Banyak pertanyaan yang saya terima terkait dengan postingan Low Budget High Impact Marketing, seusai saya mengikuti workshop MarkPlus pekan lalu. Ada yang berharap, strategi “budget murah namun memberi hasil melimpah” itu benar-benar ada, bukan sekadar fatamorgana. Bahkan ada yang kemudian secara serampangan menafsirkan bahwa Internetlah medium paling jos untuk menerapkan strategi ini. Itu pun dengan hasil segera bin seketika.
Ada pula yang justru menggugat, memangnya ada strategi yang seindah itu? Jangan-jangan itu sekadar hype alias pepesan kosong yang ditiupkan oleh para marketer?
Sebelum menjawab itu saya jelaskan dulu apa yang disampaikan Hermawan Kartajaya. Dilihat dari sisi return on investment (RoI), pendiri MarkPlus itu membagi marketing dalam empat jenis.
catatatan gambar: ini gambar baru yang dikirim Markplus per tgl 21 Mei, sebagai koreksi dari gambar yang saya buat ulang dari materi cetak workshop Markplus.
Jenis pertama, disebut sebagai Tujuh Kurcaci — tak ada upaya marketing yang dilakukan kecuali diskon, tidak heran jika budget marketingnya rendah dan hasilnya pun minimal (hanya laku ketika ada diskon).
Jenis kedua, disebut Putri Salju — segala upaya marketing dilakukan dengan budget tinggi, tapi hasil tetap saja minimal. Ini sama saja dengan gagal. Putri Salju ini dilihat dari sisi efektivitas digolongkan MarkPlus sebagai bodoh.
Jenis ketiga, Legacy. Ini yang banyak dilakukan perusahaan besar saat ini. Mereka melakukan berbagai jurus marketing yang paling top. Otomatis biaya yang mereka anggarkan untuk aktivitas marketing juga tinggi, termasuk untuk beriklan di below the line maupun above the line. Namun, hasilnya memang jos. Budget memang tinggi, hasil maksimal. Hermawan menggolongkan jenis tradisional ini sebagai langkah bodoh biasa saja. Kenapa bodoh biasa saja alias so-so? Karena sesungguhnya ada langkah yang lebih cerdas, yang disebut Hermawan sebagai New Wave Marketing.
Jenis keempat ini tidak memerlukan budget sebesar jenis ketiga, namun bisa memberikan hasil yang sama. Hal ini dimungkinkan karena saat ini banyak perubahan bisnis yang dipicu oleh teknologi. Kini misalnya, ada fenomena mass collaborations dan social media networking yang menjungkirbalikkan hubungan antara konsumen dan produsen. Dengan memaksimalkan fenomena ini, kegiatan marketing bisa dilakukan dengan lebih cerdas, dengan budget ringan namun hasil maksimal.
Rupanya, “low budget high impact marketing” ini yang kemudian ditafsirkan banyak orang sebagai cara murah meriah mendapatkan hasil melimpah.
Secara konsep, jenis itu memang ada dan sedang diwacanakan di mana-mana, bukan hanya oleh Hermawan. Kalau sudah baca buku Wikinomics karangan Don Tapscott dan Anthony D William, anda akan yakin bahwa jenis marketing keempat itu ada dan bukan fatamorgana. Sudah ada beberapa perusahaan yang mempraktikkannya (dan berhasil). Starbuck kini juga mulai merambah ke Web 2.0 marketing. Obama pun mempraktikkan Web 2.0 marketing dengan sangat baik sehingga personal brand-nya meroket dalam tempo dua tahun dan menyalip personal brand politisi lain. Contoh lokal, Toyota Astra Motor dan HP Indonesia menggunakan blogger sebagai endorser.
Namun, dari banyaknya respon yang saya terima, saya menyimpulkan, kebanyakan orang salah kaprah dengan istilah low budget high impact marketing. Mereka lebih fokus pada low-nya, bukan pada impact-nya. Bahkan, mereka menerjemahkan low dengan murah.
Murah di benak banyak orang adalah muraaaaaahhhhh semurah-murahnya, syukur-syukur bisa gratis.
