 sendiri? Ada yg tau info ttg blogging’s code of ethics? Soalnya selama ini saya asal blogging aja..Yg penting info yg saya sampaikan di blog tdk merugikan org lain dan sebisa mungkin berdampak positif. Cheers!

  22. daxel says:

    mudah mudahan”www.daxel.com” aman

  23. [...] Dunia maya sedang booming dengan kehadiran blog. Disadari atau tidak blog telah menjadi sebuah media alternatif. Banyak orang membuat blog untuk menuliskan gagasan baru yang dimilikinya. Manusia di seluruh dunia dapat mengaksesnya, karena blog berada dan berkembang di dunia maya yang tanpa batas. Bandingkan dengan sebuah media cetak yang hanya akan dibaca oleh maksimal seluruh penduduk sebuah negara. Karenanya kehadiran blog tidak bisa dianggap remeh. [...]

  24. [...] Itulah percakapan imaginer yang saya tulis berdasarkan diskusi dengan mereka yang tidak percaya blog. Tentu saja saya tidak diskusi dengan dua menteri Malaysia yang merendahkan martabat blogger. Saya hanya bercakap-cakap dengan beberapa eksekutif yang saya kenal saja. [...]

  25. Betul itu seprti blog saya akhir akhir ini banyak kenak spam ” tapi saya biarin aja ” hehehee… klik disini

  26. hufron says:

    hidup blogger indonesia

  27. maryjane says:

    itulah tetangga kita, maklum saja,,,,,okb ndeso

  28. verdinand says:

    Mas, apakah blog juga berpengaruh terhadap citra sebuah negara? Apakah ada kasus dimana blog menentukan hubungan antara negara bangsa di dunia ini?

    Mohon bantuannya,
    Saya mahasiswa hubungan internasional yang ingin menganalisa peran blog dalam hubungan antar negara
    Verdinand

  29. Rey says:

    Hahahahahaha… Ternyata pejabat kita lebih melek teknologi daripada pejabat malaysia yang GAPTEK alias Gagap Teknologi. Salah satu pejabat kita yang melek Teknologi misalnya Pak Juwono Sudarsono alamat URL Beliau http://www.juwonosudarsono.com Maju terus Blogger Indonesia

  30. boss says:

    wedusssss
    MALINGSIA

  31. Armand says:

    Hidup blogger Indonesia… :)

  32. [...] mereka yang tidak percaya blog. Tentu saja saya tidak diskusi dengan dua menteri Malaysia yang merendahkan martabat blogger. Saya hanya bercakap-cakap dengan beberapa eksekutif yang saya kenal [...]

  33. Joko Susilo says:

    pelajaran penting bagi siapa saja agar segera beradaptasi di era cyber pr. sebuah contoh kasus yang menarik Pak Nukman.

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • umar: - Terambat Saya……..

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting

Warning: Unknown: open(/var/lib/php/session/sess_t9aqpg75q44c093e05p7v9mak7, O_RDWR) failed: No space left on device (28) in Unknown on line 0 Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/var/lib/php/session) in Unknown on line 0