Padahal jika mengacu pada empat jenis marketing tadi, yang dimaksud low budget adalah relatif lebih murah dibanding cara tradisional (legacy). Semakin cerdas kita membangun strategi dan mengeksekusinya secara efisien dan efektif, semakin murahlah investasi marketingnya, sehingga kita bisa mendapatkan ROI marketing yang lebih tinggi.
Sayangnya, karena lebih terfokus pada low alias murah tadi, kebanyakan perusahaan atau marketer lupa pada strategi.
Bagaimana strategi untuk memaksimalkan fenomena mass collaboration atau social networking untuk pemasaran produk/jasa anda?
Karena lupa pada strategi tersebut, maka eksekusi pun kedodoran tanpa arah. Ujung-ujungnya, hasilnya minimal, atau bahkan nol. Investasi yang sudah dicurahkan, meski murah, lenyap tanpa bekas. Bahkan, jika dihitung dengan hilangnya waktu, pupusnya kesempatan, serta memberi peluang bagi pesaing untuk untuk mengantisipasi, maka sesungguhnya anda rugi besar.
Low budget high impact marketing, sekali lagi, bukan fatamorgana.
Tapi untuk mencapai itu dibutuhkan strategi yang cerdas dan eksekusi yang efektif. Kalau mengabaikan hal itu, kemungkinan besar upaya marketing akan sia-sia. Maunya Low Budget, High Impact Marketing, tapi hasilnya Low Budget, NO Impact Marketing, atau bahkan bisa terjerumus ke Low Budget, Negative Impact Marketing.
Tulisan terkait:
Jadi Guest Speaker MarkPlus Workshop: Low Budget High Impact Marketing
Personal Branding Barack Obama via Web 2.0
[...] mengutip di blog pak Nukman, Hermawan Kartajaya mengkategorikan langkah ini sebagai langkah yang bodoh, karena saat ini ada new [...]
LEGACY: ono bondo, ono rupo
SMART: kalah bondo, kalah rupo, menang dupo
SNOW WHITE: menang bondo, menang rupo, ra entuk opo-opo
SEVEN DWARF: kalah bondo, kalah rupo, kalah dupo, kalah dowo
Maap, komen ngawur. Yang penting PERTAMAX (sebelum BBM naik).
Waks tenyata bukan pertamax, kedahuluan “insider”
Sekalian ralat ah:
SNOW WHITE: menang bondo, menang rupo, koq isih jomblo?
Hahahaha mas Agus memang ohyeeee..
klo tentang Jer basuki mawa bea?
Tapi kira2 berapa persen dari keuntungan yang harus kita anggarkan untuk promosi?
Ini baru mak nyusss ….
Cah Jogja, ahahaha….kreatip banget….ahahahah (again)…
Mau low budget maupun high budget saya rasa stupid enggaknya terletak di hasilnya, asal hasilnya sepadan maka gak masalah bila keluar high budget, meskipun akan lebih hebat bila hasil yang sama didapatkan dari low budget
Jadi ROMI nya mantep, hehehe
Yang menjadi isu adalah bagaimana memanfaatkan setiap sen investasi marketing agar mencapai hasil maksimal di setiap segmen market yang dituju.
awass : low budged bisa jadi high cost..
memang benar banyak orang terfokus pada low budget-nya
dan kurang memperhatikan impact-nya
tapi ini sesuatu yang wajar
mengingat cost yang semakin membumbung saat ini.
Oke, nice explanation!
Menurut saya yang penting adalah mencari ‘leverage’. Jika bisa berhasil dengan biaya murah kenapa harus pakai yang biaya yang tinggi ?
Tentunya jika sebuah perusahaan berhasil melakukan hal ini maka itu akan menjadi competitive advantage dari persh ybs karena akan bisa bermain di rentang harga yg lebih luas.. sehingga akan banyak insentif yang bisa dilakukan, spt promo, diskon, voucher dll.
Salam marketing & entrepreneurship
Novento Design
Interior Consultant & Contractor
http://novento-design.blogspot.com
matur nuwun..
setiap teori ada kelemahannya! yang penting aplikasinya..menurut saya: sufficent cost high impact!
halo pak Nukman ,saya dari solo kebetulan market product saya juga kalanganpara pengusaha yang mau mengoptimasi web sehingga menjadi marketing tool yang murah dan handal,pak bisa minta tolong untuk lihat dan comment di site saya
lucas
http://www.pengusahasolo.com